
...『⇒Bab 20⇐』...
Malam yang telah berlalu menjadi sebuah kenangan terindah untuk Grace sebab pada malam itu mereka sudah resmi bertunangan walau hanya sekedar mengikat di antara keduanya apalagi tak akan lama study mereka juga selesai dari itulah Gibran nantinya ingin memperkenalkan Grace dengan kedua orangtuanya pula.
Sebenarnya Grace merasa serba salah antara menerima atau menolak karena dari cerita Gibran tentang keluarganya membuat Grace merasa tak sebanding dalam istilah tak sekelas keluarga Gibran.
Gibran terus meyakini Grace kalau dirinya akan berjuang walaupun nantinya kedua orangtua Gibran tak menyetujui hubungan mereka namun Gibran akan terus berusaha supaya Grace di terima oleh keluarganya.
Gibran masih mempunyai keluarga yang lengkap mulai dari ayahnya, ibu, nenek juga adiknya yang sedang bersekolah di luar negri.
Keluarga Gibran sangat terpandang sebab kedua orangtuanya mempunyai sebuah rumah sakit tepat di jakarta selatan tempat tinggal mereka sekarang.
Awalnya Gibran ingin di kuliahkan ke Dubai namun ia menolak dikarenakan tak ingin meninggalkan orangtuanya yang memang bertempat tinggal di jaksel sedari dulunya.
Untuk itu Gibran memilih kuliah dalam satu wilayah supaya bisa dekat dengan keluarganya termasuk sang nenek dari ibunya itu begitu menyayangi dirinya sedari kecil hingga ia tumbuh dewasa sampai saat ini.
RSU. MURNI TEGUH METHODIST itulah nama rumah sakit yang didirikan oleh ayah Gibran sendiri bahkan sudah berjalan hingga bertahun lamanya dan di kenal oleh banyak orang.
Rumah sakit tersebut di pimpin oleh ayahnya Gibran pula yang merupakan direktur utama ( Ceo - Chief Executive Officer ) di dalam rumah sakit tersebut sedangkan ibunya di tempatkan pada posisi direksi termasuk wakil pemilik rumah sakit jadi kedua orangtua Gibran memang selalu bertugas di dalam rumah sakit yang mereka dirikan.
Ayah Gibran bernama Prof. Dr. Tama Lais sedangkan sang ibu bernama Sp. Dr. Elya Vata yang masing-masingnya memiliki keahlian khusus bahkan keduanya juga ikut turun tangan dalam menjalankan prosedur rumah sakit tersebut.
Pendapatan yang di terima oleh ayah Gibran sebesar 70 juta sedangkan ibunya menerima 60 juta/bulannya maka dari itu kehidupan mereka terbilang mewah namun di dalam keluarga Gibran tak ada kata merendahkan orang lain sebab seorang dokter harus memiliki jiwa sosial tak boleh merendahkan sesama manusia lainnya itulah yang sering di tanamkan kedua orangtua Gibran padanya.
Setiap yang memiiki marga sudah pasti menjunjung tinggi martabat keluarganya terutama pada ayah Gibran ia memang menaruh harapan yang besar pada anak lelakinya itu sebab ia sudah tidak muda lagi untuk terus menghandle rumah sakit miliknya dan sudah pasti semuanya akan jatuh ke tangan Gibran lalu orangtuanya tinggal menikmati masa hari tua bersama.
Gibran juga sudah banyak belajar di rumah sakitnya itu hingga ia sering melakukan pembedahan namun di awasi selalu oleh ayahnya begitu pula pada ibunya yang ikut turun tangan menemani anak lelaki satu-satunya supaya mereka berdua bisa memastikan anak mereka sudah sampai di mana batas kemampuannya dalam gelar kedokteran.
Di pagi hari dalam rumah keluarga Lais.
__ADS_1
Ruang makan.
Cupp
"Selamat pagi oma, pagi ma!" sapa Gibran setelah ia mengecup bagian dahi mulai dari neneknya hingga ibunya pula.
"Pagi cucu ku yang tampan," turut neneknya pula melontarkan senyum hangat.
"Pagi juga sayang," sahut ibunya sembari menuangkan segelas susu untuk anaknya itu.
