
Dua orang tengah sibuk menyiram bibit-bibit kecil dalam plastik. Wadah berbentuk kotak-kotak kecil itu mampu menampung lima puluh bibit semangka yang siap tanam. Kesemuanya telah menjadi kecambah yang sebentar lagi menumbuhkan daun. Setelah daun sejati tumbuh empat helai, maka bibit itu harus sudah ditanam pada lahan yang telah disiapkan.
Dua orang pria tengah sibuk menyiangi bibit-bibit baru. Berhati-hati merawatnya seperti anak sendiri. Hehe
"Bagaimana kelanjutan kisah cinta Syafa?" Bejo mengembalikan gayung pada ember. Lalu membawanya ke bawah kran. Penyiraman telah selesai. Kini mereka duduk kembali pada dipan yang biasa mereka gunakan untuk nongkrong. Disana sudah tersedia kopi dan pisang goreng yang sempat disiapkan oleh Sibu sebelum pergi.
"Ya... begitulah. Mereka akan segera menikah. Bahkan Syafa antusias sekali memilih gaun pengantin. Mereka tadi pagi dijemput mobil sama Dunka."
Fahri memandang sayu tanaman cabe yang layu. Sepertinya Syafa lupa menyiram. Fahri memiliki niat untuk menyiramnya, namun enggan sebab aroma kopi menahannya pergi.
"Jadi ... kau sudah memberikan restu?" Fahri menyeruput secangkir kopi telah dibalik gelasnya di atas cawik. Masih menikmati kopi seperti tak peduli akan pertanyaan Bejo.
"Jangan terlalu keras hati. Dengan akal kita merancang tujuan. Dengan berani kita mengarungi kehidupan agar bisa mencapai tujuan. Seseorang boleh memiliki rencana untuk menjadi apapun dan berupaya mewujudkannya. Tetaplah takdir yang akan jadi pemenang."
Fahri menoleh, rupanya kata-kata Bejo cukup merasuki pikirannya. Terlihat dari gestur tubuh Fahri ketika meletakkan kopi begitu lamban. Beberapa kali juga kedapatan menggosok dagu kemudian pindah ke leher.
"Dunka bukan orang yang buruk menurutku. Beberapa kali aku berjumpa dengan dirinya di pasar. Tak jarang wanita datang silih berganti mencoba merayu. Tidak sekalipun Si Dunka menanggapi. Dia terlalu dingin kepada lain jenis. Jika saja dia mau, bukan perkara sulit baginya mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik daripada Syafa."
Memang Syafa termasuk kriteria gadis cantik di desa itu, tapi ada banyak lagi gadis cantik lainnya. Tentu saja gadis yang memenuhi standar ideal untuk dijadikan istri sempurna. Fahri paham akan hal itu. Fahri juga paham jika Bejo bermaksud membuka mata hatinya agar mencoba menerima Dunka.
"Sejauh yang aku dengar Dunka juga cukup berhasil hidup di kota. Dia bahkan membayar hutang-hutang Haji Ali yang lama menunggak. Selain itu, Dunka membeli mobil untuk ibunya juga. Terlebih lagi, pria itu pun pandai dalam memimpin doa dalam acara khitanan kemarin. Kebetulan yang punya hajat adalah sepupuku. Dan Dunka bersama Haji Ali pun turut hadir. Dia sosok yang sempurna buat Syafa menurutku."
Fahri masih tetap diam. Hanya kedapatan oleh Bejo, beberapa kali mengelus leher.
"Pikirkanlah!"
Bejo menepuk punggung sahabatnya. Memberi ruang pada Fahri untuk berpikir. Beberapa menit kemudian Bejo melihat ponsel di tangannya.
"Kau mau kemana?" tanya Fahri kala melihat Bejo berdiri setelah meneguk habis kopi hitam yang tersisa.
"Ada sedikit pekerjaan di pasar. Seseorang memintaku untuk memuat barang dagangannya. Lumayan buat tambahan beli beras. Mau ikut?"
"Bagaimana dengan pengiriman ke Jakarta?"
"Tenang, sudah di handel sama Joko."
"Aku ikut kalau gitu."
__ADS_1
Fahri menatap kopi di depannya. Merasa sayang bila ditinggalkan. Diapun memilih meminumnya secepat kilat.
"Tak ambil dompet dulu." Masuk ke dalam rumah sebentar.
"Waoww...tampan Bung." Bejo mengacungkan dua ibu jari. Fahri keluar dengan kaos warna hitam, dipadukan dengan topi hitam juga serta celana pendek keabu-abuan.
"Yang tadi warna putih, sayang kalau kena noda."
