
...『⇒Bab 22⇐』...
Ruang perpustakaan FK UI
"Kau kenapa sih Cha? dari keluar lab sampai sekarang sikapmu seperti anak itik begini mengejar ku terus!" gerutu Grace jelas terdengar mulai kesal pada temannya itu.
"Lo itu masih tak beri tau gue soal cincin yang lo pake tuh! ya jelas gue ekorin lo sampai hilang rasa kepo gue sekarang, understand you?" celoteh Ocha yang masih tampak lengket merangkul sebelah lengan Grace pula.
"Nanti saja kau juga akan aku beri tahu tapi jangan di sini lah," balas Grace terlihat risih dengan rangkulan tersebut seakan begitu lengket padanya sebab Ocha kalau sudah kepo pasti tak akan diam sebelum rasa ingin tahunya kelar, ya begitulah Ocha karakternya.
"What's wrong Grace? napa lo main rahasia-an ke gue sih sekarang? atau jangan-jangan cincin itu di berikan dari orang yang sama! what am i saying is true?" tanya Ocha lagi masih terdengar mendesak supaya Grace mau mengakui lontarannya barusan.
"What ever!" jawaban singkat itu membuat Ocha mengerutkan wajahnya sehingga Grace melepas paksa rangkulan dari Ocha dan berlalu begitu saja.
"Grace, ah lo sekarang udah main tinggal aja ya..." Ocha berteriak memanggil Grace karena ia merasa Grace sudah berubah padanya padahal Grace kian merasa malu sebab Ocha menebaknya dengan benar untuk itu Grace menghindari Ocha lagipula di balik itu Grace membungkam mulutnya sendiri supaya tak terlihat dirinya sedang tersenyum.
Grace menuju perpustakaan karena ingin membaca materi untuk ujian yang akan mendatang begitu pula dengan Ocha terus mengikuti Grace kemanapun temannya itu pergi pasti ada Ocha di sebelahnya.
Lorong kampus FK UI
Grepp
Sebuah telapak tangan sedang memegang lengan Gibran yang terlihat berjalan sedang membawa minuman dari kantin dan berniat ingin membawanya untuk Grace ke perpustakaan namun ia di kagetkan oleh sosok tangan tersebut makanya ia berhenti serta menoleh ke arah belakang pula.
"Gibran, apa kau sedang sibuk?" tanya Laras terlihat memberikan senyuman ramah di depan Gibran.
"Bisa tolong lepaskan tangannya?" tegas Gibran sedikit memberikan tatapan tidak sukanya karena lengannya di pegang oleh Laras.
"Oh maaf!" sesaat Laras langsung melepas pegangan itu dan berpura merasa bersalah.
"Ada apa sampai kau mengejar ku ke sini?" tanya Gibran pula padahal dia malas untuk berbicara dengan Laras sebab sedari dulu dirinya hanya memandang Grace yang lainnya tak pernah terlihat olehnya.
"Mmh, terima ini ya karena aku sendiri yang membuatkan untukmu!" imbuh Laras tampak memberikan sebuah kotak berisi bolu brownies berada di tangannya saat ini padahal itu hanya omongan belaka sebab bolu yang ada dengannya sudah di pesan lewat online untuk di kirim ke kampusnya.
Gibran pun menerimanya dan memberikan senyuman terpaksa di wajahnya untuk sekedar menghargai Laras padahal ia tak suka dengan yang namanya bolu apapun itu makanya di saat Grace menawarkan dirinya cake ia juga menolak secara berkilah pula.
"Terima kasih kau sudah repot membuatkan untukku!" kata Gibran masih tersenyum tipis.
__ADS_1
Apakah berhasil? oh tuhan kau tampan sekali kalau sedang tersenyum begini... Batin Laras mengoceh hingga ia terus menatap ke arah Gibran.
Sekilas kedua mata Gibran melebar ketika ia melihat ada sebuah nama toko tertulis kecil sekali di bagian bawah tutup kotaknya lalu sejenak ia simpulkan senyum di pinggir bibirnya tanpa menoleh ke arah Laras.
"Apa benar kau yang buat bolu ini?" tanya Gibran setelah ia mengetahui dirinya di bohongi oleh Laras.
"Iya aku membuatnya dengan susah payah khusus untuk mu! di makan ya," pintanya dengan berkata manis pula sehingga Gibran merasa jengah dengan sikap Laras saat ini.
"Okey, aku deluan ya!" singkat Gibran dengan pamit terlebih dulu.
