
...『⇒Bab 47⇐』...
Ruangan kamar Ocha
Saat ini Ocha tengah terbaring di kasur miliknya dalam keadaan salah satu tangan sudah terpasang selang infus sebab Ocha telah kehabisan nafas pada kejadian yang menimpa dirinya beberapa menit berlalu.
❁ Berapa waktu berlalu di saat melakukan pertolongan pertama pada Ocha ❁
Baik Anggun yang sempat terkaget dengan peristiwa tersebut ia pun dengan sigapnya menghubungi salah satu pihak rumah sakit untuk segera menangani kondisi Ocha yang tak memungkinkan lagi di bawa ke rumah sakit lantaran Ocha sudah tak sadarkan diri sementara yang lainnya sibuk menyadarkan Ocha bahkan Boy melakukan hal yang tak terduga pula.
Boy sudah tak bisa memikirkan rasa malunya lagi atau apapun yang akan terjadi selanjutnya sebab kepanikan di dalam dirinya lah yang membuat Boy terpaksa mengambil jalan pintas.
Yeap, Boy awalnya menekan perlahan hingga berulang kali di bagian atas perut Ocha serta memeriksa pernafasan Ocha di bagian hidung namun belum ada reaksi apapun makanya Boy langsung membuka lebar mulut Ocha ketika itu juga ia menutup kedua matanya dan menghembus nafas kasar barulah ia lekatkan mulutnya dengan mulut Ocha sembari terus memberikan nafas dari mulutnya sendiri bahkan tak hanya cukup sekali ia melakukan hal demikian karena Ocha telah banyak kemasukan air kolam di tubuhnya.
Setelah berulang kali Boy melakukan cara seperti itu barulah sedikit demi sedikit air yang ada di dalam tubuh Ocha keluar melalui mulutnya namun Ocha tetap tidak sadarkan diri makanya semua orang yang berada di dekatnya menjadi panik.
Grace yang teman dekatnya saja tidak tahu kalau Ocha tak pandai berenang sebab yang di ketahui oleh Grace kalau temannya itu tak kenal dengan rasa takut pada apapun dan siapapun bahkan Ocha juga orang yang serba bisa dalam segala hal maka dari itu Grace tampak tak percaya ternyata ada sisi lemah di dalam diri Ocha yang baru ia sadari.
"Tante, di mana kamar Ocha?" tanya Boy pula dengan nada suara tampak begitu panik serta mendongakkan wajahnya menatap ke arah Anggun yang baru saja tiba setelah ia menghubungi pihak rumah sakit.
Dalam pertolongan yang di lakukan oleh Boy sebelumnya sama sekali tidak di ketahui oleh Anggun sebab dirinya masuk ke dalam rumah dalam keadaan panik pula makanya ketika Boy berbicara dengan Anggun tidak merasa begitu canggung.
Hanya Grace dan lainnya pula yang menyaksikan ketika Boy berusaha menyelamatkan nyawa Ocha akan tetapi mereka semua awalnya terlihat kaget karena Boy berani melakukan hal demikian namun setelah di fikirkan oleh mereka semua, perbuatan yang di lakukan oleh Boy merupakan sesuatu yang sangat wajar apalagi Boy sendiri yang menyelam ke dalam kolam tersebut demi Ocha.
"Ada di sebelah sana," turut Anggun membalas pertanyaan dari Boy apalagi wajah Anggun tampak sangat cemas melihat keadaan putrinya saat ini.
__ADS_1
"Aku akan membawanya, tante tunjukkan saja arah jalan ke kamarnya." Boy dengan cepat mengatakan hal demikian serta dengan sigap pula ia mengangkat tubuh Ocha menggunakan kedua tangannya.
"Ayo ikuti tante," ajak Anggun pula secara cepat lalu ia berjalan lebih dulu barulah Boy dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
Sesampainya di kamar milik Ocha semuanya pun masuk ke dalam serta berharap Ocha segera sadar namun nyatanya masih terlihat begitu lemah.
Boy dengan sangat perlahan membaringkan tubuh Ocha di atas kasur namun baju mereka berdua masih sama-sama dalam kondisi basah kuyup.
"Kalian boleh tunggu di luar dulu, biar tante gantikan pakaian Chacha karena sebentar lagi dokter juga akan sampai," imbuh Anggun secara ramah lalu ia melihat Boy sekilas menatap ke arah Ocha dengan raut wajah sedih serta kedua alis mata saling bertautan. "Boy," panggil Anggun pula sekejap menyadarkan lamunan pendek Boy.
"Ya tante," sahut Boy dengan tersenyum tipis seakan ia merasa bersalah akibat dirinya lah Ocha mengalami hal tersebut.
"Apa yang kau fikirkan? Chacha baik-baik saja tidak usah terlalu banyak berfikir, tante malah berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan putri tante," katanya pula.
