
Kedekatan Fahri dan Syafa semakin menunjukkan keterikatan masing-masing. Bukan hanya ikatan cinta antara saudara kandung. Melainkan ikatan yang tumbuh antara seorang pria dan wanita.
Setelah tiga hari lamanya dirawat dirumah sakit, Fahri bersikeras meminta pulang. Terlebih dia kurang menyukai bau rumah sakit.
Fahri menghirup udara sebanyak-banyaknya seakan beberapa hari dia tidak bernafas. Syafa dan Sibu mengernyit heran akan tingkah satu orang ini.
"Oke! Aku bisa tidur nyenyak hari ini," ucapnya dengan bangga melenggang masuk ke dalam rumah. Tanpa peduli jika semua orang memandangnya dengan aneh.
"Dia masih waras kan, Fa?"
Yang ditanya hanya menggeleng pelan.
"Biarkan saja. Dia kan memang penuh misteri begitu," Sibu masuk duluan menuju kamarnya sendiri.
Syafa dan Bejo masih berberes menurunkan beberapa barang dan buah-buahan dari beberapa orang yang datang menjenguk.
Fahri dikamar merebahkan tubuhnya. Bibirnya tersenyum sumringah mirip orang jatuh cinta saja. Iyalah! Diakan memang jatuh cinta.
Cinta gila yang membuatnya terus tertawa. Itu kan harapannya. Entah kenyataannya nanti.
Sebenarnya ketika di rumah sakit Fahri mendapatkan bukti keburukan Dunka. Tidak sia-sia dia membayar orang untuk melakukan pengintaian. Tujuannya adalah hanya agar Syafa menolak pernikahan ini. Sejumlah foto dia dapatkan. Cukup membuktikan bahwa dua orang itu tengah menjalin hubungan lebih dari sekedar rekanĀ kerja ataupun teman biasa.
Ditambah lagi kejadian saat dirinya hendak pulang. Syafa mendapatkan telpon dari Dunka. Dan entah kenapa gadis itu tidak mau mengangkat. Fahri menebak jika ada sesuatu masalah diantara keduanya.
Disaat seperti inilah Fahri akan berperan menjadi orang ketiga. Menghasut Syafa untuk menjauhi pria itu. Dan jika rencana itu masih tidak berhasil, maka Fahri akan bersiap untuk menculik Syafa di hari pernikahan. Jahat bukan? Hai ...itu sah ketika dalam pertarungan cinta. Bukankah begitu?
"Kak! Katanya tidur. Mengapa masih main ponsel." Fahri terkejut. Bahkan ponselnya jatuh mengenai kepala dia sendiri. Syafa seperti jin yang datang tiba-tiba.
"Auwwwhhh! Kamu ngagetin saja," sungutnya kesal. Memegang kepala sambil menekannya agar tidak benjol.
"Salah siapa senyum-senyum sendiri dari tadi. Liatin apa?" Syafa bermaksud meraih ponsel Fahri. Gerak-geriknya dengan mudah terbaca.
Bermaksud menghentikan, keduanya malah berbenturan.
"Auwwwhhh...!" Serempak. Menyentuh jidat masing-masing.
"Kakak sih!"
"Please, Fa! Jangan dibuka!" Yang menang tetap Syafa dong. Dia seger waras. Fahri sedikit kesulitan meraihnya sebab lengan masih ngilu.
Taukan, seseorang akan semakin penasaran jika dilarang. Itu tandanya ada rahasia besar.
Syafa membuka ponsel milik Fahri. "Password nya apa, Kak?"
"Rahasia!" Fahri masih bisa mengulum senyum. Jika Syafa tidak bisa buka berarti dia aman kali ini. Semoga
Syafa tak sebodoh itu ya. Ketika hari ulang tahun kakaknya tidak bisa, maka yang paling mungkin adalah hari ulang tahun dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kakak pakai sandi ulang tahun Syafa?"
Byaarrrr...kan kebuka juga.
"Fa! Jangan!"
Percuma. Hp itu menyala sempurna.
"Wallpaper kakak juga foto Syafa?"
"Biar kakak ingat jika ada orang paling bawel didunia ini hanyalah kamu." Ya! Cukup pantas untuk sebuah alasan dadakan.
"Tapi kenapa ...!"
Upsss untung saja ponsel itu mati.
Andaikan ketahuan. Tidak semudah pertama kali Fahri mengelak. Dalam setiap memory yang tersimpan hanya ada foto Syafa. Fahri menghela nafas lega kali ini.
