
Setelah dari kamar Sibu, Fahri melangkahkan kaki ke kamar Syafa. Suara isakan sudah tak terdengar lagi. Fahri membuka pintu perlahan. Syukurlah tidak dikunci. Gadis itu tampak bergelung di bawah selimut dalam keadaan tenang. Siapapun menduga pasti dia sudah tidur.
Sejatinya, gadis itu hanya pura-pura tidur cahaya lampu pajangan menyisakan warna temaram sehingga membiaskan wajah yang basah oleh air mata. Sebisa mungkin gadis itu mengatur nafas.
"Fa...!"
Hening.
Hanya detak jarum jam yang terdengar. Fahri mendekati adiknya kemudian mengelus lembut wajah Syafa. Fahri mendapati sisa cairan bening di wajah Syafa.
Mengangkat tinggi-tinggi tangannya sejajar wajah. Memastikan apa yang dia perkirakan adalah benar.
"Kamu pasti sangat bersedih." Jongkok semakin rendah. Mengusap lagi wajah adiknya yang menangis sampai tertidur. Begitulah Syafa yang dia tahu. Gadisnya selalu menyimpan kesedihan hingga tertidur. Berharap bahwa semuanya hanya mimpi yang akan hilang esok hari ketika terbangun nanti.
Fahri mencium kening Syafa cukup lama. Kemudian bibirnya merekah tanpa suara. "Aku tidak tahu bagaimana nanti jika kita benar-benar terpisah. Aku sangat menyayangimu bahkan mencintaimu. Berharap tidak ada hubungan darah diantara kita. Jika saja aku bisa meminta, aku ingin menjadi orang asing bagimu. Lalu kita bertemu, kenalan, saling memahami dalam konsep cinta yang indah."
Mencium lagi, semula di kening lalu turun ke bibir. Akal warasnya segera menasehati. Jangan rusak adikmu sendiri. Begitulah akalnya berteriak. Fahri bangun dari jongkok.
"Sayangnya, semua itu tidak pernah terjadi. Aku ingin mencintaimu hanya sebatas adik kakak. Tapi apa Fa...?"
Jantung Syafa berdegup kencang. Perasaannya juga sama seperti Fahri.
Cinta ini salah jika terus dipaksakan. Dalam hukum kehidupan manusia tidak ada yang namanya menikahi saudara kandung. Atau nanti akan datang marabahaya besar pada kehidupan keduanya. Tapi mengapa hatinya berkata lain?. Inikah nafsu atau cinta sejati?
Hening.
Ditatapnya semakin dalam wajah Syafa. Seperti ada yang salah di sana.
Semilir angin menyibakkan korden jendela. Sinar rembulan menyentuh wajah Syafa. Pemiliknya sedikit terusik.
Fahri segera menutup jendela. Menepuk-nepuk adiknya hingga tenang.
"Selamat malam Syafa kesayanganku. Aku mencintaimu melebihi apapun."
Fahri keluar dari kamar adiknya setelah menutup pintu.
"Aku juga mencintai Kakak." Lirih suara dari mulut Syafa yang masih anteng di balik selimut.
"Tidak bisa!" Sebuah suara berada tepat di samping tempat tidurnya. Entah sejak kapan Sibu berada di sana.
"Sibu? Sibu ada di sini? Sejak kapan?"
"Baru saja ketika kamu mengatakan kalimat barusan."
Deghhhh
"Bangunlah! Sibu harus bicara padamu," ucapnya sambil duduk berada di dekat kaki Syafa. Gadis itupun bangun kemudian hendak menyalakan lampu.
"Biarkan saja begini. Ini rahasia hanya boleh tahu antara aku dan dirimu saja." Suara Sibu lirih sekali bahkan beberapa kata nyaris tak terdengar.
~
__ADS_1
~
~
Pagi hari.
Kedua kakak beradik itu kini duduk sambil mengaduk kopi masing-masing. Tatapan Syafa nampak mendung meski wajahnya terlihat segar.
"Sibu mana, Fa?"
Menggidikkan bahu acuh. Menyeruput kopi panasnya setelah ditiup beberapa kali.
Entah kenapa beberapa pagi terakhir ibunya sering pergi tanpa pamit.
"Kurang tidur lagi?" Sedikit keselek. Padahal Syafa sudah menutupinya dengan make up. Mata kakaknya ini tidak bisa ditipu.
"Nggak! Syafa tidur pulas tuh semalam." elaknya lagi. Diliriknya Fahri yang mencebikkan bibir.
"Tidur pulas tapi pagi-pagi gini sudah berbedak." Kan dia apal banget.
"Emang kenapa? Calon istri kan kudu cantik. Jadi harus sering-sering dandan."
Hening.
Syafa mengaduk-aduk kopi miliknya terus menerus. Biasanya pemandangan seperti itu terjadi bila ada masalah.
