Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 25 Antara Syafa dan Fahri


__ADS_3

Sibu berjalan tergesa-gesa. Dia kembali ke vila tua lagi.


"Siapa yang datang?"


"Nyonya Maya! Tuan!"


Senyum secerah matahari menghiasi bibir yang tegas nan gelap itu. Hatinya sungguh riang tak terkira.


"Si bidadari surga datang menghampiri kediaman ku. Persiapkan jamuan istimewa." titahnya mutlak. Semua mengangguk patuh dan undur diri.


Dua pengawal membuka pintu utama. Keduanya langsung bergabung mengawal tamu wanita itu.


"Berikan aku privasi." Sibu menghentikan langkah. Dua pria berbadan kekar itupun saling memandang. Sebuah suara melalui alat yang selalu terpasang di telinga. Memberi perintah agar menurut.


"Kau masih saja menjengkelkan, Andreas." umpat Sibu. Melanjutkan langkah kembali.


"Kenapa tidak diucapkan secara langsung saja. Aku dengar semuanya, Sayang." Andreas memainkan tongkat. Berjalan tegak mendekati Sibu. Tersenyum lebar ketika sudah berada tepat dihadapannya.


Sibu melengos ke lain arah. Baginya pria ini adalah kuman penyakit yang harus dihindari. Tapi matanya malah gagal fokus pada dandanan pria tengil itu.


"Kenapa kau selalu saja mengikuti gayaku." Sibu melirik sinis. Dalam pandangannya, Andreas adalah pria paling jahat. Pria dihadapannya terkekeh geli. Wanita yang dandan melebihi umur semestinya itu masih terlihat menggairahkan. Begitulah yang ada dalam otak mesumnya.


"Kamu ini, makin tua makin baperan saja, ya!" Menjawil dagu sibu. "Makin tua juga makin cantik. Warna rambut yang perfek."


Sibu berdecak kesal. Dia memejamkan mata. Ingat kata kejam Bejo.


"Jadi Syafa yang harus dikorbankan?"


"Siapa Syafa sebenarnya, Bu?"


"Bagaimana dengan penyelidikan mu selama ini? Kenapa belum saja membuahkan hasil." Sibu selama ini mencari keberadaan musuh bebuyutannya. Musuh yang membuat hidupnya terlunta-lunta.


"Ayolah, Sayang. Santai sedikit saja. Janganlah tergesa-gesa begitu. Atau kau ingin segera menikah denganku? Sebab itulah kau tak sabar."


Wajah Sibu bersemu merah. Bukan karena malu tapi menahan amarah.


"Aku tidak bisa lagi bersabar. Satu anakku bahkan harus aku pertaruhkan untuk hal ini. Cepat dapatkan buktinya dan bawa orang itu ke hadapanku." Sibu melengos sambil bersendekap.


Sibu sebenarnya tak ingin memaksa  Syafa untuk menikahi Dunka. Tapi sebuah pancing harus memiliki umpan bukan?


"Kita bagaikan menangkap belut. Jika kau pegang erat akan semakin berontak. Biarkan dulu dia merayakan kebebasannya. Kita cukup taburi dia dengan garam. Tutup wadahnya dan...mati sendiri."


Andreas begitu bangga akan rencananya. Beberapa strategi tersusun rapi di otak jahatnya. Kemanapun perginya orang yang dia buru, pastilah ketemu pada akhirnya.

__ADS_1


"Jadi, kau sudah tahu siapa orangnya?"


Andreas mengangguk. Keduanya hening. Sibu tersenyum menawan. Binar matanya menunjukkan rasa kekaguman dan juga kepercayaan.


"Jangan khawatir, Maya! Aku akan menyelesaikan semuanya untukmu. Untuk anak kita dan keluarga kecil kita nanti." Andreas hendak menyentuh bahu Sibu namun pemiliknya segera menghindar.


Andreas pasrah saja. Kejahatannya di masa lalu sungguh besar. Melukai hati dengan penghianatan bukanlah kesalahan yang mudah dimaafkan.


"Kapan kau kenalkan aku pada putraku?" ucap Andreas tiba-tiba. Sibu menatap lurus menusuk tajam ke dalam mata Andreas.


Kejadian ini sudah begitu lama tapi Sibu masih saja menyimpan kekesalan.


"Tak perlu kau tanyakan itu. Selesaikan tugasmu dan berikan penawar terakhir itu." Sibu mengulurkan tangan


Andreas gelagapan. Seharusnya dia tak menyinggung anak. Harusnya dia lebih peka. Tapi kini pujaan hatinya kembali tersinggung. Jamuan santap malam berdua sepertinya akan dibatalkan.


"Cepat berikan!" Tatapan tegas Sibu lebih ganas daripada singa kelaparan.


