
"Apa yang kau lakukan pada putraku?"
Pria paruh baya dengan seragam putih itupun tercengang. Baru kali ini seseorang menghentikan aksinya.
"Sa-saya hanya melaksanakan tugas." Jawabnya heran. Sibu mengusap wajahnya kasar. Dia telah salah orang.
"Maaf! Maaf, Dok! Saya salah orang."
"Ya! Saya mengerti. Saya maklum atas tindakan Ibu barusan. Tapi percayalah keadaan pasien telah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Jadi bisa dipindahkan keruang rawat inap."
"Apakah benar itu, Dok!" Dokter itu mengiyakan. Sibu telah bernafas lega sekarang.
"Sibu!" Datang Syafa dengan raut wajah khawatir. Tadi sebelum menyusul ibunya dia mendapatkan kabar baik tentang Fahri. Sebab itu dia menyusul ibunya untuk mengistirahatkan badan. Tak disangka baru saja dia memejamkan mata, ada pergerakan tak biasa dari Sibu.
"Apa terjadi sesuatu pada Kak Fahri?"
Syafa mendekat ke arah Fahri. Memegang tangan hangat milik Fahri. Syafa mengelusnya lembut.
"Kakakku tidak kenapa-kenapa kan, Dok?" Khawatir Syafa. Gerakan jemari membuat Syafa tersentak. Antara percaya dan bahagia, Syafa meneteskan air mata.
"Kaaaak!"
Fahri sudah mulai membuka mata. Sibu mendekat lalu melabuhkan ciuman pada kening anaknya.
"Kau sudah siuman, Nak?" Sibu mengelus lembut kepala anaknya lalu mengecup lagi.
"Biar kuperiksa sekali lagi dan setelah itu kita pindahkan dia."
Sibu senang bukan main tak hentinya dia mengucap syukur.
Syafa memberi ruang pada Dokter untuk memeriksa kondisi Fahri. Semuanya baik-baik saja.
Seseorang mengintip dibalik tirai. Ikut merasakan kebahagiaan atas pulihnya Fahri. Bahkan pria itu juga yang berperan besar atas kesembuhan Fahri. Tapi demi menjaga kenyamanan pria itu rela bersembunyi dan keluar ketika Fahri telah dipindahkan ke tempat lain.
"Maya, kau tetap saja ceroboh dan tidak sabaran. Tapi tenanglah, aku akan selalu ada untukmu."
~
~
~
"Kak Fahri, ayolah sedikit lagi. Aaaa...! Ayo! Buka mulut!" Sendok berisi makanan melayang-layang tepat di depan wajah Fahri. Sambil tersenyum manis Syafa membujuk Fahri untuk lebih banyak makan.
Baru saja dua sendok yang masuk. Fahri mendorong pelan piring yang dibawa Syafa agar menjauh.
"Kaaakk!" Syafa cemberut.
"Makanannya tidak enak, Fa!"
__ADS_1
Sudah semestinya. Semua makanan rumah sakit tentulah hambar. Tadi pagi Fahri sudah tersiksa dengan makan bubur tanpa rasa. Siangnya pun sama. Sekarang juga sama makanan halus yang menurutnya menjijikan untuk ditelan.
Bahkan Syafa harus beberapa kali ikut makan agar Fahri juga mau makan. Tapi sekarang Syafa juga merasa enggan makan makanan tanpa rasa itu. Diakan tidak sakit. Muncul ide di otak pintarnya.
"Baiklah! Katakan padaku. Kakak mau makan apa. Biar Syafa carikan," bisik Syafa melirik ke arah pintu. Takut jika ada orang lain yang mendengar. Sebab memberikan makanan dari luar kepada pasien adalah sebuah larangan.
Apalagi luka tusukan pada lengan dan juga perut Fahri.
"Benarkah!" Fahri berbinar. Sejak pergi dari rumah kemarin dia belum makan apapun. Perutnya terasa kosong.
"Bagaimana dengan soto di warung Bibi Sarmi?"
"Jangan! Itu terlalu pedas. Tidak baik untukmu."
"Baiklah, carikan aku ayam geprek."
"Itu juga ada sambalnya."
"Aku akan makan tanpa sambal." Tawar Fahri.
"Kakak janji?" Fahri mengangguk kecil.
Syafa mengambil dompet di atas meja. Tapi baru saja dia hendak melangkah dia mulai sadar akan sesuatu.
"Tapi bagaimana kakak bisa sendirian di sini? Kalau ada perlu apa-apa bagaimana?"
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah! Aku sudah lapar." Bukan perintah tapi permintaan agar makanan yang dia pesan segera datang.
Syafa berpikir sejenak. Fahri tetap memaksa agar Syafa segera beli makanan di luar. Akhirnya Syafa pun mengalah.
Setelah kepergian Syafa, datanglah seorang dengan pakaian dokter.
