I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Penyelamatan


__ADS_3

TITITUUIT...


Kayron meletakkan sendoknya lalu mengambil handphone yang terletak di samping piringnya.


"Siapa?" Tanya Caroline yang tidak suka acara kencannya diganggu.


Kayron menatap handphone-nya lalu beralih menatap Caroline. "Pamanku"


"Oh" Caroline mengangguk. "Angkat gih" sebenarnya Caroline tidak akan menyuruh Kayron mengangkat telfon itu bila yang menelfon adalah Kayrah.


Kayron mengangguk.


Tut...


"Halo Paman Rangga?"


"Kayron, kamu ada di mana?"


"Aku lagi makan sama pacarku"


"APA?!"


Spontan Kayron menjauhkan handphone-nya dari telinganya lalu Kayron memegangi telinganya yang sakit.


"Ada apa sih paman?"


"Dasar!! Kamu itu!!! Cepat kembali ke kampusmu! Cari panti asuhan yang ada di sekitar kampusmu, SE.KA.RANG!!"


"Eh? Kenapa?"


Tentu Kayron bingung. Darimana pamannya ini tau kalau di sekitar kampusnya terdapat panti asuhan? Di sekitar kampusnya hanya ada satu panti asuhan jadi Kayron tidak akan bingung panti asuhan mana yang di maksud.


"*Cari sekarang atau kamu tidak akan bisa melihat kakakmu lagi!! Cepat!!!"


Tut*...


Setelah telfon dimatikan sepihak oleh Rangga, Kayron langsung berdiri dari tempatnya membuat Caroline kebingungan.


"Ada apa sayang?" Tanya Caroline penasaran.


Kayron menatap Caroline sejenak lalu merogoh sakunya. Kayron mengeluarkan semua uang yang ada di sakunya lalu berkata, "Maaf aku harus pulang sekarang"


Melihat wajah Kayron yang panik membuat Caroline semakin penasaran. Caroline menangkap pergelangan tangan Kayron yang berniat pergi.


"Tunggu sebentar" Caroline berdiri dari tempatnya. "Ada apa sebenarnya?"


"Lin, maaf, aku benar-benar harus pulang. Kakakku bisa saja dalam bahaya sekarang!"


"Kakak?" Beo Caroline.


"Ya! Kak Kayrah" Kayron melepaskan tangan Caroline yang berada di tangannya lalu Kayron dengan cepat berlari menuju mobilnya.


Setelah Kayron tidak terlihat lagi, Caroline langsung berteriak.


"Aarggh sialan!"


Caroline membanting gelas yang berada di dekat tangannya.


Pyaar...


"Kayrah, Kayrah, Kayrah! Dari dulu selalu saja Kayrah!" Caroline mengatur pernafasannya yang mulai tidak beraturan. "Lihat saja kau Kayrah! Akan ku buat Kayron tidak lagi memperdulikanmu!"


****


Kayron mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata untuk dapat sampai ke panti asuhan yang ada di sekitar kampusnya.


Di tengah-tengah perjalanannya, handphone Kayron berbunyi menandakan terdapat telfon baru yang masuk.


Kayron mengambil handphone-nya lalu membaca nama yang tertera di layar handphone-nya.


"Bibi Thalita?" Gumam Kayron bingung.


Tut...


"Halo--"


"Kayron! Kamu ada dimana sekarang?!"


Kayron menjauhkan handphone-nya sambil berdecak kesal. "Aduh bibi, kuping Kayron sakit nih"


"Eh, hehehe, maaf deh"


Kayron menggelengkan kepala pelan sambil meringis. "Hehehe, lucu ya?"


"Kamu itu ya! Awas nanti kalo ketemu bakal bibi jadiin ayam geprek!!"


"Oh gitu, selamat yaa"


"Eh? Selamat buat apa?"


"Kan nanti kalo ketemu bakal di jadiin ayam geprek, jadi selamat untuk diriku sendiri yang akan jadi ayam geprek"


"Kayron!!!"


"Hahahaha!"


"Dasar nakal!"


Tawa Kayron perlahan menghilang begitupun dengan senyumnya ketika dirinya melihat sebuah gedung yang menjadi tujuannya.


"Bibi, makasih ya"


"Apa?" Sinis Thalita.


"Berkat bibi perasaanku nggak seburuk sebelumnya. Kali ini aku akan menyelesaikan masalah tanpa membuat masalah lain yang lebih besar"


"Benar! Kamu tidak boleh membunuh apapun yang terjadi!" lanjut Thalita dengan cepat.


"Ya, aku janji!" Kayron berkata dengan tegas sambil berjalan menuju gedung yang adalah panti asuhan itu. Kayron menatap gedung yang sepi dan gelap itu sejenak lalu menghela nafas lelah.


