
"Kak Fahri, tidak pergi kerja pagi ini?" Yang ditanya mengulum senyum kemudian beranjak memutari adiknya. Memeluk Syafa dari arah belakang.
Mata gadis itupun waspada seolah memindai jika ada Sibu.
Keduanya sudah sama-sama tahu jika mereka bukan saudara kandung. Jadi, tak ada salahnya jika saling menunjukkan cinta satu sama lain.
"Sibu sudah pergi. Baru saja dia mendapat panggilan dari calon mertuamu itu." Ketus Fahri. Matanya melirik ke panci. Air disana terlihat mulai ada buih-buih akan mendidih.
"Jika bukan karena Sibu, mana mau aku jadi mantunya." Syafa menuang air kedalam gelas berisikan adonan kopi. Bau khas menguar ke indera penciuman. Sedap.
"Bagaimana jika kita percepat saja misi ini. Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi menikahi Dunka." Syafa memandang lurus ke wajah Fahri, seolah bertanya apa yang pria itu rencanakan.
"Kita buat strategi baru hanya antara kau dan aku."
"Bagaimana dengan Sibu?"
Kemarahan Sibu tentu jauh lebih mendebarkan daripada hanya sekedar menggali informasi tentang kebusukan keluarga Yusniar.
Fahri memutari Syafa, kemudian menelusup kan kedua tangan diantara pinggang gadis itu. Membaui aroma rambut Syafa aroma khas stoberi.
"Syafa, aku ingin selalu seperti ini. Kita berdua, hidup damai dengan cinta dan kasih."
Meletakkan kepala pada ceruk leher Syafa. Sapuan nafas Fahri terasa hangat nan memabukkan. Sayafa sampai memejamkan mata.
Syafa mengulum senyum. Gadis itu awalnya ingin membuat minuman untuk dirinya sendiri. Tapi belum sempat sia menyentuhnya, Fahri telah merapatkan tubuhnya ke dinding.
"Semua akan terjadi seperti yang kita inginkan."
"Hemmh!"
Keduanya saling menatap, Syafa sudah tidak berkutik lagi. Terkekang oleh kedua tangan Fahri. Sedang punggungnya bersatu dengan dinding.
"Syafa, coba tengok sini!" Menjawil dagu Syafa hingga gadis itu mendongak.
Tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan pria itu dengan mudahnya mencium bibir Syafa. Semakin dalam ciuman itu hingga terdengar decapan menggairahkan.
Tangan Fahri merapat pada tengkuk Syafa, sedikit menekannya hingga sang Empu tersihir untuk melakukan perlawanan. Mereka saling *******. Hangat bercampur rasa nikmat menghentakkan jantung keduanya. Gelenyar aneh mulai menyebar tatkala Fahri dengan lembut menelusupkan tangan ke balik piyama Syafa.
Sungguh luar biasa reaksi Syafa. Darahnya berdesir hebat. Syafa bahkan sampai kesusahan bernafas. Tapi Fahri yang nakal tidak membiarkan momen berharga ini berakhir begitu saja. Semakin dia agresif menguasai tubuh Syafa. Meraba bagian inti tubuh gadisnya.
"Kaaakkk!"
Syafa cukup sadar jika keduanya belum pantas melakukan hal intim. Dia ingin menolak tapi tubuhnya menginginkan lebih.
Fahri merasa tertantang ketika suara lembut Syafa memanggil namanya. Pagutan demi pagutan serta gerayangan tangan membutakan akal sehatnya.
"Kakak! Kaaakkk!" Suara Syafa lebih tinggi dari sebelumnya. Syafa berontak dalam gairah tak tertahankan. Ingin lebih, namun juga ingin mengakhiri. Pikirannya sungguh kacau.
Keduanya saling merangsek. Berbagi Saliva dalam pergumulan lidah. Semakin lidah mereka bertaut semakin menuntut tangan Fahri meminta lebih.
Hingga suara klakson mobil menyadarkan keduanya dari aksi gila yang masih tertahan. Membara dalam gelora cinta yang tak mungkin mereka tunjukkan lagi setelah ada Sibu di rumah.
"Kakkk!"
__ADS_1
Wajah Syafa pias.
"Jangan takut. Bersikaplah biasa saja." Fahri mengusap liur yang tersisa di wajah Syafa. Kemudian merapikan kancing piyama yang sempat terbuka.
Fahri melenggang pergi ke kamar mandi. Syafa mencuci muka di westafel. Meraba bibirnya yang seakan masih menempel pada bibir Fahri. Adegan panas itupun masih sangat membekas di pelupuk mata.
"Syafa! Syafa!"
Bagaimana tidak berjingkat coba. Lagi asyik melamun malah Sibu datang pakai acara tepuk pundak segala lagi.