"Mikirin apa?"
"Akuuuu!"
Syafa tak merespon. Membuang muka juteknya ke lain arah. Matanya berembun, gelagatnya jelas sekali gelisah.
"Fa...!"
"Pernikahan Syafa. Syafa bingung."
Kali ini Syafa beneran serius. Bagaimana dia bisa tak bingung? Kakaknya adalah penyebab semua kekacauan ini. Gara-gara pernyataan cinta yang Fahri lakukan tempo hari.
"Jangan bingung. Batalkan saja."Ucap Fahri serius. Dipikirannya telah tersusun rapi ide jahat untuk mempengaruhi Syafa. Membuat gadis itu memilih pergi dengannya di hari pernikahan. Membayangkannya saja membuat hatinya gembira tak terkira. Bagaimana jika hal itu benar-benar nyata.
Syafa menatap ke arah Fahri, namun ketika mata mereka bertemu sesegera mungkin dia membuang muka.
"Fa...! Percaya sama kakak."
Semua terlihat semu. Cinta ini luar biasa membuat siapa saja bisa terluka. Antara Fahri dan dirinya seperti menggenggam bara. Jika mereka saling mencintai apa kata masyarakat nanti. Mereka tidak bisa bersama sebab hubungan darah. Namun, dia juga ingin egois. Ingin memiliki Fahri seorang saja.
"Fa! Dunka tidak baik untukmu. Kakak ingin yang terbaik. Kakak sadar, jika cinta ini hanya sebatas angan. Kakak tidak bisa paksakan untuk bersama denganmu. Kakak sadar itu. Tapi setidaknya, kamu harus hidup bersama orang yang tulus mencintaimu."
Fahri turun dari dipan. Sesungguhnya dia merasa sangat sakit mengatakan hal itu. Merasa jadi pecundang yang tak mampu berkata jujur. Dia ingin miliki Syafa. Itulah kebenaran. Tapi selama dia berpikir, tak pantas mencintai adik kandung kekuatannya melemah.
Fahri bisa saja melawan seluruh dunia. Mempertahankan cintanya. Tapi bagaimana dengan Syafa? Mampukah gadis itu melawan segala resikonya nanti?
__ADS_1
Fahri juga sebenarnya ingin egois. Memenangkan hati Syafa untuk dirinya sendiri. Tapi bagaimana dengan Sibu? Bagaimana dengan perjalanan pahit yang selama ini ibunya jalani? Haruskah dia juga menimbulkan masalah baru dengan menimbulkan aib? Ya! cinta kepada saudara kandung adalah aib terbesar. Tiada satupun yang berani melakukan hal itu. Memalukan.
"Tiada orang yang tulus mencintai Syafa selain Kakak." Lirih Syafa menghentikan pergerakan Fahri. Keduanya mematung di tempat masing-masing.
"Syafa juga mencintai kakak. Menyanyangi kakak. Dan siap melawan dunia bersama kakak. Tapi sepertinya...!"
Fahri berbalik arah mendekati adiknya dan menenggelamkan dalam pelukan.
"Itu artinya...kau juga mencintai kakak?"
Syafa mengangguk. Keduanya larut dalam rasa yang berbeda. Rasa nyaman yang dibalut cinta sebagai pasangan.
"Syafa! Jangan menikah dengan Dunka."
"Bagaimana dengan Sibu?"
Sangat sulit melawan kehendak orang tua. Satu sisi mereka sayang pada Sibu pantang bagi mereka menyakiti hatinya.
Namun jika diteruskan Syafa merasa tersiksa. Dia bagaikan boneka mainan yang hanya bisa menurut kehendak pemiliknya.
"Kita akan bicara sekali lagi padanya."
"Tapi...!"
"Biarkan semua menjadi tanggung jawab ku." Syafa dan Fahri berpelukan lagi.
Bunyi klakson di ujung halaman membuyarkan aksi keduanya. Ya! Disana ada Sibu diantar pulang oleh Bejo. Mungkin dari belanja sebab keduanya menenteng tas kresek. Berbeda dengan Bejo, kilat tatapan Sibu sepertinya kurang bersahabat.
"Sibu darimana saja?"
"Belanja!" ucap Sibu menatap lurus ke arah Syafa seolah mengisyaratkan sesuatu. Gadis itupun menunduk dengan air mata berkaca-kaca. Segala ucapan Sibu semalam kembali terngiang di telinga.
"Syafa! Ikut Sibu!" Sedikit tersentak.
"Baik Sibu?"
Kini keduanya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Fahri duduk di dipan ditemani oleh Bejo.
"Apa kamu sudah berani melawan Sibu?"
"Tidak Sibu, maaf!"
Deg
Deg
"Apa kamu sudah melupakan kesepakatan kita?"
"Tidak Sibu, maaf!"
To be continued
__ADS_1