Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 18


__ADS_3

"Racun yang ada di dalam tubuh kakak Anda telah menjalar ke otak. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi...!"


"Tapi apa, Dok?"


Dokter itu terlihat tenang, namun sorot matanya menunjukkan keputusasaan. Sesekali mendesah sambil menunduk. Kemudian menatap Syafa dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tapi...ada satu hal di luar kendali kami dan juga keterbatasan obat di rumah sakit. Kami sudah mengganti obat dan menaikkan dosisnya, namun itu hanya memperlambat penyebarannya. Semoga ada perkembangan setelah ini."


"Maksud dokter? Apa maksud dari kata Anda 'Semoga ada perkembangan?" Hati Syafa sudah mulai ketar-ketir. Pikiran buruk mulai merayapi. Dia tidak akan terima jika kakaknya kenapa-kenapa.


"Katakan, Dok!" Mengguncang tangan dokter.


"Iya! Katakanlah, Dok!" Dunka ikut mendesak. Akan semakin sulit baginya untuk mendapatkan Syafa jika sampai terjadi sesuatu dengan Fahri. Bisa saja Syafa akan benar-benar benci padanya.


"Dok, bukankah kakak saya tadi baik-baik saja? Dia...dia bahkan tidur nyaman di sana." Tunjuk Syafa dengan nada putus asa. Pikirannya berkelana ke hal yang negatif. Takut jika Fahri akan pergi dari kehidupannya. Membayangkannya saja membuat Syafa ingin bertukar tempat dengan Fahri. Syafa mengusap wajahnya kasar kemudian menjambak rambutnya sendiri frustasi.


"Anda bisa sembuhkan kakak saya kan, Dok?"


Dokter mengambil nafas berat.


"Seperti yang saya bilang pada ibu Anda sebelumnya, bahwa jenis racun ini memiliki obat penawar yang cukup sulit di dapat. Jangankan rumah sakit kecil seperti desa ini, rumah sakit besar atau pun apotik di kota belum pasti ada."


"Sibu?"


'Sibu tahu tentang ini dan tidak memberitahukannya padaku' batin Syafa.


Dunka menepuk pundak Syafa yang terlihat gelisah.


"Setiap racun pasti ada penawarnya. Kita akan berusaha bersama-sama untuk kesembuhan kakakmu." Hibur Dunka. Syafa mulai sedikit tenang. Dunka mengguncang bahu Syafa, menguatkan. Merasa beruntung memiliki Dunka yang setia menemaninya.


Seorang suster datang menyela pembicaraan "Dok ada pasien ibu hamil yang mengalami pendarahan."


"Jangan pergi, Dok! Kakak saya masih butuh Anda!"


"Perbanyaklah berdoa Nona. Keajaiban bisa saja terjadi kapan saja."


Itu artinya Fahri memang dalam masa kritis.


"Dok, pasien pendarahan." Sela perawat.


Dokter itupun memilih pergi.


"Maaf, Nona! Saya harus memeriksa pasien lainnya."


"Dok!" Syafa masih menghalangi jalan dokter.

__ADS_1


"Ada dua nyawa yang harus saya tolong Nona. Jangan halangi jalan saya."


Deg


Dua nyawa!


Tak mungkin Syafa seegois itu memperlambat proses pertolongan. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Tapi bagaimana dengan kakaknya?


"Tenanglah. Dia akan baik-baik saja." Syafa menengok tangan Dunka yang menepuk bahunya. Sekarang dia merasa lebih kuat.


Keadaan rumah sakit masih saja sepi. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Syafa duduk di kursi tunggu dengan mata sembab bahkan sesekali air matanya masih menetes.


Di kafe depan rumah sakit duduklah Dunka dengan seorang wanita.


"Bagaimana rencana kita?"


"Masih tahap awal. Pria itu belum sadarkan diri. Sebenarnya aku senang dia mendapatkan musibah." Senyum kecut hadir di wajah tampannya.


"Mereka bukan orang suruhan kita." Ucap Si wanita mendesah. Dia menyesap kopi dengan cara yang elegan.


"Aku tahu. Itu sebabnya aku berani melapor polisi." Dunka berlagak seolah dialah orang paling pintar di seluruh dunia.


"Aktingmu cukup bagus." Kedua bola mata wanita cantik itu berbinar.


"Tunjukkan apresiasimu yang sebenarnya." Dunka mengerling nakal. Wanita itupun membalas menggoda dengan menggigit bibir bawahnya. "Kau tidak akan mengundangku ke hotelmu?"


