Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Cake Berlapis Permata?


__ADS_3

...『⇒Bab 18⇐』...


Sebelum Grace pulang dia sempat di ajak oleh Gibran pergi ke sebuah taman walau sedikit cara memaksa akhirnya Grace mau menerima tawaran dari Gibran tersebut.


Hanya taman itulah yang dekat dari arah jembatan tempat mereka menemukan Grace dan bukan taman yang biasa saja sebab taman itu memilki sebuah pondok yang tepat berada di pinggiran pantai sehingga suasananya menjadi lebih nyaman untuk bersantai di tambah pula banyaknya lampu berwarna-warni melingkar di bagian pohon yang sengaja di buat oleh pemiliknya.


Pantai yang di permak menjadi sebuah taman terletak di pinggirannya membuat orang-orang begitu antusias berada di sekitaran taman tersebut apalagi kalau sudah waktu malam hari angin sejuk berhembus seperti beban yang di pikul dalam diri terbawa bersama hembusan angin itupula bahkan tempat sebagus itu selama ini Grace tak pernah tahu jika saja dia mengetahuinya mungkin ia sudah sering pergi ke tempat yang di bawa oleh Gibran sekarang.


Saat ini Grace tampak sedang berdiri seorang diri tepat di pinggiran pantai dengan memejam kedua matanya sehingga ia benar-benar merasa nyaman ketika angin menyapa tubuhnya itu.


Ibu, apa kau di sana bahagia? aku sungguh rindu padamu bu, kenapa kau begitu cepatnya meninggalkan aku sendiri di sini? masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu, aku sangat butuh sentuhan tanganmu bu! aku juga merasa iri dengan mereka yang mendapat kasih sayang orangtuanya sementara aku hanya bisa melihat tanpa bisa merasakannya bu. Batin Grace terus berbicara lewat benaknya dengan mendongakkan wajah ke arah langit namun matanya masih saja terpejam.


Greep


Sebuah sentuhan tangan yang terasa hangat sedang memegang semua jemari lentik tangan Grace lalu ia membuka matanya karena kaget ternyata Gibran yang baru saja datang berdiri di sampingnya melontarkan senyuman yang begitu manis berbeda dari biasanya.


"Apa kau suka tempat ini?" tanya Gibran secara lembut namun semua jemari tangan kanannya ia lekatkan di jemari lentik tangan kiri Grace.


Tentu saja Grace merasakan malu hingga meronalah kedua pipinya bahkan ia hanya tertunduk serta anggukan kepala tanpa membuka suaranya.


"Grace apa kau tahu, kau lah wanita yang pertama kali aku cintai."


Gibran berkata demikian dengan kesungguhan hatinya sebab tampak jelas dari sorotan matanya pula.


Lagi-lagi Grace hanya memalingkan wajahnya sebenarnya dia cukup tersentuh mendengar ucapan barusan namun ia tak ingin membuat Gibran mengetahui kalau dirinya menahan rasa malu.


"Yuk ikut aku karena masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu dan masih ada pula yang ingin aku tanyakan dengan mu," ajak Gibran perlahan ia menarik tangan Grace untuk mengikutinya.

__ADS_1


Gibran sudah memilih sebuah pondok untuk mereka bersantai dan saat ini Gibran sedang membawa Grace mengarah ke pondok tersebut.


Sampailah keduanya di tempat tujuan lalu Gibran menggeser sebuah kursi untuk Grace duduki tepat berhadapan dengannya pula dan kini keduanya sudah duduk saling bertatapan mata.


Tampak sudah tersedia makanan yang tersaji di atas meja, dua buah gelas, satu botol minuman wine non alkohol, sebuah lilin, juga sebuah cake berukuran kecil terukir nama Grace Eloise di atasnya sehingga Grace melebarkan matanya menatap semua yang sudah di siapkan oleh Gibran seorang diri serasa Grace tak percaya bahwa Gibran melakukan semua itu hanya untuknya.