"Ya, kalau ada waktu kosong aku akan membuatkan yang lebih enak untukmu!" serunya lagi setelah itu Gibran anggukkan kepala dan berlalu pergi tanpa menjawabnya namun itu suatu hal yang membuat Laras senang di saat pemberiannya di terima oleh Gibran.
Dalam beberapa langkah saja Gibran berhenti hingga berbalik badan melihat Laras yang sudah berjalan ke arah lain serta Gibran tampak bergeleng kepala karena tak pernah ia merasa di bohongi oleh siapapun kecuali saat ini.
Dari perbuatan Laras padanya menjadi kesan yang tak baik menurut pandangan Gibran sehingga ia mengingat saat berada di rumah Grace benar adanya bahwa ibu dan anak sama-sama memiliki karakter yang tidak baik, begitulah penilaian Gibran terhadap Laras.
Kini Gibran melangkah kembali ke arah perpustakaan tempat tujuannya pula.
Sesampainya Gibran di perpustakaan ia melihat Boy, Bram, Grace juga Ocha telah berada di dalam satu meja sedang berkumpul fokus membaca materi buku study bidang mereka.
"Hei, kok aku di tinggal sendirian? memang kalian tak setia padaku!" gurau Gibran merangkul kedua bahu Boy juga Bram lalu ia pun duduk di bangku kosong berjajar dengan keduanya pula.
"Oh iya, aku lupa! heheh," kekehan kecil keluar dari mulut Gibran serta ia meletakkan kotak yang di berikan oleh Laras sebelumnya di atas meja.
"Khem, apa yang lo bawa tuh?" tanya Ocha berdehem dan menatap ke arah kotak tersebut.
"Itu dari fans, biasalah kan aku artis! wkwkw," canda Gibran dengan tawanya itu.
"Heleh, lo artis papan apaan? papan rusak iye lo!" cetus Ocha sembari membaca buku kembali.
Greett
Sebuah botol minuman yang di bawa oleh Gibran kini ia dekatkan pada Grace pula sehingga Grace kaget ketika Gibran sedikit menyentuh bagian kelingking jemari tangannya.
"Di minum," titah Gibran seketika membuat semua mata tertuju padanya.
"Eh, lo kira hanya Grace di sini? lalu kita semua di sini lo anggap apa?" tanya Ocha sedikit protes sehingga membuka suara pula setelah menyadari Gibran memberi perhatian pada Grace.
__ADS_1
"Lo nyamuk yang harus di basmi," sambung Boy serempak Gibran juga Grace tertawa kecil mendengarnya namun tidak untuk Bram yang berfikir panjang tentang pemberian Gibran barusan.
Gibran pun menggeser kotak bolu di tengah meja.
"Nah ini buat yang mau saja, makan lah!" kata Gibran pula.
"Aku tak suka," jawab singkat dari Bram.
"Lo enggak mau Cha?" tanya Boy seketika.
"Tak nafsu gue, ilang nafsu gue hari ini."
"Yaudah kalo gitu buat gua aja dah!" cakap Boy hingga ia menggeser kotak tersebut dan mendekatkan padanya pula.
"Ya, lo kan rakus! semua mau di embat, tai kucing pun lo makan!" serang Ocha namun itu tak membuat Boy marah malah ia tetap membuka tutup kotak bolu itu.
"Hmmm, biarin lah lo berkata apa! yang penting gua kenyang," timpal Boy hingga ia mengambil sedikit bolu tersebut serta memasukkan ke dalam mulutnya.
Nyamm
Nyam
"Enak bolunya, lo mau? ayuk sini gua suapin! aaaa..."
Boy sengaja berbuat demikian untuk mengganggu Ocha saja.
"Gausah cari gara-gara lo, mau gue timpuk wajah lo lagi macam di lab tadi? enggak jera lo?" sesal Ocha menunjukkan wajahnya yang sangar pula.
"Huuu, Itchi Ocha lagi sensitif guys... Atut gua jadinya!" ledek Boy pula dan memasukkan kembali bolu ke dalam mulutnya.
Grace dan Gibran hanya geleng kepala melihat keduanya namun Bram tak bereaksi apapun sebab ia masih penasaran dengan kata "bertunangan" yang sempat ia dengar dari mulut Ocha sendiri.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
__ADS_1
Kecantikan hanya kulit luar, namun yang sangat penting adalah adanya keseimbangan antara pikiran, tubuh dan jiwa. ~Grace Eloise.