
"Sibu!"
"Ya, Nak!"
"Kang Bejo sudah datang?"
Sibu menatap takjub pada kecantikan Syafa. Dalam hati membenarkan jika anak ini benar-benar mirip dengan musuh terbesarnya dalam versi perempuan.
Selama dua puluh tahun Sibu menunggu dengan sabar. Menahan gejolak amarah dendam. Kini, kesempatan itu telah datang. Dimana ketika sahabatnya bernama Zaenab mencari istri buat anaknya yaitu Dunka.
Sibu sudah memperhitungkan semuanya. Dia mencari informasi detail tentang Dunka. Sibu juga tahu jika Dunka memiliki istri di kota. Dan alasan sesungguhnya memperbolehkan Syafa menikah adalah istri Dunka yang notabenenya adalah anak dari musuh Sibu.
Dunka digunakan sebagai jembatan untuk menjalankan misi terbesar Sibu. Sibu akan melatih Syafa di sisa waktu yang tinggal sebentar.
"Kau sudah siap, Nak?" Sibu membelai lembut wajah putrinya. Cantik sungguh cantik. Bejo tersenyum sambil menunjukkan jari telunjuk disatukan dengan ibu jari. Isyarat bahwa Syafa benar-benar cantik.
Sibu lalu membuka lemari, mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Ada dua kepala burung di dalamnya. Masing-masing dari burung itu bermatakan batu mulia dengan warna biru cerah bila terkena cahaya memantulkan kemilau yang indah.
"Cantik sekali, Sibu."
"Sangat! Ini kalung milik mendiang ibumu."
"Ibu?"
Syafa cukup terkejut. Bagaimana bisa ibunya memiliki Bros secantik ini pasti sangatlah mahal. Apa sebenarnya ibunya juga orang kaya? Syafa meneliti kalung tersebut. Dahinya mengkerut seolah mempertanyakan keaslian batu tersebut.
"Itu hanya kalung biasa!" Ucap Sibu berbohong. Sebenarnya Sibu memiliki tujuan jika akan ada seseorang dari keluarga istri Dunka langsung mengenali Syafa melalui kalung itu.
Sibu memberi kode pada Bejo agar segera bergegas. Memangkas keingintahuan Syafa mengenai kalung itu.
"Kita pergi sekarang? Tapi dimana Fahri?" Tanya Bejo.
"Dia...!"
"Biarkan dia menyusul nanti. Kita duluan saja." putus Sibu. Sibu pun tak ingin memaksakan kehendak Fahri. Biarkan anak itu mencoba berlapang dada dengan caranya sendiri. Naluriah keibuannya mengatakan jika Fahri pasti akan menyusul.
Mana mungkin seorang kakak tidak hadir di hari bahagia adiknya.
"Baiklah!" Menggidikkan bahu acuh. Padahal sebenarnya Bejo tahu benar siapa Fahri. Tidak mungkin pria itu melewatkan kesempatan untuk berada di samping adiknya di hari pertunangan sang adik.
"Kenapa berhenti, Kang?" tanya Syafa ketika menoleh ke belakang. Bejo nampak diam tegak berdiri dalam kegamangan.
__ADS_1
"Kalian duluan ke mobil. Ada sesuatu yang tertinggal di dalam." bohong Bejo. Niat hati ingin memastikan kecurigaan.
Dan apa yang dikhawatirkan Bejo benar-benar terealisasikan. Pemuda itu sudah tidak ada lagi di kamarnya. Bejo mengubah arah jalan. Mencari ke sudut ruangan yang lain.
"Sial! Apa yang kau rencanakan, Fahri?"
~
~
~
Fahri sudah sampai di depan sebuah Villa setelah dua puluh menit menempuh perjalanan. Dia mengendarai motor sendirian.
"Ini daerah larangan. Anda terlalu lancang melewati batas peringatan." Dua orang berbadan kekar menghadang langkahnya. Fahri diam mengawasi keadaan sekeliling.
Sesuai arahan dari orang suruhannya tempat inilah yang sering di datangi ibunya.
Fahri bukan orang bodoh yang bisa dengan leluasa di akali oleh orang lain apalagi Sibu. Fahri bisa membaca setiap gerak-gerik mencurigakan di sekitarnya.
Sibu yang sering pulang dan pergi tanpa pamit dalam waktu lama serta berubahnya pendirian Syafa. Cukup bukti bahwa ada sesuatu rahasia dibalik itu semua. Serta kemarin ketika dia datang ke rumah Bejo. Mata tajamnya menangkap bayangan yang pasti dia kenal.
