
Sinar matahari menerobos masuk kala seorang perawat menyibak tirai.
"Pagi Pak Fahri, bagaimana perasaan Anda sekarang? Dan tidur Anda apakah nyenyak?" Fahri hanya tersenyum sambil melirik Syafa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah ayu Syafa tiba-tiba berubah masam.
Seorang perawat cantik nampak sigap mengganti infus. Mengecek selang kemudian mengganti perban pada luka Fahri. Dengan telaten perawat itu juga meracik obat. Senyum manis nan manja terus memancar penuh pesona.
Sikap ramah membuat Fahri juga terhipnotis untuk bersikap hal yang serupa. Terlebih ketika tanpa sungkan melontarkan candaan. Bukan berlebihan, tapi mampu membuat Fahri yang biasanya kaku juga bisa menimpali. Wajah tampannya semakin menawan kala senyum mahal itu terbit tak tertahan. Membuat Syafa frustasi. Ingin rasanya dia mengusir wanita itu agar tidak berlama-lama.
Pergantian perban menjadi lebih cepat dari dugaan. Padahal tidak bagi Syafa. Waktu bagaikan diam di tempat. Keduanya seolah tak menganggap dirinya ada.
Rasa cemas akan Fahri yang mulai tertarik pada lawan jenis mendominasi. Terlebih lagi perawat itu sangat ideal untuk kategori dijadikan istri. Cantik, menarik, lincah dan humoris. Dengan gelisah dia mendekati Fahri. Tetap saja tatapan mata kakaknya tidak berpaling dari perawat cantik.
"Baiklah! Pak Fahri, mungkin jam tujuh nanti dokter spesialis akan datang memeriksa lukanya. Sebelum itu, jangan lupa sarapan dan minum obat. Saya permisi dulu."
"Eh, ini apa ya? Maaf, biar saya ambilkan!"
Fahri termangu. Wajah polos perawat itu sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja. Baru kali ini dia merasa ada sesuatu. Entah apa? Mungkin bukan sebuah ketertarikan. Bisa juga sebuah ikatan yang dia sendiri tidak mengerti.
Syafa ingin sekali mempreteli tangan perawat yang dengan sengaja mengusap rahang Fahri. Ya memang ada sesuatu di wajah kakaknya. Tapi gak begitu juga kan? Tidak harus begitu lembut hingga terkesan menggoda.
"Kenang-kenang lah aku sayang rinduilah aku dalam ingatan mu." Fahri mengerutkan keningnya. Syafa bernyanyi seolah menyindir dirinya.
"Enak juga suaramu, Fa!"
Ingin sekali Syafa memaki atau sekalian mencakar wajah tengil Fahri. Gadis yang tengah kesal itu hanya mendengus seraya mendekati jendela. Lebih segar menatap keluar jendela menikmati jalanan yang tak begitu ramai.
Fahri yang tidak mengerti akan tingkah aneh Syafa membiarkan saja. Bahkan dia memilih rebahan.
"Dasar tidak peka." Gumam Syafa yang hanya didengar dia sendiri.
"Fa, bantu kakak dong." Fahri kesulitan merapikan bantalnya sehingga pas. Tangan satunya diinfus sedang tangan lainnya kaku sebab tergores.
"Kenapa tidak minta bantuan sama perawat tadi?" Ketus Syafa. Meski begitu juga masih mendekat dan membantu Fahri mengatur bantal.
"Ya! Kan orangnya sudah pergi, Fa. Kalau ada juga bakal minta." Sahut Fahri cuek bebek. Bahkan mulai merem kala bantal itu terasa sempurna baginya.
"Tekan tombol emergency kan bisa!" Masih nada kesal.
__ADS_1
Fahri melirik tombol itu.
"Kenapa nggak kepikiran ya, Fa. Lumayan bisa lihat perawat cantik itu lagi."
Syafa semakin jengkel saja.
Tak selang berapa lama, datanglah Bejo bersama Sibu.
"Hai, jagoan!" Bejo menampol kepala Fahri ala bestie. Setelah meletakkan makanan di meja.
Fahri terkekeh saja.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kau lihat." Menggerakkan sedikit bahunya yang terbuka. Kaos Fahri dilingkis bagian lengan sampai bahu atas.
"Wah! Kayaknya enak nih!" Fahri merasa lapar ketika melihat makanan yang dia sukai. Sayur lodeh rebung dengan udang dan telur dadar gulung, ada juga tempe bacem dan ikan nila goreng.
