I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Pernikahan


__ADS_3

Dewa kutukan, pria berambut putih yang memiliki gambar teratai di wajahnya, tersentak kaget saat melihat cahaya itu.


Dewa kutukan tertawa keras dengan mata melebar saat cahaya putih itu makin membesar dan akhirnya meletus. Tubuh dewa kutukan perlahan juga menjadi butiran cahaya.


Dewa kutukan menghentikan tawanya lalu melambaikan tangannya. Terlihat banyak sekali arwah yang keluar setelah dewa kutukan melambaikan tangannya termasuk arwah Keysha Gladys, dan Henry.


Gladys terkejut saat melihat tubuh dewa kutukan yang perlahan menjadi butiran cahaya. "Apa yang terjadi denganmu?!"


Bagaimanapun mereka sudah melewati waktu ribuan tahun lamanya bersama. Jadi secara tidak langsung mereka jadi mempunyai ikatan meskipun tidak erat.


"Tidak ku sangka kita akan berpisah secepat ini. Padahal kukira aku akan menemani kalian sampai generasi wajah kalian benar-benar sudah habis."


Keysha bingung dengan perkataan dewa kutukan itu begitupun dengan yang lain.


"Apa maksudmu?" Keysha bertanya.


Dewa kutukan menatap Keysha lekat-lekat. "Keponakanmu, Kayrah Edward bersama dengan Jack Nathan Moses sudah berhasil melepas kutukan yang mengekang generasi wajah kalian ini."


Wajah semua arwah menjadi ceria saat mendengar ucapan dewa kutukan yang sudah ribuan tahun ditunggu oleh arwah-arwah ini.


Dengan ini bisa dipastikan wajah yang mirip dengan Keysha memiliki peluang menuju akhir bahagia bersama wajah yang mirip dengan Ricard kelak.


Dewa kutukan tidak bisa ikut campur lagi karena kutukan ini sudah dilepaskan oleh Kayrah dan Jack.


Dewa kutukan menatap tangannya yang mulai menjadi butiran cahaya begitupun dengan wajahnya. Dewa kutukan menatap sekali lagi arwah-arwah yang sedang menatapnya juga.


Untuk pertama kalinya dewa kutukan tersenyum tulus pada mereka. Dewa kutukan meletakkan tangannya ke dada lalu berkata dengan menggunakan bahasa dewa.


"Selamat tinggal."


Tubuh dewa kutukan menjadi cahaya sepenuhnya dan cahaya-cahaya itu terbang ke langit.


Keysha dan lainnya menatap langit sejenak lalu Gladys mengucapkan salam perpisahan pada arwah-arwah lain.


Tiba giliran Keysha, Gladys tersenyum lembut dan meminta maaf berkali-kali.


"Sudahlah kak..." Keysha menggeleng saat Gladys berniat meminta maaf lagi. Keysha memandang Henry yang berada di belakang Gladys. "Setelah ini kakak mau kemana?"


Henry mendekati Gladys lalu menggenggam tangan Gladys. "Kita akan kembali ke tempat yang seharusnya." Ucap Gladys.


Keysha tersenyum mendengar itu.


"Mari kita kembali bersama." Ajak Henry.


Keysha menggeleng. "Tidak. Kalian duluan saja."


"Kau tidak apa sendirian?" Tanya Gladys tidak yakin.


Keysha mengangguk meyakinkan.


Gladys dan Henry pun tidak memaksa Keysha lagi setelah sadar Keysha masih mempunyai keluarga di dunia ini yang masih hidup. Mungkin Keysha ingin berpamitan lagi dengan keluarganya.


"Yasudah, kita pergi dulu ya!" Perlahan arwah-arwah itu menghilang digantikan oleh angin.


Keysha tersenyum tipis. "Ah, aku harus mencari kak Dicky dulu. Dia pasti khawatir." Gumam Keysha.


Saat akan pergi dari sana, Keysha menatap sekali lagi tempat dimana Kayrah berada.


"Kayrah... Bibi dan paman akan menunggumu. Jika kamu ingin ikut maka kita akan pergi bersama. Jika kamu tidak ingin pergi maka tetaplah disana."


.


***


.


Hari ini adalah hari pernikahan Kayrah. Kemarin Aldebaran datang membawa baju pengantin untuk Kayrah. Gaun yang indah berwarna putih tiada noda membuat Kayrah suka saat pertama kali melihatnya.


Sekarang Kayrah sedang menatap dirinya yang sudah dirias di cermin. Gaun yang kemarin Aldebaran belikan sudah di pakai olehnya. Tampak sangat cocok dengan Kayrah yang sekarang masih duduk di ranjangnya dengan infus yang setia menancap di telapak tangan Kayrah.


Kayron duduk di samping Kayrah sambil terus menatap kakaknya yang sedang bercermin itu dengan tatapan jengah.


"Cantik. Sangat cantik." Gumam Kayrah yang terkesima dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iyyuhh!" Kayron memperagakan seperti orang yang ingin muntah.


Kayrah tersenyum kesal. Sifat adiknya kembali lagi seperti saat masa kecil dulu. Kayrah rindu sih sebenarnya dengan sifat Kayron yang menyebalkan seperti ini karena setelah Kayrah sakit, Kayron tidak pernah menunjukkan sifat menyebalkan ini lagi.


"Kayron... Eh? Mau kemana kamu?!" Kayrah menatap Kayron yang berdiri dari tempatnya.


