
"Aku tahu, sejak kemarin kau menyelidiki tempat ini." Fahri cukup terkesiap namun mampu menyembunyikannya dalam diam.
"Apa yang kau cari, Nak?"
"Apa ada hubungannya dengan Sibu Mu itu?"
Andreas membuka pintu berdinding kaca. Senyumannya belum juga pudar. Kaca transparan yang memantulkan cahaya sehingga dibagian dalamnya tak nampak dari luar. Tapi ketika Fahri sudah sampai di dalam ruangan, segala macam aktivitas di luarnya terlihat jelas.
Cahaya temaram memudar padam kemudian berganti terang. Dinding di hadapan Fahri bagaikan sebuah televisi besar dengan berbagai macam tayangan. Kini dia mengerti kenapa Andreas bisa tahu dirinya tengah di awasi. Semua terekam dalam cctv. Fahri mengumpat kinerja anak buahnya yang tidak becus.
"Selamat datang di area pengintai." Andreas tersenyum lebar.
Komputer digital berkedip kemudian beralih program. Menampilkan foto-foto sebuah keluarga bahagia. Sama persis dengan apa yang Fahri lihat di rumah tempo hari.
"Siapa kau...?" tanya Fahri yang heran sebab foto itu dimiliki oleh Sibu di rumah. Dan mengapa foto itu disembunyikan?
Andreas memainkan jemari seakan menyentuh udara.
"Sibu." Lirih Fahri.
Foto semula bergulir kemudian berganti foto lain. Sosok perempuan cantik yang begitu familiar. Perempuan itu memeluk bahagia seorang pria yang ada di gambar pertama. Kemudian bergulir lagi dan berganti dengan foto dua perempuan tengah berbadan dua dengan satu pria dia antara mereka. Ya! Tetap gambar pria pertama.
Dari sekian banyaknya foto mengapa tidak ada gambar ayah. Ya, tentu Fahri tahu siapa lelaki yang ada di foto. Kakak tertua Sibu. Lalu siapa laki-laki yang menghamili Sibu? Ah, suami Sibu tepatnya. Ayah! Dimana ayah?
"Siapa kau? Kenapa banyak sekali menyimpan foto Sibu disini? Apa hubungan kami denganmu."
Jika pria ini bagian dari keluarga Sibu, mengapa tidak pernah sekalipun saling bersilaturahmi? Tapi jika memang benar-benar keluarga tidak ada satu fotopun yang menunjukkan adanya dia.
"Pertanyaan bagus." Andreas menghentikan jemarinya. Beralih ke dekat dinding kaca di mana ada tiga anak buahnya tengah lewat.
"Aku adalah masa lalunya."
Fahri berdecih.
"Masa lalu yang gagal move on begitukah?" Secara tidak langsung Fahri menuduh Andreas menunggu janda seorang Sibu. Meski benar tapi pernyataan Fahri melukai ego Andreas.
"Hati-hati dengan bicaramu, Anak Muda. Kau tidak tahu siapa aku." Wajah garang Andreas kembali tersenyum.
"Tapi memang benar masih gagal move on darinya. Semua itu bukan tanpa alasan. Maya patut untuk diperjuangkan."
"Aku keberatan punya ayah sepertimu." Fahri tersenyum mengejek. Tentu saja memicu tatapan sengit Andreas. Namun beberapa detik selanjutnya bibir itu tersenyum. Fahri sampai heran karenanya. Pria ini seperti orang gila yang menanggapi apapun dengan senyuman.
"Tanpa ataupun seizinmu dia pasti mau denganku. Kali ini dia tidak bisa menghindar. Kami telah membuat kesepakatan." ceplos Andreas.
Fahri semakin yakin jika pria di hadapannya pasti tahu rencana Sibu.
__ADS_1
"Kesepakatan?"
"Ah, itu tidak penting. Yang pasti kau akan menerimaku menjadi ayahmu." Semakin melebarkan bibir.
"Aku tahu benar siapa Sibu. Dia tidak akan pernah mengkhianati ayah meski sudah meninggal."
Kali ini Fahri tersenyum lebar. Andreas menautkan kedua alisnya diselingi senyum tipis penuh percaya diri.
"Kali ini aku pastikan Sibumu bertekuk lutut padaku."
"Aku tidak yakin. Mengingat selama itu kau berusaha, meski ayah tiada ibu tetap menjanda."
Kalimat terakhir Fahri bagaikan bom yang siap meledakkan hati Andreas. Perlahan senyum itu memudar.
"Selama apapun aku akan tetap menunggu."
