Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 32 Rahasia Sibu 1


__ADS_3

"Syafa tidak bisa menikah dengan orang yang mencintai orang lain."


"Maksud kamu?"


"Dunka sudah punya kekasih, Sibu!"


"Sibu sudah tahu itu!"


Jawaban yang membuat Syafa bingung. Bagaimana bisa seorang ibu membiarkan anaknya menikah dengan orang yang telah punya tambatan hati lain.


Fahri menatap Bejo tanda meminta keterangan. Tapi Bejo seakan tak peduli. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.


"Sibu tahu jika Dunka sudah punya kekasih. Zaenab telah menceritakan semuanya."


"Lalu, kenapa Sibu membiarkan pernikahan ini terjadi?" Fahri menyela. "Ini tidak adil untuk Syafa, Bu."


"Baru pacar, bukan istri. Kekuatan istri jauh lebih kuat dibanding pacar. Sibu yakin, lambat laun Dunka akan mencintai Syafa setulus hati."


Sibu kukuh pada pendiriannya. Syafa tidak berani membela diri. Hanya mengeluarkan air mata tanpa sepatah kata. Selemah inikah dia?


Fahri menatap tajam pada Sibu, berganti menatap Bejo yang memang sejak tadi menatap datar padanya.


"Pernahkah Sibu berpikir dari arah pandang Syafa? Hidup dengan orang yang tidak dicintai itu sangat menyakitkan. Apa Sibu tidak tahu rahasia besar yang membuat seorang gadis bunuh diri karena keegoisan orang tua?"


Sebuah rahasia anak RT yang meninggal dunia tiga tahun lalu karena di pernikahan yang di jodohkan. Suaminya main tangan dan gadis itu frustasi sebab orang tuanya tak peduli. Akhirnya gantung diri.


Bejo hendak berkata. Ditahan oleh Sibu dengan gerakan tangan.


"Kamu berani membantah Sibu? Syafa tetap akan menikah dalam waktu dekat. Jika belum mencintai Dunka, dia harus berusaha. Dunka juga mengatakan bahwa dia akan memprioritaskan Syafa."


Sibu bangkit dan menghampiri Syafa. Mengusap lembut rambut Syafa kemudian beralih ke pipi.


"Sibu percaya padamu, kamu tidak akan mempermalukan keluarga kita." Syafa terdiam menunduk tanpa terasa air matanya jatuh setelah Sibu melenggang pergi dari hadapannya.


"Syafa...! Kamu dengar apa kata Sibu bukan?" Syafa menatap sendu wajah Fahri yang menggeleng lemah  isyarat bahwa Syafa disuruh menolak.


"Syafa! Dengar Sibu kan?"

__ADS_1


"Dengar Sibu!" mengangguk pasrah.  Tatapan Fahri melemah ketika Syafa memilih setuju. Pria itu bahkan berkaca-kaca matanya. 


"Sibu ...! Bisakah Sibu pertimbangkan lagi keputusan ini?" Fahri masih tidak terima. Orang yang dia cintai tidak boleh menderita apapun yang terjadi dia akan tetap memperjuangkan Syafa. Membatalkan pernikahan itu adalah rencana pertama.


"Sesuatu yang sudah terencana tidak akan mudah dibatalkan begitu saja." Kembali membalikkan badan lalu hilang dibalik pintu kamar.


Bejo bangkit dari duduknya. Menghampiri Fahri tanpa menoleh pada Syafa. Gadis itu memilih pergi ke kamarnya sendiri. Fahri hendak mengikuti namun lengannya di tahan Bejo.


"Kita bicara di luar."


Suara jangkrik merdu membelah sunyinya malam. Kelelawar berkejaran membelah gelap dengan dengan riangnya. Dua pria tengah duduk santai di atas dipan. Satu orang menatap jauh ke sembarang arah dengan perasaan kacau. Sedang satunya lagi memainkan puntung rokok yang tinggal separuh.


"Sibu keterlaluan." Meninju pohon mangga yang menjadi penguat dipan tersebut.


Fahri telah mencapai puncak kekesalan. Mengepalkan tangan lagi dan meninju lagi. Bejo menatapnya sambil menekan ujung rokok pada dipan hingga mati.


"Kang, bisakah kau jangan diam saja. Dunka bukan orang baik. Tentu kau tahu itu kan?"


Bejo mengambil nafas "Lalu apa yang akan kau lakukan?" Suara berat Bejo menambah kegundahan Fahri. Benar, harusnya Fahri pikirkan sebuah rencana untuk membatalkan pernikahan Syafa.


"Aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya." Menyeringai jahat.


"Sangat sanggup?" Sesumbar Fahri. Tekadnya sudah bulat.


"Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Sibu pasti punya alasan yang kuat untuk tetap melanjutkan perjodohan ini."


Bejo coba memberi pengertian membujuk Fahri agar niat buruknya di batalkan saja.


"Alasanku juga cukup kuat untuk membatalkan pernikahan Syafa."


Menyakinkan Bejo bahwa cinta Fahri kepada Syafa memang nyata. Bejo bisa membaca bahasa tubuh keduanya.


"Kau akan dicap sebagai anak durhaka."


"Dalam perang dan cinta semuanya sah-sah saja." Fahri sudah tidak tahan lagi. Dia bisa lebih heboh bertengkar dengan Bejo jika tidak segera pergi.


Bejo terdiam beberapa saat sebelum pergi dari rumah Fahri. Dan setelah kepergian Bejo, Fahri   berjalan hati-hati menuju kamar Syafa. Sial pintunya di kunci dari dalam.

__ADS_1


Fahri tidak berani mengetuk sebab suara ketukannya akan terdengar sampai di kamar Sibu.


Fahri melangkahkan kaki lagi, melewati kamar Sibu. Pintunya sedikit terbuka. Fahri menguping plus mengintip melalui celah pintu, mengendap pelan agar tidak ketahuan.


Sebuah lemari kaca bergeser secara otomatis setelah Sibu menggeser patung arca budha yang menempel di dinding. Fahri ingat betul, itu adalah patung yang dibawa Sibu setelah pulang dari Malang, tepatnya Borobudur. Hadiah dari sahabatnya yang berprofesi sebagai pemahat.


Fahri penasaran. Semakin mengintip hingga pintu terbuka separuh. Sibu sudah hilang dibalik pintu tersebut.


"Apa yang disembunyikan Sibu selama ini?" Gumam Fahri hanya dia yang dengar. Fahri menunggu cukup lama, Sibu belum juga muncul. Sebab penasaran, Fahri mengikuti jejak hilangnya Sibu tentunya setelah memastikan pintu tertutup sempurna.


Fahri mengedarkan pandangan melakukan gerakan yang sama dengan yang tadi Sibu lakukan. Lemari kaca bergeser vertikal. Fahri mengamatinya beberapa saat. Selama ini dia hanya tahu lemari ini tidak pernah berubah tempat. Tapi tidak menyadari jika di dalamnya terdapat sebuah rahasia.


Fahri celingukan waspada, bisa saja Sibu menangkap basah aksinya dan berakhir dengan amukan.


Sebuah lorong temaram terdapat tangga menurun. Sekitar sepuluh anak tangga. Sebuah lampu menyala di bagian tengah. Dibagian sisi kanan kiri hanya ada tumpukan buku-buku lama dan beberapa kardus usang. Masih bersih meski layak disebut gudang. Fahri baru menyadari jika ada ruang istimewa di rumah sederhana miliknya.


Lebar kamar ini hanya sekitar dua kali empat meter. Lampu menggantung tepat di tengah-tengah ruangan. Di sisi paling ujung seorang perempuan berdiri tegak di bawahnya.


"Sibu, sedang apa dia?" gumam Fahri mencari tempat persembunyian.


"Kakak, aku akan membalas setiap darah yang menetes di keluarga kita."


Sibu berjalan maju mengusap bingkai foto berukuran besar. Ada perempuan hamil duduk menyamping di sisi kanan memegang perutnya. Cantik sekali wanita itu, lesung pipinya menambah kesan manis. Wajahnya memancarkan kebahagiaan.


Di belakang wanita itu ada dua anak laki-laki berdiri tegak satunya memegang pundak wanita hamil memeluk sayang. Satunya lagi tengah ketawa sambil merangkul anak laki-laki di sampingnya. Ada satu lagi foto bagian kiri tak kelihatan wajahnya sebab terhalang Sibu. Hanya bagian pahanya saja yang terlihat. Tangannya terulur memegang tangan wanita yang tengah hamil.


Fahri mencoba untuk bisa melihat foto itu dengan jelas. Tapi tetap terhalang Sibu.


"Putramu telah tumbuh menjadi sosok yang tampan dia sama sepertimu. Kuat dan tampan. Sayangnya, hatinya begitu lembut seperti dirimu kakak ipar. Dia penyanyang. Bagaimana aku bisa melukai hatinya nanti? Kebenaran ini sungguh pahit."


Sibu kemudian menggeser tubuhnya. Kini dia membuka sebuah peti yang tergeletak di bagian kiri tubuhya. Tapi yang membuat Fahri terkejut bukanlah peti itu. Melainkan penampakan foto di dinding.


"Siapa dia?"


Fahri shock hingga terhuyung menabrak kardus.


Brakkk

__ADS_1


"Fahri!"


To be continued


__ADS_2