
"Nak Dunka, sebaiknya kau pulanglah dahulu." Ibu menghentikan langkah Dunka dengan kata-kata. Dunka tak kuasa menahan diri ketika melihat separuh hatinya diperlakukan dengan buruk. Tas belanja Syafa dia jinjing setelah menepikan sepeda ke dekat dipan. Dunka pun menaruhnya di sana. Terasa perih di pipi tidak dia hiraukan.
Syafa tertatih-tatih mengikuti langkah lebar Fahri. Gerakannya menunjukkan keterpaksaan ketika masuk ke dalam rumah. Embun di matanya adalah pertanda bahwa dia berontak akan tindakan Kakaknya. "Kak, kami tidak melakukan apapun. Kami hanya..."
"Hanya apa? Hanya berbuat tidak senonoh di jalan. Apa kau tidak malu dilihat banyak orang, hah?" Syafa terdiam menunduk dengan derai air mata di pipi. Entah mengapa Fahri tak kuasa menahan amarahnya kali ini. Dan untuk pertama kalinya Fahri begitu marah hanya karena Syafa foto bersama pria lain.
Dunka yang mendengar jelas perdebatan mereka merasa sangat bersalah. Seharusnya, dia tidak memaksakan kehendak. Tapi apa daya. Cinta yang telah tertanam dihati sejak mereka masih kanak-kanak, memprovokasi dirinya agar bertindak
"Maaf, tapi Kak Dunka hanya membantuku tadi?"
"Membantu?" decih Fahri sambil mendorong tubuh Syafa hingga terhempas ke ranjang. Kini mereka telah berada di dalam kamar Syafa.
"Membantu membuatmu seperti gadis liar di luar sana? Iya?" Tangan Fahri bertumpu pada tepat di kedua belah pundak Syafa. Mata tajam Fahri menusuk hingga ke ulu hati. Syafa tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Yang ada di pikirannya adalah keinginan mengatakan kejujuran.
"Kak Dunka tadi membantuku saat aku terjatuh." Sayangnya, penjelasan itu tercekat di tenggorokan. Syafa tak mampu berkata saat menatap mata tajam Fahri yang bagaikan elang kelaparan.
"Pertama dia merayumu. Kemudian menyentuh dirimu dan setelah itu..." Fahri menutup mata, bangkit seperti orang frustasi menjambak rambutnya sendiri "Bagaimana jika dia hanya memanfaatkan mu saja? Tidakkah kau pikirkan hal itu?" Dicengkeram bahu Syafa baru saja duduk di tepi ranjang. Hingga pemiliknya bergidik ngeri dan ketakutan.
"Kaa...k! Kak Dunka bu-bu kan orang yang seperti itu," bantah Syafa putus asa. Suaranya tersedat.
Syafa begitu shock dengan perubahan sikap Kakaknya. Semarah apapun Fahri, tidak pernah sekalipun membentaknya bahkan sampai berbuat kasar. Telunjuk Fahri menggantung tepat di wajah Syafa, tapi kemudian jemari itu mengepal dan meninju pinggiran ranjang tepat di sebelah Syafa berada. Gadis itu sampai berjengit, menahan gemuruh dadanya yang semakin sesak dalam isak tangis memilukan. Rasa takut mendominasi.
Fahri ingat jika Dunka masih berada di luar. Dia bergegas menemuinya.
"Pergi kau!" Usirnya ketika berhadapan dengan Dunka. Syafa masih shock duduk diam di kamar.
"Fahri...!" Dunka tidak ingin ada kesalahpahaman. Dia juga tidak ingin Syafa kesulitan hanya karena bertemu dengan dirinya. Dunka akan menjelaskan kebenarannya dan meminta maaf. Itulah yang ada dalam otak.
"Kau...! Jangan pernah lagi kau temui Syafa." Fahri menarik kaos Dunka hingga pemiliknya ikut terhuyung ke depan, lalu menghempasnya dengan keras.
"Ngger, Nak! Jangan begini. Selesaikan masalah dengan baik-baik. Cari tahu dulu seperti apa kebenarannya." Ibu menggapit lengan anaknya lengan anaknya.
__ADS_1
"Pergilah!"
Dunka perlahan bangkit. Ibu memberi kode padanya untuk pergi. Setelah berpikir sejenak, Dunka memutuskan untuk pulang. Percuma saja menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang tengah dilanda amarah.
"Kendalikan dirimu, Ngger!" Fahri hanya melenggang melewati ibunya tanpa ingin menjawab sepatah kata. Wajah senja itupun semakin terlihat rapuh.
~
~
~
Beberapa hari berlalu tanpa kebahagiaan. Masing-masing terendam dalam pikiran mereka sendiri. Fahri masih mendiamkan Syafa meski berulang kali meminta maaf.
Syafa berpikir apakah itu sebuah kejahatan besar? Bukankah itu hal yang wajar saja? Tapi kenapa Fahri sampai begitu sangat marah.
