
...『⇒Bab 45⇐』...
Malam hari di rumah Ocha.
Tepat di ruang meja makan.
Tap
Tapp
"Waww amazing! mam banyak banget masak malam ini, emangnya mam lagi ada hajatan?" tanya Ocha yang terlihat riuh ketika dirinya sudah berdiri dekat dengan sang ibu.
Ocha terlihat begitu senang saat ia mengetahui ada sebuah sajian yang merupakan kesukaan Ocha sendiri makanya kedua bola mata Ocha langsung berbinar seperti ingin segera menyantap makanan tersebut.
"Mam, tumben ada makanan kesukaan ku?" tanya Ocha terdengar riuh pula.
"Sudah sana ke dapur dan bawa yang lainnya ke sini," cakap sang ibu sembari terus menata piring beserta alat makannya.
"Okeh mam," turut Ocha dengan riangnya ia pun melenggang ke arah dapur sementara sang ibu tampak tersenyum tipis setelah Ocha berlalu pergi.
Kini Ocha telah berada di dapur lalu ia melihat ada sebuah paper bag terikat dengan pita berwarna biru namun ia menjadi terheran karena paper bag tersebut berada dekat dengan beberapa gelas yang telah di susun oleh ibunya sendiri kemudian ia terus berjalan lurus ke depan dan sesampainya ia di tempat ia pun meraihnya.
Ocha menautkan dahinya sejenak sebab ada secarik kertas yang di lekatkan pada tali pita apalagi tertulis dengan jelas sebuah nama yang merupakan dirinya sendiri lalu karena rasa penasaran yang semakin menjadi pula Ocha membuka tali pita tersebut serta mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paper bag itu.
"Apa ini?" gumam Ocha bertanya pada dirinya sendiri pula setelah kotak berukuran sedang sudah berada di genggaman tangannya sekarang.
Kotak itupun ia buka dengan sigap karena kebiasaan keponya mulai kambuh tidak terelakkan lagi.
Yeap, setelah ia membuka kotak tersebut sungguh Ocha tak menduga karena di dalamnya terdapat sebuah sepatu booth berbahan dasar kulit asli dari luar negri yang saat ini lagi boomingnya bahkan sepatu itu sudah hampir di beli oleh Ocha namun belum ada kesempatan makanya ia melongo sebab sepatu yang di inginkannya tepat berada di depan matanya.
"Oh may... Gue enggak salah liat ini? sepatu impian gue, astaga! gue seneng banget!" antusias Ocha terlihat begitu girangnya tanpa membuang waktu ia pun mencoba sepatu tersebut di kedua kakinya. "Waw, pas banget di kaki gue!" riuhnya lagi sehingga ia menggerakkan kedua kakinya serta melompat kesenangan pula.
Di saat ia kegirangan ada sesuatu yang jatuh dari dalam kotak tersebut tampak sebuah kertas berwarna pink sudah terlipat kemudian ia merunduk sedikit serta meraih surat itupula tak berapa lama ia pun membukanya dan membacanya dari dalam hatinya.
Untuk putriku Ocha
Selamat ulang tahun putriku, anakku satu-satunya yang akan menjadi kebanggaan mama nantinya. Chacha kau bukan anak kecil lagi sekarang karena kau sudah menjadi wanita yang beranjak dewasa dan mama berharap banyak padamu putriku. Mama juga akan terus mendoakan mu semoga kau selalu sehat serta di beri kebahagiaan yang terus menyertaimu Chacha, lalu jangan sampai kau melupakan untuk terus rendah hati kepada siapapun dan yang paling penting kejarlah semua yang kau impikan jangan pernah lihat kebelakang kejarlah masa depan mu sendiri. I love you my daughter ♡
Tak terbendung lagi air mata yang di keluarkan oleh Ocha setelah ia membaca seluruh isi surat yang di tulis oleh ibunya sendiri bahkan Ocha tak menduga semua itu di persiapkan oleh sang ibu, padahal Ocha tak mengingat kalau hari ini merupakan sesuatu yang sepesial untuknya.
"Elah, kok gue mewek sih? agh, air mata gue tak mau berenti lagi," ucapnya pula sehingga ia terus mengibaskan tangannya ke arah wajahnya itu.