Anggun memang tidak tahu menahu masalah awalnya yang terjadi pada Ocha namun di saat Boy ingin membuka suara tampak dari belakang Grace memberi isyarat pada Boy untuk tidak menceritakan kronologinya karena bukan saat yang tepat bercerita pada Anggun dalam kondisi seperti ini lagipula kejadian yang menimpa Ocha juga bukan sepenuhnya kesalahan Boy sebab semua yang terjadi sudah kehendak tuhan itulah yang di fikirkan oleh Grace apalagi Boy sudah banyak membantu itu sudah cukup menunjukkan kepedulian Boy terhadap Ocha.
"Ya, apapun itu yang pastinya kalau tidak ada kalian mungkin putri tante entah bagaimana," ucap Anggun dengan nada lirih serta melihat ke arah Grace juga lainnya sambil menunjukkan senyuman kecil di bibirnya.
"Iya tante, sama-sama." Grace menyahut pula serta membalas senyuman tersebut ke arah Anggun dan mengelus beberapa kali sebelah pundak Anggun. "Kami semua akan menunggu di luar tante," sambung Grace lagi lalu ia melihat ke arah Gibran juga Bram sambil memberi isyarat anggukan kepala sekali supaya ikut dengannya keluar.
Ketika semuanya telah berjalan berlalu pergi Boy malah terus menatap ke arah Ocha kemudian beberapa saat sudah puas menatapnya barulah ia beranjak ingin pergi pula.
"Boy, nanti tante bawakan baju untuk mu supaya kau bisa ganti pakaian mu yang basah itu," ucap ramah dari Anggun.
Boy membalikan tubuhnya serta tersenyum tipis. "Terima kasih tante, aku keluar dulu." Boy melanjutkan langkahnya setelah menyahut ucapan dari Anggun.
__ADS_1
Anggun melihat dari belakang punggung Boy yang sangat kekar itu bahkan setelah menggendong Ocha pun tidak ada rasa lelah di wajahnya sebab postur tubuhnya membuat dirinya tampak gagah sehingga Anggun sempat berfikir untuk lebih mengenal Boy namun tidak hanya sekedar teman dari putrinya saja.
KRASAK
KRUSUK
"Duh... Pakaian apa yang akan aku berikan pada Boy? mana tak ada pertinggal sama sekali di rumah ini pakaian lelaki," gumam Anggun pula yang tampak sedang mengacak lemari baju milik Ocha setelah selesai mengganti pakaian basah di tubuh Ocha. "Nah, ini sepertinya cocok karena bidangnya sedikit lebih besar." Anggun mendapati sepasang pakaian baru milik Ocha yang sama sekali belum tersentuh olehnya namun Anggun tak menyadari bahwa label merk di pakaian itu masih terpasang.
Anggun menutup kembali pintu lemari dengan rapat kemudian ia berjalan menuju pintu kamar sembari membawa pakaian milik Ocha tersebut.
Ruang tengah
"Boy," panggil Anggun pula tiba-tiba membuat mereka semua langsung berdiri dari duduknya masing-masing kecuali Boy yang tampak bersandar di tembok dengan mengatupkan kedua tangan di dada.
Di saat mendengar namanya di panggil Boy pun berdiri seperti biasa. "Iya tante," sahut Boy pula secara ramah terukir senyuman kecil di wajahnya.
"Ini ada sepasang pakaian punya Ocha sementara pakaian mu kau keringkan jadi kau bisa memakainya, ini ambil lah! ganti pakaian basah mu jangan terlalu lama nanti kau bisa masuk angin," titah Anggun terdengar begitu memberi perhatian pada Boy membuat yang lainnya menahan senyum akibat ucapan yang di keluarkan oleh mulut Anggun.
Gua pakai baju Ocha? gak salah? warnanya juga... Astaga! batin Boy ketika ia menatap ke arah pakaian tersebut dengan tampang enggan menerimanya namun tak mungkin ia langsung menolak sudah pasti akan menyakiti perasaan Anggun yang sudah bersusah payah untuknya mencarikan pakaian ganti.
"Heheheh, tante sampai repot-repot begini... Aku jadi merasa enggak enak sama tante," celoteh Boy membuat yang lainnya ingin tertawa sebab terlihat dari raut wajah Boy dirinya ingin menolak secara halus.
"Sudah jangan banyak bicara! sekarang ambil ini langsung ganti pakaiannya." Anggun pun memberikan pakaian tersebut ke tangan Boy sementara yang lainnya membuang wajah mereka yang sedang menahan tawa.
Oh tuhan... Boy menepuk jidatnya sendiri sembari bergumam setelah Anggun berlalu pergi.
__ADS_1
...Kutipan :...
Hidup pada dasarnya berisiko hanya ada satu risiko besar yang harus kamu hindari dengan segala cara dan itu adalah risiko tidak melakukan apa-apa. ~ Grace Eloise.