"Pak Andre!" Fahri tidak menyangka jika dokter jaga kali ini adalah Andreas.
Fahri pernah bertemu dengannya ketika pulang dari setor jagung. Kala itu Andreas dikeroyok oleh beberapa orang preman. Fahri datang membantu sehingga Andreas bisa selamat.
"Hai, Fahri! Kau masih ingat padaku? Bagaimana keadaanmu?" Sapa Andreas. Dokter kali ini tidak didampingi oleh asisten atau pun perawat lain. Meski cukup tercengang, namun Fahri bersikap biasa saja.
"Aku baik-baik saja."
Andreas tidak banyak bicara. Dia segera memeriksa Fahri setelah mendapatkan izin. Andreas juga menyuntikkan dua suntikan pada bagian tubuh Fahri yang luka.
"Dok, kenapa saya selalu di suntik. Tidak bisakah hanya minum obat saja?"
"Setelah ini kamu boleh hanya mengkonsumsi obat." Jelas Andreas. "Tapi minumlah ini terlebih dahulu!" Andreas menyodorkan satu pil warna hijau. Dengan gamang Fahri menelannya di hadapan Andreas.
"Cepat sembuh! Saya permisi!"
Kemudian pergi. Fahri menatap lengannya yang dibalut perban setelah kepergian Andreas. Rasanya ada seperti semut merayap sehabis di suntik. Perlahan dia juga merasa matanya mulai berat.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Fahri mengucek mata beberapa kali. Tubuhya terasa lebih enteng sekarang. Bahkan dia tidak merasakan ngilu di bagian yang terluka.
Di samping dirinya terbaring, ada Syafa dengan posisi tidur sambil duduk.
"Kak! Kakak sudah bangun?"
"Mana makanannya, Fa?" Kan! Jawabannya malah ngawur. Tadi pas Syafa datang enak-enakan tidur. Mana pules banget lagi. Sekarang baru nanya soal makanan.
"Sudah basi! Kakak susah dibangunin." Syafa memberengut. Fahri terkekeh gemas. Adiknya ini lebih lucu ketika marah daripada tersenyum.
"Padahal perut kakak lapar banget!" Benar saja. Perut Fahri berbunyi berulang kali. Syafa yang awalnya ingin marah akhirnya menghembuskan nafas panjang sebab bingung harus bagaimana.
"Tapi...!" Memegang erat kresek makanan yang tadi dia beli. Masih cukup layak dimakan mesti sudah dingin.
"Sudahlah! Daripada masa kecil kita, lebih layak makanan ini kan?" Senyum Fahri bagaikan magnet yang mengikat Syafa untuk segera patuh.
Pernah waktu kecil mereka kesulitan uang. Ketika pertama kali Sibu dan ayah mereka mengajak tinggal di desa. Musim paceklik membuat bahan pangan mahal. Pekerjaan juga sulit didapatkan. Sibu mereka bahkan hanya bisa menyajikan sarapan dengan nasi dan kelapa parut. Makanan sederhana itu sudah sangat terasa nikmat.
"Eits! Kakak mau apa?" Merebut sendok yang dipegang Fahri dengan susah payah itupun berpindah tangan. Bagaimana dia bisa leluasa, satu lengannya kena pisau dan satunya lagi tempat infus.
"Ya makan!" Jawab enteng Fahri.
"Apa kakak tak melihat diriku? Tidakkah kakak sedikit saja mencoba mengeluh padaku. Di sini ada aku kenapa harus repot-repot menyuap sendiri?" Sambil menyendok dengan ukuran sedang serius sekali dia berperan.
"Sekarang! Buka mulut kakak!"
Bagaikan anak kecil yang dimarahi ibunya, Fahri pun hanya pasrah dan menurut. Dalam hati bersorak gembira. Seperti inilah saat-saat mendebarkan yang selalu dia inginkan. Masih berandai jika mereka bukanlah saudara, pasti Fahri dengan senang hati mempersunting Syafa. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah ayu Syafa.
"Aaaa ...!"
"Ketika lapar begini, apapun terasa nikmat." Satu suapan masuk ke dalam mulut Fahri.
"Apalagi bersama kakak. Dalam keadaan apapun, makanan apapun semuanya terasa nikmat."
Pandangan keduanya saling mengunci. Pandangan yang mereka sendiri tidak mengerti akan artinya apa. Pandangan yang mendebarkan jantung. Tangan Fahri perlahan memegang dagu Syafa, menariknya lembut hingga sang empu lebih dekat. Hembusan nafas keduanya bersahutan menyapu kulit wajah.
Deg
Deg
Deg
"Sibu, kenapa tidak kelihatan dari tadi?"
"Isshh!"
To be continued
Jangan lupa dukungannya ya, Say. Emmuachhh
__ADS_1