Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 33 Rahasia Sibu 2


__ADS_3

Sibu kemudian menggeser tubuh beralih menatap benda kuno berbentuk persegi panjang. Kini dia membuka sebuah peti yang tergeletak di bagian kiri tubuhya. Gelagatnya sedikit terkesan ragu ragu mengambil sebuah kotak dari dalam berbentuk kotak dengan ukiran kuno. Di dalamnya ternyata gelang giok dan potongan emas.


Tapi yang membuat Fahri terkejut bukanlah potongan benda yang berkilau itu meskipun jika dirupiahkan akan mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Kenapa pula kehidupan mereka sederhana layaknya warga pedesaan pada umum-nya. Sewaktu masa kecil, hidup mereka jauh lebih menyedihkan lagi. Fahri dan Syafa dilatih untuk hidup mandiri dan serba kekurangan.


Lebih mengejutkan lagi adalah penampakan foto di dinding. Setelah bisa melihat dengan jelas Fahri membeliakkan mata. Seakan tak percaya pada kesehatan matanya sendiri menguceknya beberapa kali.


"Siapa dia?"


Fahri shock hingga terhuyung menabrak kardus.


Brakkk


"Fahri!" Lirih suara Sibu memergoki Fahri terdiam kaku di ujung bawah tangga.


"Si-siapa dia?" Fahri sedikit bergetar.


Berjalan perlahan mendekati foto yang tadi di pegang Sibu. Diraba hati-hati dengan tangan bergetar. Kemudian Fahri mengusap wajahnya sendiri. Pantulan kaca figura semakin memperjelas persamaan wajah dirinya dengan yang ada di bingkai foto. Meski awalnya sedikit samar namun perlahan semuanya jelas terlihat.


Hanya bagian mata yang kesannya lebih menyerupai wanita tengah hamil itu. Serta anak yang berdiri, salah satunya seperti duplikat dirinya di masa kecil. Dan satunya lagi seperti tidak asing baginya. Tapi siapa?


Apakah dia punya sanak keluarga lain?


"Sibu...!"


Suara isak tangis terdengar sayu kemudian jelas di pendengaran. Wanita itu bergetar punggungnya. Fahri masih menatap foto dalam figura. Kemudian berbalik menatap Sibu dengan berbagai pertanyaan memenuhi isi kepala.


"Siapa mereka Sibu?"


Fahri memegang pundak ibunya. Berkata lembut namun penuh penekanan. Sibu juga memegang tangan Fahri yang bersarang di pundaknya.


Sibu mengusap kasar air mata yang menetes. Mengatur nafas agar tenang.


"Sibu...!"

__ADS_1


Sibu mengatur nafas, matanya berkaca-kaca namun tidak lagi meneteskan air mata. Dia berusaha tenang agar bisa bicara tenang.


"Duduklah, Nak!"


Fahri baru sadar jika di ruangan ini juga ada sofa panjang. Sibu membuka kain penutupnya kemudian duduk di susul oleh Fahri.


"Sibu, jangan buat Fahri bingung begini."


Siapa yang tidak bingung jika bertanya seperti itu saja dijawab air mata. Fahri menerka pasti ada kenangan buruk di balik semua ini. Selama ini kamar Sibu tertutup rapat. Anak-anak nya dilarang masuk tanpa izin. Jadi inilah rahasianya. Kenapa tak satupun dari anak-anaknya yang menyadari hal ini. Terlalu percayakah pada ibu mereka atau memang masa bodoh.


"Fahri!" Sibu menarik tangan anaknya dan menepuknya pelan. "Mungkin saatnya kamu tahu rahasia besar keluarga kita. Rahasia yang selama ini menghantui kehidupan Sibu." Satu tetes air mata jatuh ke pipi. Tangan kanan Fahri segera mengusapnya sayang.


"Jangan bercerita jika kenangan itu membuat Sibu bersedih! Tapi lepaskan beban kesedihan itu dengan membaginya padaku Sibu. Fahri akan siap menanggungnya."


Seulas senyum membingkai wajah wanita beranjak senja. Sungguh dia beruntung memiliki anak sebaik Fahri.


"Baiklah, karena kamu sudah melihat semuanya Sibu akan bercerita."


"Mereka adalah keluarga besar kita. Mereka sepasang suami-isteri yang baik. Dia kakak Sibu. Mereka dermawan  dan penyayang. Sayangnya, orang baik bukanlah jaminan agar hidupnya aman. Beberapa dari golongan jahat. Menabur benih kebencian. Mereka iri dan gelap mata sebab harta."


