Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 22


__ADS_3

Mereka akhirnya makan di warung pinggir jalan. Tepatnya warung yang bersebrangan dengan kafe dimana ada Dunka yang tengah makan bersama seorang wanita.


Bejo sebenarnya amat curiga akan kontak fisik yang dilakukan wanita itu pada Dunka. Bejo ingin tahu seberapa jauh hubungan keduanya. Tapi yang bersangkutan malah bersikap cuek. Jadi bingung sendiri.


Akhirnya Bejo berpikir positif thinking. Mungkin wanita itu saudara jauh Dunka. Tapi mengapa harus cium segala? Entahlah. Dunka telah lama hidup di kota jadi cara bergaulnya juga bisa saja berubah. 


Tunggu! Inikan désa. Sangat tabu berperilaku begitu apalagi ditempat umum. Ah! Sudahlah! Yang punya hubungan saja tak peduli. Kenapa aku harus peduli.


Dipandangnya dari jauh interaksi antara Dunka dengan wanitanya. Nampak serasi dan manis. Mereka saling menyuapi. Tak jarang dari bibir wanitanya juga terbit senyum lepas.


"Fa! Mereka akur banget lho...!"


Bejo ingin kepo. Tapi apa daya, jarak membuat Bejo kesulitan untuk mencuri dengar.


"Heemhhh!"


Syafa benar-benar tidak bergairah. Makanannya saja masih utuh. Hanya diaduk-aduk dengan pasang wajah jelek bebek. Minumannya juga utuh tanpa disentuh.


"Kamu tidak ingin menyelidiki wanita itu?"


"Hemmh!" Masih menunduk sambil menopang dagu dengan satu tangan. Satunya lagi sibuk mengaduk makanan.


"Sini!"


Bejo menarik piring milik Syafa. Awalnya Syafa masih sayang pada makanannya. Mereka saling tarik menarik antara ingin mempertahankan atau mengiklaskan. Bejo mengendorkan pegangan. Syafa malah mendorong piring itu tepat ke arah Bejo.


"Makanlah, Kang?"


Bejo mengernyit.


"Ada apa?"


"Hah!"


Mendengus kemudian meletakkan kepala di meja. Satu tangan dibuatnya sebagai bantal.


"Apa kau kurang enak badan?" Bejo berpikir mungkin saja Syafa kelelahan. Menjaga orang sakit tentu membuat tidur gadis itu tidak nyaman. Fahri bisa saja menyusahkan Syafa.


Sayangnya, Syafa hanya menggeleng sebagai jawaban tiduran lagi dengan posisi yang sama. Dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang membuat moodnya memburuk. Mungkinkah karena sebentar lagi jatah tamu bulanannya datang? Sehingga cepat merasa kesal dan ingin marah saja. Yang hanya adalah kebingungan.


"Baiklah! Pertahankan amarahmu itu. Kau tak butuh makan ataupun minum. Turuti saja nafsu burukmu itu agar daya tahan tubuhmu lemah dan akhirnya sakit. Fahri juga sudah punya perawat. Kemampuannya jauh lebih baik daripada dirimu," ucap Dunka.


Syafa reflek bangun kemudian mengambil kembali piring yang hampir saja disendok oleh Bejo.

__ADS_1


"Menyebalkan! Aku tidak suka perawat itu." Sungut Syafa. Matanya berapi-api menunjukkan permusuhan.


Tunggu! Itu bukan ekspresi cemburu kan?


"Kenapa? Dia telaten merawat orang sakit. Apalagi merawat su..."


"Kak Fahri tidak butuh gadis seperti itu selama ada aku." Rasa sebal semakin menguasai hati Syafa. Kenapa orang yang selalu humoris tiba-tiba berubah menjadi sosok menjengkelkan. Syafa tidak sadar bahwa dialah yang menjengkelkan di sini.


"Suatu saat kamu akan menikah Syafa, kamu akan ikut suamimu."


"Tidak!"


Bentak Syafa. Menggebrak meja. Semua orang menoleh ke arahnya. Mukanya semakin memerah sebab menahan amarah. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini dia sendiri tidak tahu.


Marahkah dia pada ucapan Bejo? Atau pada kenyataan bahwa tidak selamanya dia bersama sang kakak. Bukankah itu hal yang wajar? Untuk apa dia marah? Apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya?


Air mata Syafa perlahan mulai jatuh. Tanpa sadar dia membungkam mulutnya agar isak tangis tidak keluar.


