
...『⇒Bab 19⇐』...
Gibran dan Grace saling menatap satu sama lain sebab Gibran masih menunggu jawaban dari Grace sedari ia mengatakan jika ia ingin Grace menjadi tunangannya namun Grace sempat tertunduk seolah tidak mampu dirinya untuk melihat sorot mata Gibran yang menaruh harapan besar padanya itu sedangkan cincin pemberian dari Gibran terus saja di pegang oleh Grace secara erat.
Beberapa saat kemudian Grace menegakkan kepalanya berusaha tenang untuk menatap Gibran yang masih melihat ke arahnya lalu Grace meletakkan cincin yang ia pegang dari tadi tepat di atas meja alangkah hancurnya Gibran ketika Grace meletakkan cincin tersebut seakan enggan untuk menerimanya akan tetapi Gibran tetap melontarkan senyuman kecil ke arah Grace supaya tak tampak jika dirinya sedang merasa takut kalau saja Grace benar akan menolaknya namun perasaan tidak enak itu ia hilangkan sebab tidak akan ada cinta yang mudah di dapatkan tanpa pengorbanan begitulah yang terfikir dalam benaknya.
"Gibran, kenapa kau harus sampai sejauh ini padaku? kau juga tidak tahu seluk beluk keluarga ku hingga sampai sekarang kau tak tahu bagaimana aku yang sebenarnya," lontar Grace pula sehingga Gibran menyimpulkan senyuman serta mendekatkan wajahnya di hadapan Grace.
Mata Grace juga hanya tertuju pada wajah Gibran yang sangat tampan itu hingga Grace serasa susah untuk berpaling darinya sebab selama ini Gibran tak pernah menunjukkan wajah selembut itu di depan Grace padahal yang selalu di perbuat oleh Gibran hanya menjahili dirinya.
"Aku tahu semua, siapa keluarga mu cantik dan kau orang yang seperti apa aku jelas tahu semuanya," selagi Gibran berbicara ia terus merapikan rambut Grace yang terkena hembusan angin sehingga debaran jantung keduanya saling terjadi namun karena jelasnya suara hembusan angin tersebut maka debaran itu tak terdengar oleh mereka berdua.
Setelah Gibran selesai berbicara dia pun kembali pada posisinya dengan duduk seperti biasa sementara jantung Grace masih berdebar hebat seakan mau meledak jelas wajar karena itu untuk pertama kalinya namun Grace melihat Gibran seolah biasa saja padahal Gibran juga sedang mengontrol dirinya sendiri tanpa di sadari oleh Grace tapi secara langsung Grace meraih gelas miliknya yang masih berisi minuman lalu dalam sekejap ia meneguk sampai habis barulah ia sedikit lebih bisa mengontrol kegugupannya itu.
"Tampaknya kau sangat haus Grace, heheh!" ledek Gibran pula sedikit membawa Grace bergurau agar suasana tidak terlalu tegang.
"Khem, tenggorokan ku sedikit kering!" kilah Grace pula sembari berdehem namun Gibran sudah tahu pasti bukan itu penyebabnya. "Tadi kau mengatakan apa? kau sudah tahu keluarga ku? apa benar kau mengikuti Ocha sampai ke rumah ku?" lanjut Grace membuka bicara kembali sebab pertanyaan dari Ocha memang belum sempat terjawab oleh Gibran.
__ADS_1
Dari pertanyaan Grace barusan membuat Gibran menjadi teringat kalau Ocha memang bertanya demikian pula lalu Gibran menjawabnya hanya dengan anggukkan kepala saja.
"Apa Ocha tahu kau mengikutinya?" tanya Grace lagi.
"Tidak, aku mengikuti dia secara diam-diam karena sedari awal dia melarangku untuk ikut mencari mu makanya aku menjadi sedikit penasaran, sampai Ocha berkeras aku tak boleh ikut akhirnya aku memutuskan untuk menyusulnya dari belakang," jawab Gibran secara santai bahkan meyakinkan Grace dari wajahnya itu.
