
Semalam, ia membawa Qian Jingyin kembali ke asrama wanita karena ia tengah dalam keadaan mabuk berat. Walaupun mendapatkan keuntungan malam ini sangat besar, meninggalkan kenangan itu akan menyebabkan banyak kesedihan untuknya.
Karena ia tidak akan bertahan lama di bumi, dan melanjutkan perjalanan menyelesaikan tugasnya mengalahkan Penguasa Primordial Langit setelah memahami penyesalan ketiganya.
Setelah mengantarnya kembali ke asrama, ia pergi keluar asrama.
Qin Chen duduk di bangku yang berada di jembatan merah. Tempat dimana ia sering duduk disaat malam harinya, ia tidak mempunyai teman sehingga duduk di sana sembari menikmati angin dingin.
Sementara di depannya sebuah mobil berhenti dan keluar Cang Luli membawa tasnya, ia melihat Qin Chen tengah duduk ditempat yang sama di enam tahun yang lalu.
"Kenapa kau malam-malam seperti ini ada ditempat ini? Malam ini akan turun hujan dan cuacanya akan semakin dingin, kembalilah sebelum hujan."
"Profesor Cang?"
"Apa kau memikirkan tentang sebelumnya? Kalau itu alasannya, lebih baik kau membuangnya karena kau tidak akan bisa mengetahuinya sekarang maupun di masa depan."
"Huh? Aku mempunyai keberuntungan besar dalam hidupku, selama aku pergi mencarinya maka aku akan menemukan jawaban atas keraguanku." Jelasnya.
"Lupakanlah, anggap aku tidak ada hari ini, aku akan kembali dan kembalilah sebelum hujan datang menguyur kota."
Ia meninggalkan tempat tersebut dengan matanya sedikit meredup melihat betapa menyedihkannya Qin Chen sekarang. Ia seperti cangkang kosong, namun masih mempunyai sedikit cahaya didalamnya.
Selama enam tahun sifatnya tidak pernah berubah, keras kepala dan tidak dapat memahami apa yang ada di depan matanya sendiri.
Seakan ia adalah orang yang tahu segalanya, namun sebenarnya ia tidak tahu apapun dan mencoba tahu. Tidak penting tentang siapa yang tahu terlebih dahulu, yang terpenting adalah siapa yang akan memberitahukannya, karena semuanya tergantung mereka.
Ia bukanlah peri abadi yang dapat melintasi langit untuk menemukan misteri dunia, ia hanya manusia biasa dengan kelebihan bakat spesial yang ia gunung hanya untuk membantunya.
Qin Chen mengamatinya dengan mata kosong, ia seolah-olah menemukan hal lain.
""Sepasang misteri dunia bersatu, keberuntungan meningkat pesat membentuk pencerahan ilahi." Gumamnya.
Qin Chen lalu menyentuh dagunya, ia mencoba mengingat kembali apa yang pernah Cang Luli katakan di masa lalu maupun di masa sekarang.
Selama beberapa waktu, ia tidak menemukannya karena terbatasnya ingatannya. Ada banyak pengetahuan baru berdatangan sehingga ingatan dimasa lalu berada di kedalaman pengetahuan.
Ia lalu meninggalkan tempat tersebut setelah merasakan rintikan hujan berjatuhan mengguyur kota.
Didalam asrama laki-laki, ia duduk di atas tempat tidurnya dimana temannya berada di bawah tengah main handphone.
Mengibaskan tangannya, membuka Panel Status.
[Nama : Qin Chen.]
__ADS_1
[Ras : Manusia.]
[Title : Tuan Muda Qin, Reinkarnasi, Dewa Keberuntungan, BP ×100.]
[Level : Martial God (10)]
[Exp : 100.000/100.000.]
[Martial Soul : Beloved Wife [Surga (5)]
[Level Up Martial Soul : 94.657/95.000 BS.]
[Class : Alchemy Heavenly - Master Formasi Heavenly.]
[Skill : Lightning Step (10) - Moon Jade Fist (10) - Sky Thunder Sword (10) - Seribu Pedang Abadi (10) - Tebasan Penghancur Langit (10) - Dominasi Tangan Surga (10)»»]
[HP : Immortal.]
[EP : Half God.]
[STR : 10.145.]
[INT : 9.890.]
[VIT : Immortal.]
[DEX : 10.250.]
[LCK : (EX)]
[BP : 0.]
[BS : 0.]