"Telfon Aldebaran."


"Eh jangan! Aldebaran masih dalam perjalanan!"


"Aldebaran masih kawanku saat ini, wlee..." Kayron menjulurkan lidahnya.


"Kay... Kayron!!"


Kayron tertawa lalu keluar dari ruangan kakaknya. Saat berada di luar, Kayron bertemu dengan Thalita yang akan memasuki ruangan.


"Eh bibi Thalita..."


"Kamu mau ngapain?" Tanya Thalita.


"Mau telfon Aldebaran bi. Oh iya, gimana dengan Caroline bi?"


Thalita menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk 'O' lalu meletakkannya di salah satu mata. "Beres. Tenang aja. Bibi masuk dulu ya."


"Hahaha! iya Bi!" Kayron tertawa saat Thalita memasuki ruangan Kayrah.


Kayron menghela nafas panjang dan duduk di kursi depan ruangan Kayrah lalu dirinya menelfon Aldebaran.


Beberapa saat kemudian, telfon itupun terhubung.


Tut.


"Kau dimana sekarang?" Tanya Kayron.


"Masih di perjalanan adik ipar..." Goda Aldebaran.


"Adik ipar?! Kau belum menjadi kakak iparku!"


"Hahaha! Sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu!"


"Sendiri."


"Bagaimana dengan walimu? Kakakmu juga tidak ikut?" Kayron menaikkan alisnya.


"Ikut. Kakak akan ke rumah sakit setelah menjemput orang tua."


"Oh? Mama dan papamu ikut?"


"Tentu saja. Hei bagaimanapun juga aku ini putra mereka ya! Jika mereka bahkan tidak menghadiri pernikahan putra mereka yang sekali seumur hidup ini berarti mereka sangat keterlaluan!"


"Eh, Sans bro..."


"....."


"Al? Kau kenapa?"


"Sebentar Ron. Pengendara di depanku sekarang sepertinya sedang mabuk. Dia ugal-ugalan sekali mengendarai kendaraannya."


"Eh? Lebih baik kau berhenti dulu deh sekarang daripada nanti kenapa-kenapa."


"Ciee, kau mengkhawatirkan kakak iparmu ini ya? Hahaha, tenang saja aku akan mengendarai pelan-pelan."


"Sialan kau!"


"Hahaha! Kayrah pasti sedang menungguku kan? Jadi aku akan tetap menjalankan mobilku meski--"


Brak.


"Eh? Halo? Al? Ada apa?" Kayron bangkit dari duduknya.


"Oh sial. Pengendara itu menabrak pengendara lain--EH**!."


C'KIT.

__ADS_1


BRUAK.


"Halo Al? Aldebaran? Al!"


Tut. Tut. Tut.


.


***


.


Kayron memasuki ruangan Kayrah dan mengambil kunci kendaraannya lalu kembali keluar lagi.


"Kak aku keluar sebentar!"


"Kau mau kemana?!" Teriak Kayrah.


"Sebentar kak!!"


Kayron tidak terlihat lagi setelah itu.


Kayrah menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum sambil menatap pintu ruangannya, menanti kedatangan Aldebaran.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Delapan belas menit.


Tiga puluh menit.


Lima puluh menit.


"Hah..." Kayrah menghela nafas saat sudah tepat satu jam dirinya menunggu Aldebaran tapi yang ditunggu tak kunjung datang juga.


"Kamu bosan hm?" Rangga mendekati Kayrah yang wajahnya mulai jenuh.


Kayrah mengangguk.


"Paling Aldebaran masih kejebak macet. Tunggu sebentar lagi." Rangga duduk di samping Kayrah lalu menyalakan televisi.


Kayrah memeluk Rangga dari sambil dan mengangguk. Perhatian Kayrah sekarang terarah pada televisi yang menyala.


Terjadi kecelakaan beruntun yang menyebabkan satu balita terluka ringan, lima orang terluka berat dan tiga orang meninggal dunia.


Pelaku yang mengendarai mobil berplat xx ini diduga mengantuk saat sedang berkendara. Pelaku sudah diamankan oleh polisi setempat saat ini.


"Ckck... Seharusnya kalau mengantuk tidur dulu dong. Bikin nyawa orang melayang kan kalau udah kayak gini." Gerutu Rangga kesal.


Kayrah terkekeh pelan. "Ngomong langsung di depan pelakunya Paman. Jangan di sini..."


"Yaya... Eh? Kamu mengantuk ya?" Rangga mengelus kepala Kayrah membuat Kayrah yang tadi mengantuk semakin ingin tidur saat ini.


"Emmhh... Paman jika Aldebaran datang, tolong bangunkan aku ya..."


"Baik baik." Rangga tertawa saat melihat Kayrah tidur di pelukannya.


.


***


.


Kayrah terbangun dari tidurnya ketika mendengar keributan memenuhi ruangan tempatnya dirawat. Kayrah tidak membuka matanya setelah mendengar suara Keynan yang sedang berteriak.


"Jangan bercanda Kayron!!"


"Aku tidak bercanda ayah! Aku sudah ke tempat kejadian perkara dan melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Suara Kayron terdengar parau seperti habis menangis.


Kayrah mengerutkan alisnya. Kayron menangis karena apa?


Sesaat kemudian Kayrah mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya.

__ADS_1


.


Like.


__ADS_2