
"Baru pertama kali lho Sibu jalan-jalan di mall. Sibu nggak tahu tadi jika ada tangga jalan sendiri begitu."
"Namanya eskalator, Sibu?" Syafa terkekeh ketika ingat reaksi ibunya. "Tadi sibu panik banget ketika akan belanja gaun kami. Sibu sampai tidak mau menginjakkan kakinya ke tangga eskalator. Sibu ingin berbalik arah untuk kabur bahkan wajahnya sampai memerah. Akhirnya aku tuntun Sibu dengan sedikit bujukan. Kau tahu kak? Ketika kita baru saja menapak di tangga pertama."
"Sibu hampir saja jatuh sebab terkejut. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Untung saja ada kak Dunka yang dengan sigapnya menarik tubuh Sibu. Alhasil beliau selamat meski kami harus duduk terlebih dahulu selama setengah jam. Sibu merasa pusing kepala katanya. Padahal setahu Syafa, jangankan anak tangga, pohon kelapa saja dulunya sering Sibu panjat sendiri."
Syafa terkekeh geli. Sendoknya sesekali masuk ke mulut untuk menyuap. Berbeda dengan Fahri yang melihat perbedaan raut wajah pada Sibu. Fahri menangkap gelagat tak biasa yang mencurigakan.
Sibu sesekali tersenyum menanggapi omongan Syafa, namun bola matanya tak menatap satu arah, sesekali Sibu membenahi letak duduknya dengan gelisah. Fahri berkesimpulan jika kemungkinan besar penyebabnya bukanlah eskalator.
Fahri tahu benar jika Sibu bukan pertama kalinya berada di mall. Fahri bahkan pernah membututi ibunya yang bekerja di sana sebagai cleaning servis. Dan pekerjaan Sibu juga membuat dirinya naik turun eskalator. Lalu bagaimana bisa kali ini berlagak seakan baru pertama kali menggunakan eskalator?
"Kak Dunka juga yang menenangkan Sibu. Dia memeluk Sibu dengan kata-kata lembut dan menenangkan. Lalu Kak Dunka membelikan kita susu kocok yang nikmat. Akhirnya Sibu pun tidak tegang lagi. Bahkan saat pulang, Sibu tidak berkeringat seperti sebelumnya."
"Dunka memang pria idaman. Dia perhatian dan bertanggung jawab. Kau akan senantiasa hidup bahagia bila bersanding dengan dirinya."
"Amiiin! Terimakasih Sibu! Doa Sibu selalu menjadi perisai dalam takdirku." Syafa melemparkan isyarat cium jauh berkali-kali pada Sibu. Sibu geleng kepala.
Fahri seperti orang asing di rumahnya sendiri. Dia hanya diam mendengar setiap kata pujian dari kedua wanita berharga di hadapannya.
Kali ini, dia menyimpan curiga. Benar-benar curiga. Sibu sering bepergian cukup lama. Selain itu, dahulu Sibu selalu sering menasehati Syafa agar giat belajar dan belajar. Menyuruh Syafa agar berpendidikan tinggi sehingga menjadi wanita yang hebat kelak. Sejak kedatangan Dunka, Sibu seperti lupa akan nasehatnya sendiri.
"Dia bagaikan malaikat tak bersayap di keluarga ini. Aku sudah tidak ada gunanya lagi." Gumam Fahri menusuk-nusuk potongan buah mangga.
Hal itu tanpa sengaja dilihat oleh Sibu. Fahri seakan kehilangan nafsu makan. Sedangkan Si Syafa menunjukkan isi hatinya yang bahagia. Makan begitu banyak tanpa beban. Belepotan di sana sini pun tak dihiraukan. Dan Fahri yang biasanya perhatian kini nampak larut dalam dunianya sendiri.
"Kalian berdua ini kenapa?" Ucap Sibu tiba-tiba. Acara makan terhenti. Syafa menodongkan sendok di depan mulut beberapa saat. Kemudian melirik Sibu dan Fahri bergantian. Pada akhirnya memutuskan untuk meletakkan sendok di atas piring. Fahri berdecih.
"Ayolah, Sibu! Makanan ini sangat lezat. Jika dingin akan terasa hambar." Membiarkan makanan selezat kerang bukur dengan bumbu swike bukanlah pilihan yang tepat. Bahkan kerang bukur yang gede-gede ini, Syafa dapatkan setelah tiga hari menunggu. Sebab minimnya para pengambil kerang. Sebagian besar penduduk desa lebih memilih bercocok tanam dan melaut di kapal. Lebih menjanjikan penghasilannya.
"Fahri...kenapa sejak tadi kamu hanya makan buah saja, Nak? Apakah radangmu kumat?"
Syafa memutar bola mata malas. Dia yang protes tapi Fahri yang diperhatikan.
"Tidak! Sibu. Aku baik-baik saja." Menatap ke arah Syafa. Fahri tergerak mengambil serbet dan mengusap wajah Syafa yang belepotan.
"Katanya mau menikah. Tapi kelakuan kayak bocah." Dengan lembut Fahri membersihkan seluruh wajah Syafa. Meski dongkol, reflek saja perhatian.
"Sibu sudah bahagia sekarang?" Menatap ibunya. "Si anak ceroboh ini selalu saja merepotkan." Mengusap tangan dan mulutnya sendiri. Fahri enggan meneruskan makan.
