
Deru angin mendayu-dayu di sepertiga malam. Seorang gadis masih terjaga. Merenung mengingat semua kenangan indah di masa lalu.
Waktu telah menunjukkan pukul tiga lebih seperempat jam. Syafa ditemani sahabatnya berkeliling mencari kado untuk Fahri. Saat itu menjelang hari ulang tahun sang kakak. Antusias sekali Syafa menggandeng tangan sahabatnya memasuki toko pakaian yang dia incar beberapa hari ini.
Syafa rela tidak jajan bahkan kerja part time demi bisa membeli kado buat kakaknya. Dan sahabat karibnya yang bernama Vega ini adalah saksi kunci dari semua aktivitas Syafa.
Meski Syafa terbilang manja, namun itu hanya ditunjukkan ketika bersama keluarga terlebih pada Fahri. Syafa sebenarnya memiliki skil mumpuni yang tidak semua orang tahu.
"Kaos putih ini pasti sangat keren jika dipakai kakakku. Dia akan nampak seperti Oppa Korea." Setengah berjingkrak ringan. Memegang serta memeluk kaos putih polos dengan gambar wayang Cocok untuk pria.
"Kakak atau pacar, Fa?" ledek temannya. Mencolek bahu Syafa. Mereka telah lama mengincar kaos itu. Kaos dengan logo menarik serta desain gambar wayang.
"Ha...kamu tidak salah pilih, Fa?"
"Sudah benar! Apakah ada yang salah?" Menjembreng lagi kaos yang dia pilih.
Gambar wayang dengan tokoh antagonis Rahwana. Raksasa jahat yang terkenal dengan kekejaman serta kebiadabannya.
Syafa malah mengulum senyum sambil memeluk kaosnya.
"Fa!" Temennya jengkel kan. "Rahwana itu jahat. Dia juga telah menculik istri orang. Memisahkan Dewi Shinta dari suaminya yaitu Sri Rama." Syafa bahkan lebih aneh lagi. Mencium gambar wayang itu. Apakah dia sudah gila?
"Tapi nih ya kalau dipikir-pikir lagi, Rahwana lah yang cintanya tulus kepada Sinta. Buktinya selama Sinta bersamanya, nggak pernah disakiti atau diapa-apain, masih dijaga kesuciannya. Justru Rama yang katanya cinta pada Sinta, tapi harus menunggu bertahun-tahun baru memutuskan menghampiri Sinta di Alengka.
Meskipun sudah berjuang mati-matian dan baku hantam dengan Rama demi mempertahankan Sinta, pada akhirnya Rahwana kalah. Sinta pun kembali bersama Rama. Namun yang menyedihkan, ketika sudah bertemu Sinta, Rama malah meminta Sinta menceburkan diri ke dalam api untuk membuktikan kesucian dirinya.
Cinta macam apa itu? Cinta yang tidak ada landasan kepercayaan kah?" Syafa mengelus kaosnya lagi kemudian melenggang pergi menuju kasir. Meninggalkan sahabatnya seorang diri dalam kebingungan.
Seharian itu, Syafa ditemani sahabatnya memilih kado serta kue ulangtahun buat Fahri. Ketika sampai di toko kue, Syafa sendiri yang berinisiatif menghias kue itu.
"Fa, apa kamu mencintai kakakmu?"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Syafa menjawab iya.
"Apa kamu gila?"
"Dia kakakku. Aku cinta kepadanya bukankah hal yang wajar?" Vega berdecak. Cukup susah membuat Syafa sadar bahwa yang dia lakukan cukup melampaui batas.
"Tapi tingkahmu lebih mirip ditunjukkan untuk pujaan hati, Fa!" Toping kue yang identik dengan warna pink dan merah. Dengan simbol daun waru di atasnya serta ungkapan kata cinta.
"Dia memang pujaan hatiku." Syafa seakan tak juga peka apa maksud Vega.
"Fa, kau juga memberikan kue untuk kekasihmu kemarin tapi sedetail ini."
"Hai, dia kekasih. Orang baru hadir dalam hidupku. Dan ini kakakku, separuh hidupnya adalah diriku."
Kue telah beres beralih pada kartu ucapan. Kata-kata yang dirangkai Syafa terkesan romantis. Menggambarkan perasaanya kepada sang kakak begitu besar dan tak akan terganti sampai mati. Baru setelahnya ucapan selamat ulang tahun.