Fahri waspada dengan segala hal yang akan terjadi. Pria di villa ini bukanlah orang sembarangan begitulah info yang dia terima. Fahri selama ini memiliki kekuatan khusus berbentuk mafia lokal yang cukup tangguh. Namun semua itu dia sembunyikan. Hanya sewaktu-waktu saja ketika butuh Fahri panggil mereka.
Kelompok yang Fahri atur dalam kelompok pertanian dengan penghasilan yang lumayan untuk pemenuhan kebutuhan kelompok dan juga keluarga masing-masing orang. Semua itu memang diketahui oleh Bejo. Namun beberapa hal, dia lakukan sendiri seperti saat ini.
"Pergilah. Ini wilayah terlarang." Satu orang mengusir dengan garangnya.
Fahri mengibaskan tangan bergegas meneruskan langkah. "Hai, lancang kau!" Adu tanding tak terelakkan lagi.
Fahri menumbangkan dua orang itu dengan ringan. Dia menepuk-nepuk tangannya seolah menghilangkan debu kemudian kembali menyongsong pintu masuk villa.
"Hai, penyusup!" Teriak seseorang. Fahri kini di hadapkan pada empat orang pengawal lagi.
"Sial. Sebaiknya aku hemat energi, aku tidak tahu berapa besar kekuatan yang kuhadapi."
Fahri bergegas membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Untung tidak dikunci. Ternyata kuncinya menempel di dalam. Fahri menggunakan kesempatan itu. Mengunci dari dalam.
Kagum! Tentu saja. Villa itu jauh lebih besar dan mewah dari yang dia perkirakan. Namun yang ganjil adalah, tidak adanya tempat duduk di ruangan sebesar ini. Hanya ada satu kursi besar berwarna merah di ujung sebelah kanannya.
"Anak muda, cukup besar nyalimu mendatangi kediamanku." Seorang pria paruh baya menuruni anak tangga.
__ADS_1
Dari sisi kanan dan kiri datanglah beberapa pria lain datang. Semuanya mengerubungi Fahri. Manik mata Fahri memindai teliti. Beberapa bagian dari tubuh mereka ada yang menonjol. Fahri perkirakan pastilah senjata api.
'Sial, aku kurang perhitungan dalam hal ini.'
Andreas memiringkan bibirnya melihat perubahan wajah Fahri. Memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang.
Bagaikan masuk ke kandang macan. Fahri harus menerima segala konsekwensinya.
Dalam segi bela diri, Fahri cukup mumpuni tapi ketika di hadapkan pada lawan yang tak seimbang tentu saja kewalahan kalah jumlah tentu saja. Sekuat tenaga Fahri melawan. Dalam hitungan detik, sudah menumbangkan tiga orang. Rupanya tidak sepenuhnya tumbang sebab masih bisa tegak kembali dan menyerangnya lagi. Padahal yang lain masih menghujani Fahri dengan berbagai perlawanan.
Jika melawan terus-menerus yang ada hanyalah kekalahan dan tujuannya kandas sia-sia sebab kehabisan tenaga.
Fahri memutar otak, menciptakan strategi baru. Dia merebut salah satu senjata mereka. Gerakan secepat elang melesat. Dia mencapai Andreas.
"Suruh mereka pergi atau nyawamu melayang." Semua orang terkesiap.
Dor
Sebuah tembakan sebagai peringatan. Semua orang terdiam di tempat. Bingung antara mau melawan atau menyerah.
"Kau memang titisan Yilmaz." Tidak ada ketakutan sama sekali meski ujung pistol mengarah pada kening Andreas. Pria paruh baya itu bahkan tidak berhenti tersenyum.
"Pergilah, Kalian. Penyambutan telah selesai." Fahri menurunkan tangan ketika orang-orang berbadan kekar itu pergi.
"Apa tujuanmu datang kemari, Nak? Apa Maya telah mengatakan kepadamu siapa aku?"
Fahri mengernyit bingung. Satu nama yang Andreas sebut sama sekali tidak dia kenali.
"Maya?"
Siapa itu Maya? Batin Fahri.
Andreas melebarkan bibir lebih lebar.
"Baiklah! Sepertinya kamu masih belum mengenal siapa Sibumu itu." Masih tergelak sambil menepuk-nepuk bahu Fahri. Memberi isyarat pada pemuda itu mengikutinya menuju sebuah ruangan di bagian terdalam dari villa tersebut.
"Apa tujuanmu datang kemari jika bukan sebab Maya?"
Fahri lagi-lagi tidak mengerti kenapa laki-laki ini selalu menyebutkan nama itu. Padahal tujuannya datang hanyalah menanyakan perihal Sibu.
To be continued
__ADS_1