Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 27


__ADS_3

"Kenapa penampilanmu berubah begini? Kamu ikut mendalami ajian buruk rupa?"


"Kakak jahat banget ih. Aku tuh semalam nggak tidur karena kepikiran sama kakak!" Upps Syafa menutup mulut dengan kedua tangan. Keceplosan kan.


Menghilang Syafa, ayo menghilang. Ingin hati menutup pintu ternyata susah. Yaelah! kenapa kaki kakak harus nyangkut di situ? Melihat tanpa sengaja sebuah kaki bersarang dia bagian bawah pintu. Apa dia nggak kesakitan karena kejepit.


Cukup pejamkan mata dan hembuskan nafas. Percuma saja menghindar. Hadapi kenyataan.


"Kamu mikirin Kakak?" Lihatlah, tampang sok polos penuh ejekan itu. Pura-pura menunjuk wajah sendiri lagi. Malah mengulum senyum. Syafa kan jadi bertambah malu. Bertingkah salting membuat Fahri gemas saja.


Eh, rambut berantakan milikkku kenapa disentuh?


"Mikirin kakak kenapa malah berubah jelek begitu? Harusnya tuh dandan yang cantik biar kakak makin tertarik," bisik Fahri sambil terkekeh. Gimana Syafa nggak terkejut coba. Tadinya kan dia masih menunduk.


"Dah sana mandi. Kakak mau keluar sebentar." Syafa hanya mengeram sendiri. Menghentakkan kaki antara ingin marah dan malu. Lihatlah dia betapa buruk kondisinya sedangkan kakaknya itu tampan banget meski rambutnya sedikit berantakan.


~


~


~


Fahri keluar dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia memesan ojek kemudian meluncur ke rumah Bejo. Rêncana pagi ini adalah meninjau panen jagung di desa X kemudian menghadiri rapat para petani guna membahas perbaikan sistem irigasi.


Setengah jam cukup untuk menghabiskan waktu hingga rumah Bejo. Rumah minimalis sederhana dengan gaya modern.


Di halaman rumah banyak tanaman hias yang tertata rapi. Istri Bejo sungguh ahli dalam hal menata dekorasi rumah. Meski sedikit susah berkata-kata namun dia cantik dan telaten. Pagi ini terlihat wanita itu menyiram bunga-bunga kesayangannya.


"Pagi, Mbak!" Wanita berponi dengan rambut cepaknya itu pun menoleh. Membuang selang air kemudian menyambut Fahri.


"Ka-kau di- si-ni juga? Nga-pain?" ucapnya terbata. Terkadang dia lancar berucap, terkadang juga kita harus sabar menunggu ucapannya.


"Saya ada pekerjaan dengan Kang Bejo. Dia ada di rumah kan?" Matanya mengedip beberapa kali. Seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.


"Mbak! Dia dirumahkan?" Hanya mengangguk.


"Ja-jangan masuk!" Fahri mengernyit heran juga bingung dengan tingkah aneh istri Bejo yang biasa dipanggil Dena.


"Le-lewat sana." Dena mengarahkan Fahri melewati pintu belakang. Mana pakai acara apit lengan segala. Pasti bakal cemberut tuh muka Bejo jika melihat.

__ADS_1


Fahri mencurigai ada seseorang di dalam rumah sana. Dia melihat tiga sosok bayangan berdiri di ruang tamu. Namun tak begitu jelas. Sebab kaca itu memantulkan sinar. Yang terlihat hanyalah dirinya dan Dena.


"Sepagi ini sudah ada tamu ya, Mbak? Siapa! Sampai segitunya saya nggak boleh lihat."


"Ng...nggak ada! I-itu-tu ha-nya teman suamiku!" Semakin mengeratkan pegangannya. Bahkan sedikit mendorong Fahri agar segera pergi dari sana.


"Mbak, tapi aku mau ketemu Kang Bejo." Pura-pura menolak. Tujuannya si biar Si Bejo keluar. 


"I-iya. Le-lewat sana saja." Menarik lengan Fahri dan menuntunnya. Mereka masuk lewat pintu belakang.


"Hai... jagoan om, lagi ngapain?" Bocah belum genap satu tahun itu nampak aktif memukul-mukul baby Walker. Bibirnya terdapat noda sisa makanan. Dia seperti menyambut kedatangan Fahri dengan suaranya yang khas. Asisten rumah tangga juga ikut bahagia melihat reaksi bocah kecil itu. Mengelap bibir bayi mungil dengan tissu.


Bejo sungguh suami yang baik. Meski hanya berprofesi sebagai sopir angkut barang, namun rela menyewa satu Art hanya untuk meringankan beban istrinya.


