Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 29


__ADS_3

"Aku sendirian di rumah!" Syafa merebahkan tubuhnya pada dipan kayu nan keras, tapi rasanya nyaman. Sebab semilir angin yang berhembus manja.


"Kakak sama ibumu kemana?" Wanita lain di dalam ponsel Syafa bersuara. Dia adalah Vega sahabat karib Syafa yang sekarang telah berada di Pekalongan. Dulu waktu sekolah, Vega ikut neneknya. Tapi setelah neneknya meninggal, Vega menyusul orang tuanya di Pekalongan.


Keduanya masih sering berbagi cerita lewat dunia Maya.


"Sibu belum pulang dari tadi pagi. Dan Kak Fahri dia sudah bekerja. Tinggallah aku seorang. Pengangguran yang sebentar lagi akan dicoret dari KK keluarga. Kamu jadi datang kemari kan?"


Tawa renyah Vega terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Syafa. Siapa lagi pelakunya jika bukan Vega.


"Aku bersungguh-sungguh mengundangmu." sungut Syafa.


"Gimana ya! Akan aku usahakan. Apa sih yang nggak buat kamu?"


"Nah, gtu dong!"


Yang dilayar mengacungkan jempol.


"Fa, bolehkah aku melihat rupa calon suamimu?" Tanya Vega. Syafa terdiam bukan tidak boleh, tapi dia sendiri tidak punya foto Dunka. Satupun. Foto pas pulang dari pasar saja sudah hilang dari galeri penyimpanan.


"Nggak boleh ya!"


Syafa berpindah posisi menjadi duduk.  "Bentar aku cari dulu." Kata Syafa kemudian. Berharap ada satu saja foto yang tersisa. Nihil. Kebanyakan adalah fotonya Fahri. Tanpa sadar Syafa tersenyum melihatnya.


"Gimana, sudah ketemu apa belum?" Cerca Vega.


"Belum"


"Belum atau nggak ada?"


Syafa kembali bertatap muka dengan temannya.


"Nggak ada."


Menggeleng pelan. Vega terlihat menggelembungkan pipi di sana. Nampaknya gadis itu menahan kesal.


"Fa! Kamu serius dengan pernikahan ini?"


Hening


"Fa? Kamu serius dengan pernikahan ini?"


"Mungkin!"


Hatinya masih saja bimbang. Semakin mendekati hari H Syafa semakin hatinya bergejolak. Antara ingin melanjutkan atau membatalkan pernikahan ini.

__ADS_1


"Fa! Katakan padaku. Jujur sama aku. Atas dasar apa kamu ingin menikahi Dunka?"


Syafa menunduk. Kemudian menatap sahabatnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tersirat perasaan sendu yang mencoba dia balut dengan senyum palsu.


"Fa...!"


"Baiklah, kamu tidak akan jujur. Tapi aku yang akan menerka. Vega terlihat serius. "Kamu pasti ingin lari dari perasaanmu bukan? Kamu pasti ingin melupakan perasaanmu pada kakakmu."


Syafa menatap datar layar ponsel. Matanya berembun. Andai sahabatnya itu disini. Dia bisa memeluk dan mencurahkan segala isi hatinya.


Syafa telah mencoba berbagai cara untuk melupakan isi hatinya pada Fahri. Bersikap biasa saja layaknya adik yang manja. Lalu, saat kejadian ciuman di sungai waktu itu, semakin membuat Syafa ingin lari dari Fahri.


Dalam hati berdoa agar Tuhan mengampuni kesalahannya dalam mencintai. Beruntung dia dipertemukan tanpa sengaja dengan Dunka.  Dia terpesona oleh Dunka.   Tampan memang. Syafa mulai berpikir untuk menjalin hubungan lagi dengan lawan jenis.


Dan kebetulan Dunka datang kerumah. Dunia juga melamar dirinya. Dia pasrah saja dan menerimanya. Terlihat bahagia memang. Tapi bukan sebab akan menikah. Dia bahagia berhasil mendapatkan seseorang untuk menggeser Fahri dari hatinya.


"Fa...! Jangan katakan jika Dunka hanyalah pelarianmu saja."


"Entahlah! Aku bingung. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus ikuti kata hati dan biarkan perasaan ini menghancurkan keluargaku?" Syafa benar-benar menangis.


"Fa! Bukan maksudku begitu. Setidaknya tunggulah sampai kamu benar-benar mencintai calon suamimu baru menikah."