"Ayolah!" Wanita itu tersenyum menghanyutkan. "Kau masih perlu melanjutkan misi kita. Gadis itu akan curiga jika kau berlama-lama di luar." Wanita itu bangkit dan berdiri di belakang Dunka. Tangannya bergerayang menyusuri dada Dunka.


"Nanti malam, datanglah." Bisik wanita itu hampir seperti mendesah.


"Kauuuu!" Geram Dunka. Wanita itupun tersenyum dan pergi.


"Selalu nakal." Menatap punggung wanitanya yang terbuka separuh itu. Entah apa alasannya dia bangga memiliki wanita yang semuanya nampak menonjol dan transparan. Bahkan dia sampai menyuruh wanitanya ke dokter bedah.


~


~


~


Di rumah sakit Syafa berdiri di samping ranjang Fahri sendirian. Hampir dua jam lamanya dia belum bergeser sedikitpun. Dia mengenang semua kenangan indah bersama Fahri. Rasa hampa bercampur rindu bergelora membuat hatinya semakin resah.


"Kak...selama ini kau selalu baik padaku. Selalu mencintaiku tanpa pamrih. Cepatlah sadar Kak!"


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat membekas di hati.

__ADS_1


Syafa memegang bibirnya. "Kak! Malam itu aku sengaja tidur di kamar kakak lho.  Syafa sangat nyaman dekat dengan kakak. Tapi kakak malah tidur di luar. Syafa kecewa tahu." Syafa memberengut. Hatinya kacau saat melihat Fahri memilih tidur di sofa daripada di kamar satu ranjang dengan dirinya.


"Kenapa sih, kakak itu tidak pernah mau tidur sama Syafa seperti masa kanak-kanak dulu?"


Apa kau tahu, Kak? Syafa bahkan mimpi berciuman dengan kakak." Pipi Syafa bersemu merah. Gadis itu memegang kedua pipinya.


"Mungkin karena Syafa terlalu mengenang masa kecil kita ya, Kak! Sampai mimpi yang tidak-tidak. Ah! Andai Kakak siuman. Syafa tidak akan berani cerita. Syafa malu." Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seolah Fahri mendengar serta melihat rona di wajahnya.


"Ayolah, Kak! Cepat bangun. Syafa rindu suara kakak. Syafa ingin diperhatikan." Menarik lembut tangan Fahri lalu menciumnya. Kemudian Syafa sedikit berjongkok, mencium kening kakaknya penuh kasih. Dadanya berdebar. Dia termenung sejenak. Desiran aneh itu kembali muncul. Debar jantungnya mulai tidak beraturan.


"Kak! Kau tahu Kak! Sejak kita berciuman di sungai waktu itu, Syafa punya kelainan pada jantung ini. Syafa selalu berdebar-debar bila dekat kakak. Tapi Syafa bersikap biasa saja agar Kakak tidak khawatir sama Syafa. Syafa baik kan, Kak." Masih memegang erat tangan Fahri. Sesekali menciuminya lembut.


"Kak, kenapa tangan kakak tiba-tiba dingin begini?" Syafa panik. Sebab selain tangan Fahri yang dingin, kulit Fahri juga berubah kebiru-biruan.


Syafa menekan tombol emergency. Kali ini dia lebih pandai. Dia panik sekarang. Merasa bahwa respon dari rumah sakit terkesan lambat. Dia berdiri sambil teriak.


"Dok, toloooong."


"Kakakmu akan baik-baik saja!" Sibu telah memegang pundaknya. Seorang perawat masuk dan segera mengecek kondisi pasien.


"Sibu! Sejak kapan Sibu di sana?"


Sibu melihat segalanya. Sibu melihat interaksi Syafa terhadap Fahri juga mendengar setiap ucapan yang gadis itu lontarkan. Tapi Sibu memilih diam di pintu yang belum sepenuhnya terbuka.


"Semuanya, tolong berikan kami ruang untuk bekerja. Silahkan keluar sebentar."


"Tapi, Dok, Sus! Kakak saya!"


"Syafa! Kita keluar. Biarkan dokter yang menangani kakakmu." Sibu menarik pundak Syafa. Dituntunnya gadis itu menuju bangku tunggu.


"Kakak, Sibu!"


"Dia akan baik-baik saja."


Syafa masih was-was. Bahkan tubuh Fahri mulai membiru. Bagaimana bisa tenang? Tunggu


"Sibu darimana saja tadi?"


Memandang penuh selidik ibunya.


"Dan Sibu kenapa bisa kotor begini?"


"Sibu...!"


To be continued 

__ADS_1


__ADS_2