Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 12


__ADS_3

"Kak! Kakaaaak!" teriak Syafa di suatu pagi. Dia terlihat masuk rumah tergesa-gesa. "Kakak dimana, Sibu?" tanya Syafa yang hanya menemukan ibunya tengah menata sarapan sederhana untuk mereka.


Syafa tahu, hari ini kakaknya tidak pergi ke kebun. Hal itu bisa dia ketahui dari adanya sepatu kebun milik Fahri yang teronggok di pojok samping teras.  Dia juga tak sengaja mendengar jika Fahri akan mengurus penjualan jagung. Jadi, bisa dipastikan kakaknya akan pergi lebih telat dari biasanya.


"Tuh! Lagi mandi!" kata Ibu sambil terus menyelesaikan pekerjaannya. Teh panas telah dituang ke gelas. Akhirnya sarapan telah siap tanpa bantuan Syafa.


"Ibu telah menyelesaikan semuanya sendiri?" Syafa merasa tak enak hati. Wanita renta itupun hanya tersenyum.


"Ndak apa, sarapanlah!" Menepuk penuh kasih pundak Syafa. Jika biasanya Syafa hanya menurut, tapi kali ini dia masih berdiri dengan raut wajah tak bersahabat.


"Kenapa mukanya kusut begitu?" Selidik Ibu.


"Syafa lagi kesal sama Kak Fahri, Sibu!" Nada suara naik satu oktaf. Kerutan di dahi Ibu bertambah. Sebagai tanda permintaan penjelasan.


"Lha masalahnya apa?"


"Seharusnya, kau bantu Sibu, bukan malah keluyuran di pagi buta." Sela Fahri sambil mengacak rambutnya dengan handuk. Tetesan air segar menambah kesan tampan pada pria yang kini menginjak usia dewasa.


Dia mendengar panggilan Syafa. Hanya mengeluarkan rasa kesal yang ditahannya beberapa hari ini. Sejujurnya dia tidak terlalu menyukai cara Dunka yang selalu mengajak Syafa bepergian hanya berduaan saja. Biar bagaimanapun Syafa adalah gadis rumahan. Sedangkan Dunka pria dewasa yang berpengalaman. Fahri khawatir jika Dunka akan mengambil keuntungan dari adiknya.


Fahri tidak menyukai ketika adiknya menjadi bahan gosip warga sekitar. Mereka terlalu sering berduaan dan jalan ke tempat-tempat yang tidak seharusnya. Sebagai kakak, tentu saja khawatir akan hal-hal yang bisa membuat keluarga mereka malu nantinya. Sebab mereka bukanlah malaikat yang bersih dari godaan setan.


"Syafa hanya berkeliling dengan sepeda saja kok, Kak!" elak Syafa.


Memberengut kesal sebab Fahri terlalu posesif menurutnya.


"Kenapa Kakak selalu mencampuri urusan Syafa?"


"Itu karena Kakak peduli padamu, Syafa."


"Peduli ... tapi tidak juga sampai mengawasi Syafa segala, Kak. Syafa juga tahu batasan. Syafa bisa menjaga diri. Syafa bukan lagi anak kecil. Jadi, kakak tidak perlu repot-repot lagi mengawasi Syafa lagaknya tahanan" sungut Syafa tak terima.


Tadi saat dia dan Dunka tengah menikmati waktu berdua saja di pinggir kebun. Syafa mendapati seorang anak laki-laki tengah merekam video ketika dirinya memadu kasih bersama Arya. Syafa tahu siapa orang itu. Dialah orang kepercayaan Fahri.

__ADS_1


"Syafa sudah interogasi anak itu dan katanya, kakaklah yang menyuruh. Aku malu sama Kak Dunka, Kak! Di matanya, aku seperti anak kecil yang harus di awasi setiap saat. Syafa malu!" beber Syafa terlihat begitu kesal.


u dulu sana!" Titah ibu berusaha melerai pertikaian kedua anaknya.


Suara pintu berderit kasar kemudian tertutup begitu keras bersama hilangnya Fahri. Syafa mendesah dalam suasana buruk. Ibu sampai berjengit lalu mengelus dadanya.


"Syafa, kakakmu...!"


"Tidak, Sibu! Syafa sangat kecewa akan tindakan Kakak kali ini. Bagaimanapun alasannya, Syafa juga ingin diberi tanggung jawab mengurus diri sendiri. Syafa juga jalan tidak dengan orang lain. Kak Dunka tunangan Syafa. Tidak mungkin juga kami berbuat macam-macam. Kak Dunka begitu sayang Syafa. Tidak mungkin dia merusak Syafa."


