
Seorang ibu tidak akan menyerah demi bisa anaknya tetap bertahan hidup.
"Sibu darimana saja tadi?"
Memandang penuh selidik ibunya.
"Dan Sibu kenapa bisa kotor begini?"
Sibu masih terpaku, pandangannya lurus ke wajah Syafa, namun pikirannya entah kemana.
Dalam hati Sibu berharap jika usahanya tidak sia-sia. Dia telah mengambil keputusan yang ekstrim entah apa yang terjadi besok hari tentu dia tidak tahu.
"Sibu...!"
Syafa mengguncang lengan ibunya. Sedangkan di dalam ruangan seorang dokter menyuntikkan obat kedalam tubuh Fahri.
"Ah! Apa, Nak?"
"Sibu...!" Syafa memelas. "Sibu darimana? Kenapa baju Sibu kotor begini?"
"Sibu tadi pergi ke masjid." Syafa mengernyit heran. Adakah orang ke masjid dan pulang dengan pakaian kotor? Jelas sekali ini sebuah kebohongan.
"Masjid?"
"Emhh, iya! Itu, anu! Sibu ke masjid!" Gelagat Sibu mencurigakan. Bahkan beberapa kali menghindari tatapan Syafa.
"Sibu...!"
"Sibu memang dari masjid. Kebetulan ada sedikit jalan yang licin jadi Sibu terkilir dan jatuh."
"Tapi nggak ada hujan, Bu! Bagaimana bisa jalanan menjadi licin?" Bantah Syafa.
Beginilah jika bohong. Alasannya pun terkesan tak masuk akal.
Sibu berusaha mencari alasan lain yang sekiranya lebih masuk akal. Sibu tidak mungkin bercerita tentang kejadian sesungguhnya. Belum waktunya untuk mengatakan kebenaran.
"Siapa bilang ada hujan. Karena jalanan berdebu. Orang menyiramkan air untuk mengurangi polusi kan? Yah itu!" Berharap Syafa percaya. Alasan begitu tidak terlalu buruk. Dan pastinya lebih masuk akal.
"Lain kali hati-hati ya, Sibu!" Syafa sebenar nya tidak yakin. Namun hati dan pikirannya masih tertuju pada Fahri. Jadi dia percaya saja. Lagian ibunya kembali dengan keadaan yang segar bugar.
Padahal kejadian sebenarnya adalah.
Sibu berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah bangunan tua di tepi hutan. Sebuah vila yang lama tak berpenghuni. Menurut sebagian warga vila tersebut angker. Tapi bagi Sibu, vila itu adalah harapan terakhir baginya. Dia berharap jika yang dia pikirkan benar ada di sana.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang kau datang kemari?"
Seorang berperawakan tinggi gagah memegang tongkat dengan ujungnya menyerupai serigala.
Di kanan dan kiri terlihat ada beberapa pria bertubuh gempal. Semuanya terkesan menakutkan.
Sibu berdiri tegak di hadapannya. Dua pengawal baru akan menghentikan langkahnya namun karena si pria mengangkat tongkat, mereka kembali ke tempat semula.
Jika diperhatikan, rumah ini sangatlah megah nan indah. Tapi orang-orang di dalamnya nampak mengerikan. Tatapan mereka tanpa ekspresi.
"Kau harus membayar mahal atas apa yang terjadi pada anakku." Kumis pria paruh baya di hadapannya sedikit terangkat.
"Mereka akan membersihkan apapun yang menghalangi jalan."
Artinya bahwa Fahri di anggap sebagai penghalang. Jadi bukan kesalahan jika mendapatkan konsekuensinya.
"Aku juga akan membersihkan apapun yang berani menyakiti anakku." Sibu maju menyerang si pria paruh baya bertongkat itu. Sekali serang dapat mengenai wajah.
Pria paruh baya itu hanya mengangkat tangan. Pertanda kepada para anak buahnya untuk tidak ikut campur.
"Tenagamu masih sama seperti dulu. Kuat, gesit, lincah daaannn aku suka." Pria itu terkekeh sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
Sibu tersenyum sinis. Emak-emak yang berpakaian sederhana dengan gamis batik kini telah berubah pembawaannya. Jika orang mengenalnya dengan wanita lemah, nyatanya dia adalah seorang jawara di masa lalu.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum. Hati dan pikirannya terus saja terpesona oleh sosok wanita cantik yang sekian lama dia rindukan.
"Aku tahu, suatu saat nanti kau pasti akan datang sendiri padaku. " Gumam pria itu.