Apa Fahri masih marah padamu? Sebuah pesan WhatsApp dari Dunka membuat hati Syafa semakin tidak menentu. Jari lentiknya tak kuasa menahan keinginan hati untuk segera mengetik.
Ya! Begitulah!
Apa perlu aku datang dan menjelaskan segalanya?
Syafa hanya membacanya tanpa ingin menjawab. Dia sedang kalut dan ingin masalah ini segera selesai. Syafa meletakkan ponselnya di meja.
"Aku harus bagaimana, Sibu?" Syafa kini tengah berada di ruang tengah dimana ibunya sedang duduk santai di kursi rotan. Direbahkan kepalanya pada pangkuan ibu. Perlahan tangan renta itu mengusap rambut Syafa. Usapannya bagai sihir yang memberi mantra kekuatan serta ketenangan.
"Sabar! Kakakmu adalah orang yang keras. Tapi sungguh hatinya sebenarnya begitu lembut. Keinginan untuk menjaga dirimu melebihi akal warasnya sendiri. Dia mencintaimu hingga melupakan batasnya sendiri. Sabarlah, Nduk. Kita tunggu sampai hatinya tenang."
Syafa mendesah berat. Didiamkan Fahri adalah hukuman terberat baginya. Biasanya, tidak peduli seberapa marah kakaknya, tetap akan bicara meski lebih sedikit dari semestinya. Dan kali ini, jangankan bicara, menatap saja Fahri enggan.
"Sibu mau memintakan maafku?" Mendongak memohon dengan segenap keterputusasaan. Ibu mengelus lembut pipi Syafa, namun tangan itu digenggam putrinya kemudian menciumi penuh takdim seolah meminta agar kehendaknya dikabulkan.
__ADS_1
"Sibu akan mencobanya nanti!" Mantap Ibu meluruhkan segala beban yang menghimpit di pundak Syafa.
Ketika malam tiba. Ibu berada di kamar Fahri. Syafa perlahan mengendap-endap mencuri dengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
"Sibu ingin aku harus bagaimana?"
"Kehangatan rumah ini kembali. Sibu ingin kalian berbaikan. Hati Sibu sakit melihatmu diam dalam api kemarahan. Kendalikan lah itu, Ngger. Jangan sampai api itu membakar mu perlahan lalu menyebar melahap seluruh isi rumah."
Fahri diam beberapa saat. Sulit baginya untuk membantah ucapan ibunya. Sesungguhnya, dia juga tidak mengerti akan hatinya sendiri. Pikiran nya ingin Syafa bahagia, tapi hatinya tidak ingin membagi Syafa dengan siapapun.
"Syafa melupakanku, Sibu!"
Ibu mengerti, Fahri mengatakan hal itu sebab Syafa akhir-akhir ini tidak lagi menuruti ucapannya agar tidak bertemu dengan Arya.
"Itu hanya sebuah kebetulan, Ngger. Syafa tidak mungkin melukai perasaanmu. Dia sangat menghormati dirimu dan juga patuh pada perintahmu." Fahri mengangkat kepalanya, menatap sejenak netra tua yang menyiratkan kejujuran, keteduhan dan keyakinan.
"Syafa bukan anak kecil lagi yang selalu kau kekang kehendak hatinya. Dia juga berhak menjalani kehidupan layaknya gadis remaja." Mengelus pundak Fahri. Pria itu segera menunduk kembali seolah sebongkah berlian tergeletak di sana. Tapi pikirannya jauh menimbang baik dan buruk keputusan yang akan dia ambil nanti.
"Ngger, mungkin ini sudah waktunya. Kamu sudah dewasa, ada masanya kamu juga harus memulai kehidupan yang baru bersama jodohmu."
Hati Fahri tercubit. Dalam kamusnya, hidup hanya untuk mengabdi pada Sang Ibu dan berdampingan dengan adik kesayangannya. Tapi ternyata hukum alam tidak memihak pada keinginan nya.
"Jangan begini, Ngger. Sibu sedih." Suara yang semula lembut dan tenang kini menyiratkan sebuah kecemasan. Tangan renta itu pun gemetar. Fahri mulai menyadari kekeliruannya. Segera dia ambil tangan renta itu dan memendam segala hasrat yang dia perkirakan bisa membuat ibunya semakin terpuruk.
"Maafkan aku, Sibu!" Fahri melorotkan tubuhnya di hadapan pangkuan Sang Ibu. Menduselkan kepalanya tak berdaya. Hatinya begitu galau dan resah.
"Kenapa kau tidak berbesar hati, Ngger? Sibu tahu kekalutanmu. Tapi Sibu juga mengerti kekalutan adikmu. Sibu ingin yang terbaik bagi Kalian. Tapi jika Kalian sendiri membagi jarak. Sibu bisa apa?" Tak kuasa mendengar keluh kesah ibunya. Syafa pun ikut menghambur ke pangkuan ibu.
"Maafkan aku juga, Sibu!"
Hening
__ADS_1
Syafa dan Fahri mendongak bersamaan, keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung....