
...『⇒Bab 38⇐』...
Efek yang di timbulkan oleh kedatangan Jihan tersebut membuat seluruh mahasiswa/i fakultas FK UI menjadi ricuh sebab Jihan berani menampar Ocha tepat di hadapan para dosen sehingga Ocha tidak tinggal diam dan membalas perbuatan yang di lakukan oleh Jihan padanya.
Ocha menjambak Jihan sekeras mungkin sampai Jihan mengerang kesakitan sementara Daniel sudah lelah melerai mereka namun tetap saja Ocha mendorong siapa saja yang mencoba menghalangi dirinya termasuk para dosen sekalipun sampai Jihan sudah tak mampu lagi untuk melawan barulah Ocha mencampakkan tubuh Jihan tepat di depan papan tulis ruang kelas mereka.
Akhirnya Ocha di bawa ke ruang dekan sekaligus Jihan beserta Daniel.
Di dalam ruang dekan Jihan hanya terdiam terpaku sebab ia tak menduga Ocha bisa mempermalukannya di depan seluruh mahasiswa/i serta dosen lainnya.
Sedangkan Daniel hanya melirik Ocha yang tampak sudah acakan pula.
Blammm
Utomo memukul mejanya sendiri dengan keras namun yang lainnya hanya terdiam mendengarkan pukulan tersebut sebab sudah tampak wajah Utomo yang begitu marahnya atas kejadian yang telah terjadi.
"Ocha, apa kamu ingin menjadi preman di kampus ini?" tanya tegas dari Utomo sehingga ia menatap lurus ke arah Ocha yang masih terlihat tertunduk. "Tegakkan kepalamu," lanjut Utomo lagi secara jelas.
Ocha pun membuang nafas kasar dan menegakkan kepalanya pula.
"Jawab pertanyaan bapak," sambungnya lagi.
"Saya sudah menahan semuanya sejak wanita ini masuk ke ruangan kami tapi wanita ini berani menampar saya tentu saja saya tak akan tinggal diam jika ada orang yang menyentuh sehelai rambut saya sekalipun karena ibu saya tidak pernah berlaku kasar pada saya," perjelas Ocha dengan tegas ia menceritakan awal kejadian sebelumnya.
Utomo hanya mendengarkan lalu ia menoleh pada Jihan yang bersikap biasa saja seolah kejadian itu bukan kesalahan darinya.
Gibran, Boy, juga Bram tepat berada di ruang pintu dekan karena mereka tidak di izinkan masuk makanya mereka bertiga hanya menunggu tepat di depan pintu ruangan saja.
"Tolong anda jangan pernah menginjakkan kaki di kampus ini lagi karena anda sudah membuat keributan di kampus saya, silahkan pergi dari sini dan biarkan saya mengurus semua mahasiswa saya tidak perlu anda ikut campur lagi, silahkan pak bawa istrinya."
Utomo sudah mulai jengah karena perilaku yang di timbulkan oleh Jihan tersebut makanya ia tak ingin lagi panjang lebar untuk berbicara pada Jihan.
"Maafkan istri saya pak, kami pamit kalau begitu!" cakap Daniel dengan penuh rasa malu ia membalas perkataan Utomo barusan.
Greepp
"Ayo, sudah cukup kau membuat onar di sini."
Daniel menggenggam kuat tangan Jihan namun istrinya itu hanya menatap Utomo secara sadis sebab ia baru saja mendengar Utomo mengusirnya secara tidak hormat.
"CEPAT, BERDIRI KAU!" sang suami menarik Jihan begitu saja dengan keras sehingga Jihan akhirnya bergerak dari tempatnya .
"Awas saja kau! kau akan membayar semua yang kau katakan padaku hari ini, kau ingat itu!" lantangnya Jihan berucap demikian memberikan jari telunjuk tangannya di hadapan Utomo sehingga Ocha sejenak tersenyum tipis terlihat dari raut wajahnya ketika mendengar ocehan Jihan barusan.
"Hegh, dasar tidak waras!" gumam Ocha terlepas pula ia berkata demikian.
__ADS_1
"Ocha..." Teguran dari Utomo sebab ia mendengar ucapan Ocha walau sekilas.
Kini Ocha hanya tersenyum lebar di hadapan Utomo sementara Jihan terlihat menatap ke arah Ocha dengan rasa penuh kebencian serta kepalan kedua tangannya namun Daniel langsung menarik Jihan secara cepat supaya tidak terlalu lama lagi di dalam ruangan tersebut.
Usai Daniel dan Jihan berlalu pergi dari ruangan tersebut tampak Utomo membuang nafas panjang karena akhirnya ia bisa melepas rasa kesalnya sejak kedatangan Jihan ke ruangannya.
Utomo langsung menoleh ke arah Ocha yang masih berada di depannya saat ini namun Ocha terlihat sibuk sedang mengikat rambutnya serta mengibaskan kedua tangannya itu.
"Ocha, apa wanita tadi juga ada menunjukkan foto anaknya?" tanya Utomo membuka suara lalu sejenak Ocha pun menoleh setelah usai membenah dirinya.
"Iya, apa bapak telah mengetahuinya?" berbalik tanya pula.
Utomo duduk di kursinya serta melekatkan semua jemari tangannya lalu ia topangkan tepat di dagunya.