"Kayron bibi udah telfon polisi juga geng black rose yang ada di Amerika. Kamu jangan membuat dirimu dalam bahaya lagi seperti dulu atau kalau nggak, bibi akan kesana sekarang untuk membunuhmu!"

__ADS_1


Kayron tertawa kecil sambil mengingat tindakan bodoh yang dia lakukan saat kakaknya menghilang dulu. "Bibi tenang saja, Kayron akan hati-hati"


"Kamu harus waspada!"


"Ya, bibi"


Tut...


Kayron memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas lelah. "Siapa yang sebenarnya ingin mencelakai keluargaku?"


Srek.. srek...


Perlahan Kayron membuka matanya saat dirinya mendengar suara mencurigakan itu. Baru saja mata Kayron terbuka dengan sempurna tiba-tiba dirinya melihat banyak senjata tajam terarah padanya.


"Oh?" Kayron mengamati sekitarnya yang terdapat banyak orang bertubuh kekar dengan wajah yang menyeramkan.


"Apa tujuanmu kemari?" Tanya seorang pria yang berkepala botak.


Kayron diam sambil mengalihkan pandangannya pada pria botak yang bertanya padanya. Mereka berdua bertatapan dalam diam cukup lama sebelum seorang lelaki bertubuh tinggi berkata.


"Bukankah pemuda ini cukup mirip dengan gadis itu?" Tanya lelaki tinggi.


Pria botak tersadar lalu berkata sambil mengerutkan dahinya, "Hei lebih baik kamu kembali karena aku tidak suka dengan laki-laki"


"Bos, bukankah cukup disayangkan untuk membiarkannya lolos? Wajahnya cukup tampan, pasti banyak yang suka padanya bila kita meletakkan dirinya di rumah bordil"


"Benar juga! Lagipula dia cuma anak kecil yang nggak akan bisa menjadi musuh kita" pria botak itu berkata sambil mengelus dagunya.


Para pasukan tubuh kekar membenarkan ide yang sangat menguntungkan mereka itu.


Kayron disisi lain sedang mengamati sekitarnya. Meskipun banyak rumah disekitar sini tetapi saat mendengar keributan, semua pemilik rumah tidak berani mengganggu.


"Cepat tutup pintu dan jendelanya!"


"Matikan lampunya!"


"Aku tidak melihat apa-apa! Tiba-tiba mataku buram!"


"Aiyo, kasihan sekali pemuda itu"


"Sudah-sudah! Cepat masuk! Jangan ikut campur atau kita akan dalam masalah besar!"


Kayron menghela nafas lelah ketika mendengar suara warga sekitar yang panik. Kurang lebih Kayron sudah mempelajari situasi di sekitarnya.


Dengan keadaan seperti ini, pasti para warga sekitar tidak akan berani memanggil polisi karena takut.


Syukurlah tadi bibi Thalita sudah menelfon polisi. Kalau tidak, aku jadi kasihan sama para Paman ini. Batin Kayron.


Mendengar sorakan dari manusia-manusia yang ada di sekitarnya membuat Kayron tersadar dari lamunannya.


Kayron menggelengkan kepalanya pelan sebelum meraih salah satu tangan musuhnya lalu membantingnya ke tanah dengan mudah.


"Argh!"


Kayron mengambil senjata tajam yang ada di tangan musuh lalu berkata, "Kalian terlalu banyak bicara"


Melihat teman mereka jatuh ke tanah dengan mudah membuat para pasukan menjadi waspada.


"Habisi dia!"


Para pasukan yang berada di sekitar Kayron langsung menyerang Kayron bersamaan. Melihat situasi genting di hadapannya tidak membuat Kayron panik. Kayron dengan lihai menghindari setiap serangan.


Meskipun membawa senjata tajam yang dia peroleh dari musuh, tapi Kayron tidak menyerang. Kayron hanya menghindari setiap serangan yang datang padanya.


Sampai beberapa waktu berlalu dan akhirnya para pasukan yang menyerang Kayron berhenti menyerang karena kelelahan.


Kayron menggelengkan kepalanya ketika melihat orang-orang yang menyerangnya tadi, jadi terkapar di tanah dengan sendirinya sekarang.


Tanpa sengaja mata Kayron menangkap seorang wanita yang melihat aksinya di dalam gedung. Saat mata Kayron menatapnya, wanita itu langsung berlari memasuki panti asuhan.


Kayron mengerutkan keningnya. "Mungkin dia pemilik panti asuhan" gumam Kayron sambil berjalan memasuki gedung. Tapi baru beberapa langkah, Kayron berhenti.


"Dimana kakakku?" Tanya Kayron tanpa menatap para pasukan yang berada di belakangnya.


