Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 31


__ADS_3

"Kenapa kakak selalu melarang Syafa nikah?"


"Karena kakak mencintaimu?"


Deg


Deg


Deg


Syafa skeptis. Menggantung martabak terakhir tepat di depan mulut. Tinggal satu gigitan. Pikirannya mendadak buntu. Menatap Fahri dengan tatapan tak percaya.


Fahri merasa lega sebab beban yang selama ini menggumpal dalam dada telah dia keluarkan. Tinggal menunggu jawaban Syafa. Entah nanti mengecewakan dirinya atau tidak yang pasti Fahri telah mencoba mengungkapkan. Dengan senyum tipisnya Fahri menarik lembut tangan Syafa, memakan martabak itu dengan sangat santai. Syafa tersentak.


"Tentu saja kakak mencintaiku, aku kan adikmu."


Tertawa garing sambil melirik tangannya sendiri.


Fahri sudah menduga hal itu. Syafa pasti akan menganggap lain arti.


"Bukan. Kakak mencintaimu sebagai  cinta seorang pria terhadap wanita. Kakak tidak tahu kenapa jadi begini. Kakak juga sudah berusaha mengingkari perasaan ini. Tapi setiap kakak ingin membuangnya. Perasaan bertambah nyata. Kakak tidak bisa terus begini."


Punggung Syafa bergetar. Gadis itu telah bersusah payah menahan air matanya agar tidak jatuh. Tapi tetap saja air mata itu mengalir tanpa bisa dia cegah.


Entah harus bahagia atau merana. Syafa merasa bingung. Bohong jika dia tidak merasakan hal yang sama dengan Fahri. Syafa juga merasakan cinta. Cinta kepada lawan jenis yang tiap harinya juga bertambah besar.


"Ini aib, Kak! Perasaan kita terlarang. Kita tidak boleh begini!" Mengusap kasar wajahnya kasar menggunakan ujung lengan baju. Fahri terpaku. Mengusap air mata Syafa pun dia tak mampu. Merasa bersalah pula dengan perasaan terlarang ini.


"Maafkan Kakak,kakak tidak bisa terus-terusan membohongi diri sendiri. Kakak sangat tidak rela kamu bersama orang lain. Kakak merasa cemburu bila kamu bersama dengan yang lain." Menangkup kedua pipi adiknya. Fahri bahkan tidak segan mendaratkan ciuman di bibir Syafa. Ciuman manis yang menyiratkan kasih hasrat cinta mendamba.


"Kamu tidak menolaknya. Aku rasa perasaan kita sama."


ucap Fahri mengusap lembut bibir Syafa. Pagutan itupun terlepas tanpa mendapat balasan dari Syafa.


Tapi Fahri berasumsi seratus persen bahwa Syafa pasti memiliki perasaan yang sama dengannya. Jika hal itu tidak benar, Fahri akan nekad melakukan apapun untuk menaklukkan hati Syafa.


Entah kenapa ada perasaan hangat dan juga gejolak yang membara. Syafa merasa bahagia sebab kakaknya juga memiliki cinta yang sama dengannya. Tapi bagaimana dengan pandangan orang lain nanti? Sibu, Bejo dan Mbak Dena. Mereka pasti akan jijik dengan hubungan terlarang ini.


"Syafa...! Kenapa diam saja? Katakanlah sesuatu. Kenapa malah menangis? Hemmh." Mengusap air mata Syafa.


Tak ada jawaban. Syafa hanya menghamburkan diri ke dalam dada bidang Fahri. Merasakan hangatnya pelukan ini. Berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Syafa, jangan menangis. Kakak minta maaf. Kakak salah. Seharusnya perasaan ini memang tidak ada sejak awal. Perasaan ini muncul begitu saja."


Syafa makin sesenggukan. Memeluk kembali tubuh kekar Fahri. Pria itu semakin frustasi oleh sikap tak jelas adiknya.


"Syafa juga mencintai kakak. Syafa sangat mencintai kakak." Ucap Syafa yang hanya mampu tertahan dalam hati. Malu rasanya mengutarakan cinta kepada seorang yang benar-benar kita kasih.


"Sekarang, katakan Syafa, apakah kamu juga mencintaiku?"


Netra keduanya bertemu. Syafa menatap sendu wajah kakaknya. Momen ini lebih mendebarkan daripada tes uji nyali.


"Katakan Syafa? Apa kamu juga mencintai kakak?" Cerca Fahri. Syafa mengangguk yakin. Keduanya saling berpelukan kembali. 