"Pagi pa," tak lupa ia juga menyapa ayahnya yang tampak menyeruput teh bercampur lemon di dalam gelas miliknya.
"Pagi nak, duduklah kita sarapan bersama sudah berapa hari ini kita tidak makan dalam satu meja," turut ayahnya melontarkan senyum ramah hingga terlihat kaca mata yang bertengger di hidungnya itu.
"Iya pa, aku juga menantikan itu!" kata Gibran membalas dengan ramah pula lalu ia menggeser kursinya dan duduk di sebelah sang ayah. "Oma, bagaimana kolestrolnya? apa sudah normal?" lanjut Gibran dengan bertanya sembari ia meraih gelas bertangkai yang berisi susu miliknya pula.
"Siap ibu ratu," turut Gibran dengan lantang sehingga kedua orangtua Gibran jadi ikut terbawa suasana candaan dari mereka.
Tawa dan canda Gibran membuat suasana sarapan menjadi lebih hangat dan semakin tampak bewarna sehingga mereka semua benar-benar menikmati sarapan yang telah tersaji di atas meja makan.
"Nak, apa tugas mu di kampus hari ini?" tanya sang ibu membuka suara di saat Gibran sedang berbicara pada neneknya.
"Oh, hari ini Gibran akan ke lab ma!" jawab Gibran menoleh ke arah ibunya sembari mengunyah sandwich di mulutnya itu.
"Dalam tahun ini study mu akan selesai bukan?" sambung ayahnya ikut bicara.
"Papa benar! makanya aku harus lebih keras lagi supaya papa dan mama tidak kecewa dengan kemampuanku selama ini," balas Gibran terdengar begitu bersemangat sehingga ayahnya melontarkan senyuman kecil.
"Bagus sayang! mama yakin kau akan menjadi dokter yang hebat seperti papa mu ini," timpal ibunya sejenak menoleh ke arah sang suami karena ia memang kagum pada otak encer yang dimilki oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Kau juga hebat, karena suami hebat sudah pasti ada seorang wanita yang hebat di belakangnya! bukankah begitu Gibran?" tanya sang ayah menuju ke arah Gibran pula.
UHUK
UHUKKK
Gibran seketika batuk berulang kali mendengar perkataan ayahnya barusan.
"Loh, kenapa bertanya pada Gibran pa?" protesnya sehingga sang ibu jadi menahan tawanya itu bahkan neneknya juga ikut menahan senyum.
"Apa kau akan terus melajang nantinya? sudah pasti kau akan mencari wanita impianmu dan ingat! carilah wanita seperti mama mu ini, jangan wanita yang hanya pandai berdandan saja tapi cari wanita yang bisa melakukan segala hal untukmu juga keluarga mu, ingatlah pesan papa ini supaya kau tak menyesal nantinya!" hikmad ayahnya dengan berkata serius membuat Gibran menjadi pendengar setia serta membalas tatapan ayahnya yang tertuju padanya.
Setelah ayahnya selesai berbicara Gibran pun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah belakang punggung sang nenek juga ibunya.
"Itu pasti pa karena aku juga ingin memiliki seorang wanita hebat seperti mereka berdua!" turut Gibran sehingga ia menaruh lengannya di kedua bahu sang nenek juga ibunya.
Tama menyimpulkan senyum tipis lalu ia menikmati kembali teh lemon yang hampir habis itu.
Wanita hebat itu sudah aku dapatkan pa jadi tunggu saja sebentar lagi aku akan mengenalkan pada kalian semua! batin Gibran berkata demikian sembari ia kembali mengecup dahi neneknya juga sang ibu secara bergantian pula.
Sungguh keluarga yang saling menyayangi membuat orang lain menjadi lebih iri sebab sudah memiliki harta berlimpah namun tak pernah sombong pada siapapun meskipun mereka jarang berada di rumah tetapi setiap yang berlalu pasti saling bertegur sapa.
Rumah mewah mereka yang tertinggal hanya neneknya Gibran serta para pengurus rumah lainnya karena Gibran juga jarang berada di rumah begitu pula ayah dan ibunya yang sudah pasti padat kesibukannya.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan. ~ Grace Eloise.
__ADS_1