
Syafa menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya putih telah membalut tubuh indahnya. Riasan natural membuat wajahnya semakin terkesan dewasa. Cantik. Itulah kata yang cocok untuk menilai dirinya. Hari ini adalah perkenalan keluarga sebelum acara pernikahan terlaksana. Dimana semua keluarga besar kedua mempelai akan saling mengenalkan diri.
"Syafa...! Apa kau benar-benar akan melakukannya?" Ucapnya pada diri sendiri. "ya, kau harus bisa. Sebelum misimu berhasil, kau harus mengorbankan cintamu."
"Kamu sudah siap, Sayang!" Sibu datang dengan senyum menawan. Seharusnya dia tidak melibatkan putrinya dalam masalah besar seperti ini. Tapi bagaimana lagi,tanpa umpan, sebuah kail tidak akan mendapatkan mangsanya.
"Aku siap, Sibu!"
Dalam hati Syafa merasa sedih. Memikirkan perasaan Fahri.
"Dimana Kak Fahri?"
"Dia ada di kamarnya. Lima menit lagi kita berangkat." Sibu mengusap lembut pipi anaknya kemudian mencium kening Syafa.
"Aku ingin menemui kakak terlebih dahulu."
Sibu nampak berpikir sejenak dengan menatap dalam ke wajah Syafa kemudian mengangguk setuju.
Syafa menyibak sedikit bawahannya agar bisa berjalan lebar. Gadis itupun tak segan mengetuk ketika sampai dia kamar kakaknya.
"Aku masuk ya!" Setelah mendapat jawaban dari dalam. Fahri nampak enggan merapikan busananya. Pria itu duduk bersandar dasboard ranjang dengan kaki selonjoran kedua tangan dia taruh di bawah kepala. Baju batiknya sama sekali tidak di kancingkan.
"Kakak! Sebentar lagi kita berangkat. Kenapa belum siap juga?" Syafa mendekati sang kakak lalu menarik kaki Fahri. Di sanalah dengan telaten Syafa memasangkan sepatu buat Fahri. Tak segan meski sebenarnya cukup kesulitan oleh balutan kebaya yang dia pakai.
Fahri menikmati perlakuan adiknya tanpa tersenyum. Hatinya galau. Bahkan otaknya ingin berbuat jahat. Apakah baik jika dia menculik Syafa dan memilikinya seorang diri?
"Kak! Kemari, aku akan pasangkan kancingmu juga." Kali ini Fahri tak kuasa menahan diri. Tangan Syafa yang hampir saja mencapai kancing baju Fahri, ditarik Fahri hingga tubuhnya terhuyung ke dalam dekapan Fahri.
Posisi mereka sangatlah intim. Fahri masih selonjoran dengan tubuh yang bertumpu pada dasboard. Sedangkan Syafa telah duduk di atas pangkuan Fahri. Perlahan pria itu mulai menelusuri setiap jengkal wajah sang adik dengan satu jari telunjuk. Berhenti cukup lama di bagian bibir.
"Bolehkah?"
Entah kenapa dia menjelma menjadi sosok yang paling jahat. Dia ingin menikmati keindahan milik adiknya sendiri.
__ADS_1
Syafa, dia merasa sakit sebab belum bisa membalas cinta sejatinya. Jika kemarin dia berpikir mengapa harus terjebak oleh perasaan yang salah ini? Kenapa dia harus mencintai kakak kandungnya sendiri? Dia sedih karena itu. Berniat menikah agar bisa menghindari hubungan terlarang yang memalukan.
Dan kini, ketika tahu bahwa cintanya selama ini adalah benar. Dia mencintai orang yang pantas. Ingin sekali dia ungkapkan kebenaran kemudian memilih bahagia dengan memasrahkan jiwa raga kepada orang yang dicintainya.
Sayangnya, takdir belum berpihak pada cinta Syafa. Dia harus kembali bersabar untuk bisa bersama pujaan hati nanti.
"Syafa...! Bolehkan?"
Sejak tadi gadis itu melamun. Akal sehatnya tidak begitu baik mencerna permintaan Fahri. Dan bodohnya dia memilih mengangguk tidak sadar jika posisinya pun sangat dekat.
"Eummhhhh!"
