
Malam semakin larut. Namun bulan masih setia menemani. Meski posisinya telah bergeser ke arah barat. Fahri masih setia pada posisiya. Semua lampu telah mati kecuali lampu pajangan di ruang tengah. Lampu di kamar Syafa juga mati.
"Dia sudah tidur!" Gumam Fahri hampir saja menekan handel pintu. Urung dia lakukan.
Setiap malam dia mencuri cium pada Syafa. Berlama-lama memandang wajah adiknya yang memenuhi isi kepala juga batin.
"Jika aku lakukan itu lagi, akan sangat sulit bagiku untuk melepasmu. Kita tetap saja saudara. Tidak baik jika terlalu intim." Fahri mendesah. Sebagai lelaki dewasa dan normal tentu dia ingin bersikap lebih dari sekedar saudara. Namun sikapnya bertentangan dengan ajaran yang selama ini dia anut. Tapi hatinya kenapa tidak bisa bersikap wajar.
"Apakah ada yang salah dengan diriku?" Fahri memegangi dadanya.
Ngantuk mulai menyerang. Fahri memilih pergi ke kamarnya saja. Fahri melepas kaos dan memilih langsung rebahan di kasur setelah mematikan saklar. Dia memeriksa ponsel sebelum benar-benar terlelap. Tangan kirinya terulur Menyetel musik kesukaan. Dangdut koplo Jawa timuran yang lagi marak.
Baru saja Fahri hendak menutup mata, sebuah tangan memeluk erat tubuhnya.
"Apa ini?" Batin Fahri. Oleh temaram lampu tidur, Fahri dapat melihat dengan jelas sebuah tangan menggerayangi tubuhnya merabanya pelan. Mulai dari dada.
"Tidak mungkin ini hantu kan?" Batin Fahri. Meraba-raba balik tangan yang menelusuri dada bidangnya.
Fahri mengumpat dalam hati. Gelenyar aneh menjalar ke seluruh tubuh. Nikmat yang bercampur umpatan kesal. Dengan perlahan dia membuka gundukan dibalik selimut
"Kak! Jangan marah aku tidak suka melihatnya." Fahri dibuat melongo oleh wajah teduh Syafa yang masih nyaman di alam mimpi. Gadis itu sama sekali tidak terusik kala Fahri membuka selimut bahkan menghempaskan tangannya yang berkeliaran.
Fahri tidak ingat kapan terakhir kali mereka tidur satu kamar. Yang Fahri tahu hanyalah Syafa memang sering tidur di ranjangnya jika dia pergi setor barang bersama Bejo. Sebagai pemasok bahan baku pangan, Fahri harus siap mengantar barang ke lain kota hingga bermalam di jalanan. Namun kadang juga Fahri mengirimnya lewat jasa online. Seperti malam ini.
"Kau tahu kakakmu ini di rumah. Tapi masih saja kau bermalam di kamarkuu?" Gumam Fahri kesal. Dia cukup mengantuk malam ini. Enggan rasanya pindah tempat. Beberapa kali Fahri menguap. Fahri memilih membalikkan badan memunggungi Syafa.
"Syafaa...!"
Tangan serta kaki Syafa telah melilit sempurna di tubuh Fahri. Gundukan dada Syafa terasa menempel di dada Fahri yang terbuka. Meski tertutup kain baju tidak menutup celah pikiran kotor Fahri berkelana. Apalagi Syafa semakin menempel.
"Ya Tuhan! Bisakah kau lepaskan aku dari cengkeraman berbahaya ini?"
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Fahri melepaskan diri dari belenggu tangan dan kaki Syafa, Fahri membalikkan badan. Dia bertujuan menggeser tubuh adiknya agar kembali ke tempat semula. Setidaknya memiliki jarak.
"Syafa...kau membuat kesalahan dengan naik ke atas ranjangku." Mencium lembut pipi adiknya.
"Kakak tersayang kuuu...aku cinta padamu."
Mata Fahri membeliak. Syafa menarik tengkuknya hingga bibir mereka bertemu. Tepat setelah Syafa mengigau.
"Kaakkk!"
Entah siapa yang hadir dalam mimpi Syafa, tapi Fahri telah merasakan manisnya bibir Syafa untuk yang kedua kali.