Gadis itu meneteskan air mata. Hatinya gondok karena sang kakak yang menurutnya terlalu mengekang.


"Syafa...!" Ibu membelai rambut putrinya. "Kendalikan dirimu." Menyodorkan sebuah gelas berisi air putih. Dalam sekejap gelas itupun kosong kembali. Hembusan nafas lemah namun terdengar begitu tegar. Ibu meraih tangan gadisnya yang masih merajuk.


"Tidak! Sibu! Bagaimana Syafa bisa mengendalikan diri. Jika semuanya diatur oleh kakak. Hidupku bagaikan burung dalam sangkar. Ini nggak boleh. Itu nggak boleh. Diawasi terus menerus. Syafa seakan menjadi tersangka. Apa salahnya Syafa. Syafa hanya ingin bersenang-senang dan bahagia dengan orang Syafa cintai."


Dada gadis itu turun naik. Ibu menahan gejolak di dada. Perih dan juga pilu. Di usia tua masih mampukah dia mengemong anak-anaknya agar tetap rukun damai.


"Sejak kecil Sibu jarang sekali memberikanmu kebahagiaan. Sejak kepergian ayahmu yang Sibu lakukan adalah mencari sedikit rezeki agar kita bisa membeli sesuap nasi. Sibu mana pernah melihatmu tumbuh dewasa. Segala tentangmu Sibu serahkan pada Kakakmu. Dan yang Sibu tahu...!" Air mata tua mulai berkaca-kaca. Secepat kilat disapu agar tidak tumpah ke pipi. Semua menjadi perhatian Syafa yang sejak tadi memilih diam.


Fahri di dalam kamar mengacak frustasi rambutnya. Melempar sembarang handuk yang mengikat separuh roti sobek miliknya.


"Kenapa kau tidak juga mengerti Syafa?" Lirih Fahri tertahan. Dia mengenakan celana dengan setengah tak sabaran. Bahkan ketika kemeja tak bersalah itupun koyak pada bagian bahu.


"Kenapa tidak ada yang mengerti sedikit saja akan kegelisahan ku?" Semakin dirobeknya hingga menjadi dua. Dia melemparkan ke sembarang arah sembari menjatuhkan pantatnya di ranjang tepat ketika sepasang kaki memasuki kamar pribadinya.


"Sibu!"


Ketika pandangannya bertemu dengan netra tua yang selalu meneduhkan hati.


"Sarapanlah dulu. Kesal dan marah juga menguras energi." Ibu duduk disamping Fahri.


"Buka mulutmu!" Satu sendok nasi beserta lauk berada tepat di depan mulut Fahri. "Jika kau susah makan, bagaimana caramu mendapatkan uang untuk kami?" Semakin mendekatkan sendok. Dengan terpaksa Fahri membuka mulut.

__ADS_1


"Kenapa Sibu perlakukan aku seperti anak kecil?"


"Diam."


Mengunyah dan makan tanpa memakai baju.


"Sibu, aku harus memakai baju."


"Duduk dulu dan habiskan sarapanmu." Patuh dan nurut. Itulah sifat Fahri jika kepada ibunya.


"Tapi...!"


"Jangan membantah. Jika kau lapar akan mudah marah. Sibu tidak suka itu." Mengelus rahang anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan Fahri, Sibu. Fahri tak bermaksud melukai hati Sibu. Fahri hanya ingin yang terbaik buat keluarga kita." Fahri bangkit dan membuka lemari pakaian. Mengambil asal kemeja berlengan pendek.


"Fahri! Bisakah kau sedikit saja memberi waktu untuk mereka berdua? Biarkan mereka saling mendekatkan diri satu sama lainnya."


Fahri tertegun sejenak. Menyambar  kaos oblong sembarangan. Memakainya secepat kilat.


"Fahri pergi dulu, Sibu!" Mencium tangan secepat kilat.


Di luar dia berpapasan dengan Syafa.


"Kakak! Kak Fahriiii...!"


Fahri tak menghiraukan adiknya. Hanya menggunakan isyarat tangan agar Syafa diam di tempat mematung menatap punggung kakaknya yang kian menjauh.


"Kakak! Maaf!" Lirih Syafa.


Sebuah notifikasi masuk. Syafa membalasnya kemudian tersenyum kegirangan. Bahkan sampai melompat tapi detik berikutnya dia nampak termangu.


"Kenapa jadi begini?"

__ADS_1


To be continued


Kira-kira siapakah yang mengirimkan pesan pada Syafa ya?


__ADS_2