
Begitu banyak cinta yang kuberikan dan semuanya terasa manis. Namun ada satu cinta yang membuat hati ini semakin perih. Cinta terlarang yang seharusnya aku hilangkan justru tumbuh subur tanpa aku semaikan. Hidup inipun semakin pahit dan getir.
~Fahri~
Keadaan rumah berangsur kembali seperti sedia kala. Hal itu pun membuat gairah tubuh renta sesepuh rumah itu semakin nampak kebugarannya. Bunga kuncup yang mereka jaga kini semakin mekar menebar harumnya.
Fahri kini duduk bersilang kaki, menyandarkan tubuh pada pohon mangga yang menjadi penguat juga kaki dipan. Kedua tangannya dia letakkan di belakang leher lalu menutup mata dengan sempurna. Dia tidak tidur. Namun sedang memikirkan sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini. Kedekatan Syafa dan Arya adalah pemicu utama yang menyebabkan keresahannya semakin bertambah.
Di bagian depan rumah, seorang pemuda baru saja memarkir motornya. Pria dengan kemeja biru tua itu mengedarkan pandangannya sebelum terkunci oleh senyuman seorang gadis yang berjalan anggun ke arahnya.
"Jadi datang? Aku kira Kau tak punya nyali sebesar itu!" ledek Syafa.
"Jangankan hanya menemui Kakakmu. Menemui malaikat pencabut nyawa pun aku sanggup jika itu untuk mendapatkan dirimu." Otomatis semburat merah merona menutupi wajah cantik Syafa. Gadis itu mengulum senyum malu-malu sambil sesekali menundukkan kepala.
Beberapa hari ini mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi. Sejak pertengkaran yang menyebabkan Syafa dan juga Fahri masih menjaga jarak hingga sekarang. Tapi baik Syafa maupun Fahri tidak menunjukkan hal itu pada ibu mereka. Kesannya semua telah membaik.
"Dimana Dia?" Tentu saja yang dimaksud adalah Fahri. Syafa menunjukkan tempat dimana Fahri berada
"Apa tidak lebih baik Kak Dunka temui Sibu dahulu?"
"Itu jauh lebih baik. Restunya akan sangat berguna bagiku."
"Baiklah, mari kita masuk. Tapi sepertinya aku harus keluar untuk membeli jamu." Syafa berhenti sejenak. "Sibu merasa jika seluruh badannya pegal-pegal dan kaku. Biasanya hal itu terjadi ketika asam uratnya naik."
"Tidak apa!" Dunka terpaksa tersenyum agar terlihat semua baik-baik saja. Padahal dalam hatinya amatlah tegang.
Sedangkan Syafa begitu yakin jika kakaknya telah menerima Dunka. Syafa yakin akan hal itu sebab Fahri sendiri yang mengatakannya tadi malam.
Fahri masih terlena dalam lamunan. Sampai tidak menyadari jika ada tamu.
Flashback
"Kak!" Syafa dengan takut mendekati Fahri. Baru satu hari lamanya mereka saling mendiamkan. Dan itu terasa sangat berat mereka jalani. Tiada candaan ataupun ledekan. Sangat menyiksa. Syafa tidak tahan karenanya.
Tidak ada balasan ataupun hanya sekedar tatapan mata. Fahri membuang muka sembarang arah. Syafa semakin mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Fahri.
"Jangan diamkan aku seperti ini." Lirih Syafa memelas. Dia merebahkan kepalanya di pundak Sang Kakak. Syafa yakin jika cara ini sangat ampuh untuk mendapatkan maaf.
Rasanya terasa damai. Syafa sangat nyaman dalam posisi ini. Begitupun dengan Fahri. Sejujurnya dia sangatlah bahagia. Bagaikan di tengah hamparan bunga yang bermekaran. Fahri mengulurkan tangannya, mengusap lembut kepala Syafa, lalu mencium kening Syafa. Turun ke pipi.
"Kakak juga lelah dengan keadaan ini." Lirih Fahri mencium kening Syafa lagi. Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada lengan kekar Fahri, rasa bahagia yang tiada terkira setelah badai melanda.
__ADS_1
Beda dengan Fahri yang mulai tegang. Dia khawatir jika Syafa bisa mendengar degup jantungnya. Fahri semakin yakin jika perasaannya telah melampaui batas wajar.
"Jangan seperti ini, Syafa!" Fahri mengguncang lengannya hingga Syafa berjarak darinya.
"Kakak masih marahkah?"
"Tidak!" Fahri membuang muka. Tidak ingin adiknya membaca apa yang tengah dia rasakan saat ini.
"Tapi, kenapa Kakak menjauh begitu?"
"Itu hanya perasaanmu saja. Kakak masih ada urusan lain." Fahri beranjak tapi tangannya disambar oleh Syafa.
