
"Kakak!" Syafa terperanjat. Fahri tanpa ampun memukul wajah Dunka.
Naxila menjerit menghalau tubuh suaminya agar tidak mendapat pukulan ke sekian kali. Bejo juga turut andil menghalau.
"Sabar dulu, Ri!"
"Kau tidak apa-apa?" Naxila khawatir.
"Kakak. Kamu tenangkan diri. Ini tidak seperti yang kakak pikirkan."
"Kita bicara di tempat yang aman." Klakson kendaraan membuat Bejo harus menarik tangan Fahri dan membawanya ke truk.
Dan Syafa mengikutinya dari belakang. Bejo memberi tanda agar Dunka mengikutinya.
Sampai di sebuah warung makan lesehan. Bejo meminta es batu kepada pelayan. Menyerahkannya pada Naxila agar mengkompres luka Dunka.
"Kenapa kamu lakukan itu pada adikku?"
"Kak!"
"Fahri, tenanglah. Mereka tidak bersalah." Dalam artian jika keduanya suami istri tentu sah sah saja bermesraan dimanapun.
"Kamu yang dengan sengaja menggoda Syafa. Lalu ingin membuktikan apa sekarang?"
"Maaf!" Lirih Dunka menatap pada istrinya. Naxila. "Maaf!" Menggenggam tangan Naxila lebih erat lalu menciumnya. Fahri berdecih muak.
"Aku terpaksa melakukannya." Kali ini tatapannya beralih kepada ketiga orang dihadapannya.
Fahri dan Bejo mengernyit heran. Bukankah Dunka menyukai Syafa? Kenapa sekarang minta maaf?
"Sibu dan Ibuku telah membuat rencana. Kalian tentu tahu itu. Dan aku adalah pion bagi tujuan mereka. Naxila tidak bisa hamil. Sebab itulah aku disuruh menikah lagi."
"Pengecut!"
"Fahri...!"
"Seorang pria berani mendua lalu berdalih disuruh ibunya. Konyol!"
"Kamu tidak tahu masalahnya." Jelas Dunka.
"Masalahnya ada pada dirimu." Fahri bangkit "Lupakan Syafa. Dia tidak akan pernah menikah denganmu!" Fahri menarik lengan Syafa kemudian pergi dari sana.
Dunka adalah pria plin plan. Pertama meminta restu darinya. Kemudian berdalih bahwa semua itu adalah kemauan orang lain. Dimana letak tanggung jawab pria itu? Pikir Fahri.
"Tunggu!" Dunka berlari menghadang jalan Fahri. "Ini juga demi kamu!"
"Aku...!" Dunka mengangguk. Fahri kembali membawa Syafa pergi tak menggubris sama sekali omongan Dunka yang terdengar sebuah lelucon.
"Sibu tahu jika kalian saling menyukai." Teriak Dunka.
"Itu bagus!" Fahri benar-benar pergi. Dunka menyugar rambut.
"Dia sangat keras kepala." Bejo yang berdiri di sampingnya berkomentar.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bujuk dia?"
"Untuk apa?" Menggidikkan bahu acuh.
"Bejo...kamu tahu segalanya tapi kenapa malah diam saja. Atau...!" Dunka menuding wajah Bejo dengan telunjuk.
"Atau apa?" Bejo semakin merangsek menantang Dunka. Dunka tak mungkin meneruskan kata-katanya. "Bukankah kamu yang ber ulah dengan merayu Syafa. Akui saja itu. Pecundang!"
"Bejo...bantu aku batalkan pernikahan itu."
Bejo tersenyum sinis. Berlalu pergi tanpa kata.
"Sayang, apakah, Kamu benar-benar tidak mencintai Syafa?" Kini Naxila mendekat.
Dunka menatap dalam ke bola mata istrinya. Dia tidak mungkin berkata jujur meski awalnya perasaan itu benar-benar ada.
~
~
~
Upacara pernikahan sebentar lagi benar-benar terjadi. Syafa sudah didandani dengan begitu cantik. Pernikahan yang sebenarnya tidak dia harapkan.
"Kemana kakak? Kenapa belum sampai juga?" Beberapa kali matanya melihat pintu yang tertutup rapat.
Nyatanya Fahri tak kunjung menemui Syafa hingga sebuah mobil pengantin datang menjemput.
"Syafa...mobilnya sudah datang, Nak. Ayo!" Sibu mendapati anaknya duduk di depan meja rias dengan gelisah.
Ah, tak mungkin dia cerita jika memiliki rencana lain bersama Fahri.
"Kakakmu sudah pergi lebih dulu."
Apa? Bukankah kakak bilang...
"Ayo, Nak! Kita sudah ditunggu banyak orang."
Syafa menurut saja. Mereka mulai masuk ke dalam mobil.