"Maaf, semuanya! Adik saya memang suka labil." Bejo menarik tangan Syafa kemudian mengajaknya pergi.


Sejumlah uang dia tinggalkan begitu saja dibawah piring.


"Pak, itu uangnya dibawah piring." Segera mungkin membawa Syafa pergi.


Syafa seperti orang yang frustasi.


"Oke! Sekarang katakan padaku. Apa yang membuatmu seperti ini?"


Bejo memegang pundak Syafa.  Seakan menyalurkan kekuatan agar gadis itu tenang. Sejak tadi terlihat gelisah. Seperti orang yang tertekan.


"Begini! Kamu tenang, ambil nafas dalam-dalam, lalu katakan apa yang membuatmu berbeda hari ini, Syafa?"


"Aku tidak tahu!" Suaranya seperti cicit ayam. Namun terdengar jelas oleh Bejo.


"Tidak tahu?"


Syafa menghindari tatapan Bejo layaknya maling yang hampir ketahuan. Sedangkan Bejo semakin menduga-duga akan perilaku Syafa.   Berharap menemukan secercah bukti untuk menguatkan praduganya.


"Kita kembali saja, Kang! Lihatlah! Sibu menyuruh kita kembali."


Bejo hanya mengangguk setuju.


~

__ADS_1


~


~


Di kafe


Piring-piring kotor masih berserakan diatas meja dua orang pengunjung. Hanya dua piring masih bersisa sedikit dan yang lainnya satu piring makanan penutup masih belum tersentuh.


Tanpa sungkan Dunka mencomot satu  kue dan memakannya dalam dua gigitan besar. Merasakan manisnya kue kukus dan gurihnya parutan kelapa  sangat cocok di indera perasa. Membuatnya ketagihan. Dunka mengambil lagi dan lagi kue itu hingga habis tak tersisa.


"Apakah sebegitu enak?" Wanita didepannya menopang dagu. Tersenyum manis melihat begitu lahap pujaan hatinya makan.  Sampai lupa menawari.


"Pesan lagi saja jika kau ingin. Aku sudah lama tidak makan kue ini." Mulutnya hampir kesulitan mengeluarkan suara karena kebanyakan isi.


"Buatmu saja, aku merasa kenyang karena melihatmu makan."


Wanita itu kini duduk dengan tegak. Mendekatkan kursi hingga merepet dengan kursi Dunka.


"Sayang, sudah sejauh mana rencana kita?" Dunka menarik nafas dalam-dalam. Minuman yang hampir saja diminumnya kini diletakkan kembali. Memandang wanitanya dengan tatapan sendu.


"Bagaimana jika kita jujur saja pada mereka?"


Dunka mengambil tangan yang bertumpu pada pahanya. Tangan nakal yang ketika mendekat tadi mengelusnya pelan. Itu sungguh menimbulkan sensasi luar biasa. Namun sekarang bukan tempatnya.


"Itu bukan rencananya." Wanita itu mengelus rahang tegas milik Dunka.


"Kita terlalu licik. Mereka tidak bersalah."


"Dunka, Sayang!" Rubah betina itu mulai memainkan peran. Tatapan matanya seolah menyiratkan kesedihan. "Sebenarnya akupun tidak ingin begini. Semua sungguh terasa berat. Hatiku resah saat kau dengan wanita lain. Aku merasa diduakan. Tapi mau bagaimana lagi. Kita telah mencoba yang semestinya, bukan sekali atau dua kali. Tetap gagal.


Padahal jika saja Dunka mengetahui semua penyebab kegagalan nya. Jika saja dia tahu yang berbuat semua rencana gagal adalah wanita didepannya itu sendiri. Tentu kecewanya mengalahkan rasa cinta yang ada atau bisa saja menganggap berpisah adalah pilihan terbaik.


"Xila, Sayang! Aku sungguh minta maaf. Kali ini akan aku pastikan berhasil dengan segera. Setelah itu kita akan hidup bahagia hanya berdua."


"Sungguh? Kamu tidak akan mengecewakan ku kali ini?" Merebahkan kepala di pundak Dunka. Tingkah manja nan menggemaskan inilah membuat Dunka rela melakukan apa saja.


"Kupastikan tidak!"


"Promise?" Seperti sebuah *******.


Dunka mengangguk setuju. Tangannya terulur mengusap pipi wanita.


Keduanya saling menautkan jemari. Tanpa mereka sadari ada sosok misterius tengah mengawasi mereka.

__ADS_1


"Bos, mereka punya misi khusus."


To be continued


__ADS_2