Ikatan Berdarah

Ikatan Berdarah
Bab 17


__ADS_3

Dunka dan dua orang polisi keluar dari ruangan Fahri. Setelah memberikan beberapa kesaksian sesuai tragedi perampokan dan penganiayaan kemarin malam. Polisi mencatat dan menggali lebih lanjut informasi gerombolan serigala merah yang sering meresahkan warga.


"Kami akan kembali berkunjung jika saksi siuman nanti. Terima kasih atas kerja samanya, Tuan." Dunka dan kedua polisi itupun saling berjabat tangan kemudian pergi.


"Polisi selalu saja datang terlambat. Dan setelah itu, mereka berlagak menjalankan tugasnya." Sibu tersenyum sinis. Pandangannya menyapu pojok ruang IGD tempat anaknya dirawat. Matanya masih memerah.


Syafa mengerti jika ibunya amat bersedih hingga menyalahkan siapa saja. "Dan kau Dunka. Tidak bisakah kau tolong Fahri terlebih dahulu sebelum memanggil polisi? Setidaknya dia tidak mendapat tusukan untuk yang kedua kalinya."


Syafa menatap nanar sang ibu. Tidakkah Sibu juga melihat luka di wajah Dunka. Meski tidak sebanyak milik Kak Fahri, hal itu sudah menunjukkan kemungkinan bahwa Dunka telah membela Fahri sebisa yang dia mampu.


Syafa segera meraih tangan ibunya. "Sibu..." Keduanya kembali menangis. "Kak Fahri akan sangat sedih jika melihat Sibu begini. Kak Dunka telah menolong Kak Fahri, tidakkah itu sudah cukup bagi kita? Bagaimana jika Kak Dunka tidak lewat disana? Nasib kak Fahri...!" Syafa tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sibu tidak kunjung menatap ke arahnya. Wanita paruh baya itu malah memilih berdiri kemudian pergi dari ruangan.


"Sibu...!" Matanya semakin berembun ketika kaki Sibu melangkah pergi melewati pintu kemudian hilang dari pandangan.


Bukan maksud Syafa melukai hati ibunya. Syafa hanya ingin menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah kehendak yang Maha kuasa.


"Bu...! Maafkan..." Tangan Dunka menghalau jalan Syafa yang hendak mengejar Sibu.


"Biarkan Sibu menenangkan diri. Beliau tidak marah padamu ataupun kepadaku. Beliau hanya kesal pada dirinya sendiri yang merasa tidak mampu menjaga anaknya dengan benar."


Tatapan Syafa kembali pada ranjang pasien. Sangat terlihat kesedihan yang dirasakan oleh Syafa. Dunka meraih pundaknya menguatkan, "Kita duduk di sana yuk." Ajak Dunka.


"Tidak!" Syafa keras kepala memilih duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Sibu. Dunka menghela nafas berat.


"Kak, sadarlah kak. Apa kau masih marah padaku sampai tidak ingin bangun? Syafa akan turuti keinginan kakak jika kakak bangun nanti. Syafa akan jadi adik yang penurut." Syafa kembali sesenggukan.

__ADS_1


"Syafa, jangan seperti ini. Fahri adalah pria yang tangguh. Dia tidak akan mudah menyerah hanya dengan luka kecil seperti itu." Hibur Dunka. Syafa mengusap air mata yang membasahi pipi. Memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Dunka.


"Ceritakan padaku bagaimana kronologi nya."


"Kita duduk disana agar lebih nyaman." Dunka menunjuk kursi tunggu. Syafa mengangguk. Keduanya kini duduk di kursi yang sama dengan saling berhadapan.


"Awalnya, aku dari kampung sebelah mengantar Pakde Haji Ali ke rumah mertuanya. Karena mertua Pakde mengalami kritis, jadinya beliau menginap di sana. Aku pun pulang sendirian. Terbersit keinginan untuk mampir ke rumah teman lamaku."


"Setelah sampai di tempat temanku, mobil yang aku tumpangi kehabisan bahan bakar. Akupun meminjam motor teman untuk beli bahan bakar melewati jalan pintas dimana ada satu orang di keroyok oleh tiga orang. Awalnya, aku bimbang. Antara ingin menolong atau mencari bantuan dari orang sekitar terlebih dahulu. Tapi setelah melihat ada satu orang tergeletak di tanah, aku jadi putuskan untuk menghubungi polisi saja. Sebab ini sudah termasuk tindakan kriminal."


"Jadi kau tidak langsung menolong, Kak?" Sela Syafa.