Bejo tersenyum. "Masakan aku lho...!" Lagaknya sombong.
"Minum ini dulu, abis itu sarapan." Sibu menyodorkan botol air berwarna hijau.
"Ini apa?"
"Ramuan khusus, biar kau cepat sembuh. Aman kok hanya daun binahong" sambar Bejo. Fahri mengangkat tangannya dengan sedikit kesusahan.
"Kalau masih sakit mbok ya bilang to." Sibu kini yang berperan kasih Fahri minum, menyuapi sampai Fahri selesai makan juga minum obat.
Bejo susah makan jadi dia hanya sebagai penonton. Yang menarik perhatian Bejo adalah tingkah Syafa yang tak biasa. Gadis itu seakan memiliki masalah. Kelihatan selalu gelisah.
Lebih terlihat ketika seorang dokter dan perawat datang memeriksa Fahri. Bejo melihat ada tatapan berbeda dari sorot mata dan perubahan mimik muka cantik Syafa yang biasanya ceria.
"Kamu kenapa, Fa!" Bejo sedikit berbisik. Fahri dan Sibu tengah berbincang dengan dokter dan perawat. Perawat yang sama centilnya dimata Syafa. Itu perawat kemarin yang juga tak kalah cantik dengan perawat jaga tadi malam.
"Tidak ada!" Hatinya terasa membara. "Kenapa semua perawat selalu seintim itu dengan pasien?"
Bejo kini yang bingung. Dimatanya semua hal dilakukan perawat dalam batas normal. Dimana letak intimnya? Dia bahkan garuk kepala.
__ADS_1
Bejo juga merasa ada yang beda dari cara pandang Syafa pada Fahri. Entah apa itu Bejo belum berani menyimpulkan. Tingkah Syafa kembali tak bersahabat setiap perawat datang hingga keluar lagi.
Bejo membeberkan semua hasil jual beli kemarin secara rinci. "Barang baku cukup langka, kemungkinan sebulan ini kita akan kesulitan. Harga pasar juga mulai naik."
Fahri mengambil ponsel di meja dekat dirinya. Mulai aktif berselancar meski Sibu sempat menasehati agar tetap fokus pada pemulihannya terlebih dahulu. Namun kepercayaan konsumen tetap prioritas. Fahri harus tetap siapkan bahan baku bagaimanapun keadaannya.
Bejo cukup mengerti. Membiarkan Fahri bekerja. Dia lebih memilih mendekati Syafa. Gadis itu sepertinya butuh sedikit hiburan. Mungkin karena jenuh berada di rumah sakit atau karena hal lain.
"Kita keluar yuk. Cari udara segar," ajak Bejo mengulurkan tangan disambut malas oleh Syafa.
Sibu tersenyum pada Syafa. Mengizinkan. Fahri masih diam tanpa suara. Malah sibuk dengan gadjet setelah Bejo memberitahukan kepadanya perihal penjualan jagung naik harga. Biasa jika musim kemarau masyarakat akan memilih tanaman yang panennya lebih singkat. Seperti sayur mayur atau semangka.
"Kita ke seberang jalan sana." Bejo menggandeng tangan Syafa. Sang Empunya pasrah masih dalam keadaan cemberut.
"Fa! Bukankah itu Dunka?" Bejo menghentikan langkah sejenak, tapi Syafa acuh tak acuh sambil tetap berjalan. Bejo sampai menarik tangannya.
"Itu Dunka!" Bejo memastikan seolah Syafa belum melihatnya.
"Ya biarin saja. Mau ngapain?"
Aksinya sungguh diluar dugaan Bejo. Seorang gadis akan bersemangat bila bertemu dengan kekasih hati. Tapi ini? Apakah hati gadis ini punya kelainan?
"Kamu tidak ingin menyapa?" Bejo kembali melangkah.
Hening
"Fa, lihatlah dia sedang bersama wanita lain." Bejo melihat Dunka dicium oleh seorang wanita. Sayangnya Syafa tak melihat sebab menunduk. Dia kembali luruskan pandangan kala wanita itu sudah duduk.
"Biarin!"
"Fa!"
"Sudahlah, Kita kembali saja. Syafa capek, Kang!"
"Kau tidak ingin tahu siapa wanita itu?"
To be continued
__ADS_1