"Iya! Aku tahu! Kaos kesayangan. Hadiah dari Syafa." Ledek Bejo yang benar adanya. Fahri menjaga kaos itu dengan sangat hati-hati. Kala itu Fahri telah memasuki usia ke tujuh belas tahun. Syafa menyisihkan uang jajan agar bisa membeli kaos putih sebagai hadiah ulang tahun buat sang kakak.
Saat mereka keluar datanglah mobil berwarna silver memasuki pekarangan rumah.
"Mobil siapa, Ri?"
"Si Dunka!" Mereka menunggu mobil itu masuk dengan sempurna. Agar mobil pickup Bejo bisa keluar leluasa.
Dittt... klakson mobil menandakan arti menyapa. Bejo pun membalas dengan klakson satu kali. Pertanda minta izin untuk lewat
"Sibu, saya dan Kang Bejo ke pasar dulu." Tanpa turun dari mobil Fahri meminta izin.
"Nggak apa-apa Syafa. Nanti kalau kakak kamu pulang saja. Tidak masalah." Sibu membujuk. Beberapa paper bag dikeluarkan dari bagasi oleh Dunka. Menatap kasihan pada Syafa. Gadis itu tadinya sangat bersemangat menunjukkan kebaya pengantin untuk sang kakak tapi malah keburu orangnya pergi.
"Ini taruh dimana?" Dunka mengangkat tas itu sejajar siku. Syafa berjalan ke dalam rumah hingga sampai di ruang tamu.
"Di sini saja."
"Syafa, ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku langsung pamit saja ya!" Pinta Dunka.
"Lho, Nak! Apa nggak ngaso dulu. Biar saya buatkan teh."
"Maafkan saya, Sibu. Tidak keburu waktunya jika saya minum teh dulu." Melihat ke jam tangan beberapa kali. Nampak gelisah.
"Sibu, biarkan kak Dunka pergi. Tidak baik menunda pekerjaan."
Dunka mengelus puncak kepala Syafa. Merasa terharu sebab Syafa bisa mengerti akan kesibukannya.
na? Hasilnya lumayan kan?" tanya Bejo sambil mengunyah sepotong roti yang dia pegang.
__ADS_1
Fahri serius sekali menghitung uang hasil pendapatannya kali ini. Empat kali bolak-balik ke pasar membawa barang dagangan warga. Pertama membawa satu bak penuh buah melon, kemudian kelapa, lalu ada lagi yang menelpon untuk dibawakan sayur mayur. Dan terakhir membawa sembako milik Haji Ali. Untuk Haji Ali, biasanya di bawakan oleh anak buahnya sendiri, namun karena anak buahnya sakit, maka job diberikan pada Bejo.
Di jam sore begini, toko sembako milik Haji Ali bukannya tambah sepi malah semakin ramai para ibu-ibu yang tidak sempat belanja pagi akan datang di sore hari saat cuaca tidak terlalu terik. Sedang penjual melon dan sayur, sengaja membuka lapak bagi yang berada di tepi jalan. Biasanya akan ada banyak pembeli yang baru saja pulang dari kantor. Mereka akan mampir untuk belanja sebagai pemenuhan kebutuhan pokok.
"Wah...jika saja tiap hari dapat segini, bisa dengan mudah aku menabung banyak uang untuk biaya kuliah Syafa." Mengibas-ngibaskan uang seperti kipas. Tapi detik berikutnya Fahri tertegun. Sebentar lagi Syafa bukanlah tanggung jawabnya lagi. Entah mengapa masih saja membuatnya gelisah.
"Mengapa tidak kau saja yang kuliah lagi? Kau cukup pandai. Kau juga punya cita-cita. Mengapa tidak berusaha untuk kau gapai?" Ada benarnya juga kata-kata Bejo.
Syafa telah memilih jalannya sendiri. Dan sekarang, tinggal dirinyalah yang harus memilih.
"Eh, itu bukannya Dunka?" Bejo menunjuk ke seberang jalan. Seorang kakek renta sedikit kesulitan menyebrang jalan. Lumayan ramai sebab hari menjelang petang. Dunka di sana memapah kakek itu dan menuntunnya guna menyebrang.
"Hatinya cukup mulia." Gumam Fahri tanpa sadar.
"Cocok untuk dijadikan ipar." Pancing Bejo.
"Belum tentu!"
"Kau masih belum merestui juga?"
"Apa perlu restu dariku? Sibu saja tak pedulikan itu."
Fahri masih memperhatikan kemana arah Dunka pergi.
"Siapa itu yang bersama Dunka?"
Fahri melihat Dunka bersama seorang wanita datang di apit oleh dua pria berjas. Juga ada tiga orang pria lagi bertubuh sangar.
"Mana?" Sebuah mobil box menghalau penglihatan Bejo dan Fahri.
"Yah!"
Dunka dan orang lainnya sudah tidak ada.
'Siapa wanita itu? Kenapa begitu akrab dengan Dunka?'
To be continued
__ADS_1