"Ka -kau..."


Grace tak bisa banyak bicara lagi karena ia juga tak tahu harus mengatakan apa.


"Maaf jika semuanya tak sesuai keinginan mu karena aku sudah berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya di tempat yang sudah aku rencanakan sebelumnya namun kau tak datang dan berakhir bertemu di jembatan jadi hanya inilah yang bisa aku berikan Grace," lirih Gibran tertunduk lesu memang awalnya ia sudah persiapkan semuanya di cafe tempat ia menunggu Grace makanya kencannya tak sesuai keinginan dirinya.


"Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, kau tidak ada salah apapun sekali lagi aku minta maaf sudah membuatmu menunggu lama," imbuh Grace terlihat merasa bersalah pada Gibran sehingga ia pun tampak mengatupkan semua jemari tangannya.


"Sudah lah kau tak perlu seperti itu Grace yang berlalu biarkan saja tidak usah kita bahas lagi," turut Gibran dengan menurunkan tangan Grace pula. "Sekarang kita makan saja lebih dulu bicaranya kita lanjut nanti," titah Gibran dengan wajah tampannya itu ia tersenyum ramah di depan Grace.


Keduanya pun mulai menikmati makanan mereka masing-masing dengan di temani angin yang selalu berhembus bahkan sesekali Gibran merapikan bagian rambut di kepala Grace yang terkena hembusan angin sampai Grace seolah canggung dengan semua perhatian yang diberikan Gibran padanya.


Setelah beberapa menit berlalu mereka sudah selesai makan lalu Gibran mendekatkan cake yang telah tersedia sebelumnya mengarah pada Grace.


"Di makan cakenya karena aku dengar cake di sini sangat enak dan kau harus coba," ucap Gibran dengan tersenyum kecil.


"Kau tidak mau?" tanya Grace membalas senyuman itu pula.


"Tidak, aku memang memesan hanya untukmu jadi makanlah!" jawabnya lagi.


Gibran menyimpulkan senyuman di balik bibirnya ketika Grace sedang ingin memakan cake tersebut lalu ia pura-pura memalingkan wajah melihat ke arah pantai sementara Grace sedang mengunyah cake itupula.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit cake itu sudah hampir habis dan ini menjadi suapan terakhir Grace serasa ia menikmati cake tersebut, memang benar yang dikatakan Gibran terasa begitu enak seakan lupa bahwa Grace memiliki sedikit kegundahan di hatinya.


"Mmmh," sejenak Grace merasakan hal aneh di dalam mulutnya.


Grace meraih tisu dan mengeluarkan benda tersebut dari dalam mulutnya.


"Ah, ini..."


Lontaran mata Grace mengarah pada Gibran pula dan saat ini Gibran langsung menunjukkan tawanya yang begitu bahagia ketika Grace menyadari kalau di dalam cake tersebut ia letakkan sebuah cincin permata putih begitu terlihat berkilau sehingga Grace merasa heran awalnya namun karena dia melihat reaksi Gibran sekarang barulah dia percaya Gibran merencanakan semuanya serta memberikan kejutan seindah itu.


"Grace, apa kau mau bertunangan dengan ku?" ia meraih salah satu tangan Grace hingga memegangnya secara erat pula.


Dag


Dig


Dug


Yeap, siapa yang tidak berdebar jika semuanya menjadi seromantis ini hingga Grace tak bisa mengeluarkan suaranya dan hanya menatap Gibran yang tampak menunggu jawabannya.


"Tunangan hanya kau dan aku, resminya kita setelah menyelesaikan study kita Grace. Bagaimana? apa kau menerimanya?" lanjut Gibran lagi yang masih sabar menunggu jawaban dari Grace sementara Grace hanya bengong hingga tak mengedipkan mata sama sekali.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Cinta adalah perbuatan, kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong belaka. ~ Grace Eloise.


__ADS_2