Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 9 Ada yang hilang


__ADS_3

"Memohonlah! Bukankah kau bilang disuruh bersujud pun akan kau lakukan?"


"Jangan kelewatan, Kak!"


Syafa menghalau jarak keduanya dengan merentangkan kedua tangan. Nampak jelas keputusasaan di wajahnya.


'Jangan membuatku serba salah begini, Kak! Tidakkah sedikit saja kau mengerti keadaanku. Hati ini sangat lemah ketika kau marah.'


'Betapa besar kekhawatiran mu padanya, Syafa. Kau pun sampai melupakan karakterku selama ini.'


Batin Fahri.


"Jika kau masih ragu dengan ucapanmu, maka pergilah. Aku tidak akan melepaskan Syafa." ketus Fahri seraya bangkit dari duduknya.


"Tidak! Aku mohon. Restuilah Kami." Dunka kini berada tepat di hadapan Fahri. Kedua tangannya mengatup di dada. Seketika Fahri menjaga jarak. Dia mundur dua langkah agar tangan Dunka tidak sampai menyentuh tubuhnya.


"Fahri, aku sangat bersungguh-sungguh. Aku sangat mencintai Syafa."


"Kau pikir, Aku tidak?"


'Kenapa tatapanmu begitu kepadaku, Kak! Ada hal yang tak mungkin aku sampaikan. Jalan terbaik adalah restui hubungan kami.'


"Aku tahu, Fahri. Kau memberikan seluruh cintamu untuk Syafa, melindunginya dengan segenap jiwa dan raga. Tapi, Fahri. Kau tidak akan bisa mencintai dirinya layaknya sang kekasih. Pada bagian itu bukanlah ranahmu."


"Kau mengajariku?" Tanpa sadar tangan Fahri terkepal. Dia meninju wajah Dunka hingga terjungkal ke belakang.


"Kakaaakkkk." teriak Syafa seketika menghalangi Fahri yang kembali ingin menyerang Dunka Dada Fahri naik turun seiring tatapan mata tajam bagaikan singa hendak menerkam buruan.


'Jangan membuatku tak berdaya begini, Kak.'


Karena wajah memelas Syafa, Fahri menghentikan aksinya. Dia sadar jika ucapan Dunka memang ada benarnya. Tapi meski begitu, hatinya masih saja terasa sakit. Ucapan Dunka seakan mencemooh dirinya yang telah kalah dalam hal memiliki Syafa. Fahri menghembuskan nafas berulangkali.


"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Fahri. Semua itu tidak akan menghentikan niatku untuk menjadikan adikmu permaisuriku. Tekadku sudah bulat. Aku mencintainya. Aku akan memperjuangkan dirinya hingga titik darah penghabisan."


'Kayak mau perang saja.' batin Syafa. Geli akan gaya bahasa Dunka. Tapi hatinya kini berbunga-bunga. Seorang pria mencintainya begitu dalam, hingga sanggup melakukan apapun untuknya.


Fahri masih bungkam. Dia tidak merespon apapun ucapan Dunka. Malahan memilih melangkah pergi.


"Kakak!" mohon Syafa sambil ikut jongkok sejajar Dunka. Jika sudah begini, apa boleh buat? Fahri memejamkan matanya, menahan gemuruh hati yang bergejolak.


"Baiklah, bawa orang tuamu kerumah ini besok." Setelah mengatakan hal itu, Fahri segera masuk ke dalam rumah.


'Kenapa ada yang hilang. Kakak telah merestui hubungan ini. Tapi kenapa aku jadi meragu?'batin Syafa.

__ADS_1


'Dia adikku dan selamanya akan begitu. Tapi kenapa rasa ini sangat sakit?' batin Fahri.


Fahri mengintip melalui jendela kamarnya. Dua insan tengah bersorak gembira. Tatapan keduanya memancarkan cahaya cinta satu sama lain. Fahri remuk redam tanpa bisa melakukan apapun. Sedangkan pintu kamar yang sedikit memiliki celah terdapat sesosok tubuh renta.


Sosok renta yang mengetahui segalanya tapi tidak mampu mengatakan apapun. Dia yang mengerti setiap keinginan anak-anaknya, tapi tidak mampu memberikannya. Dia hanya bisa berdoa agar kebahagiaan menyertai  kedua anaknya.


~


~


~


"Ucapan Dunka memang benar adanya,  Ri. Seorang kakak bisa memberikan segala cinta yang dimiliki buat sang adik. Tapi untuk satu cinta antar lawan jenis, hanya orang lain yang bisa memberikannya. Satu cinta yang bisa membuat seseorang melupakan seribu cinta yang lain." Ucap Bejo sambil mengusap-usap jagung bakar yang baru saja dia angkat dari pembakaran.


"Cinta keluarga akan selalu ada meski jiwa dan raga tidak lagi bersama. Cinta yang membuat seseorang tumbuh dewasa dan meraih cita-cita. Cinta yang menjadi dasar untuk menemukan cinta lainnya." Bejo tersenyum sendiri.