"Kak! Bolehkah aku meminta kebahagiaan darimu?" Fahri menatap lekat wajah adiknya.
'Bahkan seluruh dunia dan isinya akan aku berikan tanpa kau meminta, Syafa!' batin Fahri.
"Kak! Bolehkah?" Fahri akhirnya memilih mengangguk yakin.
"Izinkan aku menikah dengan Kak Dunka!" Syafa menunduk dengan malu-malu dan juga takut. Sesekali mengintip reaksi kakaknya dengan ekor mata.
Bagaikan tak berpijak pada bumi, Fahri merasa dunia telah runtuh dan hancur berkeping-keping. Perasaan apakah ini? Bukankah harusnya dia bahagia? Adiknya telah menemukan pasangan hidupnya. Tapi mengapa yang ada hanya luka? Dan tidak ingin membagi adiknya dengan pria lain.
"Aku mencintai Kak Dunka!" kata Syafa lagi. Bisakah adiknya ini mengerti perasaannya sedikit saja? Bisakah dia meminta agar ditakdirkan menjadi orang lain dan berjodoh dengan Syafa?
"Kak!Kakak kenapa?"
"Apa?"
"Mata Kakak memerah! Kakak seperti sedang...!"
"Tidak! Kakak tidak apa-apa! Kakak hanya...hanya ingin Kau bahagia." Mengusap rambut Syafa dengan gemetar. Dia bangun dari duduknya. Namun sebelum benar-benar pergi, Fahri membalik tubuhnya.
"Suruh lah Dunka datang menemuiku."
"Untuk!"
"Siapapun yang ingin mengambilmu dariku, dia harus menghadapiku." Entah sebagai kakak ataukah sebagai orang yang merasa kehilangan. Fahri lancar mengatakan kata-kata itu. Dan tujuannya untuk menyakinkan hatinya bahwa Syafa akan dia lepas bersama orang yang menurutnya tepat.
"Terima kasih, Kak!" Saking bahagianya reflek saja Syafa berdiri dan memeluk Fahri. Bahkan tak segan-segan pula memberi hadiah ciuman di pipi.
"Kakak memang yang terbaik. Aku akan mengabarinya agar dia segera kemari besok."
__ADS_1
Kesalahan perasaan ini tidak boleh terus berlanjut.
Flashback off
"Fahri!"
Mata Fahri seketika melebar sempurna. Wajah tegang Dunka yang pertama kali dilihatnya. Dunka berdiri tepat di hadapannya. Fahri sempat terkesiap tapi kemudian bisa mengendalikan diri. Wajahnya berubah tenang.
"Kau...!"
"Bolehkah aku duduk?" Fahri mempersilahkan dengan kode tangan.
"Maafkan aku, juga atas kelancanganku pada Syafa. Itu semua aku lakukan karena aku bersungguh-sungguh terhadap Syafa."
Fahri mengangkat sudut bibirnya.
"Pria sepertimu tidak lebih hanyalah pecundang."
Fahri melirik tangan Dunka yang terkepal. Rupanya dia tengah menahan amarah. Tentu saja. Kata-kata Fahri pastilah melukai hatinya.
"Terserah apa yang kau tuduhkan. Tapi hatiku selama ini hanya menyimpan satu nama dan itu hanyalah Syafa."
"Atas dasar apa kau menginginkan Syafa. Dia hanyalah gadis desa biasa yang kolot."
"Tidak! Syafa adalah gadis sederhana yang memikat. Dia sangat memukau dengan kepolosannya." Yakin Dunka tak segan memuji Syafa di hadapan Fahri. "Dan...semua yang aku lakukan selama ini hanyalah untuk Syafa. Sejak kecil aku mengaguminya. Dan ketika semakin dewasa, aku memantaskan diri. Menjadi orang yang berhasil sembari menunggu Syafa tumbuh. Sekarang, aku menginginkan dirinya. Dan sudah semestinya aku meminta restu darimu. Bahkan disuruh untuk bersujud pun akan aku lakukan."mantap Dunka
"Bukankah kau sudah mengatakan semuanya pada, Sibu?"
"Tapi belum kepadamu. Kau adalah wali Syafa yang sesungguhnya."
'Kenapa hal itu terasa menggelikan di telinga. Bisakah Fahri berganti posisi agar jadi Dunka agar bisa mencintai Syafa layaknya sang kekasih?'
"Aku tidak akan menjadi wali dalam pernikahan Kalian." Tegas Fahri. Dunka tercengang beberapa saat. Bukankah Kakak laki-laki adalah wali sesungguhnya untuk adik perempuannya?
"Kenapa?"
"Memohonlah! Bukankah kau bilang disuruh bersujud pun akan kau lakukan?"
Deg
"Jangan kelewatan, Kak!"
__ADS_1
To be continued