"Sampai kapan, Vega ...? Sampai semua orang tahu jika aku mencintai kakakku sendiri. Iya!" Tangis pilu Syafa semakin membuat sahabatnya tak berkata-kata lagi.


"Fa! Maaf. Sudah diam ya. Jangan menangis lagi." Yang disana mengusap layar ponsel seakan mengusap air mata Syafa.


Syafa kini berada di sebuah rumah makan pinggir jalan. Rumah makan yang dulunya adalah warung kopi kecil. Kemudian bertambahnya tahun disulap oleh pemiliknya menjadi rumah makan dengan aneka menu Nusantara. Waktu masih remaja, jajan ditempat ini adalah alternatif bagi kaum remaja dengan uang saku pas-pasan. Sekarang tempat ini sudah lebih ramai dengan banyak renovasi di bagian sisi kanannya.


Gadis itu menerima jus jeruk dan beberapa kue tradisional yang dia pesan sambil menunggu seseorang datang. Ya! Hari ini dia dan Dunka janjian ketemu. Dia akan membahas sesuatu tentang pernikahan mereka. Syafa akan memastikan perasaannya sendiri. Perasaan yang tentu saja sulit dia mengerti.


Entah kenapa pernikahan ini terasa hambar. Tidak ada pertemuan yang menggebu-gebu apalagi rindu setelah mereka terakhir kali ketemu tanpa sengaja waktu sepulang dari pasar waktu itu. Syafa enggan jika ada pertengkaran lagi dan Dunka, entahlah.


"Kamu sudah lama datang?" Dunka tersenyum ketika gadis itu menetralkan hatinya. Cukup terkejut dengan kehadiran Dunka yang tiba-tiba.


"Baru saja kok!"


Dunka mengernyit. Tatapannya tertuju pada pesanan yang ada di hadapannya. Belum tersentuh.


Syafa mengikuti arah kemana mata Dunka mengembara. Diapun melambaikan tangan memanggil salah satu pelayan.


"Pesan apa?" Tanya Syafa pada Dunka.


"Camilan berat kayak kamu ini." Syafa paham.


"Minumannya?"

__ADS_1


"Kopi hitam." Syafa kini mengernyit heran. Pria yang terkesan modern begitu minumnya kopi hitam.


"Kopi hitam." ulang Syafa tak percaya.


"Why?"


"Pasti rasanya pahit."


"Ada kamu yang jadi pemanis." Andai yang berkata adalah Fahri, tentu hati Syafa merasa terbang jauh ke awan. Syafa hanya tersenyum garing.


"Kamu tidak bertanya kenapa aku bisa terlambat?" Dunka mulai pembicaraan. Sejak pelayan meletakkan pesanan Dunka, keduanya hanya diam dalam keadaan canggung.


"Tidak!"


"Tidak khawatir kah jika aku kenapa-kenapa di jalan sebab terlambat?"


"Buktinya kamu baik-baik saja kan?" Tangan kanannya memainkan sedotan. Mengaduk-aduk minuman tak jelas.


Dunka tersenyum garing. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hati mengutuk Syafa yang tak seasyik saat bertemu pertama kali.


"Fa! Apa yang kamu inginkan untuk pernikahan kita nanti?"


Syafa mendongakkan kepala. Menatap Dunka beberapa lama kemudian membuang wajah sembarang arah.


"Aku tidak tahu!"


Dunka tersenyum berpikir bahwa Syafa pasti malu mengatakannya. Syafa pasti ingin sesuatu yang berharga layaknya wanita lain seperti mahar dengan jumlah fantastis, resepsi yang mewah atau hantaran dengan harga selangit. Tapi sayangnya semua yang harusnya di pilih sendiri oleh Syafa sudah dipilihkan oleh Sibu dan Zaenab. Pengantin tinggal beresnya saja.


Padahal hati Syafa ingin berkata bahwa dia tidak tahu akan hatinya sendiri. Dia masih bimbang. Makanya dia bilang tidak tahu.


"Oke kalau begitu, bagaimana dengan maharmu nanti. Kamu ingin apa?" 


"Terserah padamu saja."


Lirih Syafa tak ada semangat sama sekali.


"Untuk bulan madu kita nanti, kamu ingin kita pergi kemana?"


Ah, apakah aku juga harus bulan madu? Kenapa rasanya enggan memikirkannya.


"Bagaimana jika kita pergi ke Bali saja?"


"Aku ikut kamu saja."


"Syafa! Kita yang akan menikah. Kenapa kamu seolah menunjukkan bahwa hanya aku yang bersemangat disini?"

__ADS_1


Deg


To be continued


__ADS_2