Fahri menepuk bahu ibunya. Namun enggan bersuara. Memberikan ruang agar Sibu bisa mengeluarkan beban  penderitaan yang selama ini menghimpit dalam kenangan.


"Saat itu, Sibu masih sangat muda. Setelah bertahun-tahun lamanya Sibu menghabiskan waktu di negeri orang. Berusaha dari nol belajar dan belajar kemudian bekerja agar bisa pulang ke Indonesia."


"Sampai bertahun-tahun?" Heran Fahri. Bukankah Sibu bisa pulang beberapa bulan sekali. Australia tidak terlalu jauh Sibu?"


Maya tersenyum. "Ada sebuah kesalahan yang membuat Sibu harus menanggung hukuman selama itu. Nanti juga kamu akan tahu." Menepuk pelan pipi Fahri. Tangannya beralih menggenggam seperti semula.


"Jika salah, bertanggung jawablah. Itu bentuk sikap ksatria. Manusia sejati tidak akan mengingkari janji. Sibu sudah berjanji pada kakak sebelum pergi. Akan kembali ketika menjadi orang."


Sibu baru saja menginjakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan dan merintis usaha di Melbourne. Dia sungguh bergembira sebab bisa melepas rindu setelah sekian lama berpisah. 


Satu malam sebelumnya, Sibu mendapatkan email dari kakaknya memperbolehkan dia pulang. Senangnya bukan main. Tapi dia balik berbohong seolah-olah belum diperbolehkan pulang.

__ADS_1


"Dengan hati riang gembira Sibu bermaksud memberi kejutan. Awalnya Sibu akan datang kerumah malam hari. Tapi Sibu batalkan agar surprise ini menjadi lebih mengesankan."


Maya menunduk، air matanya menganak sungai.


"Akhirnya, pagi yang Sibu tunggu -tunggu telah tiba. Sibu membeli buket bunga dan beberapa coklat. Sibu sengaja matikan ponsel agar mereka semakin terkesan."


Sibu mengusap ingus dengan ujung baju. Air matanya membasahi pipi.


"Setelah sampai rumah, bukan mereka yang terkesan tapi Sibu yang dibuat heran. Rumah yang biasanya damai berubah menjadi tempat duka."


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kakakku, keponakanku sudah di tandu dan dibawa ke rumah sakit dengan kain putih menutupi seluruh tubuh mereka. Bahkan warna merah mengerikan itu masih terlihat jelas olehku setiap saat. Aku mengenang mereka dalam tangis."


"Sibu menyesal kenapa harus matikan ponsel. Kenapa Sibu harus berpikir berikan kejutan. Kenapa tidak langsung saja pulang ke rumah saat itu juga?"


"Dan Sibu...!"


Suara Maya tersendat oleh tangis pilu. Ingatannya kembali ke masa kelam. Dimana dunianya terasa runtuh. Fahri mendekap ibunya. Menyalurkan rasa nyaman agar sedikit tenang. Dia juga merasa sedih, entah kenapa hatinya tersayat padahal tidak melihat kejadian aslinya.


"Istrinya? Sibu tidak menyebut dimana dia berada?"


Maya menekan dada kali ini. Nafasnya tersengal lagi mengatur nafas dalam durasi waktu yang lama.


"Istrinya bahkan lebih mengenaskan lagi. Dia meninggal di kebun tebu. Cukup dekat dengan rumah mereka. Keadaanya...!"


"Sibu, jangan diteruskan." Memeluk erat.


"Jangan menangis lagi. Fahri juga sedih jika Sibu bersedih. Sibu bisa menceritakan segalanya padaku. Dan satu hal yang membuat Fahri mengerti kenapa Fahri tidak mirip dengan ayah. Ternyata wajah Fahri mirip dengan kakak Sibu."


'Maafkan Sibu Nak! Belum bisa mengatakan kebenaran padamu. Cukup sampai disini dulu kamu mengenal mereka.'


To be continued


Kira-kira rahasia apalagi yang masih tersimpan rapat oleh Sibu? Akankah Fahri juga menemukan rahasia lainnya ataukah akan menjadi rahasia selamanya?

__ADS_1


Ayo dong, kasih author dukungan biar tambah semangat. Tekan like, berikan hadiah dan jangan lupa share ya


__ADS_2