Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 28


__ADS_3

"Ya!kami siap menidurkannya lagi."


"Hemmm."


"Saya sarapan dulu ya, Kang! Nanti gantian!"


"Fahri ....!"


Bejo lah akhirnya yang mengalah.


Bejo memandang wajah putranya dengan sayang. Mengusap lembut rambut sang anak sesekali menciuminya dengan lembut.


"Ayah the best!" bisik Dena secara tiba-tiba. Bejo mengulum senyum. Dena memutari sofa kemudian duduk disamping Bejo. Mengambil alih anaknya. "Sa-sa sarapan dulu, gih. Ma-ma-maaf!"


Dena sungguh tidak tega sebenarnya. Bejo sungguh berharga di matanya. Tapi kekesalan kadang mengalahkan akal logika. Dena merasa marah ada yang mengganggu kenyamanan anaknya meski itu ayah kandungnya. Dan sebagai luapan amarah itu, dia memberi pelajaran pada suaminya agar tahu jika menidurkan anak cukup menyita waktu.  Meski akhirnya dia merasa bersalah sendiri. Suaminya belum sarapan sebab ada tamu sejak pagi buta.


Kadang, begitulah cinta ketika memberi hukuman pada sang kekasih, yang ada hanyalah penyesalan dan selebihnya bertambah rasa kasih serta sayang.


"Tidak apa! Aku mengerti." Mencium bibir istrinya. Si anak menggeliat. "Dia cemburu padaku."


Dena menepuk pipi suaminya dengan gemas seterusnya mengelus pelan. Begitulah cara Dena mengungkapkan kegemasan nya tanpa berkata-kata. Terakhir dia mencium tangan yang digunakannya memegang wajah Bejo. 


"Enakan cium langsung, gini!" Bejo menyerang wajah istrinya bertubi-tubi.


"Cu-curang! Me sum!" Memukul manja lengan berotot milik suaminya.


Seorang pria menatap interaksi kedua sejoli itupun tersenyum bahagia. Berandai dalam hati jika saja dia dan adiknya bukanlah saudara kandung. Tentu perjalanan cintanya juga tidak terhalang.


"Ya, Tuhan. Bolehkah aku menyalahkan takdirku. Bolehkah aku mengulang kelahiranku agar tidak sedarah dengan orang yang aku cintai? Hidup terpisah oleh orang tua yang berbeda, kemudian menyatu dalam jalinan cinta dan membina rumah tangga bahagia. Takdir cintaku sungguh tragis. Bahkan mungkin harus diakhiri sebelum mulai.


"Biarin. Tuh biar si jomblo iri."  Fahri terhenyak. Sadar dari lamunan. Dia menjajarkan kakinya setelah tadi menikmati pandangan bahagia yang menyenangkan dengan bersandar pada pintu. Kedua tangannya masih anteng di dalam saku.


O...jadi sejak tadi dia sengaja memanasi diriku. Andai si ponakan tampanku itu tidak tidur, pasti sudah balas tuh.


"Ekmmmh! Cepatlah sarapan. Kita segera pergi."


Mendekati Bejo dan Dena. Tatapan matanya tertuju pada bayi mungil yang terlelap. Mengelusnya pelan.


"Baiklah, aku sarapan dulu. Ingat! Jangan terlalu dekat istriku." Suara berat Bejo.


Fahri mengangkat kedua tangannya menyerah. Dena menggeleng kepala pelan. Dasar suami prosesif.

__ADS_1


"Dia sama anaknya saja cemburu. Apalagi sama kamu."


Fahri mengernyit tanda tak percaya.


"Tentu saja kau tidak akan percaya. Tapi sepertinya sifatmu bakal sama dengannya. Sama-sama pencemburu. Kalian kan satu aliran."


"Ya, sampai jatuh cinta sama adiknya juga sealiran." Gumam Fahri tanpa sadar.


"A- a-pa! Kau jatuh ci-ci- cinta sama Syafa?" Dena menatap Fahri dengan mata membeliak. Apakah Fahri lupa, biarpun wanita itu gagap, tapi pendengaran nya sangat tajam.


"Apa...! A- apa maksudmu?" elak Fahri. Dena tersenyum yakin dengan apa yang dia dengar setelah melihat gelagat Fahri.


