Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Tanpa Tersadari?


__ADS_3

...『⇒Bab 23⇐』...


Gedung FK UI


Tangga jalan menuju tingkat paling atas.



Dari rasa penasaran Bram menjadikan itu beban pikiran dirinya sehingga timbul perasaan khawatir setelah mereka semua keluar dari perpustakaan makanya untuk menghilangkan rasa khawatir tersebut ia pun mengajak Gibran berbicara hanya berdua saja di gedung paling atas jauh dari para teman lainnya.


Bram lebih dulu menunggu Gibran di tangga sementara Gibran sebelumnya tampak berbicara dengan Grace makanya Bram langsung ke arah tangga dan duduk sembari mendengarkan musik melalui inpods miliknya sebab jika ia ingin ketenangan sudah pasti melakukan hal tersebut sembari memejam matanya bersandar di badan anak tangga.


Tap


Tap


Grep


Sebuah tangan menyentuh bahu Bram sehingga dirinya membuka mata lalu melepas salah satu inpods miliknya pula.


"Bram, maaf! apa sudah lama menunggu ku?" tegur Gibran melontarkan senyuman kecil di bibirnya.


"Oh tidak! aku baru saja di sini," sahut Bram sedikit membalas senyuman itu padahal entah mengapa dia berat rasanya untuk tersenyum namun ia lakukan itu supaya Gibran tak curiga dengan sikap khawatirnya.


"Kita mau bicara di mana?" tanya Gibran lagi.


"Di atas saja," jawab Bram dengan singkat.


"Okey." Gibran mengiyakan dan mengikuti Bram yang sudah lebih dulu berjalan darinya.


Satu persatu mereka menaiki anak tangga hingga sampailah beberapa menit ke atas gedung yang paling tinggi benar-benar hanya mereka berdua saja berada di atas gedung itu.


Kini Bram membawa Gibran ke arah pembatas besi di bagian atas gedung lalu Gibran masih mengikuti langkah Bram pula.


"Nah, mau minum?" sebuah botol minuman cola kaleng di suguhkan oleh Bram pada Gibran di saat Gibran sudah berada di sebelah Bram.


"Thanks Bram," turut Gibran menerima minuman botol dari tangan Bram.

__ADS_1


Trakkk


Bunyi suara tutup kaleng botol yang serentak mereka buka hingga sepasang mata mereka mengarah ke gedung-gedung yang mengelilingi fakultas mereka serta angin sepoi-sepoi tampak menyambut kedatangan mereka berdua.


"Apa ada hal serius yang ingin kau tanyakan padaku sampai kau mengajak ku ke sini?" tanya Gibran lebih dulu membuka suara namun Bram masih belum meresponnya karena Bram tampak menikmati minuman kalengnya.



Gibran pun terdiam ketika pertanyaannya belum di jawab makanya ia menatap kembali ke arah gedung-gedung yang sebelumnya ia lihat.


Gibran pura-pura tak melihat dan sekedar ingin menunggu jawaban dari Bram saat ini.


"Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku setelah ke luar dari lab farmakologi sebelumnya," seketika suara Bram terdengar juga namun Gibran masih mendengarkan tanpa membalasnya. "Apa kau dengar yang di bilang oleh Ocha saat di lab?" lanjut Bram lagi kini ia pun menoleh ke arah Gibran pula.


"Untuk itulah kau mengajak ku ke sini? lalu apa hubungannya dengan ku?" Gibran malah balik bertanya bahkan Bram sedang memastikan kalau dugaannya setelah melihat sikap Gibran pada Grace sewaktu di perpustakaan benar adanya mereka menjalin hubungan khusus tapi tak bisa ia tebak sebelum terjawab dari mulut Gibran sendiri.


"Apa benar kau tak tahu maksud dari ucapan Ocha yang di lab tadi?" mengulang kembali hingga Bram terus melihat ke arah Gibran namun malah sebaliknya Gibran yang menikmati minumannya menatap ke arah gedung-gedung tinggi yang ada di depannya itu. "Gibran, apa ada yang aku tak ketahui tapi kau sudah tahu?" lanjut Bram tiada henti terus bertanya.


"Oh, soal tunangan? ya aku mendengarnya sekilas," turut Gibran menjawab secara santai sembari membalas menoleh ke arah Bram yang sedari tadi melihat dirinya.


"Ya, begitulah kira-kira! sampai sekarang perkataan itu terus muncul di kepala ku bahkan tak mau hilang sama sekali," imbuh Bram kembali mengalihkan pandangan matanya dari Gibran.


"Entahlah aku juga tidak tahu kenapa aku bersikap begini, harusnya aku biasa saja namun aku terus berfikir apakah ucapan Ocha itu benar adanya dan kalau benar siapa orang yang telah melamar Grace?" monolog Bram sehingga wajahnya memang tampak kacau dari apa yang di lihat oleh Gibran sekarang.