[Inventory : Wooden Sword - Iron Sword - Roti Bakar (99+) - Mineral (99+) - Pedang Perak (Bumi) »»]
Ia menghela sedikit napasnya, lalu kembali untuk baring ke atas tempat tidur. Menghapus Panel Status, ia menggunakan tangannya sebagai bantal tambahan.
'Ranah yang aku capai sekarang memang Martial God namun berbeda dengan kekuatan yang aku punya sekarang hanya Setengah Dewa. Kalau aku berhasil menembus ranah Transcend Ascension, maka kekuatanku seperti Dewa.'
'Sementara tubuhku abadi karena selama seribu tahun menyempurnakan kekuatan, aku menyerap banyak kehidupan di langit lalu memadatkannya kedalam tubuh dan membentuk tubuh abadi.'
'Aku bisa mati melawan kehendak besar, karena itu aku membutuhkan kekuatan Transcend Ascension untuk membangun keabadian sejati tanpa mati meskipun melawan kehendak sekalipun.'
__ADS_1
Temannya berbicara. "Qin Chen, bagaimana persiapanmu untuk penyambutan UTS? Karena tahun kemarin ada banyak murid tidak lulus dengan nilai tinggi."
"UTS? Aku sudah mempersiapkannya, dan kemungkinan aku akan mendapatkan nilai tinggi tahun ini karena itulah yang aku inginkan."
"Ha! Berbicara langsung pada orang pintar benar-benar membuat hatiku iri, kau bisa melakukan apapun dan sangat pintar seharusnya aku tidak bertanya-tanya tentang UTS." Balas Hang Lu.
"Hahaha ... Aku akan memberikan buku-buku yang aku gunakan untuk menyambut UTS, kau dapat mempelajarinya dan mungkin bisa masuk dalam sepuluh besar di universitas." Sahutnya memberikan support penuh kepadanya temannya.
Di ruangan itu hanya ada mereka berdua, karena ruangan mereka adalah ruangan terakhir di universitas.
"Benarkah! Sangat beruntung aku mempunyai teman sepertimu, aku akan mentraktirmu besok di restoran."
"Baiklah."
Semalaman mereka berdua mengobrol, Qin Chen duduk di pinggir jendela melihat hujan berjatuhan mengguyur tanah.
"Qin Chen, apa kau mengenali Profesor Cang? Karena beberapa hari ini kau sangat dekat dengan Profesor Cang seperti sudah mengenalnya sangat lama."
Qin Chen mengangguk. "Sepertinya, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Karena ini adalah masalah pribadi, untuk sekarang aku hanya ingin menyelesaikan tugasku di universitas mendapatkan sertifikat kelulusan lalu kembali ke kampung halaman."
"Kau benar, sertifikasi kelulusan adalah hal yang terpenting untuk sekarang. Tapi, apa kau akan kembali ke kampung halaman, dimana?" Tanyanya.
"Jauh dari kota tempat terpencil di dunia." Jelasnya.
Hang Lu menyipitkan matanya karena Qin Chen bercanda setelah ia bertanya serius. Kemudian ia hendak bertanya kembali tapi dihentikan dengan melihat mata Qin Chen begitu kosong seperti tidak memandang dunia.
Menghadapi sesuatu yang seperti ini, ia kembali ke tempat tidurnya dan duduk mengamati Qin Chen dalam diam.
Tidak tahu kenapa, ia merasakan sesuatu yang membuatnya menjadi penuh kebingungan melihat Qin Chen.
Setelah beberapa menit berlalu, ia kembali ke tempat tidurnya dengan memberikan sesuatu kepada Hang Lu, itu adalah buku-buku yang ia buat sendiri selama di dunia lain.
Komik dan novel untuk di baca sewaktu hujan deras sangat menyenangkan.
"Aku mempunyai komik ini, kau dapat membacanya karena ceritanya sangat bagus."Katanya menawarkan produk asli buatannya yang di ambil dari novel yang ia buat sendiri.
Hang Lu mengangguk dan memulai membacanya sampai pagi.
Semalaman ia tidak dapat tidur di hantui oleh penasaran bagaimana kelanjutan, karena Qin Chen hanya memberikan dua volume yang mempunyai 320 halaman.
Sementara sisanya masih tiga volume lagi yang akan diberikan nanti pagi.
Qin Chen tidak berharap kalau temannya menyukai komiknya.
__ADS_1
...
*Bersambung ...