
...『⇒Bab 14⇐』...
Tap
Tap
Ocha semakin mempercepat langkahnya ke arah parkiran sebab ia melihat orang yang sangat di kenalnya sedang mondar mandir tampak begitu kebingungan.
"Gibran," tegur Ocha pula dari belakang punggung Gibran sehingga dia kaget karena Ocha menepuk pundaknya secara seketika.
"Eh Cha, kenapa kau bisa di sini?" tanya Gibran setelah ia menoleh ke arah Ocha yang sedang menautkan kedua alis matanya.
"Gue ke sini bareng Boy, nah elo dengan siapa ke sini? ngapain lo sendirian di tempat ini?" berbalik tanya pula secara sengaja sebenarnya ia sudah mengetahui jadwal kencan Grace malam ini namun ia sama sekali tak melihat keberadaan temannya itu.
"Oh, aku..."
Gibran merasa malu jika ia mengatakan yang sejujurnya pada Ocha karena belum ada yang mengetahui kalau dirinya sudah menyatakan perasaan pada Grace makanya Gibran hanya mengelus pundak lehernya sendiri sebab merasa bingung harus menjawab bagaimana pada Ocha.
Kenapa Gibran ada disini? apa dia ada janji dengan seseorang? batin Bram berkata demikian sedari jauh ia melihat Ocha sedang berbicara pada Gibran.
"Lo gausah lagi nutupin dari gue dan gue udah tau semua ceritanya dari Grace sendiri so gue tadi sengaja supaya mancing lo aja," imbuh Ocha secara santai padahal Gibran sudah di ambang rasa malu ketika Ocha berkata seperti itu di depannya.
"Jadi kau..."
Lagi-lagi Gibran merasa tak percaya karena bisa secepat itu Ocha mengetahui semuanya.
"Yaps! lebih tepatnya gue mengetahui sampai ke akarnya, awalnya Grace enggak mau jujur ke gue tapi lo tau sendiri lah ya gue kan orangnya suka kepo! dengan jurus andalan sedikit memaksa akhirnya terungkap deh," celoteh Ocha pula namun Gibran masih tampak sesekali memperhatikan ponsel yang ada di genggaman tangannya.
"Ya, ya... Aku hampir lupa kau memang memiliki jurus begitu," turut Gibran mengiyakan yang di celotehkan oleh Ocha barusan tapi selalu matanya melihat ke layar ponsel.
__ADS_1
Ocha menaikkan sebelah alis matanya melihat reaksi Gibran sedari awal ia berbicara Gibran terus melihat ponsel tampak seperti orang sedang menunggu kabar seseorang.
"By the way lo ajak Grace ketemuan di mana sih?" tanya Ocha pula.
"Ya di sini," jawab Gibran makanya Ocha merasa heran karena malam juga sudah menunjukan tepat pukul sembilan pas tapi Gibran masih sendirian.
"Lah, terus Grace di mana? harusnya lo barengan sama dia dong!" kata Ocha seketika dia heran mendengar jawaban dari Gibran.
"Itu dia Cha, aku juga tidak tahu Grace di mana? bahkan aku sudah menunggu hampir dua jam di sini tapi tidak kelihatan juga," ungkap Gibran sehingga raut wajah Ocha berubah menjadi khawatir.
"Apa maksudnya? lo udah coba hubungi dia belum?" tanya Ocha terdengar cemas makanya ia langsung merogoh ponsel dari saku celananya.
"Sudah berkali-kali aku hubungi dia tapi tidak di angkat juga," jawab Gibran sehingga ia melihat Ocha mengotak atik ponsel genggamnya.
Ocha sekarang ikut menghubungi Grace dengan raut wajah yang terlihat cemas sekali sebab Grace tak pernah membiarkan ponselnya itu jika Ocha yang menghubungi dirinya.
"Di angkat?" tanya Gibran yang terlihat menunggu jawaban dari Ocha.
Ocha tampak mengulangi panggilan tersebut karena ia ingin memastikan keberadaan Grace namun tetap saja tidak ada jawaban walau hanya sekali makanya Ocha sesekali memijat dahinya dan terus mengulang panggilan itu.