Ciuman hangat dan juga memabukkan mendarat di bibir Syafa. Bahkan Fahri menekan tengkuk adiknya. Memperdalam ciuman hingga hanya decak kenikmatan yang tercipta. Lihai benar Fahri berperan. Dia telah menaklukkan wilayah yang diinginkan. Syafa hanya bisa pasrah. Menikmati setiap decak nikmat hingga tanpa sadar pun membalasnya.
"Kamu mulai nakal ya!"
Fahri menjeda aksinya. Menatap wajah Syafa dengan intens. Jempolnya mengusap bekas air liur di bibir Syafa. "Andai kita bukan saudara, Syafa?" Fahri nampak gelisah. Deru nafasnya memburu. Ada kecewa dan juga cinta yang membaur menjadi rasa bersalah.
Syafa bisa mengerti itu. Karena yang Fahri tahu mereka adalah saudara kandung. Dan Syafa diperingatkan oleh Sibu untuk menjaga rahasia tersebut hingga misi balas dendam ini selesai.
"Kakak yang mengajariku berbuat nakal. Coba rasakan, apakah yang kita lakukan ini bentuk dari kontak terhadap saudara?"
Tak segan gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Fahri. Syafa mencium kembali bibir Fahri, ********** pelan serta merasainya dalam decap nikmat dengan ritme yang menggairahkan. Fahri cukup terkejut dengan kemajuan pesat ini. Dan sungguh. Dia sangat suka. Syafa membuat jiwanya bergelora. Perlahan Fahri menutup mata.
'Jangan rusak saudaramu, Fahri! Dia adik kandungmu.' bisikan itu seperti nyata. Sontak saja Fahri tersadar.
Fahri sedikit mendorong tubuh Syafa agar berjarak darinya. Kemudian menuntut Syafa menjauh dari pangkuan. Alhasil gadis itu berdiri tegak. Fahri segera bangkit pula. Suasana menjadi canggung.
Syafa menatap Fahri dengan perasaan campur aduk antara malu dan juga canggung.
"Maaf, Fa! Kakak tak seharusnya berbuat demikian." Ada perasaan tercubit. Antara ingin sadar jika mereka saudara tapi juga ada rasa cinta yang semakin tak bisa terkendali. Fahri menyugar rambutnya kasar.
"Kak! Syafa ...!"
__ADS_1
"Keluarlah, Fa! Aku ingin sendiri."
"Kak kita...!"
'Kita bukan saudara' Kalimat itulah yang ingin Syafa ucapkan namun tertahan di tenggorokan.
"Aku tahu! Aku akan menyusulmu nanti. Pergilah dulu."
"Baju Kakak!" Fahri mengangguk mengerti. Merapikan kemeja batik yang memang sejak semula enggan dia rapikan. Sejujurnya pria itu tak berniat pergi. Terlalu sakit rasanya melihat orang yang kita cintai bersama dengan yang lain.
~
~
"Sibu, apakah kita harus melakukan ini? Tidak bisakah kita gunakan cara lain?" Bejo berada di kamar Sibu. Mereka membahas sebuah rencana ketika acara berlangsung nanti.
"Tentu saja. Dengan kita masuk di keluarga itu, maka dengan mudah kita bisa membaca pergerakan mereka."
"Itu akan membahayakan Syafa, Sibu?"
"Tidak! Orang-orang kita akan selalu standby di posisinya. Hanya saja kita kesulitan menembus dinding terdalam mereka. Jadi, sudah seharusnya kita menyusun strategi baru."
Bejo manggut-manggut. Beberapa alat telah dia siapkan untuk berjaga-jaga. Bejo telah mengatur segalanya dengan sangat teliti. Bahkan beberapa alat perekam telah dia siapkan.
"Ini adalah awal kehancuran mereka. Dengan kita masuk kerumah mereka dan menghancurkannya dari dalam."
Sibu segera mengusap kristal bening yang menganak di ujung mata. Wanita itu rupanya tidak sesederhana yang terlihat. Tatapannya tajam serta riasannya menyimpan sosok lain. Sibu dengan nama asli Maya adalah seorang wanita yang menyimpan luka akibat dari keserakahan saudaranya.
"Sibu!"
"Ya, Nak!"
"Kang Bejo sudah datang?"
__ADS_1
Siapakah itu?
To be continued