"Fa! Sepertinya cintamu bukan sekedar cinta biasa sebagai kakak dan adik."
"Kamu yang terlalu berlebihan. Aku biasa saja tuh." Menggosokkan bahu acuh.
Kamu bahkan tak sekalipun melewatkan pembicaraan tentang kakakmu apapun itu. Kamu mengungkapkan semua kekagumanmu dan rasa banggamu. Tapi dengan cowok yang kau taksir? Dua tiga hari saja Fa! Kamu akan bosan walau hanya sebut nama saja. Dan kamu ingat, Fa! Saat kakakmu pergi untuk keluar kota tidak pamit. Selama itu pula kamu uring-uringan. Apakah itu bukan bukti bahwa kamu memiliki perasaan lebih padanya?"
Suara lirih isak tangis memenuhi kamar sunyi yang menjadi saksi kegalauan Syafa. Gadis itu tak bisa tidur semalaman. Memikirkan perasaan hatinya. Memikirkan awal mula dia mulai memiliki rasa pada kakaknya sendiri. Cinta yang mulai tumbuh ketika usianya menginjak remaja.
Ketika dia mengenal apa itu pacar. Dia menjalin kasih dengan teman sekelasnya. Paling keren menurut pandangannya. Tapi paling buruk dalam penilaian hatinya. Sebab pacarnya tak bisa menjaga dirinya dari orang jahat ketika pulang sekolah.
Tetap yang terbaik adalah Fahri. Datang padanya, menolongnya, melindunginya serta menenangkan dirinya. Besoknya dia putus dengan pacar.
Datang lagi pacar baru, Syafa kembali dibuat kecewa sebab ternyata pria itu playboy. Dan yang membongkarnya adalah Fahri.
Lalu ada lagi pria yang disukai Syafa. Murid lain sekolah dengannya. Itupun tak berlangsung lama. Syafa merasa hubungannya tidak sehat. Tak nyaman karena pria itu menuntut dirinya sebagai pacar. Mengajaknya bercumbu. Tentu saja Syafa memilih putus.
__ADS_1
"Pacar jelek begitu ditangisi. Mending jalan sama kakak ganteng mu ini. Pengertian dan penyabar." Fahri menaikkan kerah jaket kulitnya dengan gaya cool.
Syafa hanya memandang sekilas. Mengulum senyum setelah mencebik. Tapi sedetik kemudian senyum itu memudar seiring lewatnya tiga gadis menebar pesona pada Fahri. Meski diacuhkan.
Syafa tahu sejak saat itu dirinya tengah cemburu. Dia mulai mengerti bahwa sebenarnya dia mulai menyukai sang kakak melewati batas wajar. Buku diary miliknya saja enggan membahas mantan-mantannya. Semua menceritakan tentang sang Kakak.
"Sekuat apapun aku menyangkal, kenapa selalu ada celah buat kita dekat, Kak. Semakin Syafa ingin mengikis perasaan ini, semakin besar rasa sayangku padamu." Gadis itu menelungkupkan wajahnya entah untuk yang ke berapa kali.
~
~
Semburat keemasan menerobos masuk melalui lubang-lubang kecil jendela kamar. Perlahan Fahri terbangun, mengucek mata kemudian membawa langkah kaki beratnya menuju dapur. Tepatnya adalah kamar mandi.
"Sepi. Kemana perginya semua orang?"
Kompor gas yang biasanya menyala kini masih padam. Tempat pencuci piring juga masih sama ketika dirinya lewat tadi malam. Bahkan kran airnya masih dalam keadaan kering. Aroma kopi yang khas seakan sirna di pagi ini.
"Aku yang kepagian, ataukah mereka yang malas bangun?"
Memutar langkah menuju kamar milik ibunya. Sedikit menganga. Fahri mendorongnya pelan. Melongokkan sebagian kepalanya.
"Apa Sibu pergi ke pasar, ya?" Dompet yang biasa tergeletak di atas meja telah tiada menguatkan dugaan Fahri.
Kini dia beralih ke kamar Syafa.
Masih terkunci. "Tumben." Fahri mendengus kecil. Adiknya ini memang sering mengunci kamar dengan dalih privasi tapi hobi pakai kamar dirinya sesuka hati.
"Fa ...! Kamu di dalam kah?" Mengetuk. Mengetuk lagi.
Sampai derit pintu menghentikan tindakannya.
__ADS_1
"Astaga! Wewe gombel!"
To be continued