
"Lalu, apa yang membuat Kakak bersedih?"
"Kebohonganmu."
Duarrrr
"Maksud Kakak?"
Syafa berpikir keras, mengingat setiap kata yang pernah dia ucapkan. Dan semua janji yang terucap sepertinya tidak ada kebohongan. Ataukah dia yang lupa?
"Katamu kau tidak akan menikah." Fahri mengulum senyum. Berhasil dirinya membuat orang lain panik. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama.
"Kakaaaak!" Rajuk Syafa sambil memukul bahu Fahri dengan manja. "Itukan dulu."
Dulu sebelum jatuh cinta Syafa merasa enggan untuk hanya sekedar beranjak dari pintu rumah ini. Tapi sekarang, entah mengapa keinginannya berbanding terbalik. Dia ingin menjalani kehidupan yang baru. Bersama orang baru. Membayangkan awan putih berubah menjadi pelangi. Lalu dia menari diantaranya bersama orang yang dia cintai.
"Tapi Kakak bilang, Kakak yang akan repot kalau aku tidak menikah." Sanggah Syafa.
Keduanya saling mengenang candaan mereka sewaktu bersama. Mata keduanya berkaca-kaca. Fahri merengkuh Syafa dalam pelukan. Perasaan ini sudah tidak karu-karuan. Sulit dijelaskan dalam kata-kata.
"Jadi, kau akan menikah dan meninggalkan diriku?"
Fahri mengecup kening adiknya, perasaan hangat mengalir hingga membuat darahnya berdesir. Cukup lama dia memandang wajah sang adik. Otaknya berpetualang pada keinginan positif yang dia rancang untuk Syafa.
"Kau tidak ingin berkuliah?"
ucap Fahri yang menginginkan adiknya melanjutkan pendidikan saja. Menjadi orang hebat agar hidup mapan. Tidak seperti dirinya yang hanya menjadi buruh tani.
"Kakak jangan mengacaukan pikiranku, ya! Aku sudah memutuskan untuk bahagia dengan kehidupan yang baru. Dengan begitu, Kakak juga bisa memutuskan kehidupan yang baru pula." Fahri berjengit kaget, sedikit kasar dia mengambil jarak. Seperti orang yang ketahuan selingkuh. Fahri berusaha bersikap biasa saja. Meski rasa canggung lebih mendominasi.
'Pikiranku yang kacau, Syafa!' batin Fahri
Apakah seperti ini menjadi orang tua? Ataukah perasaan terlarang yang menguasai batin ini? Rasanya sangat sulit melepas Syafa kepada orang lain. Tapi, bukankah hukum alam telah menulis takdir sebelum manusia itu sendiri di ciptakan. Kami bersaudara, dan aku adalah yang tertua. Bagaimana aku harus mengambil sikap untuk sebuah masa depan yang aku sendiri belum mengerti.
"Kakak kenapa?"
Mungkinkah masih ada masalah yang belum terselesaikan?
"Kaaakk!"
Andai Fahri bukanlah Kakak bagi Syafa. Andai dia bisa memaksa Syafa agar menuruti keinginannya. Keinginan besar yang dia yakini bisa membahagiakan orang-orang yang dia cintai. Tapi apa daya jika keinginannya hanya sebatas angan.
"Syafa, Kakak sangat mencintaimu," ungkap Fahri tanpa sadar. Dia pun tidak mengerti kenapa bisa dari sekian kata, kata tak berguna itulah yang keluar. Tapi hatinya terasa plong. Setidaknya perasaan yang menjejal hatinya telah dikeluarkan.
Berbeda dengan Syafa yang langsung tertawa terbahak. Bahkan tidak ada keraguan untuk segera menjawab. "Aku juga mencintai Kakak. Sangat! cinta sampai maut memisahkan kita." Begitulah kebenarannya. Tapi bukan itu yang diinginkan seorang Fahri. Dia menginginkan bentuk cinta lain yang sungguh mustahil untuk dia dapatkan.
"Ini cinta yang berbeda, Syafa!" lirih Fahri. Menatap jauh ke langit. Jantung Syafa mendadak berloncatan.
"Maksud, Kakak?"
Seperti ada sebuah badai dilautan, dimulai dari kencangnya angin berhembus. Awan hitam mulai menghiasi langit. Syafa tercengang akan ucapan Kakaknya. Mencari arti melewati tatapan sendu yang tidak dimengerti.
"Cinta yang berbeda seperti apa?"
__ADS_1
"Seperti ini." Fahri mencubit kasar pipi adiknya sehingga mendapat pukulan ringan dari pemiliknya.
"Kakaaaak!"
Keduanya tertawa bersama.
Akhirnya kesadaran kembali menguasai kewarasan Fahri. Inilah hubungan yang sebenarnya. Hubungan cinta sebab darah mereka sama kentalnya.
Dan Syafa merasa skeptis dengan apa yang baru saja terjadi. Dia merasa dunia sangatlah sempurna kala bersama Sang kakak.
~
~
~
Malam harinya, seperti biasa Fahri pergi ke kamar mandi sebelum tidur. Melewati kamar Syafa yang sedikit terbuka. Rasa penasarannya menuntut raga untuk sekedar melongokkan seperuh kepala. Syafa tengah memandang indahnya bulan sambil bicara.
