
...『⇒Bab 41⇐』...
"Tante, kita mau pergi ke mana?" tanya Grace ketika mereka sudah keluar dari dalam apartemen.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu," jawab Elya sembari tersenyum ramah.
"Siapa Tante?" bertanya kembali.
"Sudah masuklah," turut Elya setelah ia membuka pintu mobil depan untuk Grace. "Nanti kau juga tahu siapa orangnya," lanjut Elya pula.
"Oh baiklah," ucap Grace anggukan kepala lalu ia masuk ke dalam mobil dan Elya pun menutup pintu mobil itu kembali.
Elya berlari kecil ke arah bangku setir mobil depan dan setelah ia masuk kemudian ia hidupkan mesin mobil tersebut serta melajukan secara perlahan.
Sepanjang perjalanan Grace bercerita tentang masa kecilnya karena Elya yang membuka suara lebih dulu namun Elya sampai tak menduga bahwa Grace sudah tak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu begitu lamanya bahkan ia tak di perdulikan begitu pula oleh ayah kandungnya sendiri sampai Elya berfikir yang di alami oleh Grace pastilah berat sehingga Grace mengalami tekanan mental akibat perilaku dari orang-orang terdekatnya.
RSU MURNI TEGUH METHODIST
Parkiran mobil.
Grace tampak celingukan saat ia masih berada di dalam mobil sebab suasana rumah sakit sangat tak asing baginya.
"Bukankah ini rumah sakit pertama kali tante membawaku?" tanya Grace ketika Elya sedang sibuk membuka salt belt dari tubuhnya sementara Grace masih terlihat celingukan pula. "Aku masih ingat jelas dengan tempat ini," lanjut Grace lagi lalu ia menoleh ke arah samping melihat Elya yang sudah tersenyum kecil padanya.
"Ya kau benar, tante membawa mu ke sini saat pertama kali keadaan mu sedang pingsan."
Grace secara serius mendengarkan sementara Elya tugasnya menjelaskan.
"Oh begitu, lalu kenapa tante membawaku ke sini lagi? bukankah aku tidak sakit?" kembali bertanya sehingga Elya menyimpulkan senyuman di wajahnya.
"Ah itu... Kau memang tidak sakit tapi hanya sekedar ingin memastikan kondisi mu saja," jawab Elya secara ringkas.
"Apa ini tempat tante bekerja?" lagi-lagi Grace bertanya sebab dirinya ingin mengetahui Elya lebih jauh dari sebelumnya.
"Bukan, ini rumah sakit yang didirikan oleh suamiku sendiri."
"Suami? berarti...."
"Sudah jangan banyak berfikir, sekarang ayo turun karena kita sudah di tunggu."
Elya pun keluar lebih dulu dan melenggang ke arah pintu mobil Grace sembari membukanya sedangkan Grace tampak terbengong sendiri.
"Ayo turun," ajak Elya pula sambil meraih jemari lentik tangan Grace.
"Iya tante," turut Grace setelah ia sadar dari kebingungannya.
Grace melepas salt belt dari tubuhnya secara sigap kemudian ia bergerak keluar dari dalam mobil serta menutup kembali pintu tersebut.
Elya kembali meraih jemari tangan Grace dan membawa Grace berjalan bersama dirinya.
Keduanya pun memasuki area rumah sakit secara bergandengan tangan pula bahkan sebagian pekerja yang berada di dalam rumah sakit menjadi heran karena untuk pertama kalinya bos mereka membawa seorang wanita asing tampak begitu dekatnya padahal Elya di cap sebagai wanita yang jutek/pendiam tak banyak orang yang di rumah sakit dekat dengannya kalau tidak membahas urusan penting dengannya namun Elya menanggapinya dengan santai membalas senyuman heran dari mereka yang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Tante, aku sedikit gugup sepertinya mereka berbisik sedang menceritakan aku."
Elya hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Grace padanya.
"Mereka tidak berbisik tentangmu, tapi aku! heheh," jawab Elya sembari tertawa kecil pula serta merangkul bahu Grace sehingga mereka berdua semakin dekat.
Grace hanya menautkan kedua alis matanya mendengar jawaban dari Elya sebab begitu tenangnya Elya menanggapi tatapan yang terasa mengganggu bagi Grace.
CEO PROF. DR. TAMA LAIS
Sesampainya Elya membawa Grace tepat berada di depan ruangan suaminya pula.
TOKK
TOK
"Masuk," sahut Tama dari dalam ruangannya.
Elya sudah terbiasa mengetuk pintu ruang kerja suaminya sebab ia tak ingin merasa bebas walau di katakan istri sah dari Tama lagipula ia sekaligus menunjukkan perilaku yang baik pada seluruh karyawan mereka yang ada di rumah sakit.
Setelah mendapat izin dari suaminya Elya pun membuka pintu tersebut secara perlahan.
"Masuklah Grace," pinta Elya secara ramah ia membiarkan Grace lebih dulu memasuki ruangan sebelum dirinya.
"Terimakasih tante," turut Grace membalas senyuman dari Elya serta ia melangkah masuk sementara Elya menahan pintu untuk Grace barulah Elya menyusul masuk dan kembali menutup pintu ruangan dengan rapat.
"Tama, apa kau sudah makan siang?" tanya Elya setelah ia meletakkan tasnya di atas meja sudut kecil yang berada di bagian tatanan ruang sofa yang sudah tersusun rapi.
"Sudah," jawab singkat suaminya kemudian Tama menoleh ke arah Grace yang tertunduk berdiam diri tepat di belakang istrinya.
