
Fahri dikeroyok bersamaan dari segala arah. Fahri tidak diberi ruang sedikitpun untuk memulihkan tenaga. Maka jalan satu-satunya adalah menghindar terlebih dahulu. Kepalang tanggung. Fahri harusnya memperhitungkan kekuatan musuh.
Para penjahat itu licik. Mereka memandang penuh arti kepada teman lainnya. Masing-masing mengeluarkan masker hitam. Fahri sempat terheran, cukup lega ada sedikit jeda untuk menetralkan nafas. Apa yang akan diperbuat para penjahat itu? Ternyata salah satu menyemprotkan sebuah cairan ke arah Fahri.
"Sialan! Kalian memang pecundang." Dari baunya jelas benar jika itu aroma bius. Fahri berusaha menutup hidungnya dengan sapu tangan. Sayangnya sempat terhirup sedikit.
Fahri terlihat mulai sempoyongan.
"Itulah akibatnya tidak mendengar nasehat kami."
Ketiga orang itu pun tertawa serempak memutari Fahri dan menghajarnya. Memojokkan Fahri dari segala arah. Berpikir cerdas, Fahri lari sedikit menjauh dari udara yang tercemar.
Buk
Buk
Buk
Adu jotos telah digalakkan lagi. Fahri bertindak lebih gesit dari sebelumnya. Fahri hampir menang. Ketiga orang itu sudah jatuh ke tanah. Semuanya meringis kesakitan. Fahri akan menghajar lagi pada seorang yang hendak bangun. "Ampun Tuan. Ampuni saya Tuan!"
Fahri bukanlah pecundang yang menganiaya lawannya saat terluka parah. Dia berbesar hati dan memilih pergi.
Tidak di sangka, ternyata hanya mainan licik para penjahat. Ketika dia mulai lengah, kakinya di cekal oleh salah satu penjahat. Dua penjahat lainnya segera bangkit dan mengeroyok. Satu orang lainnya berhasil menusuk Fahri di bagian lengan.
"Bedebah! Licik."
Fahri segera menjaga jarak dari mereka. Ada cairan basah mengalir pada lubang jaket yang terkoyak. Fahri mengabaikan lukanya dan fokus kembali memasang kuda-kuda. Ketiga preman memandang dirinya penuh ambisi.
Sial!
Tangannya tentu saja tidak sekuat sebelumnya. Rasa sakit dan ngilu membuat pergerakannya terhambat. Fahri harus memutar otak lebih pintar. Sebab seterusnya hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk bertahan dan melawan.
__ADS_1
"Kami 'Kepala serigala merah' tidak pernah kalah. Apalagi hanya melawan bocah ingusan sepertimu."
Fahri mengerti siapa kini yang dia hadapi. Serigala Merah adalah sebutan mafia yang terkenal sadis. Beberapa diantaranya memang berkeliaran mencari mangsa dari merampok dan mencuri bahkan menjarah toko dan pasar. Namun itu ada di luar desa. Fahri tidak menduga jika komplotan ini telah menyebar hingga sampai ke desanya sendiri.
"Tunggu! Jika kalian serigala merah, mengapa bisa tidak mengenaliku." Bantah Fahri
"Apa kau artis hingga aku perlu mengenalmu?" Ketiganya tertawa lagi
"Jangan mengecoh kami bocah, hadapi kenyataan jika memang berani."
"Kalian pikir aku takut? Rawe rawé rantas malang-malang putung. Kalian telah menebarkan onar! Harus dimusnahkan."
Fahri tahu siapa itu ketua mafia Serigala Merah. Tapi mengapa dari mereka tak satupun mengenal dirinya. Apakah ada yang salah?
"Habisi sekarang, Kang!"
Yang disuruh pun mengangguk. Mempercepat langkah kaki dengan seringai jahat. Tidak ada rasa perikemanusiaan tersisa. Silau akan hasil yang rampasan yang tak seberapa harganya. Bayangan kemenangan membuat penjahat itu gelap mata menodongkan pisau untuk menusuk Fahri.
"Ternyata kau kuat juga, Bocah."
Bughh
Bughhh
Mendadak semuanya mulai tak seimbang hantaman di bagian wajah membuat kepala semakin terasa berat. Matanya mulai mengabur. Dan Fahri jatuh saat bayangan hitam datang mendekati dirinya.
~
~
Di dalam ruangan yang serba putih. Dua orang perempuan nampak gelisah. Sesekali mereka mengusap air mata yang tak hentinya menetes. Yang paling tua duduk pada kursi tepat disamping sisi kanan brankar.