"Iya sangat indah!" Bibir gadis itu tiada pernah berhenti melengkung sempurna. Wajahnya kontras dengan bulan purnama. Indah, merona serta kelihatan begitu bahagia.
Fahri sungguh tidak menyukai keadaan ini. Dia tidak suka Syafa berbagi cerita ataupun kebahagiaan dengan pria selain dirinya. Perlahan dia menegakkan tubuh. Merapatkan pintu kamar adiknya. Tangannya menggantung saat rasa inginnya mengetuk pintu juga terhenti.
"Syafa!"
"Bentar ya! Kak Fahri panggil aku." bisik Syafa yang sebenarnya bisa didengar oleh Fahri.
"Syafa!"
"Ada apa, Kak?"
"Tidak! Kenapa belum tidur?"
Fahri bersendekap.
"Ini lagi ngobrol sama Mas Dunka!" Tunjuk Syafa pada ponselnya. Wajahnya sumringah seolah-olah tengah berada di taman bunga. Fahri menatap adiknya seksama.
"Owh, Kak Fahri ini! Nanyain kenapa Syafa belum tidur." Fahri belum ingin beranjak. Gadis yang tengah dilanda asmara itupun enggan menyudahi perbincangannya dengan Sang Kekasih.
"Temani Kakak!" Fahri menarik tangan Syafa tanpa persetujuan.
"Ini, Kak Fahri minta ditemani sa...!"
"Kakak juga mau ngobrol padanya?" Merebut ponsel Syafa. "Dilarang nelpon anak orang di jam kelelawar!" ketus Fahri kemudian mematikan sambungan.
"Kakak jahat!" rajuk Syafa yang kembali merampas ponsel kemudian mengetik sesuatu.
Keduanya kini duduk sejajar di dipan. Memandang langit.
Hening.
Semilir angin menusuk hati Fahri hingga tanpa sadar hanya kekecewaan yang terlintas. Entah mengapa dia merasa kalah dari Dunka. Bukankah harusnya Syafa lebih memihak padanya? lebih mengerti dirinya?
"Sebegitu dalamkah cintamu padanya?" lirih Fahri yang diangguki antusias oleh Syafa. "Apa kau sungguh-sungguh dengan keputusanmu?"
__ADS_1
Syafa memandang cukup lama pada Fahri.
"Sangat!" gadis itu merendahkan pandangan, menatap sekitar menatap sayu pada mata Fahri. "Dia kehidupanku, Kak!"
'Secepat itukah rasa cinta itu terganti?'
Hanya helaan nafas panjang Fahri yang terdengar. Keduanya kembali hening.
"Syafa tidak mengerti kenapa. Pikiran Syafa hanya tertuju padanya. Syafa juga tidak ingin barang sehari saja tanpa melihatnya. Rasanya sangat gelisah bila tak berjumpa dengan dirinya. Katakanlah, Kak! Apakah Syafa salah jika ingin bersanding dengan dirinya?"
Hening.
Lambaian dedaunan seakan menertawakan kebungkaman Fahri. Dia yang kalah oleh adiknya. Dia yang selamanya tidak bisa membantah keinginan adiknya. Pun kali ini yang dengan susah payah berperang dengan keinginan hati. Melepas adiknya pergi atau memilih untuk dibenci.
Tidak! Daripada dibenci adiknya nanti, Fahri akan memilih menuruti kemauan Syafa.
"Suruh dia melamarmu jika memang serius!"
Ucapan Fahri yang tiba-tiba membuat Syafa beberapa saat hanya melongo.
"Apa betul itu, Kak?"
"Apa kau tidak suka dengan kata-kata ku?"
"Terima kasih, Kak! Terima kasih."
Emmuach
Pipi kanan
Emmuach
Pipi kiri lalu memeluk. Rasa lega dan bahagia bercampur haru. Fahri bahagia oleh senyum Syafa. Syafa bahagia sebab akan merasakan bagaimana mencintai pria lain selain kakaknya sendiri.
"Tidurlah! Malam telah larut. Tidak baik untuk kesehatanmu." titah Fahri.
"Kakak juga jangan banyak begadang. Angin malam sangat mudah membuat orang terlihat cepat tua. Bagaimana aku akan memiliki Kakak ipar nanti jika kakakku lekas menua?"
"Jangan membual! kau segeralah masuk. Atau angin malam juga menuakanmu. Si Dunka sepertinya cukup pandai memilih banyak wanita."
Pupil Syafa melebar sempurna. Fahri begitu mudahnya membalikkan kata.
"Kakakkk!Itu mengapa malah aku yang kena?"
Fahri terkekeh. Syafa masuk rumah setelah menghentakkan kakinya.
"Kakak hanya inginkan yang terbaik untukmu. Dan sejujurnya kakak lebih senang jika kau belajar lebih lama lagi. Tapiiii apa boleh buat. Kau sudah memutuskan. Kesulitan terbesar Kakak adalah tidak menuruti kemauanmu. Semoga engkau bahagia dengan pilihanmu."
Cahaya bulan semakin merona di langit. Fahri beranjak dari duduknya. Seorang wanita renta berdiam dibalik jendela. Mengintip serta menguping.
"Terima kasih,Ngger! Karena kamu tumbuh lebih baik dari yang ibu angankan!Maaf, sampai sekarang ibu harus tetap bungkam." lirihnya tanpa ada yang mendengar kecuali dinding kayu.
To be continued
__ADS_1