"Jika benar Grace sudah bertunangan, apa yang akan kau lakukan?" tanya Gibran seolah ingin memastikan sesuatu setelah ia melihat reaksi Bram demikian.


"Aku tidak tahu," jawab Bram singkat hingga ia membuang nafas kasar dari mulutnya dan tertunduk lesu.


Gibran melirik dari samping raut wajah Bram yang tak bersemangat setelah lontaran ucapan yang keluar dari mulutnya barusan.


"Apa kau menyukai Grace?" tanya Gibran tanpa keraguan lalu Bram langsung melihat ke arah Gibran menautkan kedua alis matanya.


"Untuk apa kau bertanya begitu padaku?" balik bertanya pula padahal pertanyaan Gibran untuknya belum di jawab olehnya.


"Aku yang lebih dulu bertanya kenapa kau malah melempar pertanyaan padaku?" sergah Gibran merasa sedikit protes pula.


"Huffhh," lagi-lagi Bram membuang nafas dan menatap tegas ke arah lain. "Aku saja tak mengerti, kenapa dengan diriku makanya aku tak tahu mau menjawab apa padamu!" timpal Bram pula sehingga terjawab sudah pertanyaan dari Gibran karena dari raut wajah saja sudah bisa menyimpulkan tanpa Bram mengakuinya.

__ADS_1


"Kau harus berkata jujur pada Grace soal perasaan mu padanya, supaya beban yang mengganggu mu jadi lebih ringan!" usul Gibran secara serius menatap Bram.


"Berkata jujur?" tanya Bram seketika ia masih ragu menerima usulan tersebut.


Gibran anggukkan kepala serta melontarkan senyuman simpul di bibirnya.


"Bagaimana caranya aku berkata jujur pada Grace? untuk mengajaknya berbicara saja aku sudah canggung!" keluh Bram sehingga tampak dari wajahnya kurang percaya diri.


"Kau harus bisa Bram, karena jika kau pendam saja akan menumpuk di hati dan pikiran mu!" imbuh Gibran terdengar mendorong Bram supaya lebih percaya pada dirinya sendiri. "Jadi benar adanya kau menyukai Grace? buktinya kau langsung merespon usulan ku!" lanjut Gibran sehingga membuat Bram sadar bahwa dirinya sudah masuk perangkap dari pertanyaan Gibran yang tak terjawab olehnya.


"Ya, kau menang!" jawab singkat Bram memukul bahu sebelah Gibran sebab ia mengaku sudah masuk dalam jebakan Gibran.


"Sekarang kau coba dengan tekad mu, jangan menyerah karena semua pilihan ada di tangan Grace sendiri yang terpenting kau sudah berusaha dan yakinkan dirimu dulu supaya semuanya bisa kembali normal," ucap Gibran kembali masih terdengar mensuport Bram makanya Bram tampak sedikit terdorong oleh omongan Gibran barusan.


"Baiklah aku akan coba, apapun jawabannya akan aku terima!" turut Bram mengiyakan pula terdengar ia mulai menerima usulan tersebut.


"Kalau begitu aku deluan ke bawah! masih ada materi yang harus ku pelajari," pamit Gibran sebelum melangkah pergi.


"Baiklah! makasih sudah mau ikut dengan ku ke sini," kata Bram lagi.


Gibran pun anggukkan kepalanya lalu ia melempar botol minuman yang telah kosong ke arah tong sampah dan berjalan ke arah tangga namun sejenak ia berhenti serta melirik dari samping.


"Ohya, omong-omong aku tadi belum beri tahu padamu siapa tunangan Grace bukan?" katanya secara santai berkata demikian walau ia tak menoleh pada Bram namun suaranya cukup terdengar jelas.


Bram hanya terdiam dan menunggu jawaban dari Gibran pula.


"Akulah orangnya! jadi jangan kau padamkan api semangat mu tetap lah maju jangan mundur sebelum kau mendapatkan yang kau inginkan! aku deluan," ungkapan yang terdengar langsung di telinga Bram membuatnya melebarkan kedua mata hingga tak lengah sedikit pun pandangannya ke arah Gibran yang telah berlalu pergi darinya.


Grace setelah ini aku serahkan pilihan di tangan mu, aku berharap apapun yang kau pilih akan selalu membuat mu bahagia! batin Gibran berkata dalam lubuk hatinya tanpa menoleh dan terus berjalan ke depan.


Yeap, kaleng minuman botol yang ada di tangan Bram ia remuk secara kuat hingga wajahnya penuh kekesalan lalu ia lemparkan begitu saja untuk melepas rasa sesal di hatinya itu.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Meskipun hatimu mampu menentukan siapa yang kamu inginkan namun hanya sikapmu yang menentukan siapa yang akan tinggal bersama mu. ~Grace Eloise.


__ADS_2