"Tidak!" Ucap Dunka jujur.


"Sebaiknya kau pergi dari sini." Syafa meradang. Membuang muka dan menggeser tubuhnya menjauh dari Dunka. Bahkan dimenit selanjutnya dia berdiri sambil bersendekap.


"Syafa, dengarkan penjelasanku. Aku bukannya tega. Aku pun sudah ingin menolong kakakmu. Tapi tanpa sengaja aku melihat salah satu wajah komplotan itu. Mereka adalah mafia berdarah dingin. Mereka biasanya berburu dengan cara bergerombol." Dunka masih berusaha memberi alasan meski Syafa sama sekali tidak meresponnya.


"Jika salah bertindak, kakakmu pun tidak akan bisa selamat. Mereka tidak akan meninggalkan jejak setelah menghabisi korban. Serigala Merah bukanlah lawan yang sepadan untuk perorangan. Mereka berkelompok tentu melawannya juga harus dengan kekuatan yang mumpuni."


Pria akan menghadapi marabahaya di depannya dengan akal pikiran. Mengatur strategi dan taktik agar nantinya tidak berakibat fatal. Dunka merasa jika tindakannya sudah benar. Dia menelepon polisi dan temannya. Setelah itu mendekati Fahri guna membantu bertarung.


Dunka berpikir jika nantinya dia tidak bisa mengalahkan para penjahat itu, akan ada polisi yang datang menyelamatkan. Setidaknya penjahat itu menerima ganjaran yang setimpal. Naasnya adalah, ketika dia mendekati pertarungan, tepat ketika Fahri ditusuk. Dari situlah dia baru tahu jika pria yang hendak ditolongnya adalah calon kakak ipar.


"Bilang saja nyalimu itu ciut. Kau pantas disebut pecundang." Sarkas Syafa dengan nada mengejek. Dia masih melipat tangannya di dada.

__ADS_1


Dunka mengambil nafas dalam-dalam. "Terserah apa katamu." Dunka merasa tidak dihargai. Hatinya berdenyut nyeri. Egonya terluka. Bagaimana bisa orang yang dia cintai tidak percaya kepadanya? Dia memutuskan untuk pergi saja.


Syafa kembali menangis ketika Dunka meninggalkan ruang rawat Fahri. Mendadak hatinya menyesal. Ingin mengejar tapi egonya berkata jangan.


Dunka menyusuri lorong rumah sakit dengan hati dongkol. Kecewa akan tanggapan Syafa padanya. "Berani sekali dia." Umpat Dunka. Bibirnya kembali terasa perih. Tapi kenapa saat bicara dengan Syafa tidak kerasa ya? "Lihatlah, bahkan dia tidak peduli apakah aku terluka atau tidak." Dunka yang merasa kesal duduk di ruang tunggu bagian depan. Sedikit jauh dari ruang inap Fahri.


Hanya beberapa orang saja berada di sana. Mungkin tak lebih dari lima orang yang masing-masing sibuk dengan gadget. Jam menunjukkan pukul dua.  Masih lama untuk mencapai pagi hari.


"Padahal aku merasa begitu lama di sini. Tapi kenapa masih belum pagi juga?" Gumam Dunka. "Ada baiknya aku istirahat saja di sini."


Belum lama Dunka duduk sambil meraba bibirnya yang kini terasa kaku, datanglah Syafa dengan tergesa-gesa memanggil suster jaga. Dunka terkesiap. Segera bangkit menghampiri Syafa yang berderai air mata.


"Ada apa?" Dunka meraih lengan Syafa yang hendak kembali ke ruangan Fahri. Gadis itu tampak lebih kacau dari sebelumnya. Hilang sudah rasa sakit hati Dunka. Berubah jadi perasaan welas.


"Kak Fahri kejang-kejang."


Seharusnya cukup dengan menekan tombol emergency. Kenapa malah lari kemari? Batin Dunka.


"Kenapa mereka lama sekali di dalam? Apa yang mereka lakukan?" Syafa mondar-mandir kayak setrikaan. Sesekali mengintip dari celah kaca yang tidak tertutup korden.


"Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" Serbu Syafa ketika dokter keluar ruangan.


Dokter itu termenung beberapa saat. Seperti ada sesuatu yang berat untuk disampaikan. Syafa sudah mulai ketar ketir.


"Racun yang ada di dalam tubuh kakak Anda telah menjalar ke otak. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi...!"

__ADS_1


"Tapi apa, Dok!"


To be continued....


__ADS_2