Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 13


__ADS_3

Di bawah pohon rindang mahoni dua manusia berbeda genre duduk sedikit berjauhan. Syafa duduk pada rerumputan memandang jauh ke seberang bukit. Tanaman liar berbunga indah dengan kupu-kupu putih mengelilingi dirinya. Syafa memegang sebuah kertas putih di tangannya.


"Itu surat panggilan penerimaan beasiswa berprestasi milikmu. Seharusnya kau bahagia, kenapa malah murung begini?" Dunka yang semula hanya berdiri memperhatikan kini ikut duduk berselonjor di rumput. Tepat di hadapan Syafa. Rambut Syafa berkibar dibiarkan oleh empunya. Dunka yang bertindak merapikan sebab tidak tahan.


"Kakak masih marah kepadaku." Suaranya tercekat. Dunka menghentikan aksinya sebab telah rapi meski sepoi angin masih menerpa.


"Bukankah telah selesai kemarin." Mengingat jika Fahri telah menyuruh Dunka datang dengan orang tuanya.


"Kakak masih bersikeras untuk menafkahi aku meski telah menikah nanti. Dia ingin kita tetap bersama dirinya dan dibawah pengawasan dirinya." Dunka tentu tak setuju. Egonya terluka. Sebagai suami harusnya dialah yang bertanggung jawab penuh.


"Apa kakakkmu meremehkan kemampuanku. Apa dia pikir aku tidak sanggup menafkahi dirimu?"


Syafa merasa salah bicara. "Bukan! Bukan itu maksudnya. Kakakku tidak ingin berpisah denganku. Kami selalu bersama sejak kecil. Dan berat bagi dia untuk melepas adik satu-satunya."


Itulah alasan yang mungkin saja tepat.


"Bukankah itu berlebihan." Dunka merangsek menggenggam tangan kanan Syafa.


"Sebagai seorang kakak dia pantas melakukan hal itu. Tanggung jawab yang dia pikul bukan hanya tentang kebahagiaan diriku. Tapi juga tentang bagaimana cara melindungi diriku. Walau terkadang aku keberatan akan sikap prosesifnya, tapi kasih sayangnya tidak akan pernah tergantikan."


Seharusnya kata-kata itu cukup untuk sebagai alasan meski terdengar konyol.


"Percayalah padaku, Syafa. Aku akan membuatmu nyaman berada di sisiku hingga kau tidak lagi merindukan keluargamu. Aku juga akan membuatmu bahagia hingga kakakmu menyesal karena pernah menentang hubungan kita." Tatapan keduanya bertemu.


"Kak Fahri memang sering membuat pria yang dekat denganku kapok dan akhirnya menjauh. Aku pun tidak yakin jika kau akan bertahan hingga menikah nanti. Kakak tidak menyukai pria yang agresif sepertimu dekat-dekat denganku." Melirik tangan yang dielus Dunka. Dan sepertinya pria itu mengerti apa yang dimaksud Syafa. Melepaskan segera tangan yang dia genggam.


"Maaf! Tapi aku bersungguh sungguh. Apakah dengan cara menikahimu belum juga menunjukkan keseriusanku?"


"Belum! Hingga pernikahan itu benar-benar terjadi." Syafa mengerti benar watak Fahri yang tidak percaya hanya akan teori tanpa bukti nyata.


"Aku rasa aku tidak berhadapan dengan calon kakak ipar. Tetapi lebih tepatnya calon mertua pria." Dunka tersenyum devil. Takjub akan kehebatan Fahri dalam menjaga adiknya. Seorang kakak yang bertanggung jawab. Tapi bagi dirinya, Fahri adalah hambatan terbesar untuk menaklukkan Syafa.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita percepat saja pernikahan ini?"


Syafa menelisik cukup lama wajah tampan di hadapannya ini. Kemudian menunduk karena jantungnya yang tiba-tiba bermasalah. Detaknya lebih cepat daripada sebelumnya.


"Buatlah kakakku percaya padamu."  Artinya bahwa Dunka ditantang untuk menghadapi Fahri. Mengambil hati calon iparnya agar dengan sukarela menyerahkan Syafa.


"Aku pastikan kau akan bersamaku bulan depan." Dunka berteriak. Sebelumnya dia tidak sadar jika Syafa telah pergi meninggalkan dirinya. Dunka cukup larut dalam pikirannya sendiri. Mencari cara untuk membuktikan kesungguhannya pada Syafa.


"Aku nantikan itu." Meski tak terdengar begitu jelas sebab jarak dan terpaan angin. Tapi senyum Syafa membangkitkan semangat Dunka.


~


~


~


Sore yang cukup tenang dengan mendung putih bertebaran memenuhi langit. Fahri yang memiliki waktu luang sebab jagungnya telah terjual dengan harga yang lumayan. Dia memilih menghabiskan waktu di rumah. Menunggu kurir JNE datang. Ya! Dengan zaman milenial yang serba instan. Fahri memilih beli bibit semangka lewat online.


