Indigo Story'

Indigo Story'
Part 23: Perang Ghaib (3)


__ADS_3

Saat kami tersudut di pohon beringin itu, Ayyub mengeluarkan Keris nya dari saku belakang dan dengan nekat maju menuju kerumunan arwah tsb. Kami yang melihat Ayyub dengan nekat maju menghadapi mereka, langsung membantu Ayyub untuk menghadapi mereka. Saat Ayyub terjatuh, Ghio menarik Ayyub untuk membawanya ke tempat aman. Piyan, Riko dan Dika yang masih mencoba untuk menghalau mereka, mencoba membuat penghalang Ghaib untuk memeriksa kondisi Ayyub. Ghio yang melihat Ayyub pingsan dengan keris yang masih menempel di tangan kanan nya pun bingung harus berbuat apa.


Saat Dika, Piyan dan Riko berhasil membuat penghalang Ghaib, mereka lalu langsung menuju Ayyub. Ayyub yang masih dalam keadaan pingsan dicoba untuk di netralisir kan oleh Piyan. Terdengar suara dentuman keras di barengi dengan getaran membuat mereka menengok ke arah penghalang Ghaib. Sesosok tubuh yang besar, memakai jubah hitam dengan memegang tongkat di tangan kanan nya. Kami terkejut dengan sesosok yang tiba-tiba muncul itu.

__ADS_1


Perlahan-lahan sesosok itu mendekati penghalang ghaib yang masih melindungi kami. Sosok itu menghancurkan penghalang ghaib kami dan masuk mendekati kami. Kami yang terkejut pun tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Anehnya ia hanya melewati kami dan mendekati pohon beringin yang tinggi itu. Lalu seketika ia menghilang, dan kami pun berusaha untuk keluar dari bangunan itu. Dika dan Ghio menggotong Ayyub yang masih dalam keadaan pingsan sambil menuju ke luar. Saat berada di depan Pagar Tralis besi itu, kami menengok ke dalam dan melihat bangunan itu kembali menjadi gelap. Tanpa berfikir panjang, kami lalu langsung pergi meninggalkan tempat itu karena Ayyub yang masih pingsan.


Beberapa hari berlalu setelah kami explore di gedung itu. Kami mengalami kejadian aneh seperti mendengar suara penambang, suara jeritan dan masih banyak. Terlebih lagi, kami sering sekali di datangi oleh sosok besar itu dimana pun kami berada.

__ADS_1


Akhirnya, kami memutuskan untuk berkumpul di tempat biasa kami berkumpul. Kami saling menceritakan apa yang terjadi terhadap diri masing-masing. Kami berpendapat bahwa itu terror karena efek dari sesajen yang tak sengaja hancur oleh Dika dan Riko. Kami pun mencoba untuk Rogo Sukmo secara bersama-sama dan menuju tempat itu kembali melalui alam roh. Sesampainya di tempat itu, ternyata benar dugaan kami. Gedung itu seperti gedung baru dan terlihat beberapa pekerja yang sedang membawa dorongan gerobak berisi emas mondar mandir. Kami pun mencoba masuk ke dalam dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Para penjaga yang memergoki kami pun membawa kami menghadap ke atasannya. Saat berada di ruangan di lantai 4, terdapat satu ruangan yang tak bisa sembarang karyawan masuk. Setelah penjaga itu mengantarkan kami, mereka pergi. Ternyata, atasan mereka adalah sesosok besar yang kami lihat saat di lantai 1. Riko yang mengetahui jawabannya langsung memegang kami dan lalu langsung membawa kami kembali ketubuh masing-masing.


Kami langsung menuju ke sana bersama-sama untuk mengakhiri yang kami sebut kutukan. Sesampainya disana, kami menuju ke pohon beringin tempat energi itu di barengi dengan Dika dan Ghio yang membawa sesajen. Dika dan Ghio meletakkan sesajen di depan pohon itu, lalu Ayyub dan Piyan mencoba untuk memasuki alam roh.

__ADS_1


Setelah satu jam lama nya kami menunggu, akhirnya kami merasakan aura kutukan yang ada pada diri kami masing-masing telah pergi.


Note: ada beberapa cerita yang tidak ditambahkan di dalam bab ini karena sulit untuk di mengerti oleh akal sehat. Karena pada dasarnya, kita hidup berdampingan dengan mereka yang tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2