"Maya! Be-begini. Ak-aku...! Kau pasti capek bukan?"


"Aku bahkan lebih bersemangat dari biasanya." Dengan makna bahwa Sibu sangat bersemangat untuk menyerang Andreas lebih kesit dari kemarin. Sejauh yang Andreas tahu, Maya tak pernah main-main dengan ucapannya.


"May, jika ada sesuatu bicaralah padaku!" Sibu semakin mempertajam tatapan. Namun kali ini terlihat jelas retinanya berkaca-kaca.


"Apakah Fahri atau Syafa?" Tebak Andreas.


Sibu hanya terpaku, namun hatinya mengiyakan. Antara Fahri dan Syafa, sulit untuk dia pilih.


"Jika kau berat sebelah, keduanya akan sama-sama terluka." Sibu kembali menatap Andreas. Kata-kata yang sama dia dengar kedua kalinya. Bejo juga mengatakan hal yang sama sebelum dia datang kemari.


~


Arah angin telah berubah arah. Langit terhalang titik titik mendung. Hawa sejuk bercampur sepoi angin melambaikan dedaunan. Syafa merapatkan kedua tangannya di dada. Duduk menekuk lutut sambil sesekali melihat ke arah pagar. Berharap seseorang datang.


"Disini cukup dingin. Kenapa tidak menunggu di dalam saja?" Sebuah selimut tipis menutupi seluruh punggung disertai sebuah tangan kekar bertengger dibahunya. Hangat dan juga nyaman.


Syafa tentu bisa menebak dengan mudah siapa gerangan yang berani bertingkah begitu jika bukan lain adalah Fahri.


Ya kan memang tinggal mereka berdua sebab Sibu belum kembali. Bejo juga sudah pulang karena merindukan istrinya.


"Kakak belum sembuh benar, kenapa keluar?" Menatap wajah tampan yang mulai ditumbuhi bulu-bulu. Syafa merabanya pelan. Terasa sedikit kasar di bagian dagu.  "Besok akan Syafa bersihkan."


"Nggak perlu. Biarkan panjang. Biar kayak pangeran Arab."

__ADS_1


Syafa mencebik. Namun dalam hati membenarkan ucapan kakaknya. Fahri memiliki kulit putih, wajah tampan serta tinggi diatas rata-rata, bola mata khas bangsa Arab. Semakin tampan kala bulu-bulu di bagian dagunya mulai memanjang.


Syafa yang setiap hari bersamanya saja terpukau apalagi para gadis gadis lain. Kebanyakan mereka akan histeris bahkan tak segan menawarkan diri untuk dijadikan pasangan.


"Ih, mirip apanya? Kayak monyet iya. Banyak bulu."


"Hemmmh, kayak monyet ya!'


Fahri tersenyum menanggapi. Syafa sangat menyukai dirinya yang bersih. Dengan jahil Fahri mengusap dagunya ke pipi Syafa.


"Kakak ih, geli tau...!" Berontak Syafa. Jemarinya menghalangi dagu Fahri menyentuh kulitnya. Fahri tidak pantang menyerah meski hanya dengan satu tangan dia mampu menarik Syafa ke arahnya.


"Kakaaaakkkk geli tau!" Tertawa kesal dan juga kegelian. Fahri semakin semangat mengerjainya.


"Mana ada. Nih coba lagi." Mendusel lagi. Syafa tak kuasa menahan tawa.


Keduanya terengah-engah disertai tawa renyah. Selimut yang tadi melekat pada Syafa melorot tercampakkan di dipan.


"Sudah, ampun. Oke! Syafa menyerah! Kakak memang tampan. Sangat tampan. Oke!" Masih ketawa.


"Kamu serius?" Entah kenapa tatapan Fahri seakan berbeda dari biasanya. Syafa menelan Saliva dengan susah payah.


Dadanya bergemuruh hebat. Mendadak lidah terasa kelu tak mampu mengatakan apapun. Netra Fahri sungguh menghipnotis dirinya.


Dalam beberapa saat keduanya terjebak dalam pesona saling tertarik. Fahri bahkan tak segan memangkas jarak. Mencium lembut pipi Syafa. Dan dengan bodohnya Syafa mengikuti hasrat memejamkan mata.


'Tidak! Ini sebuah kesalahan.'


Syafa segera sadar. Menetralkan degup jantung yang semakin tak terkendali. Tapi pikirannya tetap waras. Dia harus bisa mengusai diri.


"Duh, pipiku jadi tembem gara-gara dicium monyet!"


Padahal pipinya bersemu merah.


"Owhhh, kamu nantangin rupanya!"


"A...jangaaaannn!" Syafa meloncat turun dari dipan kemudian berlari ke dalam rumah.


Fahri tersenyum manis.


"Perlahan kamu pasti menyadari perasaanku."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2