
Hari kedua di rumah sakit.
"Kak Fahri...!" Jantung Syafa serasa mau copot. Tadi dia bermaksud keluar sebentar untuk mencari makanan. Ketika kembali disuguhkan pada pemandangan tak mengenakkan.
Penyangga infus telah jatuh di lantai sedangkan tangan dimana jarum infus itu terletak berdarah. Pasien itu berada tepat didepan pintu kamar mandi. Keadaannya sungguh kacau dengan bantal di lantai dan juga selimutnya teronggok begitu saja di bawah tempat tidur. Beberapa buah pemberian Dunka semalam berserakan.
Baju Fahri pun tak kalah berantakan. Hanya semampir di pundak sebelah nyaris saja jatuh. Pasien yang menolak mengenakan baju rumah sakit ketika terbangun. Juga yang paling enggan memencet tombol emergency ketika butuh. Sok bisa sendirilah.
"Kakak mau ke kamar mandi?"
Yang ditanya mendesah.
"Kemana saja, Kau?" Bukannya menjawab malah balik nanya. Melanjutkan jalannya setelah mencabut jarum infus karena merasa mengganggu pergerakan. Bukan hanya itu, Fahri bahkan melempar penyangganya hingga berbunyi nyaring.
"Kaaak!" Syafa reflek mengangkat kedua tangannya menutup telinga. Matanya terpejam sebab terkejut bercampur khawatir akan aksi Fahri mencabut infus.
Seorang yang baru saja datang hampir saja menabrak pintu kamar.
"Ada ap...?" Bejo terbengong sendiri. Sungguh amat kacau ruangan ini. Fahri melengos masuk kamar mandi setelah membanting pintu sangat keras.
Syafa melonjak kaget. Bejo mengeluarkan sumpah serapah.
"Pasien tak berakhlak.". Kini pria itu berada tepat di depan pintu kamar mandi.
"Bagaimana jika kita lempar saja dari sini," tambahnya lagi ketika sudah dekat dengan Syafa. Bejo nampak bersungut.
"Tidak ada salahnya mencoba. Sayangnya, aku bingung harus membuat alasan apa ketika Sibu nanya nanti." Syafa mengambil nafas berulangkali.
Untungnya niat jahat itu hanya bentuk pelampiasan yang keluar sebatas di bibir saja.
Syafa kini mengetuk pintu. Menawarkan diri dengan berteriak memanggil nama Fahri. Kali saja pria itu butuh bantuan. Seperti tadi sore yang minta dilayani ketika menyeka seluruh tubuh. Minta disuapi saat makan dan minum. Bahkan membenahi selimut saja Syafa yang lakukan.
"Sudah biarkan saja. Tingkahnya semakin aneh semenjak sakit," kata Bejo sambil beralih duduk di sofa. Sebuah apel yang berada di bawahnya dia ambil lalu dilap menggunakan tangan kemudian dia makan begitu saja.
"Dicuci dulu, Kang!"
"Terlanjur masuk mulut."
Hening.
Dua orang betah memandang nanar ke arah pintu kamar mandi.
"Aku bingung dengan perilaku Kakak. Dia lebih banyak marah-marah. Sejak penusukan itu, dia selalu saja marah. Entah apa alasannya." Syafa masih berdiri tegak di depan pintu.
__ADS_1
"Dan tingkahnya yang semakin manja." Timpal Bejo. Dibenarkan mutlak oleh Syafa. "Mungkin otaknya juga tertusuk. Atau juga hatinya," ucap Bejo tanpa sadar. Syafa mengernyit. Mencoba memahami ucapan Bejo.
"Jangan pikirkan. Aku hanya mengarang."
Fahri mengerang dari dalam. Membuat gadis itu kelimpungan. Dia segera masuk untuk melihat apa yang terjadi. Merutuki kebodohannya yang tak tahu bahwa pintu itu tidak dikunci. Mengapa tidak mengikuti kakaknya dari tadi sih.
Sampai di dalam lebih dikejutkan lagi dengan tampilan Fahri. Celananya tidak terpasang sempurna. Muka Fahri pun terlihat kusut.
Haduh! Ini namanya salah. Yang masuk seharusnya Bejo. Syafa sih terlalu ceroboh.
"Kaaak! Itunya kenapa nggak dipakai dengan benar?" Syafa menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Kalau bisa sudah kulakukan." Syafa membuka sedikit jemarinya sambil menarik sedikit kelopak mata. Mendapati Fahri yang mengibaskan tangannya. Masih berdarah.
"Kaaak! Jangan dikibaskan begitu." Reflek Syafa menurunkan ego. Meraih tangan Fahri kemudian mengelapnya dengan tissue. Sedikit menekan agar darah itu tidak lagi keluar.
"Sya-syafa bantu simpulkan itunya ya!" Secepat kilat tangan mungil itu meraih tali lalu membuat simpulan rapi. Hatinya sungguh bergetar luar biasa. Darahnya berdesir hebat. Antara canggung dan malu.