"Syafa...tidak biasanya kamu melamun kayak gini."
Syafa membuang muka sembarang arah. Menyeka sisa air yang menetes di wajah.
Untung saja Sibu tidak menyidak dirinya lebih lanjut. Rupanya dia lebih tertarik untuk segera merapikan belanjaannya.
"Sibu belanja lagi?"
Heran Syafa, kelakuan Sibu mendadak berubah semenjak akan berbesan dengan Zaenab.
"Ya, mau bagaimana lagi. Pumpung ada gratisan."
"Gratisan apa sogokan?" Fahri tiba-tiba muncul dengan handuk melingkar sebatas pusar. Tangan kiri mengacak-acak rambut coklat dengan gaya cool. Tetesan sisa air bagaikan embun yang bercahaya di pagi buta.
'Kenapa dalam lima menit saja wajahnya berubah ganteng begitu?'
Syafa tanpa sadar gigit jari.
Fahri tahu jika perhatian Syafa teralihkan pada dirinya. Dengan Jail pria itu mengerling nakal kemudian memoyongkan bibir seolah mencium bibir Syafa.
Syafa melongo oleh pesona Fahri. Diperlakukan demikian membuat gadis itu salah tingkah. Dadanya berdegup kencang. Melirik Fahri, melirik lagi dengan gayanya yang imut. Gadis itu tanpa sadar mengambil kopi langsung meminumnya.
"Aughhh! Panas! Huftt, panas!" Mengipas mulut dengan tangan.
"Kamu ini! Sudah tahu panas main nyosor saja." Sibu ikut panik. Mengipas mulut Syafa dengan tangan.
"Enakan disosor ya, Sibu. Panasnya beda." Syafa semakin melotot tajam. Ucapan Fahri tentu mengingatkan dirinya akan adegan sebelum kedatangan Sibu.
"Kamu ini. Bukannya bantuin adiknya malah ngledekin."
Fahri terkekeh sebelum pergi. Kembali memberi ciuman jauh. Syafa makin geram.
"Ini hanya air biasa. Kenapa reaksimu takut begitu?"
Kan, Sibu jadi salah sangka.
~
Menjelang sore. Fahri sudah berada di ladang jagung.
"Kang Bejo, berapa banyak lagi yang harus kita muat?"
Pria itu tak hentinya merapikan jagung di atas truk. Sore ini jagung-jagung manis itu akan dibawa ke pasar induk.
__ADS_1
Jagung muda dengan kulit yang masih menempel sempurna tersusun rapi memenuhi bak truk. Selanjutnya akan dipasangkan terpal agar barang muatan aman diperjalanan.
"Hanya sisa dua lahan lagi."
Bejo melambaikan tangan kode bahwa dia memanggil anak buahnya.
Bejo mengambil dompet kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang. "Selebihnya belikan es dan makanan. Untuk besok, tunggu saya di pertigaan Utara desa. Kita akan petik jagung milik Haji Ali."
"Siap, Kang!"
Binar wajah bahagia terlihat jelas dari pancaran sayu nan letih. Cermat sekali menghitung uang pemberian Bejo. Bahkan lebih hanya untuk sekedar makan dan minum.
"Terima kasih, Kang Bejo, Kang Fahri!"
Mengibaskan uang ratusan sambil bersiul. Lalu seperti biasa membagikannya ke sesama pekerja yang lain.
Fahri turun dari bak truk.
Bejo mengambil terpal dan membentangkannya dibantu oleh Fahri. Mereka naik lagi untuk merapikan terpal. Tak menghiraukan peluh yang mengucur membasahi tubuh keduanya.
"Oke! Kita berangkat!"
Fahri berada di bagian stir. Bejo turut duduk di sampingnya.
"Dimana alamatnya, Kang?"
"Jalan saja, nanti aku tunjukkan."
Truk melaju lambat menyusuri pinggiran desa.
"Kang, bukankah itu Dunka?"
"Iya! Dan kenapa bisa ada Syafa juga disana?"
Bejo menimpali.
Di perbatasan jalanan kota ada Syafa berdiri tegak memandang dua orang yang tengah beradu mulut tapi setelahnya, Dunia seakan mampu menenangkan wanita di hadapannya dengan memberikan pelukan.
Fahri ataupun Bejo tentu sama-sama tahu siapa gadis itu. Ya! Dia Naxila istri sah Dunka.
"Berani sekali dia!"
"Fahri! Tahan emosimu!"
Bejo baru menyadari jika Fahri telah turun setelah mendengar dentuman pintu truk. Fahri melebarkan langkah mendekati ketiga orang tersebut.
Siapa yang tega melihat adiknya direndahkan begitu? Fahri pikir pasti Syafa sakit hati.
"Kurang ajar, Kau!"
Bughhhh
To be continued
__ADS_1