"Syafaaa...kau ...!" Fahri semakin frustasi. Melepas dengan kasar tangan yang membelit leher. Untung saja gadis kebluk itu susah dibangunkan jika tidur.
Fahri duduk di lantai dengan nafas memburu.
"Tidak Syafa! Jangan lakukan ini. Kita saudara!" ucapnya sambil menatap Syafa yang menggeliat. Fahri segera menepuk lembut bahu gadis itu. "Jika saja kakak tak mengerti apa itu cinta. Jika saja Kakak bisa melewati batas. Aku mencintaimu Syafa. Tapi mengapa harus kamu? Mengapa kakak tidak bisa dekat dengan orang lain?"
Bukannya tidak pernah mencoba. Bahkan seringkali Fahri membuka hati agar gadis lain bisa mendekati dirinya. Namun yang ada hanyalah rasa tidak nyaman.
"Aku tahu cinta. Apa itu cinta dan bagaimana memperjuangkannya. Tapi cintaku, harus terkubur sebelum berkembang. Bahkan memperjuangkannya adalah kata lain dari pengkhianatan."
Adik yang harusnya dia jaga, akankah dia rusak dengan kata cinta. Haruskah dia keras kepala dan melanggar semua aturan agama serta orang tua?
Fahri kembali menyugar rambutnya. Kali ini beberapa kali hingga kepalanya berdenyut.
Fahri mengambil bantal. Kemudian pergi ke ruang tamu. Dia menepuk-nepuk sofa kemudian tidur di sana. Rasa kantuk kembali menyerang.
"Selamat tidur Syafa." lirihnya.
Suara adzan subuh menggema. Syafa menggeliat pelan dibalik selimut. Mimpi semalam membuatnya bangun dalam keadaan lebih segar.
__ADS_1
"Owh, ternyata aku tidur disini? Kenapa mimpi itu ..." Pipi Syafa merona. "Kenapa itu harus kamu, Sih? Untung cuma dalam mimpi. Kalau beneran bagaimana?" Mata Syafa membulat sempurna.
"Dan bodohnya aku yang memilih tidur di sini daripada kamar sendiri."
Syafa ingat semalam dia memilih pergi ke tempat Fahri daripada kamarnya sendiri. Syafa selalu ingat jika Fahri pergi mengantarkan barang ke luar kota, maka kamarnya akan menjadi daerah kekuasaan Syafa. Dan pernah di suatu malam, Syafa mendapati Fahri yang menggendongnya ala bridal style saat pura-pura tertidur.
"Lalu kenapa kali ini dia tidak menggendongku? Atau tidur saja berdua denganku disini."
Mengingat kata tidur berdua, Syafa kembali merona.
"Nak, kamu tidur disini?" Terdengar suara Sibu di ruang tamu. Syafa yakin jika yang diajak bicara pastilah kakaknya. "Apa Syafa tidur di kamarmu lagi?"
"Fahri ketiduran, Sibu!" Syafa melongok sambil meringis dari balik pintu kamar Fahri.
"Kamu begadang sampai jam berapa?"
"Jam satu malam, Sibu!"
"Ya sudah! Wungu disik. Mari iku yen pengin bobok lagi. Lanjutkan! Ndak apa-apa."
Sibu berlalu pergi sambil membawa mukena. Fahri mengambil bantal dan ponselnya dengan sangat malas.
"Kak! Abis shubuh jangan tidur lagi, nanti rezekinya dipatok ayam lho."
Fahri tidak menggubris ucapan adiknya. Dia memilih terlentang di kasur. Seakan semua beban telah dia lepaskan seutuhnya.
Syafa masih bertahan di sisi ranjang. Mimpi semalam kembali membuatnya merona. Wajah Fahri dia pandang tanpa berkedip. Meski rambutnya nampak berantakan, tidak mengurangi kadar kêtåmpanan yang paripurna. Alisnya nampak rapi berjajar seperti semut berbaris, bulu mata lentik, hidung mancung dengan rahang tegas sempurna. Terakhir adalah bibir seksi khas lelaki. Sedikit berwarna coklat tua sebab terkadang digunakan pemiliknya merokok.
Tanpa sadar Syafa menyentuh bibirnya sendiri.
"Kenapa rasa itu sangat nyata?"
__ADS_1
To be continued