__ADS_1
Seorang pria yang mereka sayangi lebih dari diri mereka sendiri terbujur lemah tak berdaya. Jarum infus menempel pada pergelangan tangannya. Baru saja seorang dokter menengok keadaan pasien.
"Lukanya cukup dalam dan beracun. Jadi kemungkinan butuh waktu bagi pasien untuk bisa segara siuman. Tergantung bagaimana daya imun tubuh pasien. Tapi beruntungnya, tusukan itu tidak mengenai bagian organ dalam."
Berkali-kali kalimat itu terngiang di telinga Sibu. Kecemasan semakin bertambah seiring berjalannya waktu, tak kunjung menunjukkan awal yang baik. Fahri masih tergeletak tanpa membuka mata. Dalam hati Sibu meratapi nasib anaknya.
"Cepatlah sadar, Nak!" Lirih Sibu beberapa kali mencium tangan anaknya yang tak terpasang infus. Sibu meletakkan lagi tangan itu dengan sangat hati-hati. Di bagian bahu dan dada yang terbuka ada balutan perban yang cukup tebal. Sibu mengusapnya dengan gemetar. Air mata tidak lagi bisa dikompromikan. Sibu mengusap kasar matanya dengan ujung baju.
Andai saja dia tahu akhirnya akan begini, tentu dengan keras hati melarang Fahri pergi. Sibu akan membiarkan Syafa mengejar kakaknya. Biarpun ada pertengkaran tapi setidaknya tidak melukai fisik secara menyakitkan. Ada penyesalan dan juga kesedihan yang dalam. Tapi apa boleh buat. Takdir mana ada yang tahu.
Syafa tak kuasa menahan gejolak hatinya yang tak kunjung membaik. Fahri seperti enggan membuka mata. Membuat gadis itu frustasi. Terlebih ketika pergi, mereka tengah bertengkar.
"Kenapa kamu tega padaku, Kak! Kamu jahat sekali. Kau pergi dan pulang dalam keadaan tidur. Mimpi apakah yang membuatmu betah di sana?"
"Sibu, istirahat saja dulu. Sibu tidur di bangku ini. Biar Syafa yang menunggu Kakak siuman. Terjaga sampai larut tidak bagus untuk kesehatan Sibu." Cukup tersentak, Sibu tersadar dari lamunan. Syafa telah membentangkan selimut guna alas tidur ibunya. Lumayan dingin, namun setidaknya akan lebih hangat jika memakai alas begini. Pikir Syafa.
Berpura-pura tegar rupanya sangatlah sulit. Meski kata-kata Syafa terdengar bijak, namun air matanya menunjukkan bahwa dia tidak setegar yang terlihat.
Sibu mengerti jika anak gadisnya mengkhawatirkan keadaan dirinya yang sering sakit-sakitan sebab faktor usia. Tapi dia tidak bisa tenang sebelum mengetahui jika anaknya baik-baik saja. Jangankan tidur dengan nyenyak, makan saja rasanya tidak enak.
"Jangan sok dewasa, Nak! Kita bertiga adalah anggota keluarga. Setiap orang yang berada di dalamnya adalah bagian dari yang lain." Sibu menyelipkan anak rambut Syafa yang terlihat berantakan. Dia baru menyadari jika anaknya akan lebih terluka daripada dirinya. Lihatlah bagaimana anak gadis yang sering menyisir rapi rambutnya kini amburadul seperti sarang burung. Sibu mengurai beberapa rambut yang kusut dengan jari-jari.
"Kita mampu merasakan penderitaan satu dengan yang lainnya. Seperti ketika kaki kita yang terluka, namun yang bersedih adalah mata kita. Yang berdesis mulut kita. Dan tangan kita, secara otomatis akan menekan luka agar berkurang rasa sakitnya. Kita adalah beberapa bagian yang disebut anggota dan menjadi satu kesatuan yang disebut tubuh. Begitupun ibarat keluarga. Fahri adalah bagian darimu. Kau juga merasakan sakitnya. Hanya saja kau tak ingin aku cemas. Terima kasih, Nak. Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang baik."
Syafa merangkul ibunya sambil menangis terisak. Keduanya larut dalam haru dan sendu.
"Terima kasih juga untukmu, Sibu. Sibu merawat Syafa dan Kak Fahri tanpa mengeluh. Bersusah-payah bekerja untuk kelangsungan hidup kami selama ini."
Sibu menepuk lengan anaknya yang menempel di leher. Syafa menangis di ceruk leher sibu.
"Permisi, bolehkah kami masuk?"
__ADS_1
To be continued...