Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Kepergian Grace?


__ADS_3

...『⇒Bab 32⇐』...


Malam hari di rumah Grace.


"Mama serius dengan apa yang mama lihat itu?" tanya Laras ketika ia baru saja pulang dari kampus sehingga sang ibu langsung membawanya ke dalam kamar.


"Mama belum rabun sayang... Mata mama masih jelas melihat kalau itu anak jal*ng begitu dekat dengan lelaki yang pernah kau ceritakan pada mama!" cakap ibunya pula secara meyakinkan sehingga Laras tampak memejam matanya dalam sejenak.


Ternyata dugaan ku benar, mereka memiliki hubungan spesial dan ini tak akan aku biarkan! batin Laras seolah ia tampak begitu geram ketika membayangkan kedekatan mereka di dalam benaknya.


Drapp


Drap


Laras pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi.


"Laras, kau mau kemana? Laras..." jerit ibunya ketika berulang kali memanggil namun Laras tak menggubrisnya bahkan Laras mempercepat langkahnya itu.


Jihan terus mengejar Laras tetapi seketika ia berhenti serta menunjukkan senyuman seringai di balik bibirnya di saat ia melihat bahwa Laras mengarah pada kamar Grace.


Brakkkkk


Tapp


Tap


Laras membanting pintu kamar Grace secara kuat lalu ia berjalan masuk ke arah Grace yang sedang tampak berbaring di kasurnya karena mendengar suara pintunya terbuka Grace pun bangkit sementara Laras sudah menatap sinis ke arah dirinya.


"Haih, gue tak habis fikir dengan elo ya benalu!" serang Laras pula secara lantang.


"Apa kau tak memiliki etika? masuk ke kamar ini sopan sedikit jangan main banting saja!" berbalik menyerang pula.


"Serah elo mau bilang apa! yang pasti gue masuk ke kamar ini ingin menyadarkan elo yang tidak pernah sadar diri."


Battss


Grace langsung menampik tangan Laras yang mencoba untuk mendorongnya makanya ia menepis secara cepat sebelum Laras melakukan hal tersebut.


"Jangan pernah kau sentuh aku dengan tangan mu ini, mengerti kau!" tegas Grace secara berani sehingga ia pun membulatkan matanya menatap ke arah Laras.


"Lo enggak usah sok kuat di depan gue! lo itu benalu, sadar diri dong!" serangnya lagi tiada habisnya ia merendahkan Grace.


"Apa yang ingin kau katakan? aku tak punya waktu meladeni mu!" ucap Grace terdengar memberi penekanan terhadap Laras lalu ia mengalihkan wajahnya pula.


"Gue pada intinya aja lah ya lagian gue males harus ngobrol lama-lama dengan benalu macam lo! oke, gue mau elo jauhi Gibran jika elo mau hidup lo tenang!" monolog Laras terdengar memberi peringatan pada Grace.


"Kenapa aku harus mendengarkan mu?" lontaran itu terlempar dari mulut Grace namun ia enggan menatap laras yang saat ini begitu geram melihat ke arahnya.


"Sadar dong, lo itu enggak ada pantasnya buat Gibran!" cibirnya pula sehingga senyuman sinis terukir di wajahnya itu.


"Lalu, apa yang pantas dirimu?" tangkas Grace seketika ia pun menoleh ke arah Laras.


"Jelas gue lebih baik dari elo!" timpalnya pula memuji dirinya sendiri.


"Pfttt."


Grace hanya menahan tawanya ketika lontaran itu keluar dari mulut Laras barusan.

__ADS_1


"Gini ya, aku katakan saja padamu biar kau tak salah menduga dan akhirnya kau sendiri yang malu!" cakap Grace membuat Laras langsung melihat padanya.


"Tidak usah berbelit, lo bilang aja maksud lo itu!" ucap Laras serta mengatupkan tangan di dadanya.


Grace merunduk sedikit sehingga kedua lontaran mata dan senyuman kecil terlihat jelas di wajah Grace ketika menatap Laras.


"Gibran sudah menyatakan cintanya padaku!" ungkap Grace dengan sengaja ia berkata demikian supaya ia mengetahui reaksi Laras seperti apa.


"Hagh, lo fikir dengan lo katakan ini buat gue iri? tidak sama sekali karena gue yakin Gibran tak akan pernah melirik wanita benalu macam lo!" cakapnya lagi yang terdengar terus mengeluarkan cibirannya terhadap Grace.


"Sudah pasti kau tak akan meyakini yang aku katakan, ah ya sudahlah... Mau bagaimana lagi," kata Grace pula lalu ia berjalan ke arah jendela kamarnya dengan membelakangi Laras.


"Lo itu wanita murah*n! elo tidak tahu malu ngejer laki-laki yang udah jelas enggak melirik lo sama sekali," cecar Laras pula sehingga ia terus tersenyum seringai ketika menatap ke arah Grace.


Setelah semua terdengar oleh Grace dirinya hanya tersenyum kecil serta tak berapa lama ia menoleh dan melangkah kecil ke arah Laras.


"Bukankah kau tadi sedang memberi peringatan padaku untuk menjauhi Gibran, berarti kau dong yang saat ini sedang takut dan mencoba untuk mengejarnya! bukankah begitu nona Laras?" Grace tidak mau kalah dari Laras karena dirinya sudah sedari tadi mencoba diam ketika Laras merendahkan harga dirinya untuk itu ia melemparkan semua perkataan yang mengarah padanya.


"Lo itu wanita perebut dan semua yang gue bilang ke elo memang pantas untuk diri lo jadi jangan elo samakan gue dengan elo! ngerti lo benalu?" sarkas Laras dengan lantang berkata demikian.