"Pergi kalian semua?" Ucap si pria paruh baya. Semua orang yang mengelilingi Sibu perlahan mundur dan pergi ke satu ruangan di sebelah kiri.
Sibu semakin murka. Sibu sadar jika yang dia hadapi adalah orang yang sama ketika dirinya masih muda dulu.
"Andreas! Kau telah berani melukai anakku. Kau akan menanggung akibatnya."
"Tenanglah manis, anakmu akan baik-baik saja."
Mereka saling tawar menawar. Sibu masih saja tersulut emosinya sebab permintaan Andreas terdengar tidak masuk akal. Keduanya kembali bertarung hingga kemenangan berada di tangan Sibu.
"Berikan penawarnya!" Sibu menekan kuat dada Andreas. Posisi mereka terkesan intim namun nyatanya Andreas merasa ngilu meski bibirnya tersenyum. Andreas bukannya tidak bisa melawan. Tapi dia tahu dengan pasti
"Kamu masih sama seperti dulu. Andai saja...!"
"Diam! Berikan saja penawarnya." Sibu semakin menguatkan tekanan. Andreas sudah tidak tahan. Andreas melawan. Kini posisi terbalik. Tangan kanan Sibu berada di balik punggung dan ditekan oleh Andreas. Sekuat tenaga Sibu memberontak tetap saja Andreas yang terkuat. Bahkan tanpa permisi Andreas mencium pipi Sibu berulang kali.
__ADS_1
"Aku suka caramu girl. Tapi kau lupa siapa aku." Andreas mengingatkan jika tenaga Sibu tidak sebanding dengan dirinya. Sibu melunak. Dia mulai bicara dengan bahasa yang lebih halus.
Tapi bukan Andreas namanya jika segala pemberian tidak mendapatkan timbal balik. Sibu harus berada di tempat itu dalam beberapa jam dengan dalih bahwa penawarnya akan dibuatkan.
Tapi Sibu tidak sebodoh itu. Dia tahu pasti kepribadian seorang Andreas. Penuh tipu daya. Berkat kegigihan SibuĀ dan otak cerdasnya. Akhirnya obat penawar itupun dia dapatkan. Sibu mengendap dan menelusup ke dalam lab. Sibu pernah datang ke vila itu di masa lalu. Sedikit mengetahui seluk beluk setiap ruangannya.
Saat Sibu menemukan penawar itu, Sibu kabur melalui jendela dan jatuh berguling ke tanah dari lantai dua. Beruntung tidak mengalami cidera atau patah tulang. Hanya sedikit luka di bagian lengan.
"Ssshhh..." Sibu tersadar dari lamunan kala Syafa mengompres luka di lengan Sibu.
"Apa itu sangat sakit, Sibu?" Meniup luka Sibu dengan tatapan mata sendu.
Sibu hanya menggeleng kecil. Syafa kembali mengompres lagi. Lebih hati-hati dari yang pertama.
"Lama sekali mereka tidak keluar?" Sibu lebih khawatir pada keadaan Fahri. Padahal Fahri telah melewati masa kritis. Sibu menutup mata sambil mengenang perjumpaannya dengan orang yang berusaha dia singkirkan dari kehidupan keluarganya.
"Lalu bagaimana kondisinya?"
"Kakak sedang istirahat di dalam. Kata dokter kakak butuh istirahat. Semoga kakak segera sadar Sibu!"
"Semoga saja."
Syafa merebahkan kepalanya dipundak Sibu. Hilang sudah rasa khawatir dan gelisah yang dia rasakan. Sibu mengelus puncak kepala anaknya dengan sayang. Keduanya nampak kelelahan hingga tanpa sadar tertidur.
Sebuah bayangan remang-remang terlihat. Kemudian jelas nyata. Seorang pria berjalan tegap. Pria paruh baya yang tetap gagah nan rupawan meski sebagian rambutnya telah memutih.
"Andreas!" Ucap Sibu tanpa sadar.
Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Fahri berada.
"Tidak!"
Sibu reflek bangkit sampai tidak menyadari jika kepala Syafa masih bersandar di pundaknya.
"Sibu...ada apa?"
Sibu tergesa-gesa masuk ke ruangan Fahri tanpa menjawab ucapan Syafa.
Ketika sampai di ambang pintu, Sibu melihat Andreas menyuntikkan sesuatu pada infus Fahri.
"Apa yang kau lakukan pada putraku?"
To be continued
__ADS_1