Saat ini Grace hanya terdiam tanpa bertanya apapun lagi sebab dari pengakuan Gibran pastinya akan timbul pertanyaan lain untuknya.
"Sekarang aku yang akan bertanya," lontar Gibran pula sehingga benar adanya firasat Grace pasti Gibran akan mempertanyakan soal keluarganya.
"Ya, kau mau bertanya apa?" turut Grace saat ini ia juga tak mungkin menyimpan apapun baik pada Bram, Gibran apalagi sudah pasti Boy juga akan mengetahuinya.
Beberapa kali Grace membuang nafas kasar sebelum menjawab semua pertanyaan dari Gibran lalu ia berusaha tenang supaya bisa menceritakan pada Gibran secara perlahan.
"Laras itu saudara tiriku, aku dan dia di lahirkan dalam jarak yang tidak jauh tapi ibu kandungku sudah lama tiada semenjak aku masih SMP karena ibuku memiliki penyakit asma sampai tak dapat di tolong lagi makanya sejak ibuku pergi barulah ayah membawaku bertemu dengan Laras juga ibu tiriku pada akhirnya kami tinggal dalam satu rumah," ungkap Grace dengan bercerita sejelas mungkin hingga tampak oleh Gibran wajahnya yang begitu sedih serta suaranya juga terdengar lirih.
"Bagaimana bisa kau punya saudara tiri? sementara ibumu masih ada sebelum kepergiannya kau juga sudah duduk di bangku SMP lantas apakah ibumu tahu semuanya?" tanya Gibran pula sebab masih ada yang mengganjal di hatinya setelah mendengar cerita dari Grace barusan.
__ADS_1
"Aku juga tak tahu pasti karena ayah tak pernah mengungkit masalah ini padaku apalagi ibuku tak pernah membuka suaranya sampai detik kepergiannya pun aku tidak tahu apapun," balasnya pula sembari bergelang kepala serta sesekali terdengar ia membuang nafas panjang.
"Kejadian selama itu sampai sekarang kau tak tahu? bahkan kau tinggal dengan mereka yang tak pernah anggap dirimu Grace?" lontar Gibran terdengar sesal sebab ia mengingat ucapan tersebut keluar dari mulut Jihan sendiri.
"Aku sangat menyayangi ayahku karena dia lah aku tetap bertahan di rumah itu walaupun ayah tak ada di pihak ku tapi aku tetap ingin berada di sampingnya," kata Grace lagi dengan meyakinkan dirinya akan ucapannya barusan memang itulah nyatanya.
Gibran setelah mendengar ucapan terakhir barusan seperti hatinya tersayat lalu ia berdiri seketika hingga berjalan ke arah Grace kemudian ia mengarahkan tubuh Grace di hadapannya melalui kedua bahu Grace sementara Gibran menumpukan kedua kakinya serta memegang kedua tangan Grace begitu eratnya.
"Aku, Ocha, Bram, juga Boy ada di pihakmu Grace jadi kau jangan merasa sendiri karena kami semua akan menjagamu! terutama padaku, aku akan membawamu juga ayahmu ke luar dari rumah itu setelah kita menyelesaikan study terakhir kita! aku berjanji Grace walaupun aku harus menentang keluarga ku namun wanita yang aku cintai memang dirimu, kau jangan ragu untuk melawan mereka yang menindasmu! sudah selama itu kau hadapi sendirian, sekarang ada aku yang berada di belakangmu!" tegas Gibran secara kesungguhan hatinya ia berkata demikian hingga jatuhlah air mata Grace ketika mendengar semuanya dari mulut Gibran.
Grepp
Gibran secara langsung memeluk tubuh Grace sebab ia tak sanggup melihat air mata Grace makanya ia mendekapnya dengan erat hingga air mata Grace terus mengalir tepat ia menumpu dagunya di atas bahu Gibran dan mengenai jaket kulit milik Gibran.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
__ADS_1
...Kutipan :...
Kehidupan yang baik adalah sebuah proses, bukan suatu keadaan yang ada dengan sendirinya sebab kehidupan itu sendiri adalah arah bukan tujuan. ~ Grace Eloise.