"Ah tak bisa nunggu gue kalau gini ceritanya, lo pulang aja biar gue yang cari Grace," kata Ocha sambil memasukkan ponselnya dalam saku celana.
"Kau mau cari ke mana?" tanya Gibran pula setelah Ocha sudah berjalan ke arah motornya yang masih terparkir.
"Gue mau cari ke rumahnya," jawab Ocha secara cepat lalu ia melihat Boy juga Bram masih duduk di atas motor tampak sedang menunggu dirinya. "Boy, kalian pulang saja gue ada urusan mendadak! thanks Boy atas traktiran lo next time gue yang nraktirin lo," ucap Ocha secara sedikit keras nada suaranya sebab jaraknya dengan Boy agak berjauhan lalu ia meraih helmnya dan memakainya pula.
"Aku akan ikut dengan mu mencari Grace," pinta Gibran masih berada di sebelah Ocha karena dia juga merasa cemas terhadap Grace.
Grace sudah pernah bilang ke gue kalau tidak ada yang boleh tahu tentang dia dan Laras kalau sampai Gibran ikut sudah pasti dia akan ketemu si Laras, pada akhirnya Gibran mengetahui kalau Grace punya saudara tiri. Batin Ocha pula sehingga ia merasa bingung harus menolak Gibran dengan cara apa.
__ADS_1
"Tidak usah Gibran, biar gue aja yang urus! nah lo tunggu kabar dari gue dan lo tenang aja pasti kok gue kabari," dengan terpaksa Ocha menolak permintaan Gibran sehingga ia memasang wajah meyakinkan makanya tanpa banyak berbicara lagi ia langsung naik ke atas motornya pula sementara Gibran menjadi penasaran kenapa Ocha berkeras dirinya tidak boleh ikut.
Brmmmm
Brmmmmm
Motor kawasaki ninja 250 yang berwarna hitam bercorak seperti api membara sedang berlalu pergi dari hadapan mereka sehingga Boy juga Bram menjadi terheran kenapa Ocha tampak begitu terburu-buru sampai tak bisa menghampiri mereka lagi.
Gibran juga tak ingin kehilangan jejak Ocha makanya ia langsung bergerak serta memakai helmnya dan naik ke atas motor barulah ia menyusul Ocha sedari belakang.
Baik Boy dan Bram terus melihat reaksi Gibran yang mengejar Ocha barusan sampai Gibran berlalu pergi tanpa melihat ke arah mereka berdua.
"Mereka kenapa sih?" tanya Boy pula sementara Bram mengerutkan wajahnya.
"Entahlah aku juga tak tahu," jawab Bram singkat.
Mereka terlihat seperti sedang panik, apa telah terjadi sesuatu? batin Bram merasa ikut penasaran juga sama seperti Boy.
"Dah ah, cabut yuk!" imbuh Boy lalu ia memberikan helm pada Bram namun kedua mata Bram masih mengarah pada jalan yang di lalui oleh Ocha juga Gibran sebelumnya sehingga ia hanya anggukan kepala saja mengiyakan ucapan Boy padanya.
Keduanya pun sudah naik ke atas motor dan berlalu pergi dari parkiran cafe tersebut akan tetapi hati Bram seakan merasa tidak tenang lalu ia mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Ocha pula namun tidak ada jawaban dari Ocha.
Astaga Cha, ku akui kau handal dalam membawa motor sebesar itu! memang pantas kau di bilang nimble woman ( wanita cekatan ) tak di ragukan lagi. Batin Gibran berkata sampai seperti itu sebab baru kali ini ia melihat Ocha begitu lihai mengendarai motornya.
Setiap ada celah mobil Ocha pun menyelip secara cepat sungguh membuat Gibran jadi bergeleng kepala ada seorang wanita sangat handal bahkan dirinya sempat tertinggal sedikit dari Ocha.
^^^To be continued ^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
__ADS_1
...Kutipan :...
Hidup itu seperti halnya es nikmatilah dengan baik sebelum ia mencair. ~ Grace Eloise.