"Ah kenalin, ini Grace... Gadis yang aku ceritakan padamu saat di rumah tadi." Sang istri menepuk kedua pundak bahu Grace sembari melirik ke arah Grace yang tampak berusaha tersenyum pada suaminya bahkan Elya sempat melihat Grace sedang mengikis kulit bagian jempol tangannya menggunakan kuku hingga memerah.
"Hei, apa kau gugup?" tegur Elya sehingga ia menghentikan yang di lakukan oleh Grace tersebut makanya ia menggenggam semua jemari tangan Grace secara hangat.
"Ah ti -tidak tante," jawab Grace berusaha tetap tenang pula.
Tama hanya sekilas mendengar obrolan mereka dari jauh sejenak ia pun menyimpulkan senyumnya ketika melihat sang istri begitu akrab dengan seorang gadis seperti Grace.
Sang suami sudah semenjak pernikahan mereka sampai mendapatkan dua orang anak belum pernah melihat Elya sedekat itu dengan orang lain sebab dahulunya Elya pernah mengatakan pada Tama kalau Elya sangat sulit untuk dekat dengan orang lain jika tidak dari kemauannya sendiri. Yeap, terjawab sudah kini Elya benar-benar mendapatkan seseorang yang merasa cocok dengan dirinya.
Di ujung obrolan mereka Tama berdiri dari kursinya dan memasukkan kedua tangan di saku celana serta melenggang ke arah Grace.
"Inikah yang namanya Grace?" tegur Tama bernada ramah pula tepat sudah berada di depan mereka berdua.
Elya merasa heran sang suami bisa melakukan hal yang sama dengannya sampai mendekati Grace seperti itu.
"Halo dokter... Benar itu nama saya," tutur Grace secara sopan ia bungkukan badan.
"Jangan formal begitu bicaralah secara santai," lontar Tama masih bernada rendah.
Tentu saja Elya semakin heran dengan sikap suaminya yang tampak ingin dekat dengan Grace bahkan ia menatap ke arah sang suami dengan menaikkan sebelah alis matanya.
__ADS_1
Tama tersenyum kecil membalas tatapan istrinya itu.
"Maksudnya berbicara santai bagaimana?" tanya Grace pula sesekali menatap Tama dan tunduk kembali.
"Bukankah kalian berdua sudah saling dekat? jadi anggap saja kita juga sudah saling mengenal, bagaimana Grace?" usul Tama pula sembari menunggu jawaban dari Grace.
Tama melirik ke arah istrinya yang masih memperhatikan dirinya sehingga ia mengedipkan sebelah matanya maka dari itu sang istri mulai memahami maksud sang suami melakukan hal demikian supaya Grace tak lagi canggung terhadap dirinya sebab sempat Elya berfikir kalau Tama sedang merayu Grace dan merebut Grace darinya begitulah yang ada di dalam benak Elya tadinya.
"Ayo ayo, kita duduk saja... Tidak nyaman ngobrol sambil berdiri begini," ajak Elya pula dengan membawa Grace lebih dulu lalu di susul oleh Tama di belakang mereka.
Elya duduk di sebelah Grace sementara Tama di depan mereka pula.
"Santai saja jangan terlalu gugup," cakap Elya sambil menepuk punggung tangan Grace beberapa kali.
Grace hanya manggut dan memberikan senyum di bibirnya.
"Grace," panggil Tama sejenak lalu Grace menatap ke arahnya.
"Iya dokter," sahut Grace dengan tenang.
"Om, panggil saja om... Bukankah kita sudah saling mengenal?" lontar Tama demikian.
Grace menoleh ke arah Elya pula tanpa menjawab terlebih dulu, seolah Grace meminta bantuan pada Elya apa yang harus di katakan olehnya namun Elya langsung anggukkan kepala dan tersenyum hangat padanya.
Grace kembali melihat ke arah Tama setelah mendapat jawaban dari Elya.
"Baik om," walau pertama baginya namun ia bisa mengatakan dengan sangat jelas.
"Sekarang kita sudah saling dekat jadi apa boleh aku memeriksa kondisi mu Grace?" cakapnya lagi tampak ingin membiasakan diri pada posisinya ketika bersama Grace.
Grace membalas dengan anggukan kepala perlahan.
"Bisa aku melihat tangan mu?" pinta Tama pula dengan sangat sopan namun bukan bermaksud lain ia meminta hal demikian.
Grace awalnya ragu namun lagi-lagi ia menoleh pada Elya meminta persetujuan darinya.
Tak berapa lama Grace mengarahkan kedua tangannya pada Tama.
Kini tangan Grace di sambut oleh Tama sehingga Tama mengerutkan dahinya ketika melihat kondisi tangan Grace sudah hancur sampai ke dalam kulit.
"Bagaimana ini bisa terjadi? apa yang kau lakukan pada tanganmu?" tanya Tama tampak tak percaya pada Grace yang terbilang masih muda namun bagian telapak tangannya sudah terasa kasar.
"Ah ini..."
Grace terdiam tak melanjutkan ucapannya namun Tama sudah bisa mengambil kesimpulan dari apa yang dia lihat melalui tangan Grace.
Grace pun menjauhkan tangannya dari Tama seketika dan masih terdiam tanpa bersuara.
"Kau yang melakukannya sendiri?" tanya Tama lagi sembari terus mencari jawaban dari Grace.
^^^To be continued^^^
__ADS_1
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...NANTIKAN TERUS YA.......