"Tuh kan, hp nya in feel sama kamu. Kepo sih!" Merebut ponsel dari tangan Syafa.
"Kenapa nggak langsung di cas?"
"Kamu nanya!?"
Tampang tengilnya kumat.
"Syafa ...!" Geram kan. Bantalnya kena lengan yang luka. Meringislah menahan sakit.
"Kak! Bukan maksud hati lho kearah situ." Syafa segera mengelus luka sambil meniupnya berulang-ulang.
Fahri terdiam sejenak, matanya lurus memandang ke wajah Syafa. Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Tak pernah bosan rasanya memandang. Syafa bagaikan candu yang selalu dia rindu setiap waktu.
"Kenapa kakak liatin Syafa seperti itu?"
"Ah, tidak! Ini...hanya ada sesuatu tuh di mata kamu." Elak Fahri.
Andai bisa jujur. Andai rasa ini tidak salah. Kita bersaudara. Ya! Bersaudara. Kita tumbuh bersama dalam suka dan duka. Kurasa perasaan ini tak pantas untuk diungkapkan. Tapi apa daya.
Jantung Fahri semakin tak terkendali.
"Syafa akan ke dapur membantu Sibu!" ucap Syafa memecah keheningan.
"Tatapan kakak kenapa begitu banget ya! Waktu di rumah sakit saja jantung ini tidak berhenti berdetak. Dan kini terulang lagi." Syafa bersandar di balik pintu kamar Fahri. Meraba dada kiri.
~
~
__ADS_1
~
Bejo dan Sibu berada di dapur.
"Rencana pernikahan Syafa apakah berjalan lancar?" Sibu memotong jagung manis menjadi lima bagian. Kemudian labu putih, krai, dan wortel. Rencana mau bikin sayur bening bumbu kunci.
"Ya! Lancar. Tapi aku ragu dengan pilihan, Sibu!" Bejo tengah menyiangi sayur bayam. Lalu dia tiriskan.
Sibu menyalakan kompor. Mengambil panci dan diisi air, kemudian memasukkan jagung.
"Benar kata Fahri, Dunka bukan pilihan yang tepat buat Syafa!"
Sibu diam seribu bahasa. Aktivitasnya terhenti. Hanya suara benturan cobek dan ulekan yang nyaring terdengar. Siapa lagi pelakunya jika bukan Bejo.
"Sibu, apakah tidak ada pemuda lain di dunia ini? Kenapa harus Dunka?"
"Dia pemuda baik!" Suara benturan semakin nyaring terdengar. Bejo sengaja melakukan itu sebagai bentuk pelampiasan. Bejo sudah katakan kebenaran tentang Dunka. Dan tanggapan macam apa yang dia lihat sekarang.
"Jangan ikut campur masalah keluarga ini. Kamu cukup turuti perintah, Sibumu ini." Sibu masih mematung. Suaranya lirih namun tegas. Seperti menggigit gigi.
"Apakah sedikit saja Sibu tidak melihat kenyataan. Kenyataan akan mereka berdua? Sibu, cinta tidak akan pernah salah memilih. Cinta itu murni. Dan sebenarnya mereka tidak salah. Ego kalian yang berlebihan."
Bejo mengambil air minum. Nafasnya naik turun. Dia mulai emosi.
"Hanya seuprit yang kau tahu tapi berlagak menasehati." Sibu membalikkan badan. Memasukkan potongan sayur lainnya.
"Apa hanya karena ramalan bodoh itu?"
"Jaga ucapanmu." Sibu mendekati Bejo setelah memastikan keadaan. Berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan ini selain mereka berdua.
"Sibu...!"
"Cukup, Jo! Tidak semua hal harus kau perdebatkan. Tidak ada orang tua menginginkan keburukan bagi anaknya."
"Dunka bukan kebaikan bagi Syafa, Sibu! Dia pecundang. Dan Syafa...dia sama sekali tidak punya rasa cemburu untuk calon suaminya. Apa itu wajar? Hubungan macam apa yang akan terjalin nanti? Ikatan mereka lemah."
"Writing tresno jalaran soko kulino."
"Matine roso mergo di sio-sio."
Sibu menunduk, mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
"Ini demi kebaikan kita semua," lirih Sibu hampir tak terdengar.
"Jadi Syafa yang harus dikorbankan?" Sibu memejamkan mata, wajahnya mendongak. Sungguh kejam ucapan Bejo. Membuat dadanya terasa nyeri.
"Siapa Syafa sebenarnya, Bu?"
__ADS_1
To be continued