Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 30


__ADS_3

"Bagaimana jika kita pergi ke Bali saja?"


"Aku ikut kamu saja."


"Syafa! Kita yang akan menikah. Kenapa kamu seolah menunjukkan bahwa hanya aku yang bersemangat disini?"


Deg


"Bu-bukan seperti itu. A-aku hanya tidak tahu tempat yang bagus. Jadi, aku percayakan sama pilihanmu saja."


"Tapi biasanya wanita lebih update tempat-tempat seperti itu apalagi mereka yang ingin menikah."


"Itukan mereka yang sedari lama sudah pacaran! Kita baru saja bertemu dan tiba-tiba menikah. Bagaimana bisa berpikir jauh begitu?" Tersenyum garing dibalas  dengan senyum tipis Dunka. 


'kenapa semakin kesini perasaanku semakin biasa saja?'


"Aku tahu. Aku bahkan tidak membiarkanmu mengenalku lebih jauh. Semua itu aku lakukan karena hatiku sejak awal tertuju padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu cantik, tentu banyak pria yang mengejar dirimu. Sebab itulah aku memutuskan untuk mengikatmu dalam ikatan suci pernikahan.


"Dan tentang perkenalan, kita pernah bersama di waktu kecil. Kita sudah saling mengenal sebelumnya kan?"


"Tapi semua sudah berubah seiring waktu. Masa kecil dan masa sekarang juga tidak sama. Kita dulu saling kenal dan hidup di lingkungan yang sama. Tapi sekarang, pergaulan kamu juga berbeda. Kota adalah tempat modern. Semua orang bebas mengekspresikan kehendak hatinya."


Menatap lekat wajah Dunka. Entah kenapa degup jantungnya berbeda ketika saling bertatapan dengan Fahri. Jika bersama Fahri dia merasa nyaman, tapi dengan Dunka ada rasa was-was. Syafa bahkan ingin mengakhiri hubungan ini.


"Syafa! Aku adalah orang yang sama. Orang yang bertahun tahun lalu pergi mengembara lalu kembali hanya padamu. Kenapa kamu meragukanku?"


"Tidak! Aku tidak meragukanmu, aku hanya...!" Syafa ingin bertanya tentang wanita bersama Dunka waktu itu. Tapi untuk apa? Karena cemburukah atau karena ingin agar pernikahan ini batal saja. Dunka bisa bersama wanitanya. Dan Syafa kembali tenggelam dalam hayalan bodoh cinta pada Fahri.


"Hanya apa?" Dunka meraih tangan Syafa. Gadis itu sebenarnya enggan. Tapi dia biarkan saja. Lambat laun dia harus terbiasa oleh keadaan ini. Rasa risih menghampiri ingin sekali dia menghempaskan tangan Dunka.


"Ada apa Syafa?" Benar dia lakukan. Meski bukan menghempaskan tapi Syafa menarik tangannya sendiri.


"Maaf! Aku masih perlu waktu untuk memantapkan hatiku sendiri.  Aku merasa ragu akan pernikahan ini."


"Ragu...!" cengo Dunka. Tersenyum sinis membuang muka sembarang arah. Dalam hati mengutuk Syafa.


"Maaf! Bukan maksud hati menyinggung perasaanmu. Tapi aku...!"


"Ya! Aku paham. Pernikahan kita memang terbilang dadakan. Tentu kamu merasa semuanya terlalu cepat. Tapi bagiku, aku sudah tidak ada banyak waktu lagi. Umurku sangat matang untuk menikah. Selain itu semua karena ingin memilikimu seutuhnya dalam ikatan suci. Bukan untuk pacaran dan bersenang-senang saja."


Terkesan mulia niat baik pria di hadapannya. Syafa jadi semakin galau sendiri.


"Syafa! Percayalah padaku. Aku bukan orang yang suka bermain-main pada sebuah hubungan aku serius ingin mejalani sisa hidupku bersamamu." Dunka menyakinkan.


~


~


~


Bejo tidak habis pikir dengan jalan pikiran Fahri. Pria itu kini terlihat mondar-mandir sambil sesekali menyugar rambutnya kasar.

__ADS_1


Teringat kembali pernyataan Fahri yang mengejutkan.


"Oke! Asal Akang bantu aku pisahkan Dunka dan Syafa. Jika perlu gagalkan pernikahan mereka."


"Apa katamu?"


Seketika motor itupun terhenti. Bejo menajamkan pendengarannya memastikan jika semua keliru. Nyatanya adalah kebenaran.


"Aku mencintai Syafa. Aku tidak ingin orang lain mengambilnya dariku."


Bejo menepikan motor. Memandang Fahri dengan sangat tajam. Ingin bicara namun sebelum itu, menahan amarahnya agar tidak meledak. Tangannya bahkan terkepal erat.