"Dia senang sekali!" Sungguh ajaib, Dena akan lancar bicara jika itu tentang anaknya.


Fahri mengambil bocah itu, mengangkatnya tinggi-tinggi. Gelak tawa ceria si bocah membuatnya semakin bersemangat.


"Ekhemmm!" Fahri tidak peduli meski suara itu ditunjukkan untuknya. Siapa lagi jika bukan pemilik rumah. "Pagi sekali kamu datang. Tumben!" Bejo duduk di bangku bawah jendela. Art melenggang ke dapur atas kode dari Dena.


"Sayang!" Menjentikkan jari agar Dena mendekat. Bejo tanpa sungkan mengelap tangan Dena. Fahri mencebik itu sudah dia prediksikan.


"Nggak kotor, Yang!" Protes Dena. Fahri paham betul jika tadi Bejo melihat kedatangannya.


Yah! Diserahkan lagi pada Dena. "Bawa dia ke dalam, Yang. Aku ada  bisnis sama tuh Bocah." Dena kan penurut dia mengambil anaknya kemudian pergi.


"Fahri kalau belum sarapan, sarapan di sini saja ya. Kang Bejo juga belum sarapan kok. Temenin dia. Oke!"


"Siap mbakku yang paling cantik."  Mengacungkan dua jempol.


Plakkk


"Sakit, Kang! Tega bener sama yang lebih muda." Mengelus kepala yang memang beneran sakit.


"Makannya jangan genit sama istri orang!"


"Dia memang mbak ku, Kang!"


Ya, benar. Fahri satu susuan dengan Dena. Cerita ini cukup hanya itu yang Fahri tahu. Cerita selengkapnya tentu tersimpan rapi bahkan bisa saja menjadi misteri sepanjang masa. Begitulah keinginan beberapa orang. Tanpa mereka duga jika takdir tidak menurut pada keinginan orang.

__ADS_1


"Tahu! Tapi sejak jadi istriku, kamu tidak berhak merayunya." Suara berat Bejo mengintimidasi.


Seperti yang sebelum-sebelumnya Fahri berlagak tidak mendengarkan. Begitulah hubungan persaudaraan di antara mereka. Kadang terlihat serius meski sebenarnya becanda kadang pula terdapat kata serius dalam candaan.


"Peduli apa, aku! Yang pasti, dia mbakku tercantik. Aku jadi ingin memeluknya."


"Berani kamu!"


Fahri bangkit duluan sebelum dapat tampolan kedua kali.


"Mbak Denaaa...! Suamimu main tangan samaku!"


Si bocil yang tadinya mulai terlelap mendadak membuka mata. Tangisnya memenuhi seluruh rumah. Dena menatap tajam dua pria dewasa yang saling mengejar. Tingkah mereka sama sekali tidak ada perubahan. Dimata Dena.


"Ka-ka-lian!!!!" Geram Dena melototkan mata. Menunjuk dua pria dewasa itu bergantian. Fahri hampir saja tergelak. Ekspresi Dena lebih cocok dibilang lucu dan menggemaskan daripada kata menakutkan.


Bejo membungkam mulut Fahri yang hampir saja melebar. "Dia lebih sadis jika kau ketawa."


Bayi mungil yang tengah menangis kencang segera diam saat sang ibu memberikannya botol susu. Bukan sufor melainkan ASI yang dipompa oleh Dena sebelumnya.


"Ayo! Ti-ti-tidurkan lagi!" Mengangkat anaknya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.


"Yaaaang!" Bejo memelas. Hari ini ada janji bertemu dengan seorang yang penting. Bagaimana jika durasi waktu untuk menidurkan si bocil melebihi itu. Belum sarapan lagi.


Bejo dan Fahri saling tatap. Keduanya sepakat saling menyalahkan namun hanya bisa diungkapkan lewat tatapan mata. Bayi Bejo adalah anak tercerdas yang tidak akan mudah tertidur lagi jika tidurnya terganggu.


"Owhhhh, ja-jadi Kalian tidak akan me-melakukannya?"


Bayi mungil itu bahkan tersenyum tanpa melepas dot. Tatapannya jernih serta menghanyutkan. Tapi bagi Bejo dan Fahri ini sebuah malapetaka. Setengah jam lagi mereka harus berangkat kerja bagaimana jika bayi itu belum juga tidur.


"Ka-ka-kalian menolak?"


Bejo segera mengambil anaknya. Dena tersenyum dan melenggang pergi menuju tempat cuci piring.


"Ya!kami siap menidurkannya lagi."


"Hemmm."


"Saya sarapan dulu ya, Kang! Nanti gantian!"

__ADS_1


"Fahri ....!"


To be continued...


__ADS_2