"Terima kasih, Kak!" Sibu tersenyum. Fahri memalingkan wajah. Kemudian berdecih berulang kali.
__ADS_1
Egonya masih berat untuk berdamai dengan Syafa. Wajar bukan? Terkadang kepada saudara kita merasa kesal bahkan marah hingga mendiamkan. Tapi kesemua itu adalah bentuk dari kasih sayang.
"Inilah yang Sibu harapkan dari kalian. Kalian berdua adalah saudara. Sibu berharap apapun yang terjadi, Kalian jangan sampai menjauh satu sama lain. Bahkan saling menyakiti. Sibu tahu, sesekali terjadi ketegangan dalam keluarga adalah hal yang wajar. Namun jangan sampai berlarut-larut menyakiti satu dengan yang lainnya. Itu akan menghancurkan ikatan suci yang selama ini kita bangun. Sibu tidak akan pernah merelakan itu terjadi. Bahkan jika harus Sibu tebus dengan kematian sekalipun."
Suara jangkrik yang semula tak terdengar kini merdu membelah keheningan. Mereka diam dalam pikiran masing-masing. Ada apakah gerangan? Mengapa tiba-tiba saja ibunya berkata demikian?
Syafa berdiri, mendekati kursi ibunya, memeluk tubuh renta itu dengan hangat. Meletakkan dagunya di pundak sang ibu.
"Sibu! Kenapa Sibu berkata demikian?" Mencium pipi ibu.
Masih enggan beranjak. Fahri menatap kedua perempuan yang tengah berbagi kasih sayang. "Aku telah selesai. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan Sibu. Mungkin akan pulang tidak tepat waktu."
Sibu menarik nafas berat. Sepertinya Fahri masih marah padanya. Keputusan sepihak yang dia ambil untuk keluarga sepertinya akan menimbulkan konflik.
"Kak!"
Sibu menarik tangan Syafa. "Biarkan dia pergi."
"Tapi, Sibu!"
"Beri kakakmu ruang untuk berpikir."
Derit pintu terdengar kembali. Fahri keluar dari kamar dengan tergesa-gesa sambil mengenakan jaket.
"Ke rumah Bejo!"
Semarah apapun Fahri, tetap saja menjawab. Biar nadanya ketus tapi setidaknya Syafa tahu kemana tujuan kakaknya.
Cukup cekatan Fahri memutar arah kendaraannya. Syafa hanya diam menonton. Begitu motor menyala, Syafa teringat sesuatu.
"Kakkkk!"
Sayangnya Fahri tidak lagi mendengar.
~
Fahri melajukan motornya melewati perkebunan sepi. Semula dia hendak ke rumah Bejo. Namun bahan bakarnya mulai menipis. Arah ke rumah Bejo dan pom bensin berlawanan arah. Dan arah ke rumah Bejo tidak ada penjual bensin eceran maupun pom. Lalu bagaimana jika nanti kehabisan bahan bakar?
'Sebaiknya aku ke pom dulu.' bati. Fahri.
Pengisian telah selesai, untung saja tidak harus mengantri lama. Fahri tidak kembali ke jalan yang di lalui tadi. Dia mengambil alternatif lain melewati pinggiran desa. Jalannya lumayan sepi. Namun bisa mengirit waktu.
__ADS_1
"Toloooonggg."
"Toloooooongggg!"
"Teriaklah...itu semakin mempercepat kematianmu."
Buk
Buk
Arggghhh...."
Fahri memelankan laju kendaraan. Tiga orang mengeroyok satu orang lain hingga babak belur. Yang dikeroyok mulai oleng dan jatuh ke tanah. Darah membasahi sebagian baju, wajahnya samar terlihat memar. Cahaya rembulan mulai terang menyinari. Tapi tak mampu menerangi hati manusia yang berlumuran dosa. Karena iba, Fahri turun untuk menolong.
"Kalian! Bangsat! Main keroyokan" Fahri menatap ngilu si korban yang jatuh bersimbah darah. Entah masih hidup atau meregang nyawa.
"Hei...jangan ikut campur kau bocah!"
Seorang yang umurnya terbilang lebih tua daripada yang lain. Tubuhnya pun lebih kekar berisi.
"Pengecut Kalian."
"Sebaiknya, Kau jangan ikut campur!" Kata penjahat pembawa pisau lipat.
"Kita habisi saja dia, Kang! Akan berbahaya jika lapor polisi."
Jika saja Fahri pengecut, tentu akan memilih lari dan menghindar. Tapi hatinya tak bisa. Bagaimana nasib orang yang terluka parah itu, jika dia pergi.
"Aku akan pergi jika Kalian izinkan menolongnya." Pinta Fahri.
"Bedebah, kau bocah sialan."
Tanpa ba-bi-bu adu tanding terjadi. Fahri melawan tiga orang bersamaan. Satu orang memegang senjata tajam. Meski cukup mahir ilmu bela diri, tentu bukanlah lawan yang sepadan. Fahri menyadari jika tenaganya mulai terkuras.
Bughhh
Bughhh
"Lumayan juga tenagamu hai Bocah."
Fahri menggerakkan lehernya yang juga kena pukul.
__ADS_1
"Kalian, pecundang."
To be continued