Dena menyatukan telunjuk dan jempolnya simbol sarang Heo."Sa-sa-sama Syafa?" Fahri semakin pias.


"Mbak!" Lupa peringatan Bejo tadi. Fahri duduk tepat di sebelah Dena.


"Kumohon. Jangan bicarakan ini dengan siapapun."


"Ke-kenapa? Mencintai adalah hal yang lumrah."


Fahri kini malah bengong sendiri. Dia tahu sekali bagaimana watak Dena. Akan marah dan menegur siapa saja yang bersalah. Dan setahu Fahri, jatuh cinta sama adik kandung adalah kesalahan. Tapi kenapa Dena berkata demikian?


"Mbak! Aku dan Syafa ...!"


"Ka-kalian saudara!" Pungkas Dena.


"Saya mencintai Syafa!" Tegas Fahri. Kali saja memang Dena tak mendengar jelas tadi.


"La-la-lu salahnya dimana?"


"Mbak!" Fahri makin heran. Menggeser bokongnya dengan resah. Ini prank atau apa? Kenapa Dena tidak marah? Ini sebuah kesalahan lho. Fahri meninggalkan Syafa untuk bermain saja wanita itu bakalan marah besar.


Lha ini, cinta bro, sedarah lagi.


"I-i-ikuti kata hatimu."


Dena bangkit sambil tersenyum. Senyum yang membuat Fahri semakin dilema.


"Mbak!"


"Mau apa kamu sama istri saya." Di hadang Bejo dekat pintu. Dena terus saja melangkah pergi. Fahri kan semakin penasaran. Bagaimana bisa Dena bersikap santai begitu.  Dan kata-kata tadi seolah mendukung perasaannya kepada Syafa.

__ADS_1


"Buruan kita pergi." Menarik kerah jaket Fahri. Pria itu menurut. Tanpa sadar bibirnya tersenyum manis. Berharap jika ucapan Dena adalah untuk mendukung perasaannya pada Syafa.


"Ikuti kata hatimu."


Satu kalimat itu bagaikan sponsor bagi proyek Fahri untuk menanamkan cinta di hati Syafa. Ingin rasanya dia berjingkrak kegirangan. Andai semua orang mendukung cintanya meski mereka sedarah.


"Wooiii...ngapain, kayak orang kesurupan aja!" Bejo memukul meninju pundaknya. Mana bagian itu dekat dengan bekas luka lagi.


"Sakit banget tahu! Kira-kira dong." Ngilu Nya bukan main. Fahri meringis kesakitan. Menekan bagian itu agar ngilunya hilang.


"Lagian, diajak bicara malah loncat nggak jelas gitu. Biasa aja kali. Ini hanya bisnis kecil. Pabrik itu hanya butuh dua ret jagung. Sebegitu berlebihannya sampai loncat segala."


"Biarpun dua ret tetap saja untung, harus disyukuri." Lega dalam hati sebab Bejo menyangka lain.


Yah, hari ini ada notifikasi dadakan untuk pengiriman jagung pada satu pabrik makanan ringan.


"Lebay!"


"Biarin!" Merangkul pundak Bejo kemudian memitingnya.


"Berani sekarang ya!" Kan telinga kena sentil.


"Sakit, Kang. Kenapa galak banget gitu samaku."


"Abisnya tingkahmu aneh banget. Beda dari biasanya. Kenapa?"


"Mungkin karena baru sembuh!"


Bejo mengeluarkan motor dari garansi. Melempar satu helm pada Fahri. Ditangkap dengan satu tangan. Sedikit meringis sebab lagi-lagi berada di lengan yang terluka. Bejo tersenyum.


"Tetap jagoan rupanya." Ejek Bejo. Ternyata mem bully. Fahri hanya mendengus.


"Lain kali jauhi Dena. Jangan duduk nempel kek gitu." Owh, cemburu berkelanjutan rupanya.


Kini motor melaju menelusuri jalanan. Bejo yang menyetir. Mereka akan mengambil truk di gudang sekalian jagungnya. Dan rapat akan diundur menjadi sore hari saja.


"Oke! Asal Akang bantu aku pisahkan Dunka dan Syafa. Jika perlu gagalkan pernikahan mereka."


"Apa katamu?"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2