"Eh, Sibu lupa sesuatu. Sibu turun sebentar ya Nak!"
Dimana benda itu? Kenapa malah tidak ada sih? Batin Sibu.
Sedangkan supir di depan menyeringai jahat.
"Mas, Sibu belum kembali." Syafa tentu saja panik dirinya hanya sendirian tapi mobil sudah melaju meninggalkan rumah.
"Mas, hentikan mobilnya. Kita harus menunggu Sibu." Ucap Syafa lagi.
Pikiran Syafa semakin kalut ketika menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bukanlah arah menuju tempat perkawinan dirinya dengan Dunka.
"Mas, sepertinya kita salah arah deh." Syafa berusaha menyadarkan si Supir agar kembali.
__ADS_1
Apa? Dia tuli apa pura-pura tidak dengar sih.
"Mas!"
Mobil masih melaju lebih cepat dari sebelumnya. Ketika Syafa menyuarakan keinginannya maka saat itu juga mobil akan melaju lebih kencang lagi. Syafa semakin ketakutan sehingga hanya mampu diam, menunduk sambil meletakkan kedua tangan di kepala.
Si Supir hanya menyeringai. Mengawasi penumpangnya lewat kaca spion.
Mobil mulai melambat. Perlahan Syafa menegakkan tubuhnya. Dia melihat sekitar.
Kini yang terlihat adalah pemandangan pegunungan dengan sawah melintang di bawahnya. Kemudian perbukitan yang indah dengan berbagai tanaman jagung dan juga polowijo lain. Ada cabe, tomat, serta kacang-kacangan. Semua nampak hijau segar. Kemudian tampak rumah bercat putih berjajar sekitar hanya sepuluh rumahan. Kemudian perbukitan lagi. Adapun rumah juga nampak sedikit jauh dari rumah sebelumnya.
Kini Syafa melalui sebuah pasar tradisional. Cukup ramai jika dibandingkan dengan adanya rumah yang sedikit. Di samping pasar ada sekolahan bertingkat. Anak-anak sekolah berhamburan keluar kelas. Seragam mereka berbeda dengan gedung-gedung yang terpisah. Semuanya terdapat tiga gedung terpisah dengan satu halaman luas di tengah.
"Indah sekali. Ini pasti taman." Ucap Syafa tanpa sadar. Bunga-bunga bermekaran mengelilingi taman. Identik dengan warna ungu dan jingga. Nampak sepi sebab hari menjelang siang. Rumah penduduk juga semakin padat.
"Siapa Anda sebenarnya?" Syafa masih bingung dengan orang didepannya. Kenapa malah membawanya kemari? Bukankah seharusnya supir ini membawa Syafa ke rumah Dunka? Lebih tepatnya keluarga Yusniar.
Di rumah Syafa. Sibu berteriak keras mencari keberadaan Syafa belum juga menemukan. Dia menelpon Bejo dan menyuruhnya untuk mencari Syafa.
Keluarga mempelai pria pun sudah lama menunggu. Mereka mulai jengah. Beberapa orang bahkan bergosip dan mulai mencibir. Untung saja tamu undangan hanya pihak kerabat saja.
"Sayang, sepertinya gadis itu kabur dihari pernikahannya." Naxila membisiki sang Suami.
"Diamlah."
Naxila kembali cemberut.
Dari arah luar terdengar sepatu pantofel menggema memenuhi ruangan. Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Pria paruh baya dengan aura dingin mengintimidasi.
Kemarin dia sempat melihat kalung yang dipakai oleh calon menantunya. Kali ini dia ingin memastikan keaslian kalung itu.
Yusniar menyingsing sedikit lengan jas mahal miliknya. Mendapati waktu telah melebihi jadwal yang direncanakan.
"Pernikahan macam apa ini, Dunka?" Suara berat itu menggelegar memenuhi ruangan. Semua orang mendadak diam. Pria paruh baya itu disegani semua orang.
"Mungkin sebentar lagi, Pa! Mempelai perempuan akan datang."
"Lancang!" Tentu saja kata itu ditujukan pada Syafa yang tak menghargai anaknya yaitu Dunka.
"Kita tunggu sebentar lagi, Pa! Mungkin ...!"
"Sepuluh menit." Ucap Yusniar yang berarti bahwa jika sepuluh menit berlalu, maka berlalu pula pernikahan itu. Artinya adalah batal.
⭐
"Kita dimana?"
Syafa skeptis melihat rumah minimalis dengan cat monokrom gaya modern. Disekitarnya terpampang nyata pesona alam pegunungan.
Supir yang membawa Syafa memutari mobil dan membukakan pintu. Pria bertopi hitam itupun mengangkat tinggi -tinggi topinya.
"Kau... bagaimana bisa?"
__ADS_1
To be continued