
Selepas menyembunyikan identitas, ia kembali ke kota dengan mengambil tempat-tempat yang tidak begitu ramai karena akan merepotkan bertemu dengan orang-orang yang akan membawanya kedalam masalah besar sepanjang hidupnya.
Karena tujuannya kembali untuk menyelesaikan penyesalan yang dimana ia sekarang tertahan di ranah Martial God, hendak mencapai ranah tertinggi di dalam pembudidaya abadi, Transcend Ascension!
"Merepotkan, aku hanya melakukan pengembalian waktu untuk memperbaiki handphone dan membuatku dicurigai oleh Cang Luli. Padahal, dia sebelumnya tidak mengenaliku sewaktu di universitas."
Sempat bingung dan ragu tentang pertemanan di masa lalu, karena yang ia ingat bahwa ia sendiri seorang miskin dari kalangan keluarga bawah yang kekurangan uang untuk makan dan tinggal, mencari pekerjaan sampingan untuk membayar uang di universitas sampai-sampai ingin menghasilkan uang dari komputer jadulnya.
Pada akhirnya, ia mati dalam ledakan gas kesalahan tetangga di kontrakan bawah ruangannya.
Mendapatkan banyak kebingungan, hatinya merasa sesuatu yang tidak beres.
"Apa mungkin, dia penyesalan keduaku? Ngomong-ngomong, ingatanku terasa terganggu oleh sesuatu. Coba aku ingat-ingat, apa aku mempunyai harapan lain selain menepati janjiku kepada keluarga dan menjadi orang kaya."
Ia menutup matanya berjalan di pinggir jalan mengingat apa saja yang ia inginkan sewaktu masih hidup di bumi, sampai ia tidak sadar tengah menabrak bantalan empuk tepat didepan wajahnya.
Membuka matanya langsung merasakan bantalan tersebut ia langsung mundur berwaspada.
"Kau ... "
"Yo! Kita bertemu kembali, Mahasiswa Qin."
Qin Chen mengabaikannya, melewatinya dengan lambaian kecil. "Jangan ganggu aku, aku sedang tidak mood untuk bertarung sekarang."
"Kenapa dengan bocah ini?" Gumamnya dengan bingung melihat tingkah Qin Chen tidak seperti sebelumnya, mendominasi!
Ia terduduk di warung kecil untuk mencerna ingatannya dengan baik, mengoperasikan kepingan-kepingan ingatan dalam dirinya mendapatkan sesuatu yang bisa menjawab keraguannya.
"Apa yang tuan muda pesan?"
"Berikan aku beberapa tusuk sate."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Qin Chen terduduk mengeluarkan gelas yang ia sering gunakan untuk minum, ia dengan santainya mengeluarkan Whisky mahal dari barat.
"Hidup dengan banyak beban akan merepotkan, akan lebih baik melampiaskan semuanya dalam perang nyata melawan musuh kuat, menghadapi dunia." Gumamnya.
Jendral Cao Cao berada disampingnya dengan bingung melihat sikapnya berbeda seperti mempunyai banyak beban di benaknya, ia mengeluarkan Whisky yang ia sembunyikan dibalik jubahnya.
__ADS_1
Ini mengejutkan prajurit yang mengikutinya, karena pertama kalinya melihat Jendral mereka mengeluarkan Vodka miliknya secara terang-terangan.
Duduk disampingnya meletakkan Vodka di atas meja.
"Kalau kau hanya minum Whisky tidak akan bisa melepaskan pikiranmu, setidaknya minumlah Vodka untuk tercampur kedalam depresi berat."
"Huh! Aku tidak akan mabuk dalam satu tengukan botol, seorang yang bekerja dibawah pemerintahan menyembunyikan minum keras, apa kau tidak khawatir dengan konsekuensinya?"
"Apa yang perlu dikhawatirkan, aku sering melakukan kesalahan dan bahkan sering ketahuan minum seperti ini. Sekarang pemerintah tidak akan mengeluarkanku, karena aku orang yang berbakat untuk memimpin divisi ketiga." Kata Jendral Cao Cao.
"Sekarang dunia dalam kekacauan, monster-monster berdatangan dari dimensi lain untuk menghancurkan bumi ataupun menginvasinya, yang dibutuhkan sekarang adalah kekuatan bukan ketaatan mematuhi peraturan."
"Karena yang kuat akan menguasai yang lemah dan dunia, sementara yang taat akan hanya akan menjadi budak. Peraturan baru itu muncul di masa-masa seni bela diri di umumkan enam tahun yang lalu."