Bukankah mereka bersaudara? Harusnya biasa saja kan? Mereka punya ikatan darah ataukah sebab sudah sama-sama dewasa hingga mereka merasakan hal yang berbeda ketika masih kecil dulu.
"Terima kasih!" ucap Fahri. Syafa mengangguk canggung. Tanpa sadar menyelipkan anak rambut yang masih rapi.
"Bantu apalagi?"
"Jangan mandi, Kak! Biar aku basuh saja." Tatapan mereka saling bertabrakan, namun secepat mungkin Syafa berusaha menghindar.
'Kenapa rasanya begini? Kenapa perasaan nyaman berubah canggung begini?'
Syafa mengambil handuk kecil lalu menadahkannya dibawah kran. Mengatur suhu air hangat kuku.
Dengan berdiri, Syafa langsung mengelap punggung Fahri dari arah belakang. Fahri diam saja. Sesekali menahan nafas untuk menetralkan getaran hati yang semakin membuncah.
Selama ini Syafa tidak begitu memperhatikan tubuh kakaknya. Ternyata begitu bagus daaa...! Mengelus penuh gairah punggung gagah kakaknya. Perlahan mulai dari atas lalu turun ke pinggang. Sangat indah.
Tidak Syafa. Dia kakakmu. Saudaramu. Buang jauh-jauh pikiranmu itu.
Sayangnya, ketika dia tersadar. Tangan kanannya telah ditarik Fahri. Melingkar sampai ke roti sobek yang menggiurkan.
"Kaaak!" Cicit Syafa yang sialnya malah terdengar seperti sebuah ******* di telinga Fahri. "Jangan begini, Kak!" Ketika Fahri bahkan menarik perlahan tangannya naik turun.
Susah payah Syafa menahan diri. Tubuhnya panas dingin. Punggung Fahri yang dia tempeli seakan mengikat dirinya dalam ketidakberdayaan.
"Maaf, Kak!"
__ADS_1
Syafa menarik tangannya sedikit kasar. Fahri pasrah diperlakukan begitu. Mematung tanpa harus berbuat apa. Andai dia punya keberanian lebih. Tidak memikirkan perasaan semua orang. Dia akan berteriak sekarang juga. Menyatakan perasaannya.
Syafa pun merasa kecewa serta tak rela kala tangannya terlepas. Perasaan nyaman itu berubah canggung.
Keduanya tersadar bahwa itu diluar batas hubungan sedarah.
"Apa kau benar-benar akan menikahi Dunka, Fa?" Inilah hal yang membuat Fahri amat kesal.
Tadi malam Dunka datang bersama ibunya. Menjenguk Fahri. Keluarga besar Haji Ali juga turut datang membesuk. Dan yang paling membuat Fahri kesal ketika semua orang gembira atas hubungan Syafa dan Dunka.
Sialnya adalah, dia tidak bisa memisahkan keduanya. Ataupun mengungkapkan perasaan yang dia simpan dalam hati. Akhirnya merana sendiri dalam luka tak tahu kapan berakhir.
"Syafa...!"
"Demi Sibu, Kak!"
"Lalu bagaimana dengan hatimu? Apakah kamu juga mengharapkan Dunka?"
"Syafa tidak tahu!" Melangkah hendak keluar saja dari kamar mandi yang terasa menyesakkan. Sayangnya tangan Fahri lebih cepat mendapatkan jemarinya. Mereka masih dalam keadaan bersimpangan.
Fahri meremas jemari Syafa. Yang dirasa Syafa seperti tersengat aliran listrik. Darahnya berdesir. Syafa sampai memejamkan mata. Merasai getaran apakah yang melanda jiwa.
Bagaimana bisa menjawab? Apa yang harus dikatakan Syafa? Hatinya telah kacau. Semenjak Fahri didekati oleh perawat itu, dia merasa cemburu. Diapun tidak ingin kakaknya diambil orang lain. Tapi untuk alasan apa?
"Syafa, kakak tidak ingin kamu bersama orang lain. Kakak tidak rela ketika kamu bersama Dunka. Kakak merasa bahwa dia tidak baik untukmu."
"Kaaakkk!"
"Tolaklah pernikahan ini, Fa!"
"Kaaakkk!"
"Jika kau memang sayang sama kakak."
Syafa tidak menjawab. Dia memberontak kecil agar jemarinya dilepaskan.
"Aku mohon!" Fahri semakin mengeratkan.
"Kaaakkk!"
Tak terasa air mata Syafa terjatuh. Entah karena apa dia sendiri tidak mengerti. Fahri menahan rasa ngilu di lengan. Memeluk Syafa kedalam pelukan.
"Semua sudah jelas sekarang." Ucap Bejo mengintip melalui celah pintu yang tak tertutup sempurna.
__ADS_1
To be continued