Sial, rupanya sulit juga mendapatkan informasi darinya. Tapi aku yakin jika pria ini mengetahui segalanya. Bahkan rencana Sibu menikahkan Syafa.
"Aku bisa membantumu jika saja kau mau sedikit berbaik hati pada calon anakmu ini."
Andreas meletakkan jari telunjuk di kening, beralih mengelus rahangnya yang mengeras. "Apa yang ingin kau ketahui dariku?"
Fahri berlonjak gembira dalam hati.
Andreas mulai memberikan informasi tentang Maya. Rencana Maya yang ingin balas dendam akan kematian sahabat dan juga keluarganya. Dari cerita ini Fahri bisa menyimpulkan bahwa dia dan Syafa bukan saudara kandung.
Cinta yang telah ditanam bersemi semakin dalam. Fahri bertekad memperjuangkan cintanya tak peduli rintangan apapun yang akan dia hadapi nanti.
"Fahri! Darimana saja kamu?" Sibu melipat kedua tangannya di dada. Keadaan rumah cukup sepi ketika pemuda itu kembali. Netranya tak menemukan orang lagi selain sibu yang menatapnya tajam.
"Dari luar, Sibu!"
"Fahri, kamu sungguh keterlaluan. Adikmu bertunangan hari ini tapi kamu sama sekali tidak peduli. Kamu bahkan tidak hadir di sana. Apa yang kamu pikirkan hah?"
"Lalu apa yang ibu pikir? Menjadikan kami sebagai boneka Sibu?"
Wanita itu tersentak. Tidak biasanya Fahri membantah perkataannya.
"Apa maksudmu?"
"Sibu yang menikahkan Syafa karena ingin balas dendam."
"Karena mereka berani menumpahkan darah bagi keluarga kita. Maka sudah sepatutnya mereka menerima ganjaran yang setimpal."
"Tapi bukan dengan mengorbankan Syafa. Aku tidak setuju itu. Keluarga Dunka bukan orang sembarangan. Asal ibu tahu yang menyerangku waktu itu adalah orang-orang Dunka."
__ADS_1
"Lalu kau diam saja?" Sibu mencemooh dengan gaya angkuhnya. "Cacing saja akan menggeliat jika di injak lalu apa gunanya akal pikiran ketika kita di rendahkan. Diam saja seperti pecundang."
Bahasanya mengandung provokasi. Fahri sampai tidak mengenali siapa wanita di hadapannya ini jika sebelumnya tak bertemu Andreas.
'Karakter Maya sangatlah unik. Dia mampu berubah dan kembali dalam wujud lemah lembut tanpa kau sadari. Sosoknya halus namun menghanyutkan.'
Fahri enggan menanggapi dia berlalu pergi sebelum ibunya bicara lagi.
"Kakak!"
Suara lirih itu mampu menghentikan langkah lebar Fahri.
"Kakak tak datang, apakah...!"
"Aku ada pekerjaan!"
Pungkas Fahri. Syafa yang memilih menuruti kemauan Sibu. Kenapa jadi dia yang marah.
"Kakak marah?"
Fahri tidak menjawab. Dia cukup tahu jika diteruskan lahar api dalam dirinya akan berkobar.
'Adikmu pun tahu segalanya, Sibumu bilang jika dia sudah setuju. Semua itu bentuk timbal balik karena ibumu merawatnya sejak kecil.'
Cih
Lebih baik menghindar terlebih dahulu.
Fahri menenggelamkan semua ucapan Andreas dengan memejamkan mata. Nyatanya semakin dia ingin melupakan kata-kata itu semakin jelas terngiang.
Samsak buatan dari karung yang diisi pasir serta kerikil menjadi pelampiasan nya. Dia memukul dan memukul lagi. Bertubi-tubi hingga karung itu terburai dan isinya berhamburan keluar. Jika saja Fahri sedikit bisa menurunkan rasa sakit hatinya tentu dia bisa merasakan tangannya telah meneteskan darah.
Melepas kasar pakaian yang menutupi tubuh bagian atas. Baju basah oleh keringat itu tercampakkan di tanah.
Fahri berdiri angkuh melampiaskan semua amarah yang membara. Merelakan angin malam mencumbu dada bidangnya yang terbuka.
Tubuhnya mengkilat oleh keringat yang disapa cahaya.
Keadaan hening. Deru nafas memburu seirama detak jantung Fahri yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hingga dua jemari lentik menelusup di balik kedua lengan kokohnya. Memeluk erat dirinya dari arah belakang.
"Kakak, maaf!"
To be continued
__ADS_1
Ah, Kak Fahri kalau marah gitu banget ya. Aku takuuut.