Qin Chen mendengarkan penjelasannya tentang seni bela diri muncul enam tahun yang lalu, dimana saat itu ia tidak tahu ataupun ia sudah mati dari dunia.
Prajurit yang mengikutinya meninggalkan tempat tersebut untuk mengawasi di berbagai tempat dan meninggalkan Cao Cao sendirian disana.
"Jadi begitu, sudahlah lupakan saja aku sedang mood tidak baik untuk membicarakan hal lain selain pikiranku."
"Apa kau mendapatkan masalah? Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantu memberikan masukan. Bagaimanapun juga, aku ini lebih tua darimu."
Qin Chen mengerutkan keningnya, usianya di dunia abadi mencapai seribu tahun lebih dan saat di bumi ia hanya seorang bocah berusia kurang lebih 20 tahun, sudah wajar kalau yang tua di bumi di panggil saudari perempuan ataupun lainnya.
"Seterahlah, aku hanya memikirkan masalah pribadi."
"Hoho ... Apa ini masalah perasaan dengan wanita? Ayo ceritakan, saudari ini bisa membantu untuk memberikan masukan bagaimana menaklukkan hati wanita."
Ia menghela napasnya, karena masalahnya bukanlah wanita melainkan penyesalan yang membuat hatinya hampa. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga, padahal ia berjalan untuk menyelesaikan penyesalannya.
"Kau tidak akan bisa memberikan masukan apapun karena ini menyangkut internal dan bukan masalah eksternal."
"Huh!"
Ia meneguk segelas wine sambil mengambil tusuk sate yang Qin Chen pesan sebelumnya dengan beberapa kali tegukan minum beralkohol tinggi, ia mabuk berat tidak bisa berdiri kembali.
Qin Chen mengerut dengan kesal karena wanita di hadapannya adalah masalah.
Tidak hanya membuatnya masuk kedalam masalah, ia bahkan membuatnya harus membawa ke hotel, karena tidak bisa membiarkannya tergeletak di pinggir jalan semalaman.
__ADS_1
Ia menyewa hotel yang tidak mempunyai CCTV karena bisa berbahaya kalau ada yang mencoba mencoreng nama baiknya, karena pergi ke hotel dengan Jendral Divisi Ketiga dalam penyerangan.
Brukk!
Ia melemparnya ke atas tempat tidur dengan sedikit kasar, karena sangat berat.
"Sial! Aku mendapatkan masalah hari lagi hari ini, tidak hanya tentang penyesalan tapi juga wanita gila ini mabuk tanpa mencari tempat yang nyaman untuk dia sendiri."
Qin Chen hendak pergi dari tempat tersebut, ia ditahan oleh tangan yang menariknya untuk tidak pergi.
"Mahasiswa Qin, apa aku terlihat buruk dimatamu?"
"Mengigau apa wanita ini!?"
"Hei! Jawab aku."
Ia mengerutkan keningnya, lalu membuatnya pingsan untuk sementara agar tidak menganggunya.
Hari ini sudah malam, untuk kembali ke universitas tidak akan cukup waktu dan meninggalkan wanita ini sendiri di hotel akan membuatnya buruk nantinya.
Sudah menikmati ketidakberdayaan Jendral pasukan khusus, dia pergi dengan tanpa ada salah sedikitpun, ia bisa saja menjadi buronan prajurit lain karena berani meniduri Jendral.
Ia terduduk di sopa semalaman tidak menyentuhnya ataupun mengambil kesempatan karena wanitanya hanya cukup satu orang, kalau bisa bertambah ia tidak masalah.
Semalaman ia hanya terduduk dimana, Cao Cao membuka matanya di tengah malam melihatnya berada di ruangan dengan lampu sedikit terang di depannya.
Matanya tidak dengan jelas melihat, karena masih dibawah tekanan alkohol membuatnya masuk belum stabil, tetapi ia bisa melihat kalau didepannya adalah Qin Chen tengah duduk di atas sopa.
Setelah memastikan bahwa itu Qin Chen, ia kembali terkapar.
Karena ia merasa aman di sampingnya dari pada dengan pria lain yang mungkin menginginkan tubuhnya.
Qin Chen menyadari kalau Cao Cao bangun untuk memastikan sesuatu, ia kembali tertidur pulas setelah menyadari kalau Qin Chen berada disampingnya.
Menggelengkan kepalanya, ia menyerap energi disekitarnya karena mendapatkan banyak energi yang bermanfaat.
....
*Bersambung ...
__ADS_1