"Fahri, sadarkah kamu apa yang kau ucapkan?"


"Tentu!" Jawab Fahri mantap


Bughhhh


Satu pukulan mengenai perut Fahri. Fahri menahan sakit, meringis tentu saja kesakitan.


"Pikirkan kami juga, Fahri. Bagaimana kamu bisa mencintai Stafa hah? Apa kau tidak ingat siapa dia? BODOH!" Mencengkeram kerah jaket Fahri yang hanya diam. Membiarkan amarah Bejo dilampiaskan kepadanya.


"Aku tahu. Tapi inilah kenyataannya. Aku tidak bisa terus-terusan diam. Aku tersiksa dengan perasaan ini."


"Apa Syafa juga tahu? Sampai sejauh mana kalian menjalani hubungan ini?"


"Dia belum tahu." Fahri menggeleng. "Karena jika dia sampai tahu bisa saja dia menghindar dariku. Dia jijik padaku. Jadi aku pendam perasaan ini."


Cengeng bukan! Pria gagah dan terkenal kuat itupun meneteskan air mata cinta untuk pertama kalinya. Bejo menatapnya tajam. Mengusap kedua wajahnya.


"Da-da-ri tadi mondar-mandir terus. Ada masalah kah?"


Dena duduk setelah meletakkan nampan di atas meja.


"Ya!" Bejo segera mendekat. Duduk tepat di samping Dena.


"Fahri jatuh cinta sama Syafa!."


Reaksi Dena biasa saja. Bejo malah yang terkejut.


"Kamu tidak terkejut?" Dena menggeleng. Bejo memgambil kopi yang disajikan Dena. Meniupnya pelan, menyeruputnya sedikit.


"Di-di -dia juga mengatakan hal itu padaku." Kopi menyembur mengenai meja. Sesudahnya Bejo menggeser bokong hingga pandangannya tepat ke wajah Dena.


"Dia juga mengatakannya padamu?" Mengangguk lagi si Dena. Dena pun menceritakan bagaimana Fahri bicara kepada Dena kemarin. Mengatakan bahwa Dena hanya memberikan kode persetujuan.


"Sebab itulah dia juga berani bicara padaku." Bejo terlihat letih. Menyandarkan punggungnya di sofa.


"Ja-ja-janngan terlalu dipikirkan."


Jangan bagaimana? Masalah akan tambah rumit jika mereka bersatu.

__ADS_1


~


~


Sore hari.


Syafa duduk menyendiri di pinggiran sawah. Memandang jauh dedaunan hijau tanaman para petani. Sebagian tanaman jagung yang mulai tumbuh hijau. Sedikit jauh dibawah ada tumbuhan padi yang juga baru bersemi. Beberapa burung kecil terbang rendah mereka bebas kemanapun. Andai Syafa juga seekor burung bebas di awan yang luas ini.


Syafa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Duduk di batu besar dengan berselonjor kedua tangan dia tarik ke belakang punggung menjadi tumpuan. Syafa mendongak sambil menutup mata merasai semilir angin menerbangkan rambut.


"Kamu di sini rupanya!" Tanpa membuka mata Syafa bisa menebak siapakah yang datang mengganggu.


"Kakak ada sesuatu untukmu."


Tercium aroma jajanan menggugah selera. Reflek Syafa membuka mata menoleh ke arah sumber suara. Pria tampan itupun mengangkat tinggi-tinggi kresek putih berisi  kotak martabak manis. Sedikit terbuka kotaknya, pantesan saja bau harumnya tercium.


"Mau tidak!"


"Mau banget!" Syafa merampas kresek itu dengan tidak sabar.


"Emmhh...!"


Mengambil satu lalu memasukkannya ke mulut. Rasa gurih bercampur manisnya toping kacang dan coklat lumer di mulut.


"Eummhhhh...kakak nggak mau?" tanya Syafa dengan mulut penuh makanan. Fahri membuka mulutnya lebar-lebar. Pertanda Syafa harus menyuapinya.


"Dasar manja."


Menyuapi dengan sayang. Bahkan Syafa tak segan mengusap sisa makanan di bibir Fahri kemudian menjilatnya. Fahri tersenyum.


"Kakak memang terbaik. Tahu saja jika hatiku sedang kacau. Kata orang, rasa manis bisa mengurangi rasa galau"


Fahri mengernyit.


"Mana ada begitu?"


"Adalah, namanya juga kata orang."


"Memangnya kamu galau kenapa?"


"Syafa galau memikirkan pernikahan." ucap Syafa sambil terus makan.


"Jangan menikah jika membuatmu galau."


"Kenapa kakak selalu melarang Syafa nikah?"


"Karena kakak mencintaimu?"


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


To be continued


__ADS_2