
...『⇒Bab 10⇐』...
"What? lo bilang apa barusan? Gibran? maksud lo..." Terkejutnya Ocha ketika ia mendengar pengakuan dari mulut temannya sendiri di tambah pula suaranya yang bergema terdengar nyaring bahkan ia membulatkan kedua matanya.
"Sstt plis deh Cha, kenapa berisik banget sih? nanti tante jadi dengar aku malu Cha," gerutu Grace pula menautkan kedua alis matanya makanya ia membungkam mulut Ocha sembari melirik ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.
Grace melihat Ocha sudah menaikkan sebelah alis matanya memberikan lontaran yang tak meyakinkan bahwa yang dia ceritakan memang itulah adanya kemudian Grace melepas bungkaman itu dan menutup pintu kamar secara rapat.
Tap
Tap
Seketika Ocha melipat kedua tangan di dada sembari berjalan entah kemana.
"Seorang Gibran, nembak lo di depan rumah gue? ini enggak masuk akal Grace, itu anak apa enggak ada tempat lain apa? waaah benar-benar that's not possible Grace!" celotehan Ocha tiada hentinya sehingga Grace hanya bisa membuang nafas kasar mendengar ocehan itu dan seketika terlihat tampang Ocha yang serius menatap ke arah Grace. "By the way jangan bilang lo udah terima gitu aja cintanya, bukan berarti karena dia good looking dengan semudah itu dia dapetin cinta lo," lanjutnya lagi secara panjang lebar namun kali ini sikap Ocha memang sedang serius sebab ia tak ingin temannya menjadi salah langkah sebelum di fikirkan dahulu makanya ia berkata demikian.
"Aku tidak [ nolak ] dan juga belum katakan [ iya ] lagipula dia memberi ku waktu untuk menjawabnya sedangkan saat ini aku menjadi bingung bagaimana nantinya aku harus memberi jawaban padanya," keresehan serta kebimbangan yang di rasakan oleh Grace sekarang begitu jelas di lihat oleh Ocha namun dalam sejenak Ocha menyimpulkan senyuman di balik bibirnya.
"Lo harus katakan [ iya ] tapi dengan satu syarat jika dia nyatainya yang bener tidak di depan rumah gue yang bener aja sih masa ungkapin cinta enggak ada niatan di tempat romantis gitu?" kini Ocha kembali terkekeh kecil hingga bergeleng kepala mengingat cerita Grace beberapa menit yang lalu.
"Kenapa aku harus jawab [ iya ] bagaimana kalau aku jawab [ tidak ] saja?" seketika Grace menatap ke arah Ocha yang sebelumnya bersandar di tembok.
__ADS_1
"No, no! lo jangan menyesal di akhirnya karena gue tau betul lo itu juga cinta sama dia jadi lo enggak perlu nutupin semuanya dari gue lagi," ungkap Ocha sehingga Grace kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ocha padahal ia tak pernah sekalipun curhat ataupun bercerita tentang perasaannya terhadap Gibran.
"Loh, kau kapan..."
Grace masih terheran sehingga ia tak melanjutkan ucapannya karena Ocha hanya tersenyum kecil ke arahnya.
"Sejak dulu, saat kita selalu barengan itu semua udah gue rasakan sendiri tanpa lo cerita ke gue semuanya terlihat klise di mata gue dari cara lo ngeliat dia semuanya jelas Grace, but kalau boleh gue jujur dulunya pertama kali ngeliat Gibran gue jadi nervous sungguh Grace entah dari mana datangnya rasa suka gue ke dia seakan gue merasa seneng jika dia juga balas ngeliat gue! so it's turns out yang dia lihat hanya lo Grace," ungkap Ocha pula makanya Grace juga menjadi sedikit kaget mendengar pengakuan Ocha barusan.
"Jadi kenapa tidak coba kau katakan apa yang kau rasakan ke dia Cha? harusnya jika kau benar menyukainya apapun itu kau harus mencobanya dulu," imbuh Grace menjawab demikian sehingga Ocha tersenyum tipis karena merasa temannya itu tak mengerti maksud ucapannya barusan.
"No bestie gue, tidak ada dalam kamus gue merebut seseorang yang sudah jelas teman baik gue menyukai orang yang sama dengan gue, karena gue selalu tahu cinta itu cukup di rasakan tanpa harus memaksakan! lagipula gue udah buang jauh-jauh perasaan itu demi lo, so plis lo itu yang harus berjuang untuk orang yang bener lo sayangi," sejenak Ocha mendekap hangat tubuh Grace masuk ke dalam pelukannya begitu pula sebaliknya Grace menyambut pelukan itu serta ia tak menduga bisa memiliki teman karib yang sangat baik seperti Ocha.
"Terimakasih Cha, kau selalu menemaniku sampai sekarang makanya aku tidak mau memiliki teman lain sudah cukup kau teman perempuan ku yang buat aku merasa nyaman," tepukan perlahan beberapa kali dari Grace di pundak Ocha sangat di rasakan Ocha bahkan mereka semakin menjadi dekat lewat pelukan itu.
"Hihiihi, sadis banget!" kekehan kecil dari mulut Grace namun dia menjadi merasa lega karena mereka berdua sudah saling terbuka satu sama lain padahal Grace awalnya masih enggan untuk bercerita pada Ocha tetapi siapa sangka keterbukaan itu menjadikan dirinya lebih percaya diri untuk menjawab pada Gibran nantinya.
Greepp
Sekejap Ocha memegang kedua bahu Grace dan menatap dengan serius kembali sehingga pelukan itu terlepas pula.
"Apa dia ada ngajak lo berkencan?" tanya Ocha serta tampak alis matanya naik sebelah.
__ADS_1
Grace hanya anggukkan kepala bahkan sangat terlihat jelas rona wajah di kedua pipinya bahwa dia sedang di ambang rasa malu.
"Cakep, di mana?" tanya Ocha lagi yang tampak senang melihat ekspresi Grace yang seperti itu.
"Dia belum bilang di mana tapi katanya akan mengirim alamatnya lewat DM," ungkap Grace pula yang sesekali mengelus pundak lehernya karena ia merasa malu ketika Ocha bertanya hal tersebut.
"Okey, gue tunggu kabar baik dari kalian! sekarang kita harus keluar sebelum mama jadi naik darah melihat kita masih stay di kamar, yuk!" ajak Ocha pula sembari memegang pergelangan tangan Grace namun masih Ocha ingin melangkah tetapi Grace menahannya.
"Kalung ku bagaimana?" tanya Grace yang terlihat sedikit cemberut sebab mereka sedari tadi belum ada mencarinya.
Ocha pun menoleh ke belakang.
"Nanti kita cari bareng yang penting keluar dulu udah lapar gue, yuk! itu kita pikirkan nanti pasti ada di sekitar kamar ini," ucap Ocha meyakinkan pula makanya Grace percaya yang di lontarkan Ocha padanya.
Akhirnya usai perbincangan itu mereka pun melangkah ke luar dari kamar menuju meja makan.
^^^To be continued ^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
__ADS_1
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa di paksakan. ~ Grace Eloise.