Grace tertunduk dan membuang nafas panjang lalu ia tegakkan kembali kepalanya serta menunjukkan senyuman simpul mengarah pada Laras.


"Aku tidak merebut siapapun dan aku tidak mengejar siapapun, nah! itu ada kaca coba kau bercermin sekaligus lihat wajahmu sendiri supaya kau tak hanya pandai menilai orang lain tetapi juga dirimu sendiri," usulan Grace terdengar mengejek makanya Laras tampak mengerutkan wajahnya ketika menatap Grace yang hanya tersenyum melihatnya tak ada sedikipun rasa takut di wajah Grace ketika berbicara padanya.


"LO!"


"Ah iya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu! sebentar." Grace langsung berlari ke arah meja belajarnya dan meraih ponsel genggam miliknya, kemudian ia membuka layar ponsel tersebut serta membuka galeri/album dalam ponsel pintarnya itu.


Laras mengepalkan kedua tangannya ketika ia melihat Grace menunjukkan sesuatu padanya.


"Nah tuh kau bisa lihat sendiri raut wajah Gibran ketika berfoto dengan ku, apa kau tak bisa lihat senyuman bahagia di wajahnya? masih kah kau bilang aku yang mengejar dirinya? apa kurang jelas, nih aku dekatkan padamu!" lontar Grace seakan ia melihat Laras sudah di ambang kekesalan ketika ia menunjukkan foto dirinya bersama Gibran ketika mereka berdua pertama kali berkencan.


Grace berjalan membelakangi Laras hendak ingin keluar dari kamarnya pula.


Grepp


Tangan Laras menahan Grace seketika dengan tampang kemarahan yang sudah memanas dari wajahnya.


PLAAAAKKK


PLAK


Laras menampar kedua pipi Grace dengan begitu kuat.


"Dasar wanita murah*n! tak akan gue biarkan elo merusak kebahagiaan milik gue," berang Laras dengan berteriak dan tampak kedua bola matanya memerah menatap ke arah Grace.


Grace memegang kedua pipinya dengan penuh kejengkelan ia pun menatap ke arah Laras pula.


"Cuihh."


Plakkkkk


GREPPP


"Brengs*k! lepaskan tangan lo, akan gue bunuh lo," teriak Laras serta menahan rasa sakit di rambutnya ketika kedua tangan Grace menjambak kuat seluruh rambutnya.


GREPPP

__ADS_1


Tak mau kalah Laras juga menjambak rambut Grace begitu kuatnya.


"Hyaaaa!" Grace mengarahkan Laras ke tembok dan membenturkan kepala Laras tepat di tembok tersebut.


Bukkhhh


Bruukk


"Ahhh." Erangan Laras merasakan sakit di kepalanya itu akibat benturan yang di lakukan oleh Grace.


Sama halnya Laras juga mencoba berusaha untuk membalikan tubuh Grace supaya ia bisa melakukan hal yang serupa namun ia gagal karena Grace menahan kepalanya dengan sangat kuat.


"Sudah aku katakan jangan pernah menyentuhku, sekarang kau rasakan akibatnya dan jangan kau fikir aku tak berani melakukan hal kejam terhadapmu!"


Kondisi rambut Grace masih di jambak oleh Laras namun Laras lebih merasakan sakit daripada Grace karena Grace masih membenturkan kepala Laras ke tembok batu.


Buuughh


Bruukk


Secara bringas Grace terus membenturkannya tanpa ampun sementara Laras sudah menjerit belum ada yang menolongnya saat ini karena kamar Grace merupakan kedap suara jadi walaupun menjerit suara tersebut berdengung di sekitar kamar saja.


Paaattss


Leher Laras di tekan oleh Grace beberapa saat Laras tampak mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Cukup! berhenti, apa kau ingin membunuhnya?" teriak sang ayah setiba masuk ke dalam kamar membulatkan matanya dengan penuh rasa marah.


"Hakh, selalu datang di waktu yang tepat!" gumam Grace namun tangannya masih belum terlepas dari Laras.


Drap


Drapp


"Ayah bilang kau lepaskan! apa kau tuli?" hardik ayahnya lagi memegang kuat tangan Grace saat ini serta lontaran amarahnya itu.


"Kalau aku tidak mau kenapa? apa yang ayah mau lakukan?" katanya pula secara santai.


"Haaahh, ada apa ini?" seketika Jihan kaget melihat anaknya sudah dalam keadaan berantakan di tambah pula tangan Grace berada di leher Laras.


Jihan secara sigap melangkah mendekat ke arah Grace penuh kekesalan di wajahnya.


PLAAKKKK


"Dasar jala*g beraninya kau memperlakukan anak ku seperti ini, pergi kau!" serang Jihan penuh rasa kebencian terlukis di wajahnya berteriak sekeras mungkin serta mendorong tubuh Grace namun sang ayah hanya menjadi penonton ketika Jihan melakukan hal tersebut padanya.


Grace bergerak meraih tas serta jaketnya dan melangkah ke arah pintu kamar.


"Grace," panggilan dari ayahnya di saat Grace hampir dekat dengan pintu namun ia berhenti sejenak dalam langkahnya.


"Jangan mencari ku! aku tak akan pernah pulang ke rumah ini," lontar Grace berbicara dari samping lalu ia kembali melanjutkan langkahnya secara cepat.


"Bagus, pergi kau yang jauh dasar jala*g!" racau Jihan terdengar berteriak secara keras namun Grace telah berlalu pergi begitu saja.


Laras tampak lemas dan Jihan langsung sibuk berteriak ke arah Daniel yang masih menatap ke arah pintu kamar entah apa yang di fikirkan olehnya.


^^^To be continued^^^

__ADS_1


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...........


__ADS_2