Dua jagung dia taruh di atas kulit jagung. Satu dia serahkan pada Fahri "Ini, makanlah!" Fahri menerimanya dengan malas. Menimang jagung itu tanpa selera.


"Kau seperti orang yang patah hati," seloroh Bejo sambil meniup -niup jagung kemudian menggigitnya. Fahri menghembuskan nafas berat. Seakan ada batu besar yang menghimpit.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan Bejo. Fahri terkesan seperti orang yang tak memiliki gairah.


"Menurutku, Dunka telah memendam perasaan sejak lama pada adikmu.


Fahri menoleh sekilas pada Bejo yang kembali asyik membolak-balik kan jagung pada perapian. Sungguh cepat sekali Bejo memangsa jagungnya.


"Aku ingat bahkan dulu kau sering bolos sekolah hanya karena menuruti keinginannya."


Bejo mengungkit kenakalan Fahri yang seringkali bolos sekolah dan ikut Bejo nyupir mobil pick up. Mengangkat sayur-sayuran agar bisa mengumpulkan uang untuk bisa membelikan Syafa sebuah boneka beruang.


"Sejak dahulu kau jadikan adikmu sebagai duniamu."


'Bukan hanya duniaku. Dia juga separuh dari nyawaku,' jawab Fahri dalam hati. Tatapan matanya jauh pada lampu-lampu desa yang berkerlip menghiasi pekatnya malam.


"Harusnya, sekarang kau juga bahagia. Dia telah menemukan pendamping yang baik. Setelahnya kau bisa memikirkan duniamu sendiri dan juga hidup bahagia. Menikah itu indah, Bro." Bejo menyenggol bahu temannya. Fahri hanya terkekeh kecil kemudian menjawab.


"Jika indah, kenapa kau sering keluhkan istrimu?" Bantah Fahri.


"Istri, bukan nikahnya." tukas Bejo tergelak. "Apalagi kawinnya. Kau akan ketagihan jika sudah merasakannya." Bejo tertawa meledek. Fahri yang enggan menimpali hanya diam sambil memakan jagung ditangannya.


~


~

__ADS_1


Di suatu sore


Dunka telah membawa kedua orang tua serta beberapa sanak saudara guna mengkhitbah Syafa sekaligus melangsungkan pertunangan. Susunan acara dibuat sesederhana mungkin agar hasil maksudnya segera mencapai kesuksesan. Kedua keluarga begitu antusias menyambut penyatuan dua insan yang tengah dilanda asmara.


Tanggal baik pun telah dibahas. Tinggal menunggu sambil mempersiapkan segalanya.


Beberapa keluarga dekat masih membantu beres-beres selepas acara selesai. Ibu pun nampak muda kembali, tak menghiraukan rasa lelah demi kelangsungan acara agar berjalan sempurna.


Sambil senyum-senyum sumringah, Syafa menemui Kakaknya yang kini duduk sendiri di teras.


"Terima kasih, Kak?" ucap Syafa langsung bergelayut manja di lengan Fahri.


"Sebentar lagi kau akan menikah, masih saja seperti anak kecil," kata Fahri tanpa ingin melepaskan diri dari Syafa. Bahkan dia menikmati momen ini, meletakkan kepalanya pada kepala Syafa.


"Aku akan selalu seperti anak kecil di mata Kakak." tanpa terasa mata Syafa berair. "Kakak telah melakukan banyak hal untukku. Dan sampai sekarang, Syafa belum bisa membalas kebaikan Kakak walau hanya sekali."


'Mengapa semakin kesini, aku merasa semakin hampa.' Syafa memeluk tubuh Fahri dengan erat. Tanpa terasa air matanya menetes.


'Andai Kakak bukanlah...! Tidak! Ini tidak boleh terjadi.'


"Kakak!"


"Hemmh"


"Mintalah sesuatu padaku, aku akan berusaha memberikannya." Syafa membuat jarak agar bisa memandang wajah Fahri. "Kakak menangis?" lirih Syafa sambil menyeka air mata yang hampir menetes di pelupuk mata Fahri.


"Tidak!" Elak Fahri, padahal bola matanya memerah. Dia segera mengelak dari jangkauan tangan Syafa. "Kau yang menangis." Ejek Fahri.


"Kenapa harus bohong? Jika Kakak jujur, Syafa akan lebih senang," hibur Syafa yang menebak jika kakaknya pasti memikirkan perpisahan mereka nanti.


"Apakah Kakak memikirkan keinginan Kak Dunka yang ingin membawaku pergi setelah menikah nanti?" cecar Syafa tak kuasa menahan rasa ingin tahu. Berharap jika tuduhannya adalah kebenaran.


'Katakanlah iya, Kak!'


'Salah satunya itu, Syafa. Tapi ada yang lebih kakak sesali lagi. Sesuatu yang mungkin saja bisa menghancurkan hubungan kita jika hal itu terungkap.'


"Bukan!"


"Lalu, apa yang membuat Kakak bersedih?"


"Kebohonganmu."


Duarrrr

__ADS_1


to be continued


__ADS_2