Masih dengan bersiul Fahri membawa ketela goreng dan kopi ke dipan di samping rumah.


"Syafa, tumben kau di rumah." Syafa tengah asyik menaruh tanah yang telah dicampur pupuk kandang ke dalam polibag.


"Kalau di rumah ditanya-tanya. Kalau keluar di mata-matai." Syafa memberengut melanjutkan aktivitasnya. Nada bicaranya manja namun menunjukkan kesan kesal.


"Tapi seru kan?" Syafa berjengit. Polibag yang belum sepenuhnya terisi itupun dia campakkan. Berdiri dengan sekop yang diarahkan ke Fahri.


"Apanya yang seru? Aku lho kayak tersangka kriminal. Kemana-mana diikuti. Seakan aku adalah target buronan. Aku tak nyaman tau!" Duduk lesu di pinggir dipan. Fahri hanya tersenyum sambil terus makan ketela goreng.


"Apa seenak itu hingga aku diacuhkan?" Sadar juga akhirnya. Fahri hanya fokus pada ketéla dan kopi. Tapi telinga tajam mendengar. "Kaaakkkk!"


"Apa mau ini?" Ih nyebelin kan malah nawarin makanan. Harusnya tuh orang ngomel di dengerin bukan malah dicuekin. Tapi cara makan Fahri membuat Syafa ngiler juga.

__ADS_1


"Mau dong, aaaa...!" Fahri memindai kedua tangan Syafa yang kotor. Yang bersangkutan hanya nyengir kuda.


Potongan ketéla meluncur bebas ke mulut Syafa. "Yummmy! Perfect. Kalau kata Sibu, maknyus." Kedua jempol terangkat bersamaan. Kakaknya ini patut diacungi jempol jika sudah dalam hal mengolah masakan. Apapun itu terasa enak.


"Kemana Sibu? Aku tidak melihatnya sejak pulang." Fahri lagi-lagi menyuapi Syafa setelah dirinya. Begitulah fenomena yang sebenarnya jika mereka akur. Kadang hal sepele membuat mereka saling mendiamkan. Namun tak berapa lama mereka rukun kembali.


"Katanya sih, pergi ke rumah Haji Ali." Fahri terbatuk.  Meminum kopi untuk meredakan.


"Apa kau serius dengan Dunka?" Fahri pikir jika ini ada hubungannya dengan pernikahan Syafa dan Dunka.


"Tanggal sudah dibahas. Dan semua sudah mulai disiapkan. Apakah itu tidak bisa dianggap serius?"


Fahri termangu. Kebahagiaan Syafa adalah kebahagiaan dirinya juga. Bahkan Sibu sangat antusias dengan pernikahan ini.


Kenapa dia merasa berat hati melepas Syafa. Hati kecilnya berkata jika ini bukan yang terbaik untuk Syafa. Seperti akan ada bahaya besar yang menanti. Dan sejauh yang dia ketahui, Dunka sebenarnya bukanlah orang yang buruk untuk Syafa. Selain pintar, pria itu cukup sopan dan berperilaku baik.


"Kak! Kakak dulu pernah berkata. Bahwa pria yang baik adalah dia yang datang membawa keluarganya bukan dengan janji-janji manisnya. Aku merasa jika Dunka adalah pria seperti yang kakak contohkan."


Fahri masih diam. Entah kenapa dia semakin gelisah. Dan sejauh yang dia tahu hatinya tidak pernah salah memprediksi sesuatu. Fahri takut jika kecemasannya ini akan berdampak buruk bagi Syafa.


"Kak! Kakak masih tidak percaya pada Dunka? Dia berani menjamin kesejahteraan Syafa. Dia memiliki pekerjaan. Syafa juga akan di hadiahi pendidikan sesuai dengan keinginan Syafa. Masih kurang apalagi?" Bujukan Syafa rupanya cukup menggoyahkan hati Fahri. Mungkin dia harus berprasangka baik agar kedepannya sang adik memiliki kehidupan yang bahagia.


Fahri juga tidak berhak mengklaim seseorang sebelum ada bukti yang jelas. Dan selama pengamatannya, Dunka memang benar masuk kriteria calon adik ipar yang pantas untuk Syafa. Entah apa yang merasuki hatinya, dia benar-benar gelisah. Hatinya mengatakan jika Syafa akan dalam masalah besar ketika hubungan ini diteruskan. Kadang ada bayangan sekelebat sosok Syafa menangis tersedu-sedu. Berulang kali Fahri membuang jauh-jauh prasangka buruknya agar tidak muncul bayangan itu. Gagal. Setiap kali berusaha melupakan, bayangan itu semakin terlihat nyata.


"Kak!"


"Beri aku waktu, Syafa!"


Syafa kembali memberengut. Begitu sulitkah bagi Fahri menerima keberadaan Dunka?


To be continued

__ADS_1


__ADS_2