"Wanita itu sudah masuk ke ruangan ini sebelumnya dan dia mengoceh panjang lebar bahkan ingin menuntut kampus ini jika bapak tidak mengeluarkan Grace atas permintaannya yang tidak masuk akal," perjelas Utomo terdengar merasa tidak senang dari ucapannya itu.
"Dasar! sampai sejauh itu dia ingin menjatuhkan Grace," turut Ocha pula dengan bergeleng kepala sebab ia merasa tak habis fikir pada Grace yang mampu menghadapi wanita seperti Jihan.
"Kamu sangat tahu betul sepertinya keluarga Grace, coba katakan pada bapak seberapa jauh yang kamu ketahui."
Utomo menjadi sedikit penasaran setelah ia mendengar kekesalan Ocha tersebut pada Jihan.
"Saya hanya tahu Grace memiliki seorang ayah dan ibu kandungnya telah tiada," ungkap Ocha pula.
"Grace sangat menyayangi ibunya dari apapun juga pak, apalagi Grace pernah mengatakan pada saya kalau ia hanya ingin menjadi seorang anak yang berbakti pada ayahnya maka dari itu dia berusaha untuk menahan dirinya di dalam rumah yang di penuhi rasa kebencian terhadap dirinya, termasuk wanita yang baru saja datang ke kampus hari ini," cakap Ocha panjang lebar ia bercerita dengan Utomo sebab sudah tidak ada lagi yang bisa di tutupi oleh Ocha supaya Utomo mengetahui seluk beluk keluarga Grace yang sebenarnya.
"Maksud mu wanita tadi ibu tiri Grace?" tanya Utomo terdengar tak menduga.
Ocha menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Pantas saja cara dia menyebut nama Grace terdengar kasar dan terus menghina Grace ternyata Grace benar-benar bukan anak kandungnya," cakap Utomo mulai menyadari semuanya. "Itu berarti Laras dan Grace saudara lain ibu?" lanjutnya lagi seketika melihat ke arah Ocha yang masih mendengarkan pembicaraannya.
Lagi-lagi Ocha anggukkan kepala membenarkan persepsi dari Utomo.
"Bapak tidak tahu cerita ini karena Grace orang yang sangat tertutup," kata Utomo terdengar lesu.
"Jangankan bapak yang tak dekat dengannya saya saja yang hampir setiap hari juga tidak tahu dan kalau saja saya tak mencurigainya dari awal mungkin saya tak akan pernah tahu sampai sekarang," balas Ocha pula.
"Ya, kamu benar juga!" seru Utomo mengiyakan. "Jadi apa tanggapan mu soal foto Laras itu?" tanya Utomo lagi mengubah topik pembicaraan supaya ia bisa mengambil tindakan setelahnya.
"Bapak mau alamat rumah Grace? biar saya tulis," ujar Ocha membuat Utomo menjadi bingung.
"Untuk apa kamu memberi alamat rumah Grace?" tanya Utomo kembali mengulang yang di katakan oleh Ocha padanya.
"Bapak datang ke rumahnya sekaligus bawa seorang dokter jika memang Laras dalam keadaan tidak baik, anggap saja itu rasa tanggung jawab dari kampus ini. Bagaimana pak?" usulan dari Ocha ada benarnya juga sehingga Utomo sempat berfikir sejenak.
__ADS_1
"Ya kamu benar, saya juga ingin melihat kondisi Laras sekalian." turutnya menganggukkan kepala pula.
Saat ini Ocha tersenyum lepas berbeda dari sebelumnya seolah terlihat ia begitu senang tampak dari raut wajahnya sekarang.
Utomo memberikan secarik kertas juga pena di depan Ocha lalu ia meraihnya serta menuliskan alamat rumah Grace dengan raut wajah yang masih tersenyum pula.
Kita lihat apa yang akan lo lakuin ratu drama! batin Ocha berbicara dalam benaknya sehingga senyuman di bibirnya masih belum usai.
"Nah pak," ia pun menggeser kertas tersebut mendekatkan ke arah Utomo.
Kertas itu di raih oleh Utomo dan kini sudah ia lihat secara teliti.
"Oke terimakasih," ucap Utomo secara ramah pula.
"Sama-sama pak..." Turut Ocha lagi. "Kalau begitu apa saya sudah boleh keluar?" lanjut Ocha.
"Sudah, kamu boleh kembali."
Utomo pun mengiyakan perkataan Ocha.
Di karenakan sudah mendapat izin dari Utomo kini Ocha tampak hendak berdiri dari kursinya serta melangkah menuju ke arah pintu ruangan.
"Eh tunggu dulu," tegur Utomo sejenak lalu Ocha pun berhenti dan menoleh ke arah Utomo.
"Ya pak, ada apa?" tanya Ocha terlihat raut wajah yang berusaha untuk memaksakan senyumnya.
"Sanksi mu tetap berjalan," kata Utomo membuat Ocha membuang nafas kasar.
"Loh, kok..."
"Sudah jangan protes, nanti dosen mu yang akan berikan sanksinya."
Astaga, sial banget gue! batin Ocha berbicara demikian sehingga ia lemas seketika mendengar ucapan Utomo.
"Baik pak, saya pamit..."
Ocha pun balikkan badannya dan melanjutkan langkahnya kembali dalam keadaan lesu namun Utomo sudah tersenyum kecil melihat tampang Ocha yang keluar dari ruangannya saat ini.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Jika yakin perang akan menghasilkan kemenangan, kita harus bertempur meskipun aturan melarangnya. ~ Grace Eloise.
__ADS_1