Kayron mengira bahwa pemilik panti asuhan juga ketakutan dengan preman-preman ini dan bisa saja pemilik panti asuhan memilih untuk bungkam bila dia tanya. Jadi dia lebih memilih untuk bertanya pada pasukan ini langsung.


Pria botak tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Kayron. "Heh, jadi gadis itu kakakmu?"


"Dimana kakakku?" Kayron tidak menjawab pertanyaan pria botak tersebut.


"Kurang ajar--"


"Sudah-sudah" pria botak menghentikan lelaki tinggi yang akan berbicara. "Sekarang kakakmu tidak akan bisa bergerak"


"Aku bertanya, dimana kakakku!" Nada bicara Kayron menjadi dingin.


Pria botak terkejut lalu tertawa, "Hahaha! Hei, jika kamu tidak ada disini maka kami pasti sudah bermain dengan tubuh kakakmu!"


Aura ditubuh Kayron berubah setelah mendengar ucapan pria botak. "Apa?"


"Tapi adikku sudah masuk terlebih dahulu dari tadi. Jadi setelah adikku puas bermain dengan kakakmu maka dia pasti akan membawa kakakmu keluar dari sini"


Kayron berbalik lalu melotot seraya menahan diri mati-matian agar tidak membunuh pria botak itu. "Dimana kakakku berada?!" Wajah Kayron menjadi merah karena menahan amarah saat bertanya.


Bukan tanpa alasan Kayron terus bertanya karena meskipun gedung di belakangnya terlihat biasa tapi Kayron yakin gedung ini punya banyak ruangan sebab gedung ini adalah sebuah panti asuhan.


Kayron tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama hanya untuk memeriksa satu persatu ruangan. Tidak apa jika kakaknya sungguh berada di dalam gedung ini, jika kakaknya berada di lokasi lain maka akan sia-sia Kayron mencari di gedung ini.


"Adik si*lan! Dia pasti sudah menikmati tubuh gadis bule itu seorang diri!"


Saat pria botak itu masih menggerutu, Kayron merogoh saku yang ada di jaketnya lalu mengeluarkan isinya.


"Tenang saja kakakmu aman didalam panti asuhan itu. Lagipula sebelum kami menyentuh tubuh kakakmu maka kakakmu masih tetap hidup tapi setelah kami bosan dengan tubuhnya maka kami akan menjual or--"


Dor...


Pria botak dan lainnya bergidik ngeri saat melihat tanah, tepatnya satu cm dari kaki pria botak berpijak, berlubang karena peluru yang di lepaskan Kayron dari pistol di tangannya.


"Berani sekali kalian.... melecehkan kakakku" Mata Kayron menjadi sangat tajam juga aura yang dilepaskannya begitu dahsyat membuat para musuh bergetar ketakutan. "Aku akan membunuh kalian semua!!"


Kayron memasangkan peluru lagi ke pistolnya lalu mengarahkannya pada pria botak. Meskipun pistol itu hanya diarahkan pada pria botak tetapi semua kawan-kawan pria botak tidak berani bergerak.

__ADS_1


Tidak tanpa alasan mereka berbuat seperti itu. Mereka menyadari bahwa Kayron tidak main-main dengan ucapannya melihat aura pembunuh yang keluar dari tubuh Kayron begitu besar membuat para pasukan musuh menelan ludah mereka dengan susah payah.


Kayron masih mengarahkan pistolnya yang sudah terisi peluru di kepala musuh tetapi Kayron tidak menembak kepala musuh dengan pistolnya.


Setelah beberapa saat berada dalam situasi yang tegang, akhirnya Kayron berbicara.


"Harus... berterima.. kasih..."


"Apa?" Pria botak berkata dengan penuh hati-hati, takut bila salah sedikit saja Kayron akan menembaknya.


"Kalian harus berterimakasih pada bibiku karena jika aku tidak berjanji pada bibiku untuk tidak membunuh kalian maka saat ini kalian pasti mati ditanganku!"


Setelah berkata begitu, Kayron menyimpan kembali pistolnya lalu berbalik dan berjalan menuju gedung panti asuhan. Kayron mengira bahwa para preman di hadapannya pasti tidak akan memberitahukan dimana keberadaan kakaknya saat ini, maka dari itu Kayron akan mencarinya sendiri.


"Kamu bocah kecil berhenti!" Pria botak sadar dari keterkejutannya saat Kayron mulai melangkah. "Apa kamu pikir kamu pantas menjadi musuh kami?!"


Mendengar itu membuat Kayron berbalik dan berlari kearah pria botak lalu menendang perut buncitnya.


"Uhuk!" Pria botak jatuh berlutut di hadapan Kayron yang menatapnya sambil mengangkat dagu.