Mereka sepakat akan menyembunyikan status ini dari semua orang. Biarlah hubungan keduanya hanya mereka yang tahu.


"Syafa tidak sanggup menerima amarah Sibu. Biarlah begini adanya. Kita jalani dulu." pinta Syafa.


"Lalu, aku harus diam saja ketika kamu di pelaminan bersama Dunka? Tidak Syafa. Aku bukan pengecut. Kamu harus menjadi milikku meski semua orang menentang hubungan ini. Aku akan hadapi."


"Masalahnya bukan hanya Sibu, semua orang juga akan jijik pada kita. Cinta sedarah tidak boleh terjadi. Itu sebuah aib dan dosa. "


"Sibu harus merestui kita bagaimanapun caranya. Kita bahkan bisa hidup mandiri jika Sibu bersikeras."


"Tidak, Kak! Sibu yang melahirkan dan membesarkan kita dari kecil. Tidak adil baginya jika kita meninggalkan dia setelah menabur aib."


"Kak! Syafa mohon. Sembunyikan hubungan ini dari semua orang terlebih dahulu. Atau Syafa tidak akan mau berhubungan dengan kakak." Syafa menangis lagi. Takut oleh cinta yang salah.


"Fa...!"


"Syafa mohon!" Menangkupkan kedua telapak tangan. "Biarkan menjadi rahasia sampai Syafa bilang sendiri pada Dunka tentang hubungan kita."


"Baiklah! Asal kamu tolak pernikahan ini." jawab Fahri kemudian.


"Tapi Syafa tidak tahu bagaimana cara menolaknya."


"Tunjukkan semua bukti ini pada Sibu!" Fahri mengeluarkan amplop coklat dari dalam jaket. Syafa menerimanya dengan rasa penasaran.


"Apa ini?"


"Bukalah!"


Syafa menurut saja. Matanya melebar ketika melihat gambar yang ada di sana.

__ADS_1


"Reaksi macam apa itu? Jangan cemburu padanya. Sudah kubilang kan dari awal jika dia bukan jodoh yang baik untukmu."


Fahri terlihat kesal. Syafa tersenyum geli melihat tingkah Fahri.


"Akukan calon istrinya! Wajar sajakan merasa dikhianati." Padahal sebenarnya Syafa melebarkan mata sebab heran saja. Kejadian di kafe waktu itu bagaimana bisa Fahri mendapatkan. Padahal pria itu duduk di ranjang rumah sakit.


"Kamu calon istriku. Dia itu pecundang!"


"Berikan pada Sibu dan utarakan saja keinginanmu. Tolak si Dunka itu." Syafa nampak berpikir.


"Syafaaa...!"


Fahri cemburu sebab Syafa tak hentinya memandang foto Dunka. Padahal sebenarnya Syafa mengira-ngira arah mana yang digunakan orang tersebut mengambil gambar.


'Bukankah ini arah yang pas darimana aku dan Kang Bejo berada? Apakah kang Bejo yang mengambilnya. Tapi tak mungkin kan?'


Sibu duduk di ruang tamu bersama Bejo. Kedua tangan yang semula bertautan segera mereka renggangkan. Yang merenggangkan hanyalah Syafa. Merasa malu jika keduanya ketahuan berhubungan.


"Kalian sudah datang?"


Sibu menyambut keduanya antusias. Bejo menatap tajam dalam ke mata Fahri dan Syafa bergantian. Mencurigai ada yang terjadi diantara keduanya.


Ditatap sedemikian rupa Fahri membalasnya tak kalah tajam. Seakan dia menantang peringatan Bejo.


"Syafa, sini Nak! Sibu ingin beritahukan padamu. Bahwa semua persiapan resepsi pernikahan kalian telah rampung. Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu. Sibu juga telah mendaftarkan pernikahan kalian di KUA. Jadwalnya adalah esok hari sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan."


Syafa menatap Fahri dengan tatapan sendu menyiratkan rasa penolakan atas pernikahan ini. Tapi Fahri tak mampu mengatakan apapun sebab ancaman Syafa. Hanya memberikan kode agar Syafa segera menjalankan misi.


"Sibu! Syafa ingin katakan sesuatu buat Sibu."


"Apa itu, Nak? Katakanlah." Syafa menoleh pada Fahri,kemudian beralih pada Bejo. Terakhir menatap Sibu.


"Syafa tidak bisa menikah dengan orang yang mencintai orang lain."


"Maksud kamu?"


"Dunka sudah punya kekasih, Sibu!"


"Sibu sudah tahu itu!"


Jawaban yang membuat Syafa bingung.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2