Ocha meraih kotak tisu hendak ingin menyeka air mata yang membasahi wajahnya dan setelah itu ia melepas kembali sepatunya dan memasukkan lagi ke dalam kotak sebelumnya lalu ia berjalan ke arah ruang makan ingin menyusul sang ibu dengan perasaan yang masih dalam suasana keharuan.
"Ma," tegur Ocha pula di saat ia terus melangkah ke arah ibunya.
__ADS_1
GREEEPPP
Sejenak Ocha meraih tubuh ibunya masuk ke dalam pelukan dirinya sembari ia terus meneteskan air mata merasa terbawa suasana setelah ia membaca surat dari ibunya.
"Kenapa? kok jadi cengeng? biasanya bar-bar," gurau sang ibu menyambut pelukan dari anaknya tersebut.
"Agh mama curang, paling bisa buat aku begini."
Ocha berkata demikian sembari menyeka air mata yang jatuh ke pipinya.
"Kau yang berulang tahun masa lupa, dasar anak ini."
Sang ibu masih terus mendekapnya secara erat kemudian suasana haru benar-benar di rasakan oleh keduanya.
Beberapa menit berlalu sang ibu pun melepas pelukan tersebut. "Sudah, sekarang ini hari bahagia mu jangan nangis malah makin jelek!" ejek ibunya pula sehingga ia menyeka sisa air mata yang ada di wajah Ocha.
Ting
Tong
"Nah, tamu kita sudah datang!" cakap ibunya lagi membuat Ocha terpelongo.
"Siapa tamu kita?" beonya pula.
Krieeett
BLEDAAAAARRR
DUAAAARRR
Petasan kertas conventti popper tepat mengenai Ocha.
SURPRISE..... HUUUUUUU....
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday happy birthday
Happy birthday Ocha
Suara tepukan tangan serta alunan suara yang begitu meriahnya tepat di depan Ocha saat ini.
Mulai dari Grace, Gibran, Boy, juga Bram yang turut hadir datang ke rumah Ocha.
__ADS_1
"Kalian?" kagetnya Ocha tak terbendung lagi.
"Cha, ayo tiup lilinnya."
Grace berkata demikian sambil memegang sebuah bolu tart berlapis krim coklat tertulis nama Ocha pula di bagian sisi bolu tersebut.
"Ih jelek banget wajah lo kalo dah mewek, pfftt!" ejek Boy pula sembari ia tertawa setelah berkata demikian. "Udah tiup itu, keburu mati dah apinya!" lanjut Boy lagi dengan candaannya.
Ocha malah menyeka kembali air mata yang sempat menetes dari pipinya sebab hari ini memang merupakan momen yang indah untuk dirinya.
Fuuuuuuhhhhh....
Ocha hembuskan nafas perlahan ke arah lilin tersebut dan yang lainnya pun bertepuk tangan memeriahkan suasana tersebut.
"Ah, bestie gue... Sumpah gue kangen bnget sama lo," manjanya Ocha setelah ia selesai meniup lilinnya sehingga ia merentangkan kedua tangannya terlihat ingin memeluk Grace makanya Grace langsung tersenyum simpul dan memberikan bolu tart tersebut pada Gibran pula.
"Dasar manja!" sambut Grace menepuk belakang punggung Ocha dalam dekapan yang terasa sangat erat itu.
"Gua enggak di peluk?" lontar Boy berkata demikian membuat pelukan mereka sejenak terlepas.
"Lo peluk tembok sono!" balas Ocha dengan menjulurkan lidahnya mengejek Boy. "Ayuk Grace, kalian juga masuk semuanya."
Ocha menarik lengan Grace dan membawanya masuk terlebih dulu.
"Dih, apa dia kira gua benda mati di suruh meluk tembok?" gerutu Boy ketika mengingat ejekan Ocha barusan.
Puk
Pukkk
Seketika Bram menepuk pelan sebelah bahu Boy serta tersenyum tipis.
"Sabar bro, semua ada masanya!" imbuh Bram pula membuat Boy menaikkan sebelah alis matanya.
Bram lebih dulu berjalan bersamaan dengan Gibran dan yang lainnya sementara Boy masih di belakang mereka.
"Senyumnya mencurigakan," gumam Boy pula lalu ia mengetuk dagunya sendiri terlihat sedang berfikir.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Orang pertama yang mengetahui sisi buruk dan baikmu ialah keluarga tanpa mereka kau tidak akan bisa menemukan sebuah momen berharga. ~ Grace Eloise.
__ADS_1