Kayron melirik para kawan pria botak yang spontan mundur beberapa langkah menjauh setelah ditatap oleh Kayron.


Kayron kembali menatap pria botak yang menatapnya sambil berlutut lalu Kayron berkata dengan dingin. "Siapapun yang menghalangi jalanku akan menjadi musuhku"


"Uhuk! Uhuk!" Pria botak menatap tanah yang berwarna merah karena darahnya.


Melihat itu membuat Kayron tertawa mengejek. Kayron menggunakan kakinya untuk mengangkat dagu pria botak agar menatapnya.


"Kau bilang aku tidak pantas menjadi musuh kalian?" Tanya Kayron sinis. "Seharusnya aku yang berkata begitu"


Guduk... Guduk... Guduk...


Suara helikopter terdengar di tengah sunyinya malam hari membuat perhatian semua orang tertuju pada helikopter. Tiga Helikopter, tepatnya dua helikopter black rose dan satu helikopter polisi, mendekat dari langit tempat punggung Kayron terarah.


Perlahan sinar lampu helikopter terarah pada Kayron yang bersedekap dada. "Kalian pikir kalian pantas menjadi musuhku?" Tanya Kayron sambil mengangkat dagunya.


Para pasukan musuh langsung berlutut setelah membaca tulisan yang terdapat di helikopter itu.


"Geng black rose!"


Duar!


Tepat setelah para pasukan musuh menyerah, gedung panti asuhan yang berada di belakang Kayron meledak.


Kayron terkejut lalu berbalik badan dengan cepat untuk melihat si jago merah yang menelan sisa bangunan panti asuhan itu.


"Tidak.. tidak..."


Wajah Kayron menjadi pucat. Kayron berlari menuju kobaran api itu tetapi langsung di cegah oleh salah satu anggota geng black rose.


"Jangan!"


"Lepaskan! Kakakku ada didalam gedung itu!!" Kayron berteriak sambil meronta.


"Tenangkan dirimu--"


"KAKAK!!" Air mata Kayron jatuh bertepatan dengan tubuhnya yang ikut jatuh berlutut di depan kobaran api yang membakar gedung panti asuhan.


****


Seorang wanita berlari ditengah gelapnya malam sambil memegang sebuah benda yang bersuara.


"Tiga... Dua... Satu... Tiiit!"


"Hehehe" wanita itu mulai memelankan langkahnya. "HAHAHAHA!"


Wanita itu memasuki sebuah rumah sambil tertawa mengerikan tanpa peduli tatapan bingung dari para penjaga yang ada di rumah itu.


Lalu tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian lengkap seperti bodyguard mendekatinya.


"Bos besar sudah menunggu nyonya di dalam"


Wanita itu menghentikan tawanya lalu mengangguk pada pria itu. Wanita itu berjalan menuju salah satu ruangan yang ada di sana.


"Bos"


"Masuk!"


Wanita itu memasuki ruangan dan disambut dengan asap rokok yang pekat. Tapi wanita itu tidak bergeming, seolah sudah biasa dengan semua ini.


"Bagaimana? Apakah lancar?" Tanya seseorang yang ada di antara asap itu.


Wanita itu tersenyum, "Maaf bos, saya tidak bisa mendapatkan organ tubuh Kayrah Edward karena pasti sekarang tubuhnya sudah dilahap api"


"Dilahap api?" Orang itu melemparkan sebuah foto. "Hahaha! Kayrah Edward, akhirnya tamat juga riwayatmu!"


Wanita itu menatap foto yang mendarat tepat di depan kakinya. Melihat foto itu membuat wanita itu tersenyum.


Andai saja bos besarnya ini tidak mengirim foto yang menunjukkan paras Kayrah padanya maka wanita ini pasti tidak tau bahwa gadis yang mengunjungi panti asuhannya adalah buronan bos mereka.


"Lalu bagaimana anak-anak panti yang lain?" Tanya orang itu.


"Maaf bos, kemungkinan mereka sedang tidur saat bom meledak" ucap wanita itu.


"Biarkan saja, kehilangan beberapa anak cukup untuk menjadi bayaran atas kematian Kayrah Edward"


****


Kayron masih berlutut dan menangis di hadapan kobaran api yang berusaha di padamkan oleh pemadam kebakaran.


"Kakak... Kakak..." Rintihnya.


Seorang anak kecil berjalan mendekati Kayron yang berlutut. Anak kecil itu berhenti dan berdiri tegap dihadapan Kayron.


Anak kecil itu seolah tidak terganggu dengan hawa panas yang menyerang punggungnya saat membelakangi kobaran api.


Kayron mendongak saat melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya.


"Apakah kakak bernama Kayron?"


.

__ADS_1


like.


__ADS_2